Gua Tahu , . . Lu Bener . . . (Bag.2)

 
Konon , cuma ada 2 peraturan tentang boss.
1. Boss selalu benar.
2. Kalo boss salah , lihat peraturan nomer 1.
 

Aku sempat memutari jalan yg salah , karena konsentrasi yg terbagi.
10 menitan aku terlambat tiba di depan rumahnya dan segera memencet bel
Seorang gadis sepantaranku , berkacamata dengan rambut lurus sebahu ,
membukakan pintu pagar sambil berkata.

“Yo , kamu ditunggu koh Eng dari tadi lho.”

Aku cuma tersenyum dan mengangguk sambil melangkah masuk ,
dan duduk di ruangan depan yg digunakan sebagai kantor.

“Sék ya , ‘tak sampékno koh Eng.”
(Sebentar ya , aku berutahukan ke koh Eng)

Tak lama boss keluar , belum sempat aku mengucap sepatah katapun.

“Yoga , ayo masuk , masuk.”

Pundakku dirangkul , di’giring’ ke meja makan ,
yg kulihat penuh berisi makanan , rupanya boss baru akan makan malam.

“Fong , ayo kita makan.”

Boss memanggil istrinya , kemudian berkata padaku.

“Lu belum makan khan , ayo makan sekalian.”

“Kamsia koh Eng , saya sudah makan.”

Aku berbohong , karena merasa diundang bukan untuk makan malam ,
selain itu , pengen cepet-cepet menyelesaikan persoalan tadi siang.

“Hallah , lu ndak usah pake sungkan , ayo duduk’o.”

Akupun ‘terpaksa’ menurut.
Merasa gak nyaman , aku cuma mengisi piring dengan nasi separo dari biasanya.
Kiss Of Death , pikirku , hee..hee..hee..

“Lu makan cek sithik’e , sini !”
(Kamu makan kog sedikit sekali , sini !)

Boss malah menyendokkan nasi lagi kepiringku.
Aku makan sambil menata hati yg kebat-kebit , dag dig dug.
Karena yg kupelajari ,
kalo seseorang bisa menahan marah dan masih tetap bisa tersenyum ramah ,
nanti kalo waktunya marah bisa berlipat-lipat.
Aku juga bingung dengan keramahan boss ,
sebab kalo waktu kerja , melihatnya tersenyumpun jarang sekali ,
mukanya mencureng terus , kayak orang marah.

Sambil makan , boss menanyakan keadaan papa , mama dan adik-adikku ,
tak ada sedikitpun menyinggung soal kerjaan.
Oh , nanti setelah makan . . . pikirku.

“Lu sudah punya ai ren (pacar) ?”

Tiba-tiba cik Fong , istri boss , bertanya.

“Belum , cik Fong.”

“Mau ? Lu ‘tak jodohno sama Ling Ling ?”

Yg kurasa , mukaku langsung memerah , seperti udang direbus.
Aku merasa malu ditanya dengan cara terus terang seperti itu ,
bukan karena aku memang belum punya pacar.
Lagian , gimana mau punya pacar ,
lha wong ngobrol sama staff-staff perempuan di kantor saja sering salah tingkah ,
kalo gak ngomongin soal kerjaan dan sejenisnya , hee..hee..hee..

“Saya belum mikiri rumah tangga , cik.”

“Ya ndak langsung ciek fen (menikah) tho , pacaran dhisik setahun dua tahun.”

Aku cuma bisa diam , tersenyum , menunduk dan menyelesaikan makanku.

“Ling Ling itu baek lho , mei li (cantik) , sabar , pinter ,
ndak macem-macem (sederhana) , lu ndak bakal gelo nek mau . . . . . .”

Masih panjang lebar cik Fong membacakan “spesifikasi diri dan pribadi” Ling Ling.
Ling Ling , perempuan yg tadi membukakan aku pintu ,
adalah keponakan jauh cik Fong , ia “asisten pribadi”nya cik Fong.
Jadi tidak termasuk sebagai karyawan perusahaan.

Tidak cuma sekali boss menambahkan lauk ke piringku , dan tak bisa kutolak.
Namun acara makan malam , meski dengan lauk yg enak-enak ,
malah jadi waktu-waktu penyiksaan bagiku.
Pertama karena aku semakin yakin bahwa ini cuma kamuflase ,
sebelum boss menyampaikan keputusannya memutasikan aku ke pabrik , atau memecatku !
Yg kedua , karena tawaran istimewa dari istri boss , hee..hee..hee..
 

Selesai makan malam , boss mengajakku duduk di ruang keluarga.
Sebentar ia masuk ke kamarnya , dan ketika kembali ,
disodorkannya padaku sebuah korek gas yg bagus.

“Lu rokok’an khan ? Ini buat lu , ambil’len.”

Boss masih mengajak ngobrol , tapi tidak juga disinggungnya soal tadi siang.
Aku akhirnya tidak bisa lagi menahan diri.

“Koh Eng , soal tadi siang . . . . . ”

Boss langsung mengangkat tangan kanannya.

“. . . . gua tau , . . . lu bener . . . .”

Aku tidak melanjutkan omonganku , tidak juga menimpali omongan boss.
Aku menyadari , bagaimanapun juga sebagai boss ,
kata-katanya itu sudah cukup , . . . lebih dari cukup !
Tanpa kata-kata itupun seharusnya aku memahami ,
disertakannya aku dalam makan malamnya ,
sudah merupakan pengakuan terselubung atas kebenaran sikapku.
 

Aku pulang dengan hati lega , meski sedikit kecewa.
Gimana gak kecewa , lha sudah kadung “berlatih debat dengan diri sendiri” ,
dan menyiapkan argumentasi bagus , . . , “dikalahkan” oleh cuma 4 kata.
 

Beberapa hari setelah kejadian itu , pak Arifin , Kepala Bagianku , ke Surabaya.
Aku ditelpon , disuruhnya menjemput ke kantor pusat.
Dalam perjalanan mengantarnya ke hotel ,
aku diajaknya makan malam di Kedungdoro.

Setelah selesai makan malam , ia berkata.

“Mas Yoga , . . . you tau ?
di perusahaan ini cuma ada 2 orang yg berani membantah perintah boss.”

Aku tersenyum kecut , tidak sulit untuk menebak salah seorang yg dimaksud.

“Satu . . . saya !”

Sambil mengarahkan telunjuk ke dirinya sendiri , ia berkata sekata demi sekata.

“. . . yg kedua , . . you !”

Ia menunjuk ke diriku.
Aku cuma terdiam melihat raut muka seriusnya.
Aku langsung berpikir , rupanya boss mau “bermain” sesuai jalur.
Bukankah sebagai Kepala Bagian , pak Arifin memang berhak menegorku ,
memberikan Surat Peringatan , bahkan memutasikan aku.

“Tapi , kalo saya masih tetep pake aturan . . . . .
you itu gak pake aturan , main hantam kromo saja , haa..haa..haa..”

Pak Arifin mengakiri kalimatnya sambil tertawa terbahak-bahak ,
tapi aku cuma bisa meringis , hee..hee..hee…

 

Setelah dua puluhan tahun berlalu , terasakan olehku ,
Berani karena benar saja ternyata tidak cukup ,
untuk menunjukkan seseorang punya prinsip , punya landasan moral ,
ketika melakukan sesuatu , yg bertentangan dengan orang lain . . . .
terlebih bila mulai memasuki koridor-koridor kekuasaan , uang , relasi , famili , ataupun kepentingan yg lebih besar.
Perlu kecerdikan , kesabaran , kerendahan hati ,
untuk tidak selalu berbenturan dengan dinding kokoh egoisme -orang lain-.

Dan yg kadang (sering) membuat seseorang enggan berusaha untuk sekeping kebenaran ,
adalah kesadaran , . . . kesadaran bahwa tidak selamanya ,
hal yg benar itu didengar , diakui , diterima dan dihargai , sebagaimana mestinya.
Ketika usaha itu berhasilpun , kepuasan bathin sudah digerogoti oleh waktu ,
dan tatapan -mencemooh- orang sekeliling ,
seakan bertanya : “apa -materi- yg kamu dapatkan ?”

Namun , terlebih dari semua itu ,
Sebutir kebenaran tetap bagai intan paling jernih di dunia ,
yg dirindukan untuk tetap ada . . . . . .
meski tak semua orang siap dengan pengorbanannya . . . untuk memiliki.

                                                                               S.O.T.R , Oktober 2009

 

SELESAI.

=================================================

Gua Tahu , . . Lu Bener . . . (Bag.1)

 
Boss_Always_Right
 
Konon , cuma ada 2 peraturan tentang boss.
1. Boss selalu benar.
2. Kalo boss salah , lihat peraturan nomer 1.
 

“Yo , iki daftar rêgo soko bossmu.”
(Yo , ini daftar harga dari bossmu.)

Belum terlalu siang ,
ketika seorang supplier udang kawakan masuk ke ruang kantor perwakilan ,
sambil menyodorkan selembar kertas folio yg terlipat.
Aku sudah bisa menebak apa maksudnya , tapi aku pura-pura tidak mengerti ,
tidak juga menerima kertas itu , cuma kutatap matanya.

“Lungguho dhisik koh Hun , maksudmu yok opo ?”
(Duduklah dulu koh Hun , maksudmu bagaimana ?)

“Udangku trimonên nganggo rêgo iki.”
(Udang yg kubawa, musti kamu terima dengan harga ini.)

Ia duduk sambil meletakkan kertas folio itu di mejaku.
Dari balik kertas itu , terbayang paraf yg kukenal ,
dan tanpa perlu membukanyapun aku sudah tahu ,
itu daftar harga pembelian udang tertinggi di Coldstorage tempat kerjaku ,
yg cuma dipegang oleh boss , Factory Manager ,
Kepala Bagian Pengadaan dan Kepala Perwakilan.

“Gak iso !! Nèk awakmu mèh kirim ndok kéné , yo nganggo rêgoku.”
(Gak bisa !! Kalo kamu mau kirim ke sini , ya pake hargaku.)

“Iki rêgo soko bossmu lho !”
(Ini harga dari bossmu lho !)

Nada suaranya meninggi , dengan tekanan pada kata “bossmu” ,
seakan mengingatkan , bahwa aku cuma karyawan , cuma kuli . . .
dan ia punya hubungan dekat dengan bossku.

“Yo nèk awakmu njaluk urangmu ditompo nganggo rêgo itu , bongkar’ên aé ndok kantor pusat !”
(Ya kalo kamu minta udangmu diterima dengan harga itu , bongkar saja di kantor pusat !)

Usia muda , keras kepala ,
dasare yo rodo emosionil (dasarnya juga agak emosionil , hee..hee..hee..) ,
merasa benar dan merasa punya tanggung jawab ,
membuat nada suaraku tak kalah tinggi , nylêkit pula.

Cak Fajar , yg baru datang dari ruang penerimaan , di sisi belakang koh Hun ,
mengacungkan jempol dengan tegas , tanda menyetujui.
Aku jadi semakin terbombong , hee..hee..hee..

Rupanya koh Hun merasa kalo sedang menabrak tembok , mencoba melunak.

“Ndêlok daftar regomu !”
(Lihat daftar hargamu !)

Aku membagi harga penerimaan dalam 3 grade.
Grade A , supplier yg rutin dengan kwantiti cukup sampai banyak.
Grade B , supplier yg seneng “selingkuh” , tapi tetep membagi padaku.
Grade C , supplier baru , cuma coba-coba , atau yg lagi butuh cash money.
Daftar harga tertinggi cuma kupakai kalo bener-bener diperlukan ,
pabrik butuh barang karena tenggat waktu ekspor ,
kwalitas udang yg benar-benar bagus , dan pertimbangan lain.
Kuberikan padanya daftar harga grade C.

“Waaaah , koq adhoh têmên. Télpon’o bossmu-lah , nèk awakmu gak percoyo.”
(Waaaah , koq jauh sekali. Telponlah bosmu , kalo kamu gak percaya.)

“Aku gak ono perluné ambék boss , nèk awakmu sing perlu , iki , . . ‘tak séléhi telpon.”
(Aku gak ada perlu sama boss , kalo kamu yg perlu , ini , . . kupinjami telpon.)

Ia mengambil gagang telpon , menghubungi kantor pusat.
Setelah disambungkan dengan boss , ia langsung nyerocos ,
mereka memang berteman. Aku tahu.

“Eng ! Yok opo anak buahmu iki ? Daftar rêgomu gak payu ndok kéné !”
(Eng ! Bagaimana anak buahmu ini ? Daftar harga darimu gak berlaku di sini)

Hatiku tambah mbedhedheg (-menahan emosi yg- meluap-luap) ,
orang ini mau bermain dengan gengsi bossku.
Kemudian disodorkannya gagang telpon kepadaku.

“Selamat siang , pak Hary.”

“Siang. Itu udang’é koh Hun trimanên paké harga yg gua kasih.”

“Gak bisa , pak ! Di sini saya Kepala Perwakilannya ,
saya yg berhak mengatur soal harga dan penerimaan.
Saya khan bertanggung jawab sama pak Arifin.”

Boss terdiam tiga detik !
Mungkin terkejut dengan reaksi yg tak pernah diperkirakannya.

“Ya sudah , gua ‘tak bicara sama koh Hun.”

Aku tak tahu apa yg dikatakan boss ,
karena koh Hun cuma menjawab : “iyaa . . . iyaa . . .”

Selesai berbicara dengan boss , koh Hun berkata padaku ,
sikapnyapun berubah , lebih bersahaja.

“Yo wis bongkarên , white ambék windu aé , dogol’é ojo yoo.”
(Ya sudah bongkarlah , yg jenis white dan windu saja , dogol-nya jangan yaa.”

“Êngko’ aé , mari istirahat.”
(Nanti saja , setelah istirahat.)

Jawabku sambil melihat jam , . . . setengah dua belas.
Padahal kalo aku mau , tinggal nyuruh anak buah ,
toh udang yg ia bawa tidak banyak , paling gak sampe setengah jam selesai.
Tapi aku memang berniat ngerjai koh Hun ,
hitung-hitung balas dendam kecil-kecilan , hee..hee..hee..
Akupun sudah berencana ,
nanti kalo waktu proses penerimaan “kakehan omong” ,
pembayarannya bakal kutunda besok , atau ‘tak suruh minta ke kantor pusat.
Bèn kapok. haa..haa..haa..
 

Selesai proses penerimaan udang koh Hun ,
masih ada beberapa supplier yg mengantri ,
sehingga kejadian tadi sudah tidak lagi nyantol dipikiranku ,
sampai sekitar jam 4 , ketika sopir perwakilan memberitahukan , ada telpon untukku.

“Selamat Sore.”

“Sore Yo , aku disuruh koh Eng tanya , kamu masih repot nerima udang tha ?”

Cik Sin , sekretaris boss yg menelpon.

“Iya cik , tapi tinggal satu supplier koq.”

“Sampe jam berapa ?”

“Ini sekalian langsung ‘tak pack di truck. Paling jam lima’an selesai.”

“Pesen’ne koh Eng , kalo kamu ndak repot , disuruh kerumahe jam tujuh.”

“Iya cik , ‘tak usahano.”

Dheg ! Aku merasa , pasti boss memanggilku untuk dimarahi.
 

Ketika itu , akhir tahun 1980an ,
perjalanan dari A.Yani ke Dharmahusada yg tidak terlalu ramai ,
(Gak kayak sekarang yg muaaacetnya minta ampun tujuh turunan , delapan tanjakan , sembilan belokan).
sambil menyetir Chevrolet inventaris Perwakilan ,
aku mempersiapkan omongan kalo nanti boss memarahiku.
Seperti layaknya orang bermain catur ,
mempersiapkan langkah ‘begini’ bila lawan memajukan benteng ,
atau langkah ‘begitu’ bila lawan memajukan mentri.
Yg jelas , aku merasa berada di jalur yg benar ,
jadi tidak mau aku disalahkan begitu saja.
Tapi kalo boss gak suka ,
dia mau memutasikan aku ke Pabrik Semarang ,
atau memecat aku sekalipun , apa boleh buat . . . . .

 

BERSAMBUNG.

=================================================

– Udang White : Penaeus Merguiensis (Latin).
    Nama di daerah : udang putih (laut) , wangkang , jrebung , dll.
– Udang Windu : Penaeus Monodon (Latin) , Tiger Prawn.
    Nama di daerah : udang bago , pancet , tiger , tepus , dll.
– Udang Dogol : Metapenaeus Monoceros (Latin).
    Nama di daerah : udang kasap , udang kayu , kadhoro , dll.

– è : dibaca seperti e pada desa , hewan , seksi.
    ê : dibaca seperti e pada Semarang , segera , sejarah.
    é : dibaca seperti e pada Medan , capek , Denada

=================================================

Malaikat Tak Bersayap – Istana Pasir

 
Pantai berpasir putih itu memang bukanlah tempat rekreasi ,
dan mataharipun sudah mulai tenggelam di ujung laut.
Sinarnya berbias pada awan sekelilingnya , kuning kemerahan.

Seorang lelaki terlihat sendirian ,
selangkah demi selangkah pelahan berjalan menyusuri pantai ,
sambil dihisapnya dalam-dalam rokok yg terselip di sela-sela jari tangan kirinya.
Sesekali ia berhenti , tengadah menatap langit dan menghela nafas panjang.
Sesekali juga dipandanginya lekat-lekat ,
pucuk-pucuk air laut dihantar ombak yg tak henti bergelombang , menjilati kaki telanjangnya.
Dari raut mukanya tak sulit orang menerka ,
bahwa ia sedang mengalami kesedihan yg teramat dalam ,
menanggung beban hidup yg sangat berat ,
yg membuatnya nyaris putus asa.

Ia merasa tak tahu lagi musti berbuat apa ,
ia tak tahu dimana kesalahannya sehingga musti mengalami semua itu.
Semua hal-hal baik , semua hal-hal benar , yg telah dilakukannya . . . terasa sia-sia.
 

Usahanya dalam beberapa waktu akhir terus mengalami kerugian ,
ketika dipercayakan kepada teman-teman yg telah dikenalnya lebih dari 10 tahun.
Karena ia sedang merintis sebuah usaha kecil ,
yg diharapkannya lebih membuat nyaman dan tenang bagi kehidupan keluarganya.
Pekerjaan lamanya memang sering membuat ia seakan tak punya waktu ,
untuk sekedar berbincang-bincang , bergurau , dengan anak dan istrinya.

Namun teman-temannya malah memanfaatkan untuk kepentingan masing-masing.
Padahal modal yg digunakan adalah hasil tabungannya ,
berupa sebidang tanah yg diagunkan ke bank.
Lalu teman-temannyapun meninggalkannya dengan berbagai alasan dan janji.

Ia mencoba menyadarkan diri ,
kesalahan teman-temannya berawal dari kesalahannya sendiri ,
yg menganggap bahwa bila ia melakukan hal baik kepada orang lain ,
akan mendapat balasan yg baik pula ,
sekurangnya tidak mendapat balasan yg buruk.
Ia menganggap , orang lain akan menghargai kepercayaan yg diberikannya ,
adalah sesuatu yg musti dijunjung tinggi.

Ia lupa , ia membutakan dirinya sendiri ,
pada sebuah kenyataan hidup jaman sekarang ,
bahwa tentang uang , setiap manusia mempunyai harganya sendiri.
Ada yg hanya bernilai sebatang rokok , atau sepiring nasi berlauk ayam goreng ,
ada pula yg bernilai sebuah mobil atau rumah mewah dengan perabotannya ,
namun untuk yg harganya tak terbeli ??
Acchhh . . . .

Itu baru harga dari uang , harta , kebendaan . . .
Bukankah seorang lelaki , sering bahkan hampir selalunya ,
jatuh oleh tiga hal , Harta , Tahta dan Wanita.
Menyalahkan Harta , Tahta dan Wanita sebagai sesuatu yg merusak nilai lelaki ?
Tidak ! Lelaki-lelaki itulah yg tidak pernah cukup kuat ,
ketika dihadapannya terpampang salah satu atau bahkan ketiganya sekaligus.
Bukankah ia sendiri meski telah belajar pada sekian banyak ‘guru kehidupan’ ,
jatuh oleh wanita , perasaan cinta kepada wanita , . . . istrinya.
 

Orang bilang “Omnia vincit amor” , “Cinta mengalahkan segalanya”.
Namun ketika cinta itu menghempaskannya pada batu-batu karang ,
mampukah cinta itu membuatnya tetap tegak tegar berdiri ,
atau malahan membuatnya tersenyum bahagia ?

Ia teringat kepada seorang temannya , yg pernah berkata bijak padanya :
Mencintai dengan baik adalah ,
bila yg dicintai berada di sisi kita dan merasa bahagia.
Mencintai dengan benar adalah ,
bila kita tidak berkorban terlalu banyak ,
terlebih malah menjadi korban cinta itu sendiri.
( Yoga Hart )

Itulah hal paling menyakitkannya saat ini ,
setelah kepercayaan yg ia berikan kepada teman-temannya berbalas khianat ,
Istrinya meninggalkannya dengan menguras semua simpanan yg masih tersisa ,
sekaligus meninggalkan beban hutang yg besar ,
kepada beberapa orang yg bahkan sebagian tak dikenalnya.

Dan kepergian istrinya sekali ini , sepertinya tak akan kembali lagi.
Cintanya berbalas pengkhianatan . . . .

Selesai ? Tidak !!!
Si sulung mau masuk universitas , adiknya mau masuk SMA
dan si bungsu mau masuk SMP , jatuh tempo agunan bank tinggal 2 bulan lagi.
Dan ia sudah tak punya apa-apa lagi , kecuali sebuah rumah tinggal.
 

Rokok yg ke tiga mulai dihisapnya ,
dalam hatinya ia berharap Tuhan mengembalikannya pada masa bertahun-tahun lalu , di mana ia merasa melakukan kesalahan terbesar , menerima kembali istrinya.
Demi cinta , demi keutuhan rumah tangga , demi anak-anak ,
demi sebuah ajaran . . . pengampunan.

Mengampuni konon adalah satu dari bagian lain ,
yaitu menerima kembali . . memberi kesempatan kedua.
Namun menerima kembali seseorang yg tidak pernah menyesal ,
tak pernah merasa bersalah dan tak mau mengakui semua kesalahan ,
(ataupun hanya mengakui sebagian saja kesalahan) ,
apalagi berjanji dan berusaha sepenuh kata , hati , pikir dan perbuatan ,
untuk merubah lahir dan bathin , merubah kehidupannya . . . .
Rasanya , di dunia ini cuma ada dua orang yg mau dan mampu melakukannya . . . . . . orang mulia dan orang bodoh !!!

Ia merasa saat ini tengah berjajar dengan orang bodoh lain ,
menerima kenyataan hidup yg teramat pahit , sebagai sebuah akibat.
Karena orang mulia akan menghadapi keadaan seperti saat ini ,
dengan tetap tersenyum dan mengucap syukur serta memuji keagunganNYA.
 

———————————————————————————————————————-
 

Dari kejauhan dilihatnya seorang anak kecil tengah bermain-main sendiri.
disusunnya pasir pantai yg dipadatkan dengan ember kecil ,
dirapikan dengan sekop kecil , sehingga membentuk istana pasir , yg bersusun.
Namun ombak yg bergulung kemudian , menerjang tumpukan pasir itu ,
dan membuatnya tinggal gundukan kecil nyaris rata dengan pantai.

Si anak menyeret kakinya pindah menjauhi tepi air laut ,
kembali asyik membangun istana pasirnya.
Sekali lagi ombak menerjang dan menghancurkannya.

Langkah lelaki itu semakin dekat dengan keberadaan anak kecil itu ,
yg kembali menyeret kakinya ,
sambil membawa ember berisi sekop kecil , menjauhi tepi air laut.
Astaga ! Kakinya pincang !!

Lelaki itu terpana dengan kegigihan si anak kecil ,
lalu ia berjongkok di depan istana pasir berseberangan dengan anak kecil itu.

“Hai , adik kecil . . sedang apa kamu di sini ?”

“Hai om , saya sedang membuat istana pasir.”

Byuuur . . . pucuk-pucuk ombak menerjang mereka , rupanya laut semakin pasang.
Istana pasir itu kembali hancur.

“Mengapa kamu tadi malah membuat istana pasir dari sebelah sana ,
kalau di sini saja masih kena terjangan ombak ?”

“Karena saya memang musti memulai dari sana , om ,
dan tadi di sana gak kena ombak , koq.”

“Lha kenapa kamu koq tidak langsung pindah ke sini ,
ketika pertama kali ombak semakin ke daratan ?”

“Saya mengira dengan bergeser sedikit saja sudah cukup.
Kalau saya bisa tahu apa yg bakal terjadi ,
mungkin saya akan berpindah agak jauh.”

Lelaki itu cuma terdiam , mencoba mencerna kata-kata si anak kecil itu.
Itu seperti yg telah dilakukannya bertahun lalu ,
kalau ia tahu bahwa harapan dan usahanya akan sia-sia ,
mungkin ia tidak akan memilih menerima kembali istrinya.
Kalau ia tahu bahwa teman-temannya hanya akan membebaninya ,
semenjak kerugian pertama , akan dihentikannya seluruh usaha itu , total.

“Kenapa kamu membuat istana pasir ?”

“Karena saya ingin , . . dan harus melakukannya ?”

Bukankah itu pula jawaban atas semua yg dilakukannya ,
karena ia punya keinginan dan ia harus mau melakukan untuk mewujudkannya.
Pengorbanan , cinta , kasih , . . atau apapun istilahnya.

“Padahal ombak selalu menghancurkannya , bukankah itu berarti sia-sia ?”

Anak kecil itu berhenti merapikan sisi-sisi istana pasirnya ,
lalu menatap lelaki itu dengan senyum yg menyejukkan.

“Om , lagi pusing ya ?”

Lelaki itu terpana dengan tatapan dan senyum anak kecil itu ,
ia cuma bisa mengangguk pelahan dengan senyum tipis.
Seketika pikirannya seakan terbebas dari beban yg menggayuti ,
perasaannya seakan terlepas dari semua kesedihan.

“Bukankah kita semua memang harus demikian ,
melakukan sesuatu demi suatu tujuan , dan bila tujuan itu belum tercapai ,
akan melakukan dan melakukan lagi.
Mungkin dengan persiapan yg berbeda , dengan cara yg berbeda.
Ada yg beruntung atau membuat pilihan yg tepat , waktu yg tepat ,
sehingga tidak perlu berulang-ulang kali berusaha.”

“Tapi kalau kemudian semua hancur seperti istana pasir ini , khan sia-sia ?”

“Tidak om , sebuah usaha dengan tujuan baik punya nilai untuk dihargai ,
memberi pelajaran ketika akan melakukan usaha berikutnya , ataupun melakukan usaha yg lain.
Sebuah kegagalan selalu memberi pelajaran ,
bahwa mungkin memang belum waktunya ,
mungkin salah cara ketika melakukannya ,
mungkin memang sebaiknya melakukan hal yg lain saja , dan sebagainya.”

“Bukankah kita memang harus berani memilih dan melaksanakan pilihan kita ,
dengan bersiap diri terhadap segala kemungkinan terburuknya.
Kalau berhasil kita akan tertawa , tapi kalau belum berhasil kita akan bersedih ,
itu khan juga sebuah konsekwensi.”

“Memilih , melaksanakan pilihan dan menerima konsekwensinya ,
adalah bagian dari kehidupan untuk mengisi hidup yg memang berwarna-warni ,
tak soal itu pilihan besar ataupun pilihan kecil.”

“Terkadang orang melakukan usaha besar hanya untuk mendapatkan hasil kecil ,
meski ada pula yg melakukan usaha kecil ,
namun mendapatkan hasil yg besar.
Namun semua itu bukanlah akhir , karena kehidupan masih menanti.
Dan hal yg sama masih akan , terus dan harus berulang , selama kita masih hidup.”

“Om memilih berjalan-jalan ke pantai ,
bisa saja om kehujanan atau basah oleh gelombang air laut yg tiba-tiba besar ,
namun tetap ada yg bisa om nikmati , indahnya matahari yg terbenam ,
debur suara ombak , suara burung-burung pantai ,
andai om tidak terpaku pada diri sendiri.”

Lelaki itu cuma terdiam mendengar semua kata-kata anak kecil itu.
Tak mampu memang ia menampung semuanya ,
namun hatinya merasa sedikit lebih tenang ,
pikirannya sedikit lebih lapang dari berbagai persoalan.

“Om , punya anak-anak khan ?”

“Oo . .iyaa .. . punya . . ”

“Om pulang aja , anak-anak pasti sudah menunggu atau mungkin malah mencari.”

“Iyaa . . iyaa . . . makasih ya adik kecil , kamu sudah membuka mata hatiku.”

“Sama-sama om.”

Anak kecil itu tersenyum menyejukkan.
 

Lelaki itu lalu berjalan menjauhi pantai , melintasi semak-semak ,
menuju tempat dimana ia memarkirkan motornya.
Baru setengah jalan ia berhenti ,
darahnya berdesir seperti listrik yg mengalir di seluruh pembuluh darahnya ,
hingga ke ubun-ubun . . . . . . .

Berbagai pertanyaan tiba-tiba memenuhi pikirannya.
Bagaimana mungkin seorang anak kecil pincang seusia anak bungsunya ,
bisa berada di pantai sendirian , sedangkan sejak tadi ia tak melihat seorangpun.
Bagaimana mungkin anak kecil itu mencapai tepi laut dengan tongkatnya ,
bukankah tongkatnya selalu akan amblas dan menyulitkan ? Merangkak kah ?

Bagaimana mungkin seorang anak kecil ,
tatapan mata dan senyumnya mampu menyejukkan pikiran dan perasaannya ,
mampu berbicara bagai layaknya seorang dewasa ?
Bagaimana . . . . ? Bagaimana . . . . ? Bagaimana . . . . . ?

Lelaki itu berbalik dan jalan bergegas menuju tempat dimana anak itu tadi berada.
. . . . . Tak Ada !!
Pandangan matanya berkeliling mencari , namun tak nampak sesosok bayanganpun.

Hanya tampak tumpukan pasir laut yg dibentuk persegi ,
dengan sebuah tumpukan lebih kecil berbentuk bulatan di atasnya ,
sehelai daun tertancap diatasnya.
Akhirnya , usaha membangun sebuah ‘istana pasir’ terwujud juga ,
sekalipun berada jauh dari tempat saat memulai ,
sekalipun berada jauh dari waktu saat memulai ,
sekalipun hanya menjadi sebuah ‘pondok pasir’ ,
namun tetap berdiri utuh ,
dan busa-busa ombak yg menjilati pantai hanya menggapai-gapai ‘pondok pasir’ itu.
 

Malaikat tak lagi bersayap . . . .
Untuk mengajarkan kepada manusia ,
agar menjalani kehidupannya sebagai sesuatu yg harus dijalani ,
dengan kesungguhan , dengan cara-cara yg benar dan baik ,
serta tetap berlandaskan kasih sayang ,
dan tak merasa sebagai kesia-siaan ,
ketika semua usahanya seakan tak berbuah apapun.
Tidak pula menjadi sombong dan lupa diri ,
ketika semua usahanya membuahkan hasil seperti yg diharapkan.

Hmmm . . . bisakah ?
                                                                             S.O.T.R , Awal Maret ’10

 

Kita bisa saja tidak mempunyai -harta benda- apa-apa ,
kita boleh saja kehilangan -harta benda- semuanya ,
tapi kita harus tetap memiliki ,
dan tidak boleh kehilangan nilai diri dan keyakinan kepadaNYA.

 

Tulisan Terkait : Malaikat Tak Bersayap – Sepatu
 

=================================================

Blackberry Buat Surti

 
Nexcom (s)
 
“Maaaas , belikan aku Blackberry yoo.”

“Haaah . . edan ‘po kowe ?”

“Kowe , . . kowe , . . sudah tiga tahun di Suroboyo koq masih kowa , kowe terus.”

“Hee..hee..hee.. edan opo awakmu ?”

“Yeeey , edan’e koq pancet nemplek ?”

“Embuh , ach . . . ”

Aku menjawab pendek sambil membereskan mangkok dan gelas di meja ,
sementara Surti masuk melayani seorang anak muda yg membeli 2 batang rokok.

Jam di dinding sudah menunjukkan angka 10.
Masih terlihat motor dan mobil yg melintas ,
tapi kami memilih berberes-beres , memasukkan minuman-minuman dalam botol yg tersaji di meja ,
lalu menutup bedhak warung kami mencari nafkah dan menyambung hidup.

Sungguhpun luas rumah kontrakan itu pas-pasan ,
dengan rombong bakso yg melintang
dan sebelahnya dipasang etalase sepanjang 1 meter ,
buat berjualan rokok , jajanan , gula , kopi , camilan dan lain2 ,
kami senang menempatinya , selain halamannya yg cukup luas meletakkan bangku dan meja panjang ,
buat pengunjung yg datang , juga karena dekat dengan mall dan tak terlalu jauh universitas.
Itu berarti akan ada pembeli setiap hari , meski hampir di sepanjang jalan itu berjualan makanan.
Meski beberapa tempat yg lain lebih keliatan bersih , rapih , bahkan ada beberapa yg agak mewah , cafe.

Setelah selesai ,
seperti biasa Surti mandi lebih dulu , sementara aku menutup bedhak.
Akupun lalu mandi ,
kemudian masuk ke kamar tidur kami yg juga cuma pas-pasan.
Lumayan lah , bisa menaruh meja kecil buat TV 20 Inc yg bulan depan lunas kreditnya.
Juga sebuah lemari pakaian dari kayu yg tempo hari kami beli dari seorang bapak , yg menawarkan berkeliling dengan membawanya terikat di kiri kanan boncengan sepedanya.
Edan tenan bapak itu , gitu koq ya kuat , koq ya gak jatuh.

Aku berbaring di sebelah Surti yg terlihat memasang wajah merengut ketika aku masuk ,
sambil asyik mengikuti berita tentang video mirip artis Ariel , Luna Maya dan Cut Tari.

“Untuk apa tho , dik . . kamu koq minta Blackberry ?”

Dia cuma menoleh sekilas , lalu kembali memperhatikan berita di TV , malah mecucu.

“Blackberry itu mahal , dik. 5 jutaan lhoo.”

“Yg bekas aja thoo . . khan murah.”

“Oallah dik , dik . . semurah-murahnya juga masih muni juta.
Kemarin dulu ada mahasiswa yg kost di rumahnya Haji Wahab nawari bekas . . .”

“Lhaaa , koq gak mas ambil ? Siapa tahu dia butuh duit.”

“. . bekas kelindes ban mobil.”

“Plakkk !”

Pahaku dipukulnya keras sambil tertawa ngakak. Yaach , paling tidak sudah gak merengut.

Aku merangkul pundaknya , malah diselonjorkannya kedua kakinya lalu ditekuk ,
kepalanya berbantal pahaku , kalo sudah begini biasanya berarti masalah it’s clear.

“Untuk apa thoo , sayang pengen Blackberry ?”

“Hallaah , kalo sudah pake sayang sayang , . . . paling cuma merayu ,
supaya tidurnya gak aku punggungi.”

Tetap saja Surti gak mau menjawab dan tetap saja tidur malam ini memunggungiku.
 

———————————————————————————————————————-
 

Hari berikutnya sekitar jam 9 malam kembali Surti ngomong soal Blackberry.
Embuh setan apa yg muncul jam segitu sambil mengumandangkan rayuan Blackberry.

“Enggak diiik , kita gak punya uang segitu.”

“Bekas masss , yg bekas ajaaaa . . .”

“Kita bisa beli bekas, tapi nanti gak bisa mudik.”

Masih banyak gremengannya soal Blackberry , sampe akhirnya dia ngomong.

“Kalo gak mau beliin , ya sudah ! . . aku pergi dulu !”

“Diiik , dik . . ”

Surti sama sekali tidak menoleh , aku mencoba membuntuti ,
baru sampe di depan bangku jualan , 2 orang pegawai mall masuk ,
aku cuma sempat melihat Surti masuk ke gang empat ,
yg rumah-rumahnya kebanyakan adalah tempat kost-kostan.
 

Bedhak terakhir sudah selesai aku tutup ,
aku masih berdiri di pintu ketika Surti pulang.
Melihat wajahnya yg begitu sumringah dengan senyum lebar yg menghias bibirnya , aku malah jadi heran dan curiga ,
“Kesambet opo piye tho bojoku ?”.
Tapi pohon sawo kecik yg katane sering ada bayangan putih berdiri di atas pohon ,
dan sering mengganggu , menakuti-nakuti orang yg lewat situ malam-malam ,
sudah setahun yg lalu di tebang , malah dibuat taman dan dipasangi lampu terang.

Surti melewatiku dan langsung memelukku erat-erat dari belakang ,
ketika aku mau memegang lengannya ia cepat-cepat melepaskan pelukannya dan pergi mandi.
 

“Blackberry china aja yaa , mas.”

Kembali diungkitnya soal Blackberry.
Edan koq orang yg nyiptakan Blackberry itu ,
bikin Surti jadi rewel , bikin aku jadi mumet.
Aku merangkul pundaknya , disandarkannya kepalanya di bahuku.

“Paling-paling sejuta koq.”

“Kamu tadi ke konter nanya-nanya tho ?”

Surti menggeleng lalu mengangguk. Gawe batuk kayak mau pecah.
Aku kembali panjang lebar menjelaskan ,
apa tho gunanya handphone mahal-mahal.
Lha wong Nokia 3100 yg kami punya aja jarang kepake , kadang sampe pulsane numpuk.

Surti cuma merengut tapi seperti kemarin , tidurnya membelakangiku ,
dan ketika aku mencoba memeluknya dari belakang , lenganku malah digigit.
Jiaaan aleman tenan , koyok cah cilik.
 

———————————————————————————————————————-
 

Besoknya seperti malam kemarin , jam 9 lebih Surti “kumat” Blackberry lagi.

“Malam ini rame lhoo , mas.”

“Iya nih , padahal orang-orang gajian khan masih 2 hari lagi.”

“Berarti besok lusa bisa tambah rame ya , mas.”

“Moga-moga aja , dik.”

“Jadi dong beliin aku Blackberry China , . . yg bekas aja wiss.”

“Dhuuuuuh , ampun Gusti. Blackberry lagi , lagi-lagi Blackberry.”

“Ya wis kalo masih belum mau mbeliin , aku pergi dulu !”
 

Kubiarkan saja Surti pergi karena masih ada pembeli yg datang ,
toh paling-paling ke konter di pertigaan , liat-liat sambil nanya-nanya Blackberry.

Bedhak sudah kututup , tapi Surti belum pulang.
Akhirnya kutinggal mandi sementara pintu cuma kurapatkan.
Ketika aku selesai mandi dan masuk ke kamar , kulihat Surti bersandar sambil nonton TV ,
yg lalu segera bangkit dan aku dipeluknya erat-erat .
Tapi ketika aku hendak menciumnya , Surti segera melepaskan pelukannya dan pergi mandi.
 

“Ada yg bekas , mas. Harganya lima ratus ribu , masih bisa ditawar.”

Kata Surti sambil merangkulkan tangannya ke pundakku ,
lalu didekatkannya bibirnya ke telingaku dan berkata setengah berbisik.

“Aku kepengen , mas.”

Darahku berdesir dan jantungku langsung berdebar , kupalingkan kepalaku agar bisa menciumnya.

“Blackberry , maaaass.”

Aku menghela nafas panjang ,
menggeleng-gelengkan kepalaku yg tidak apa-apa ,
sambil mencoba mencari jalan tidak menuruti permintaannya secara langsung.

“Ya wiss , kalo besok juga rame kayak tadi , kita beli Blackberry untukmu dik.”

Aku mencoba memeluknya , tapi dipindahkannya tanganku , dia tidur memunggungiku lagi.

“Besok aja , kalo sudah ada Blackberrynya . . . .”
 

———————————————————————————————————————-
 

Malam ini tidak seramai malam kemarin , tapi aku memilih mengalah pada kemauan Surti.
Selesai menutup bedhak kami berjalan ke konter di pertigaan jalan.
Rupanya Surti memang sudah melihat-lihat hari sebelumnya ,
karena begitu kami sampai dan duduk di depan etalase handphone ,
si engkoh langsung mengeluarkan sebuah Blackberry China berwarna merah dengan kombinasi hitam.

Di sepanjang perjalanan pulang Surti nampak gembira sekali mengutak-atik Blackberrynya.

“Mbok ya nanti aja di rumah.”

Kataku yg akhirnya ikut senang juga karena bisa membuatnya senang.
Moga-moga aja dagangan kami rame terus agar bisa menyiapkan uang buat lebaran di kampung ,
dan ngumpul-ngumpulin buat mbayar kontrakan yg bakal habis 3 bulan lagi.

Surti menoleh kepadaku sambil tersenyum , dimasukkannya Blackberry itu ke saku roknya.
Kepalaku diraih lalu diciumnya pipiku.

“Makasih ya , masku sayang.”

Aku mengangguk sambil tersenyum.
Itulah Surti , dia tidak pernah malu menunjukkan perasaannya kepadaku ,
meski kadang aku yg risih kalo sedang di warung dia ngomel atau tiba-tiba mencium pipiku.

Sampai di depan gang 4 , Surti membelok dan menyuruhku pulang duluan.

“Mas duluan aja , mandi yg bersih yaa ? Aku nanti nyusul.”

Aku mengiyakan saja , paling-paling dia mau memamerkan Blackberrynya ke teman-temannya ,
SPG-SPG yg sering jajan di warung kami. Wis ben lah , asal aku tidak tidur dipunggungi lagi.
 

Surti masuk dan meletakkan Blackberry di ranjang lalu membuka lemari pakaian.

“Aku mandi dulu. Jangan utak-atik Blackberryku yaa.”

Aku cuma tersenyum dan meneruskan nonton TV.

Tak lama Surti masuk dengan cuma mengenakan pakaian dalam dan celana pendek.
Jantungku rasanya berdebar-debar dan darahku mengalir cepat sekali ,
apalagi tercium harum tubuhnya ketika berbaring di sebelahku.
Aku memiringkan badanku memeluknya sambil kucium lengannya yg terbuka.

“Sebentar tho , mas.”

Katanya sambil mengutak-atik Blackberrynya lagi.

Aku kembali menghela nafas , bakalan sibuk dia dengan Blackberrynya semalaman pikirku.

“Dik , kenapa sih kamu itu ngotot banget minta Blackberry ?
Lagian ngapain pake mamer-mamerin ke temen-temenmu dulu ?”

“Aku tadi ke mbak Yanti , mas. Minta video.”

“Mbak Yanti SPG parfum itu ? video ?”

“Iya , mas. Aku pengen kita malam ini bercintaan kayak gini lho mas.”

Ia menggeserkan tangannya , sehingga aku dan Surti bisa melihat apa yg dimaksud Surti.
Terlihatlah adegan video yg bikin heboh orang se Indonesia.

“Plakkkk !!!”

Kutepuk jidatku kerasss !!
                                                                  S.O.T.R , September-Oktober ’10

=================================================

[Intermezzo] A Letter Of Love Songs , “Sealed With A Kiss”

 
Loving You (by LovelyButterfly)

 
 
“My Love” . . . .
When you’re “Alone” , “If You Remember Me”
“This Is The Right Time” to “Call My Name”
“Because” You Know , . . like “Heaven Knows”
I “Still” “Right Here Waiting” “For You” , . . “Only You” . . .

“If” you hear “The Sound Of Silence” , “Rhythm Of The Rain”
It means that i sing a “Song For You”
which makes me “Remember The Time” , a “Wondeful Tonight”
“When You Tell Me That You Love Me”
I feel that “You Need Me” as “I Need You”
By Yoga Hart , yogahart.wordpress.com
Oh God , “Please Help Me , I’m Falling” , . . i’m “Falling In Love”
I “Don’t Know Much” , but i know that “I Love You” , . . “I Really Love You” . . .
And i “Can’t Take My Eyes Of Off You” , . .
“I Remember” when you “Kiss Me” “For The First Time”
I really miss that feelings , please “Do that To Me One More Time” , “Honey” . . .

Please , “Don’t Sleep Away The Night” , “It’s Gonna Be A Long Night”
A night for talking about “Feelings” , “Love” , and everything
. . . . . . until the “Silent Morning”

“If Tomorrow Never Comes” ,
“Maybe” you will never give me a “Kiss And Say Goodbye”
And i never see you “Leaving On A Jet Plane” . . .
Then i think , “Will You Still Love Me Tomorrow”
By Yoga Hart , yogahart.wordpress.com

“From A Distance” . . . . . .
“Time Moves On” . . . . . .
 

“Tonight I Celebrate My Love” for you , in “November Rain”
Although we are now like two “Strangers In The Night”
“No Matter What” you say or “The Way You Do The Things You Do” to me ,
“Nothings Gonna Change My Love For You”
Because “7 Years and 50 Days” i’m “Waiting For A Girl Like You”
and “I Finally Found Someone” who “Love Me”

“Oh Darling” , “I Don’t Want To Talk About It” again . . . .
“Only One” thing i beg from you ,
Please , . . . . . .
“Don’t Forget To Remember” “One Day In Your Life” , . . a “Beautiful Day” . . .
The day “When I Met You” in a bridge to the sky
And we walk together to . . . “Somewhere Over The Rainbow”
                                                                                 Yoga Hart
                                                                                 S.O.T.R , October ’10

 

– “P.S. I Love You” and “I Know (You’ll Never Be Mine)”

=================================================
 

Songs List :

Sealed With A Kiss – Bryand Hyland

My Love – Lucifers Friend

Alone – Heart
If You Remember Me – Chris Thompson
This Is The Right Time – Lisa Stansfield
Call My Name – Lisa G.
Because – Dave Clark
Heaven Knows – Rick Price
Still – Commodores
Right Here Waiting – Richard Marx
For You – Baccara
Only You – The Platters

If – Bread
The Sound Of Silence – Simon & Art Garfunkel
Rhythm Of The Rain – The Cascades
Song For You – Chicago
Remember The Time – Michael Jackson
Wondeful Tonight – Eric Clapton
When You Tell Me that You Love Me – Diana Ross
You Need Me – Anne Murray
I Need You – Lynyrd Skynyrd

Please Help Me , I’m Falling – Hank Locklin
Falling In Love – B.Z.N
Don’t Know Much – Linda Ronstadt & Aaron Neville
I Love You – Sofie
I Really Love You – Oscar Harris
Can’t Take My Eyes Of Off You – Frankie Vallie
I Remember – Faith Evans
Kiss Me – M2M
For The First Time – Kenny Loggins
Do That To Me One more Time – Captain & Tenille
Honey – Miro

Don’t Sleep Away The Night – Daniel Sahuleka
It’s Gonna Be A Long Night – Berie Paul
Feelings – Morris Albert
Love – Lynn Paul
Silent Morning – Noel

If Tomorrow Never Comes – Ronan Keating
Maybe – Thom Pace
Kiss And Say Goodbye – Manhattans
Leaving On A Jet Plane – Chantal Kreviazuk
Will You Still Love Me Tomorrow – Brenda Lee

From A Distance – Bette Midler
Time Moves On – Carmen & Thompson

Tonight I Celebrate My Love – Roberta Flack & P. Bryson
November Rain – Guns ‘N Roses
Strangers In The Night – Frank Sinatra
No Matter What – Boy Zone
The Way You Do The Things You Do – Temptations
Nothings Gonna Change My Love For You – George Benson
7 Years and 50 Days – Groove Coverage
Waiting For A Girl Like You – Foreigner
I Finally Found Someone – Bryan Adams & B. Streisand
Love me – Michael Cretu

Oh Darling – The Beatles
I Don’t Want To Talk About It – Rod Stewart
Only One – Henry Gross
Don’t Forget To Remember – Bee Gees
One Day In Your Life – Michael Jackson
Beautiful Day – U2
When I Met You – Sarah Geronimo
Somewhere Over The Rainbow – Judy Garland

P.S. I Love You – The Beatles
I Know (You’ll Never Be Mine) – Naomi & The Boy

 

=================================================

Terima Kasih , Ya Tuhan – Bag.2 (Selesai)

 
Sepeda motor yg meski usianya sudah cukup tua ,
namun tak pernah rewel mengantarkan aku mencari sesuap nasi ,
kunaikkan ke teras “istana”ku , berjajar dengan motor yg lebih baru , yg dipakai anakku.

Yach , “istana”ku adalah sebuah rumah type 36 , setingkat di atas RSSSSSS ,
(Rumah Sangat Sederhana Sampai Selonjor Saja Susah) , yg KPRnya 5 tahun lagi selesai.
Rumah , dimana aku , “Permaisuri” dan kedua anakku berpayung dari hujan ,
berteduh dari terik surya , menyatukan kami dengan kesederhanaan dan suasana bahagia.

Aku melepas jas hujan sambil mendengar celotehan kedua anakku di depan pintu.

“Yah , uang bea siswa Cintya sudah cair , besok Cintya mau beli kamus Oxford.”

“Yah , Dyah terpilih jadi ketua kelas lho.”

“Eeee . . biar ayah masuk dan istirahat dulu , baru diceritain.”

Natalia , istriku menegur kedua anakku yg begitu antusiasnya menyuguhiku dengan kegembiraan.
Tiba-tiba terbayang suasana dan hubungan kekeluargaan di rumah majikanku ,
yg meski tampak rukun dan bahagia , namun bukan timbul dari hati sanubari ,
mungkin sebenarnya tak lebih dari hasil didikan etika relasi , etika sosial.

Darahku berdesir seakan mengalirkan kebahagiaan ke segenap penjuru tubuhku ,
karena tak lagi mampu tertampung dalam rongga dada yg terasa sesak.
Kupeluk dan kukecup kening Cintya dan Dyah bergantian ,
lalu kudekap erat Natalia . . .
hangat tubuhnya mengingatkan aku pada sesuatu yg sering terlupakan , . . bersyukur padaNYA !

“Ada apa mas ?”

Melihat sikapku yg tak biasanya ,
sambil membalas pelukanku , Natalia bertanya dengan suara lembut di telingaku.

“Nanti saja aku ceritakan , dik.”

Aku lalu duduk selonjor bersandar dinding yg membatasi kamar dan ruang tengah.
Karena memang tak ada kursi tamu di ruang tamu atau ruang keluarga ini.

“Mas , kita khan jarang kedatangan tamu ,
mending untuk menutup bagian atas dan memplester halaman belakang saja ,
lagipula rumah kita bakal terlihat sempit sekali bila ada kursi tamu.”

Itu kata Natalia ketika aku menawarkan untuk membeli kursi tamu.

Kurogoh saku bajuku dan kuamati sejenak 2 lembar uang seratus ribuan.
Aku menghela nafas panjang , lalu kumasukkan uang itu ke dalam dompetku.

 
“Minumlah dulu , mas. Aku masakkan air yaa ?”

“Makasih. Gak usah dik.”

“Yah , besok antarkan Tya beli kamus ya , sama beli sepatu.”

“Iya , besok kita cari di jalan Semarang , banyak koq kios buku-buku bekas.
sepatunya cari di Blauran aja , murah , . . asal kita pinter-pinter nawar.”

“Ada komik-komik anime gak yah ?”

“Banyak , tapi kalo yg serian paling gak berurutan. Dyah mau ?”

“Boleh , yah ?”

“Iya , boleh. Besok kita pergi bareng-bareng sepulang dari gereja ya.”
 

———————————————————————————————————————-
 

“Anak-anak sudah makan , dik ?”

“Sudah mas , yg belum ibunya.”

Jawab Natalia sambil menyendokkan nasi ke piring , lalu menyodorkan padaku.

“Diiiik , aku khan sudah bilang bolak-balik , makanlah duluan bareng anak-anak ,
kalo pas aku pulangnya malam.”

“Kalo makan bareng mas , khan rasanya beda . . lauk ikan bandeng serasa . . . . ”

“Ya , ikan bandeng , hee.hee.hee….”

“Hi.hi.hi . . . enggak apa koq mas , tadi belum terasa lapar.”

Sambil makan dengan duduk bersila di ruang tengah ,
aku menceritakan apa yg kualami ketika mengantarkan kedua majikanku tadi.

“Karena mas merasa dibayar ya ?”

Natalia memotong ceritaku di bagian saat aku sengaja membelokkan mobil ke arah yg salah.
Aku memandangi senyum lebarnya sesaat , senyum yg seakan mentertawai sikapku.

“Bukan begitu , dik.
Aku cuma gak ingin mereka ketemu dan lalu ribut di depan orang banyak ,
karena tahu masing-masing ternyata sama-sama berselingkuh.
Dan secara gak langsung , aku khan juga terlibat . . . . ”

“Ya dikasih tahu aja tho mas , biar mereka sadar.”

Natalia kembali berseloroh , aku merasa malam ini isengnya kumat.

“Haa.haa.haa.haa….”

Aku tertawa terbahak-bahak , membuat kedua anakku yg ternyata belum tidur ,
keluar dari kamarnya sesaat , tersenyum dan kembali masuk.

“Mereka itu orang-orang pintar dik , . . orang-orang hebat ,
yg mampu menciptakan kebenarannya sendiri dengan berbagai teori dan argumentasi ,
lalu mewujudkannya dalam bentuk keberhasilan materi , status sosial dan simbol kemapanan.
Sehingga orang akhirnya mempercayai apa yg mereka ucapkan dan tampakkan.
Sedangkan orang-orang seperti kita cuma bisa mewarisi kebenaran dari Kitab ,
dan seringkali lupa , salah mengerti , mengartikan dengan penyesuaian pemahaman kita ,
bahkan mengingkari untuk menerapkannya dalam kehidupan sederhana sehari-hari.
Ketika kita ragu atau mempertanyakan , kita cuma bisa menyuarakan dalam diam , dalam doa.”

Mendengar aku berbicara serius , Natalia menggenggam tanganku.

“Yg penting , dengan posisi dan keadaan mas ,
mas sudah melakukan yg terbaik dari apa yg mas semestinya lakukan ,
dari apa yg mas bisa lakukan. Aku bangga denganmu , suamiku.”

Aku tersadar , ia tak cuma menggenggam tanganku , tapi juga meremas-remas ,
dan itu berarti tanganku bakal terolesi sambel , dhuuuh . . . padahal aku gak doyan sambel.

“Makasih , dik.”

Aku melepaskan gengamannya dan kembali meneruskan makanku dengan tambahan rasa pedas.
Ia tersenyum . . manis sekali dalam pandangan mataku malam ini.

“Toh , mas menerima uang itu karena mereka yg berniat memberi ,
bukan karena mas yg meminta atau berniatan . . . . ”

Natalia mengangkat jari telunjuk dan jari tengah kedua tangannya ,
menggerakkannya sebagai simbol memberi tanda kutip.

” . . . “menjual” . . rahasia mereka.”

Cuma itu yg bisa menghibur diri ketika nurani terusik dan tak mampu berontak ,
karena ada hal-hal lain yg jauh lebih besar yg bakal dipertaruhkan.
Dan orang-orang seperti kami , cuma bisa mencoba menyikapi dengan kesederhanaan.

Aku menyisihkan daging sisi perut dan bagian bawah perut bandeng goreng yg berlemak ,
bagian yg paling enak dari ikan bandeng , lalu mencampur dengan sedikit nasi ,
dan menyuapkan ke mulutnya sambil berkata.

“Lha kalo misalnya , aku menjual rahasia itu terus dikasih Honda Jazz gimana ?”

Natalia menerima suapanku sambil memegang tanganku , digigitnya ujung jariku pelahan.
Darahku langsung berdesir . . . . . achh . . . .

“Aku yg gak mau !”

“Lhooo , . . kenapa ?”

“Soalnya itu gak mungkin , salah-salah mas bakal masuk bui , hi.hi.hi…”

“Haa.haa.haa…..pinter.”
 

———————————————————————————————————————-
 

Hujan masih deras membasahi bumi.
Aku menyulut rokok yg tadi kumatikan di garasi ,
asapnya segera berbaur dengan angin yg menyelinap dari jendela.

Kupandangi Natalia yg tengah mencuci piring membelakangiku.

Ia tak mengerti bagaimana dengan menjual belikan dollar orang bisa mendapat untung ,
atau mengapa neraca perdagangan negara disebut suplus.
Ia cuma mengerti kalo pisang goreng , tahu isi dan tempe gembus yg dibuatnya habis terjual ,
ia akan mendapat keuntungan sekitar dua puluh ribu rupiah . . . setiap harinya.

Ia tak mengenal ibu anu yg anggota DPR ataupun ibu inu yg istri pemilik PT. unu.
Ia cuma mengenal tetangga se-blok , se-RT ,
atau yg agak jauhan bu Haji di blok depan , yg rumahnya bagus mobilnya dua ,
tapi kalo pesen jajan buat arisan sering lupa mbayar.
Atau bu Lurah yg kalo mbayar mesti lebih dan tidak pernah mau nerima kembaliannya.

Ia tidak mengerti berita tentang Fesbuk bisa membuat seorang anak gadis kabur dari rumah ,
atau wakil-wakil rakyat yg kalo sidang pada mbolos , tidur , adu pinter ngomong ,
sampe adu jotos , tapi rajin “belajar membanding-bandingkan” ke luar negri.
Ia cuma mengerti berita harga terigu yg naik , minyak goreng yg mendadak langka di pasar ,
atau tabung elpiji 3 kilogram yg meledak-ledak di segenap penjuru Indonesia.
(Lalu diam-diam ia membuka celengan kentongan bambunya ,
dan menukar tambahkan tabung elpiji 3 kilogramnya ke tabung 15 kilogram ,
sekaligus mengganti selang dan regulatornya.)

Ia tidak menyembunyikan kecemburuannya ketika aku bercerita tentang Marni ,
yg cukup perhatian kepada sopir-sopir atau pegawai laki yg lain.
Tapi meski dengan sedikit cemberut ia mampu mengutarakan dengan kalimat arif dan nada halus ,
yg membuat aku selalu menyadari , betapa besar cintanya kepadaku ,
dan membuat tak pernah ada inginku untuk menukar cintanya dengan cinta wanita siapapun.

Ia tak pernah mencium pipi kiri dan kananku ketika aku berangkat kerja ,
ataupun menelpon , mengirim SMS cuman untuk mengucapkan “I Love You , Honey.” ,
“I Miss U , Sweetheart” , atau kata manis dan mesra yg sejenisnya.
Tapi ia selalu menghantar keberangkatanku dengan doa ,
dan menyambut kepulanganku dengan syukur.

Terima kasih , ya Tuhan . . . . .
                                                                      S.O.T.R , September-Oktober ’10

 

=================================================

Terima Kasih , Ya Tuhan – Bag.1

 
“Pak Yosep !”

Suara yg nyaring cemengkling terdengar dari teras rumah ,
mengagetkan aku yg tengah menikmati asap racun ,
sambil mendengarkan lagu Keong Racun dari hape RedBerry milik Jono , di depan garasi yg luasnya cukup buat 4 mobil.

“Iya , nyah . . ”

Aku segera mematikan pemutar musik di hape ,
juga api rokok yg baru beberapa kali kuhisap.
Sambil memasukkannya ke kotak rokok aku bergegas menuju teras.

“Nyonya . . nyonya . . kayak jaman feodal aja.
Manggil ‘ibu’ gitu susahnya kenapa tho , pak ?”

Nyonya , . . eh , ibu Metty , majikan perempuanku , menegurku sambil tersenyum lebar.
Nampak cantik sekali dengan rok hitam selutut dan baju merah tua ,
orang yg melihat pasti gak akan mengira kalo usianya sudah 45 tahun.

“Iya , nyah . . . eh bu.”

“Tolong antarkan saya ke Darmo Satelit.”

“Lho , mama gak bawa mobil sendiri aja ?”

Suaminya yg mengenakan pakaian olah raga dan berkalung handuk keluar.

“CRV-nya dibawa Andika ,
katanya mau ada acara ulang tahun temennya di villa kita.
Jazz-nya dipake nganterin Tania les musik.
Pak Yosep cuma nganterin koq , pa. Nanti mama pulang biar dianter temen ,
cuma agak malem , pa . . soalnya sekalian reunian.”

“Oo , ya sudah kalo gitu. Soalnya papa musti nemeni tamu dari Jepang , ma.”

 
Aku menuju pos satpam mengambil kunci mobil sekaligus mengembalikan RedBerry ke Jono.
Lalu mengeluarkan BMW dari garasi , sementara Jono si Satpam segera membuka pintu gerbang.
Bu Mettypun masuk ke mobil setelah mencium pipi kiri kanan suaminya.
Mobil BMW berwarna hitam yg kukemudikanpun mulai menyusuri jalan aspal yg mulus.

“Sayaaang , sudah nunggu lama ya ?

Kulihat sekilas dari kaca spion tengah , bu Metty menelpon seseorang.

“Maapin aku yaa say. Mobilnya dipake semua sih. Ini bentar lagi juga nyampe koq. Bye honey.”

Bu Metty menutup pembicaraan lalu berkata kepadaku.

“Pak Yosep , ke Cafe La Rose aja.”

“Di HR Muhammad ya , bu ?”

“Iya.”

 
Sesampainya di halaman parkir Cafe ,
bu Metty segera turun , menghampiri lelaki yg nampak lebih muda darinya yg nampak menunggu.
Dari balik kaca mobil kulihat mereka bercipika-cipiki sambil tertawa-tawa.
Beberapa saat kemudian bu Metty menggamit lengan lelaki itu hendak masuk ke kafe , tapi lelaki itu menoleh ke arahku ,
mungkin mengingatkan bu Metty akan keberadaanku yg masih menunggu perintah.

Bu Metty lalu berjalan ke arahku , akupun segera turun dari mobil dan menghampirinya.

“Pak Yosep , kembali ke rumah anterin bapak ya.
Ini buat beli jajan anak-anak di rumah.”

Katanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku.

“Gak usah bu.”

Aku berusaha menolak.

“Sudaaah , terima aja ! Gak usah bilang apa-apa sama bapak ya.”

“Terima kasih , bu.”

Akupun menerima uang itu sambil mengangguk dan segera memasukkan ke saku bajuku.
Entah , . . rasa apa yg tiba-tiba menyesaki rongga dadaku.
 

———————————————————————————————————————-
 

Melihat aku sudah sampai , pak Robert , majikan lelaki , yg tengah duduk di teras , segera meletakkan koran yg dibacanya dan masuk ke mobil.
Akupun kembali meluncurkan BMW dijalan mulus di kawasan CitraLand.

“Kemana pak ?”

Tanyaku ketika sudah sampai di G-Walk , namun pak Robert belum juga memberitahu tujuannya.

“Cafe La Rose di HR Muhammad.”

“Mati kau !!!”

Ucapku dalam hati sambil menelan ludah yg tiba-tiba terasa nyangkut di tenggorokan.

Di pertigaan Unesa , kulihat dari kaca spion tengah ,
pak Robert masih asyik berbicara dengan seseorang lewat handphonenya.
Dari yg semestinya berbelok ke kiri , aku sengaja membelokkan mobil ke kanan ,
menuju jalan Wiyung yg pada jam-jam segini selalu macet , apalagi malam minggu.

Beberapa saat kemudian pak Robert tersadar.
Dengan handphone yg masih menempel di telinganya pak Robert bertanya.

“Lho , koq lewat sini , pak ?”

“Tadi di pertigaan Lontar macet total , pak.”

Aku berbohong dengan sepenuh hati.

Suatu kesalahan (kalau tidak mau disebut sebagai dosa) ,
yg hampir setiap hari dan hampir semua orang bisa melakukannya , adalah berbohong.
Yg lalu , agar meringankan beban perasaan bersalah , dibuatlah kategori berbohong , yg dalam situasi dan kondisi tertentu tidak perlu masuk ke dalam ranah bersalah atupun berdosa.
Seperti berbohong untuk tujuan berbuat kebaikan ,
ketika sedang bersenda gurau ,
untuk menyenangkan suami/istri dan ketika menghadapi bahaya maut (peperangan).

 
Pak Robert kembali berbicara dengan seseorang itu.

“Say , udah nyampe mana ?”

Entah apa jawaban dari seberang sana.

“Kalo gitu kita ketemu di Priyangan aja ya , ok . . love u so much honey.”

Pak Robert menutup handphonenya dan berkata padaku.

“Ke Priyangan aja pak , di Mayjend Sungkono.”

“Iya , pak.”

Lega rasa hatiku mendengar perubahan tujuan.

Setibanya di Priyangan , pak Robert mengulurkan tangan ,
yg kulihat di antara jempol dan telunjuknya terselip lipatan kertas berwarna merah.

“Pak Yosep , ini buat beli rokok.”

“Gak usah pak , rokok saya masih ada koq.”

“Gak apa-apa , ambil aja. Pak Yosep pulang aja.
Gak usah cerita apa-apa sama ibu ya.”

“Iya , pak. Terima kasih.”
 

———————————————————————————————————————-
 

“Lho , gak nungguin bapak ?”

Tanya Jono satpam ketika membukakan pintu gerbang.

“Gak , bapak pulang dengan temannya.”

Aku berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan yg butuh jawaban rumit ,
yg kemudian bisa saja menimbulkan pertanyaan lain atau komentar berkepanjangan.

Selesai memasukkan mobil ke garasi ,
aku menyimpan kunci mobil ke pos satpam.
Baru saja aku mencatat jam lemburku ,
langit sepertinya tidak lagi sanggup menahan mendung yg sejak tadi bergayut ,
lalu membiarkannya menurunkan muatan hujannya yg deras.
Aku segera berlari ke garasi dan mengambil jas hujan dari motor , lalu memakainya.

“Udan deres lho , mas.”
(Hujan lebat lho , mas.)

Ujar Marni , salah seorang pembantu dari arah dalam mendekatiku.
Marni memang termasuk gemati (memperhatikan) sama sopir-sopir , tukang kebon dan satpam.
Meski kalo ngomong dan guyon blak-blakan ,
mungkin karena dia yg paling senior ,
ditambah lagi status jandanya yg sudah 5 tahun , ditinggal suaminya ke Malaysia.

“Udan banyu wae koq , paling-paling kademen ndok ndalan.”
(Hujan air saja koq , paling-paling kedinginan di jalan)

“Mbok dienteni sedhela. ‘tak gawe’ne anget-anget’an ‘po ? Opo ‘tak angeti sisan ?”
(Mbok ditunggu sebentar. Apa aku buatkan minuman hangat dulu ? Apa aku hangati sekalian ?)

“Dijarangi yoo ?”
(Di-guyur air mendidih ya ?)

“Hi.hi.hi.hi. Sampeyan bisa aja”

Aku tersenyum lebar dan menstarter motorku.

 

BERSAMBUNG.

=================================================

Suster Maria (Sebuah Kisah Natal) – Bag.3. Akhir

 
Pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang dalam terbuka.

Johan berdiri.
Demi dilihatnya Suster Maria yg tak mengenakan jubah Suster ,
namun gaun putih bermotifkan bordiran bunga-bunga putih ,
dengan rambut hitam terurai yg panjangnya sebahu lebih sedikit ,
dan sebuah jepit rambut dengan hiasan kupu-kupu terbuat dari perak.
Batu permata pada mata kupu-kupu itu berkerlipan ditimpa cahaya lampu ruang tamu , seperti bintang berkerlipan digelapnya malam.

“Selamat sore , Johan.”

Johan terpaku memandangi Suster Maria yg sudah berdiri di samping kursi kayu.
Matanya tak berkedip , sementara raut wajahnya menampakkan kekaguman dan kebahagiaan.
Mungkin seperti itulah bila seseorang melihat bidadari yg tiba-tiba hadir di hadapannya.

“Silahkan duduk , Johan.”

“Oh iya , . . . duduk . . . sore . . . . . .”

Tergagap Johan membalas sapaan Suster Maria.
Setelah dudukpun , kembali dipandanginya wajah bulat telur ,
yg hampir tak pernah menanggalkan senyum tipis dibibirnya.
Tak ada riasan eye shadow , lipstick ataupun bedak di wajahnya ,
namun menampakkan kecantikan alami dengan segala kesederhanaannya.
Meja bundar diantara dirinya dan Suster Maria seperti ingin disingkirkannya ,
agar dapat dipandanginya lebih dekat dan seksama wajah Suster Maria.

Pandangpun beradu , namun tak seperti biasanya ,
kali ini Suster Maria balas menatap dengan sorot yg teduh ,
bagai purnama menerangi bumi malam.
Namun bagi Johan , tatapan itu terasa tajam . . . . .
. . . . menghunjam hingga kedasar hatinya ,
seakan hendak mencari apa yg terpendam dan apa yg tumbuh . . . di hati Johan.
Johan kalah . . . . . . ia menunduk , meski sesaat.
 

“Aku akan menjawab pertanyaanmu , Johan.”

Senyum melebar dan mata berbinar ,
adalah pancaran kegembiraan dan kebahagian hati Johan.
Johan yakin Suster Maria akan menerima cintanya , mau meninggalkan biara ,
mau menjadi kekasihnya dan bahkan , . . . menjadi istrinya ,
karena Suster Maria menemuinya dengan tanpa mengenakan jubah Suster.

“Aku akan menerima cintamu dan mencintaimu sebagai seorang kekasih ,
kalau engkau bisa mencintai aku seperti Yesus mencintai aku.
Cinta yg tulus , penuh kasih dan sayang , tanpa nafsu dan keinginan.”

Hanya dua kalimat yg terucapkan oleh bibir tipis dengan senyum manis ,
namun mampu membuat Johan menunduk untuk kedua kali , sore itu . . . . .

Johan tercenung . . . ia sadar , itu adalah kata-kata halus untuk menolak.
Bagaimana mungkin ia bisa mencintai tanpa nafsu ,
tanpa keinginan untuk memiliki ,
setulus apapun ia berusaha mewujudkan cintanya , sekalipun.
Bila mencintai namun tak bersatu ,
cinta hanyalah tinggal kata-kata . . . hampa tanpa isi , hambar tanpa rasa.

Cinta manusia kepada sesama manusia terikat pada daging dan emosi.
Cinta yg memberi karena harap menerima ,
cinta yg rela dimiliki agar memiliki.
Cinta yg bahkan ada kalanya berubah menjadi benci dan . . . dendam !!!
 

Ingin rasanya Johan membujuk ,
merayu , menghiba , atau mengucap kalimat apa saja ,
agar Suster Maria Anggraini merubah jawabannya.
Tapi di sisi yg lain , ia mencoba memahamkan dirinya ,
cinta bukanlah sesuatu yg bisa dipaksakan.
Suster Maria sudah meminta waktu untuk menjawab ,
tentu sudah mempertimbangkan dengan matang alasan jawabannya.

Beberapa saat berlalu dengan kebisuan.
Johan masih berharap . . . . . . . .
itu hanyalah kalimat pembuka , yg kemudian dilanjutkan dengan :
“Tapi kita manusia yg tak mungkin mencintai seperti itu ,
maka biarlah kita mencintai dengan cinta yg kita bisa ,
aku mau menjadi kekasihmu . . . . . . . . . . . . .”

“Aku . . . aku . . . aku mengerti . . . . .”

Cuma itu yg akhirnya mampu diucapkan Johan ,
setelah mencoba meyakinkan diri , hanya 2 kalimat itulah yg diucapkan oleh Suster Maria.
Rangkaian kata , indahnya kalimat , semua tiba-tiba menguap entah kemana.
Kegalauan hatinya dilampiaskan dengan memainkan ujung taplak meja ,
tanpa sengaja sentakan kecil membuat vas bunga di atas meja itu jatuh dan bergulir.
Tangan Johan berusaha meraih demikian juga tangan Suster Maria ,
namun malah membuat vas itu terlempar jatuh kelantai dan pecah.

“Maaf . . . maaf . . . nanti saya ganti.”

Johan bangkit dan memunguti pecahan vas itu dan membuangnya ke tempat sampah di teras.
Setelah selesai , ia tak kembali duduk. Johan merasa sudah mendapat jawaban.
Meski jawaban itu tak membuatnya senang , tak membuatnya bahagia , namun hatinya merasa lega.
Dirasakannya , tak ada penyesalan , kekecewaan ataupun kesedihan.
Tidak seperti ketika ia menghadapi kenyataan ditinggalkan dan dikhianati kekasihnya dulu.

Johan berdiri beberapa saat ,
dengan sisa harapan bahwa Suster Maria akan mengubah keputusannya ,
ia pun menatap dengan sayu wajah Suster Maria.

“Aku mohon pamit . . . . . nggg . . . masih boleh khan kita bertemu ?”

Tanpa sapaan Suster , tanpa panggilan Anggraini , lidahnya masih terasa kaku.

“Boleh , asal Johan tidak dalam keadaan mabok.”

Suster Maria menjawab dengan gurauan , namun mampu membuat Johan tersenyum . . pahit.

Johanpun melangkahkan kaki pelahan , hingga di ambang pintu . . . .

“Johan . . . . . . . . ”

Langkah Johanpun terhenti , debaran dalam dada terasa nikmat namun menyiksa.
Tapi perasaan Johan seperti hampa ,
tak tahu ia musti kembali berharap atau menunggu Suster Maria melanjutkan kalimatnya ,
dan membiarkan saja harap itu melayang membumbung ke angkasa.
Dipalingkannya kepalanya tanpa berbalik , dipaksakannya pula tersenyum . . . .

“Jaga diri baik-baik yaa . . . . . .”

Suster Maria masih menunjukkan perhatiannya dengan kata-kata tulus.
Dan dari sudut matanya , Johan menangkap seulas senyum . . . .
senyum manis yg tak akan pernah dapat dilupakannya . . . . .
 

=================================================
 

Dua kali misa Sabtu sore dan satu misa Minggu pagi ,
tak nampak Johan di bangku biasanya dia duduk , juga di bangku lain.
Kehadiran umat yg tak pernah memenuhi bahkan separuhpun kapasitas gereja ,
tak membutuhkan waktu lama untuk sekedar menengok dan mengamati yg hadir.

Ada kegelisahan dalam hati Suster Maria , ada penyesalan pula.
Ia merasa tak berhasil membawa domba itu kembali kepada sang gembala , Yesus Kristus.
Dipanjatkannya doa untuk Johan di depan Bunda Maria seusai misa Sabtu sore itu.
 

Empat orang Suster itupun berjalan keluar dari halaman gereja.
Dari balik pohon disudut kiri gereja ,
sepasang mata mengikuti langkah mereka , hingga hilang dari pandangan.
Dinyalakannya sebatang rokok dan dihisapnya sampai hampir habis ,
sebelum akhirnya iapun kemudian beranjak.
 

=================================================
 

Seperti yg dikatakan pak Bastian ,
di meja ruang tamu telah ada sebuah vas bunga sedikit lebih besar dari vas lama ,
dengan beberapa tangkai bunga anggrek bulan dan daun-daun pandan sebagai hiasan vas itu.
Di bawah vas itu , terselip sepucuk surat ,
dengan amplop yg beremboss bunga anggrek.

Suster Maria membuka amplop itu dengan hati berdebar ,
ia tak ingin membaca berita yg menyedihkan ataupun menyakitkan.
Ia berharap Johan memahami jalan yg sudah dipilihnya.
Ia berharap Johan tidak kecewa apalagi kembali bermabok-mabokan.
Ia berharap Johan berani menghadapi kehidupan seberat apapun.
Ia berharap Johan akan menemukan jodoh yg serasi suatu saat nanti.

 

         “Salam dalam kasih Kristus.”

         Suster Maria yg penuh rahmat ,
         Saya mengucapkan terima kasih karena telah menyadarkan saya ,
         bahwa selama ini saya telah menyia-nyiakan hidup
         dan waktu saya yg berharga , untuk hal yg tak semestinya.
         Sekali lagi Terima kasih.

         Mama juga berterima kasih kepada Suster Maria dan Suster lainnya ,
         yg telah menolong saya dan sekaligus menyadarkan saya.

         Dalam dua minggu ini ,
         saya melakukan 2 hal penting bagi kehidupan saya selanjutnya.
         Tiga hari saya gunakan untuk merenungkan perjalanan hidup saya.
         Hari selanjutnya ,
         saya gunakan untuk kembali pada hidup saya yg semestinya.
         Saya membersihkan , mengecat , menata
         dan kembali mengurus toko warisan papa ,
         saya ingin menebus kesalahan saya dengan berusaha lebih giat.

         Oh iyaa , meski saya tidak ke gereja ,
         saya tetap ikut misa di stasi menemani mama.

         Saya bahagia bisa mempersembahkan cinta saya kepada Suter Maria.
         Namun saya sadar ,
         itu hanyalah cinta seorang lelaki kepada wanita ,
         cinta manusia kepada manusia ,
         yg disertai keinginan untuk memiliki , cinta yg berharap balas ,
         cinta yg disertai nafsu dan emosi , cinta yg jauh dari sempurna . . . . .

         Semoga suatu hari nanti saya menemui seseorang ,
         yg padanya ada kesabaran , kejujuran , kelembutan ,
         kehangatan , keceriaan dan kasih sayang tulus ,
         seperti yg ada pada diri Suster Maria Angraini ,
         agar dia mau dan bisa menerima saya seperti apa adanya ,
         dan beri saya masa untuk mencintainya dengan cinta yg bisa saya lakukan
         . . . . . . . . . . . . . . seumur hidup saya . . . . . . . .

         Terima Kasih.
 
                                                                              Salam dan doa

 
                                                                              Johanes Galih Hartadi

 

=================================================

 

Setiap menjelang Natal . . . . .
Aku selalu teringat kisah itu.
Sebuah kisah cinta . . . . . .
Cinta manusia kepada manusia ,
Cinta manusia kepada Tuhan ,
dan . . . . .
Cinta Tuhan kepada manusia.

“Karena begitu besar kasih ALLAH akan dunia ini ,
sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNYA yang tunggal ,
supaya setiap orang yang percaya kepadaNYA tidak binasa ,
melainkan beroleh hidup yang kekal.”
( Yohanes 3:16 )

                                                                                 Deo Gratia

                                                                                 Yoga Hart
                                                                                 S.O.T.R , Okt – Nov 2008

 

=================================================

Suster Maria (Sebuah Kisah Natal) – Bag.2. Kisah [3]

 
Setelah kejadian itu ,
Johan lebih sering mencuri pandang daripada berkonsentrasi pada materi pelajaran.
Suster Maria bukan tak mengetahui ,
namun ia mencoba berlaku seakan tidak terjadi hal apapun ,
meski ada yg kurang ketika berhadapan dengan Johan , . . . keceriaannya.

Puncaknya terjadi pada Jum’at terakhir Johan mengikuti pelajaran pendalaman iman.
Ketika Suster Maria membuka-buka Alkitab di meja ,
tiba-tiba kedua tangan Johan telah menumpang di atas tangannya dan menggenggamnya.

“Anggraini . . . .”

Kaget oleh perbuatan Johan ditambah sapaan Johan yg memanggil nama kecilnya ,
Suster Maria mencoba menarik pelahan kedua tangannya ,
tapi Johan malah mempererat genggamannya.
Suster Maria memilih membiarkan Johan menggenggam tangannya dan menunduk.

Ingin rasanya Suster Maria marah atas perbuatan Johan yg “kurang ajar” ,
tapi ‘marah’ sepertinya bukanlah bagian dari pribadinya , ia tak tahu cara marah.
Selain itu rasa jengah . . . malu . . . mengingat kejadian di teras gereja ,
membuatnya tak bisa berbuat apa-apa . . . beberapa saat.

“Anggraini . . . aku mencintaimu . . . .
maukah engkau menjadi kekasihku dan meninggalkan biara ini ?”

Tanpa basa-basi dan puja-puji Johan mengungkapkan ,
apa yg telah membuat tidurnya tak lena bermalam-malam sebelumnya ,
yg membuat pikiran dan perasaannya bagai puzzle yg berserakan.
Puzzle itu berbentuk sepotong cinta ,
yg membutuhkan potongan lain agar menjadi cinta yg utuh.
Ia bukan tak sadar dengan keadaan wanita yg dicintainya ,
yg masih terikat pada kaul sebagai seorang biarawati , seorang suster.
Tapi , Omnia Vincit Amor , cinta mengalahkan segala ,
segala kenyataan yg terpampang dengan jelas dan benar sekalipun.
 

Kepercayaan diri Suster Maria berangsur pulih , ia mulai dapat menguasai diri.

“Lepaskan dulu tanganku Johan , kalau sampai ada yg melihat , tidaklah baik jadinya.”

Johan melepaskan genggamannya dengan berat hati.
Suster Maria menarik kedua tangannya dan meletakkannya di pangkuan.

“Anggraini . . . maukah engkau menjadi kekasihku ?”

Dada Suster Maria berdebaran , ia tak mampu berkata apa-apa.
Ia ingin mengangguk tapi tak bisa , ia ingin menggeleng tapi ragu-ragu.

Kedua tangan Johan masih di atas meja ,
Suster Maria masih menunduk seakan mencari sesuatu yg tak jatuh.

Suara sepeda motor yg memasuki halaman susteran menyela diam antara mereka.
Entah siapa yg datang , namun setelah suara sepeda motor itu berhenti ,
pengendaranya langsung menuju gerbang sebelah kiri.

“Anggraini . . .”

Hanya tinggal sepenggal kata yg diucapkan Johan dengan nada penuh harap.

“Johan tahu khan kalau aku seorang biarawati yg masih terikat kaul ?”

“Iyaa , . . . kaul sementara.”

Rupanya diam-diam Johan sudah mencari tahu tentang dirinya , tentang kaul , dsb.

“Aku tak terbiasa dengan kehidupan di dunia luar . . . . . . .”

“Dunia luar memang tak setenang di biara , tapi ada aku yg akan menemanimu , selamanya.”

“Hmmm , baiklah , . . . beri aku waktu untuk menjawab.”

“Besok ? Setelah misa ?”

“Minggu sore , . . . aku tak ingin memberi jawaban yg hanya karena perasaan sesaat , sebab ini menyangkut kehidupanku dan juga kehidupanmu.”

Johan tersenyum dan mengangguk , ia merasa Suster Maria hanya ragu-ragu ,
itu berarti “hampir iya” , dan Minggu sore kata “hampir” akan lenyap.
Apalah artinya membiarkan kegelisahan singgah lagi semalam dua malam ,
dibandingkan dengan kebahagiaan memiliki seorang kekasih yg dicintai dan mencintai , selamanya.
 

=================================================
 

Ini misa paling tidak khusuk yg pernah diikuti Suster Maria.
Meski tubuhnya mengikuti misa , namun pikiran dan perasaannya tidaklah demikian.

Suster Maria sedang dan terus menimbang-nimbang , bila menerima atau menolak cinta Johan.
Alasan sebenarnya untuk menerima atau menolak ,
belum bisa ia tentukan dari beberapa kemungkinan yg terpikir.
Padahal , ia hanya butuh satu alasan untuk mengatakan “iya” atau “tidak”.

Beberapa kali kepalanya menoleh ke belakang sebelah kanan.
Di barisan bangku seberang , satu bangku di belakangnya , di situ Johan biasa duduk.
Ketika sudut matanya melirik Johan ,
selalu didapatinya Johan juga tengah melirik bahkan memandang kearahnya.
Itu membuat Suster maria menunduk , tersipu malu.

Setelah misa usai , dinyalakannya sebatang lilin dan dipanjatkannya doa kepada Bunda Maria.
Doa permohonan agar ia bisa menimbang dengan hati-hati dan benar ,
menemukan alasan yg sebenarnya atas sebuah keputusan yg akan diambilnya.
Bukan sekedar karena merasa terlanjur menjadi biarawati . . . ataupun
mumpung ada seorang lelaki baik yg menyatakan cinta kepadanya.

Sekeluar dari pintu gereja ,
dilihatnya Johan masih berbincang dengan Pastur dan beberapa umat lain.
Hanya sesaat dipandangnya Johan dengan senyuman dan anggukan kepala ,
Johan pun membalas dengan yg sama.

Tak ada kata terucap ,
tak ada kalimat tersuarakan.
Tapi bagi Johan ,
sedetik pandang , seulas senyum ,
dari orang yg dikasihi , . . dicintai . . .
sudahlah cukup . . . . . . .
Biarlah ia sendiri yg akan menghias pandang dan senyum itu
dengan warna pelangi kebahagiaan ,
dengan nada gita cinta ,
dengan tari kasih sayang . . . . .
Agar menjadi bayangan sang kekasih dalam mimpinya malam nanti.

Seperti itukah orang yg tengah jatuh cinta ?
 

=================================================
 

Di susteran Santa Perawan Maria.

Seusai makan malam dan doa , Suster Maria menemui Suster Jose ,
diceritakannya tentang Johan yg menyatakan cinta padanya ,
dengan harapan Suster Jose bisa memberikan pertimbangan
untuk menguatkan salah satu dari hanya dua pilihan yg ada.

“Ini adalah pilihan jalan hidup , apapun pilihan Suster Maria
jalanilah dengan iman dan cinta kasih.

Sebagai suster saya menyayangkan bila Suster Maria
nantinya akan meninggalkan biara dan kembali pada masyarakat.
Namun menjadi biarawati bukan sekedar keinginan ataupun pelarian ,
tapi adalah karena menjawab panggilan suci.
Banyak yg dipanggil , sedikit yg mendengar ,
lebih sedikit yg menjawab , dan lebih sedikit lagi yg terpilih.

Maka sebelum kita memgucapkan kaul kekal ,
kita masih boleh memperbarui kaul sementara kita , suster pasti juga sudah tahu.
Bila ketika masa kaul seorang suster berakhir dan mengundurkan diri ,
ini bukan soal gagal atau bermasalah ,
namun disikapi positif bahwa tempat yg lebih tepat baginya bukanlah di biara.
Pelayanan bisa dilakukan dimana saja sebagai apa saja ,
asalkan tetap beriman pada Kristus dan melaksanakannya dengan kasih.”
 

———————————————————————————————————————-
 

Di kamarnya , Suster Maria tak jua bisa memejamkan mata.
Dibayangkannya , diingatnya perjalanan hidupnya.

Terlahir sebagai anak ke 3 dari 4 bersaudara ,
hanya dialah yg memilih menjadi biarawati.
Kakak tertuanya memang pernah masuk seminari , tapi tidak melanjutkan ke seminari tinggi.
Kakak dan adiknya perempuan juga tak ada yg tertarik pada kehidupan biara.
Bahkan selepas SMA , tak berapa lama kakaknya memilih menikah.

Masa remaja dilalui dengan tanpa seorangpun teman dekat laki-laki ,
mungkin ia tak termasuk gadis yg menarik perhatian laki-laki.

Di kota kecil . . . . pada masa itu ,
jarang sekali terlihat yg namanya pacaran berjalan-jalan berduaan , meski malam Minggu.
Yg namanya apèl , paling hanya ngobrol di ruang tamu atau diteras rumah.
Bahkan ada yg hanya menemani ayah sang gadis bermain catur.
Sementara sang gadis menemani dengan saling mencuri pandang dan melempar senyum ,
ketika ayah sang gadis tengah berpikir keras menghindarkan mentrinya dari ancaman kuda.
(Pemuda yg cerdik pada akhirnya akan memilih mengalah . . . . )

Maka kedekatannya dengan Johan , tak pelak membuat naluri wanitanya terusik.
 

Ketika ia memilih untuk memasuki kehidupan biara ,
tak ada tentangan atau halangan dari kedua orang tuanya.
Mereka orang sederhana , yg meyakini bahwa perjalanan hidup seseorang
sudah digariskan oleh “Gusti ingkang murbeng dumadi.”

Hanya pesan yg selalu diingatnya dari sang ayah ,
sebuah pilihan hendaknya dipertimbangkan adalah “karena” bukan “agar” atau “demi”.
Itu pula yg kini tengah dipikirkannya.
 

Dilihatnya jam weker telah menunjukkan angka 12.
Pelahan Suster Maria bangkit dari ranjangnya ,
dikenakannya jubah dan kerudung , diambilnya rosario dari balik bantal ,
ia pun menuju ke kapel.
 

=================================================
 

Minggu , menjelang sore hari , Suster Maria menemui Suster Jose agar diijinkan ,
untuk tidak mengenakan jubah dan kerudung , nanti ketika menemui Johan.

Suster Jose mengerjitkan alis sejenak kemudian menghela nafas panjang ,
dalam pikirannya terbayang , tak lama lagi hanya tinggal 3 orang suster yg menghuni Susteran Santa Perawan Maria.
Namun naluri seorang wanita . . . naluri seorang ibu , yg akhirnya berbicara.

“Apapun keputusan Suster Maria , Tuhan memberkatimu.”

“Terima kasih Suster , Tuhan memberkati Suster Jose juga.”

Suster Maria memang tak ingin membicarakan keputusannya ,
tapi ia meyakini :

“Ecce ancilla Domini , fiat mihi secundum verbum tuum.”

 

BERSAMBUNG.

=================================================

Suster Maria (Sebuah Kisah Natal) – Bag.2. Kisah [2]

 
“Boleh saya bertanya ?”

“Iyaa Suster , tentang apa ?”

“Waktu Johan kecelakaan itu , dua kali Johan memanggil nama ‘Winda’ , siapakah dia ?”

Raut muka Johan seketika seperti dilintasi mendung tebal ,
yg sewaktu-waktu bisa meneteskan hujan.
Cukup lama Johan menunduk menatapi lantai teraso berwarna putih.

“Maaf , . . . anggap saja saya tidak pernah bertanya ,
bila itu membuat Johan bersedih . . . . . .”

Suster Maria memajukan badannya ,
tangan kanannya bergerak hendak ditumpangkannya pada pundak lelaki ,
yg kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya , namun diurungkannya.

Begitu dalamkah luka itu ? Begitu menyakitkankah kenangan itu ?

Johan mendongak , dipaksakannya tersenyum ,
senyum yg tak mampu membuang kenyataan bahwa disudut matanya
masih tersisa butiran air mata.

“Tidak apa-apa Suster , . . . . mungkin ini lebih baik . . . . .
saya harus melihat kenyataan , untuk kemudian mencoba melupakannya.”

Suster Maria tersenyum , ada kelegaan mendengar kata-kata Johan.
Ia merasa ada beban dalam diri Johan , beban yg selama ini dibawanya berjalan ,
namun meski beban itu membuatnya limbung dan terjatuh , Johan tak juga melepasnya.
Sekurangnya , bila Johan mau menceritakannya ,
beban itu akan terasa lebih ringan ,
tinggal satu langkah lagi , . . . membuangnya . . . . . .

“Winda adalah bekas kekasih saya , tapi ia sudah menikah dengan orang lain.”

Suster Maria mengerutkan keningnya ,
dipandanginya Johan dari ujung kepala , paras wajah dan juga tubuhnya.

“Lelaki ini ganteng juga koq , kalau sudah tampil seperti ini.
Rambutnya sudah dicukur tidak lagi gondrong awut-awutan ,
dengan kumis , jambang yg sudah dirapikan ,
apalagi tanpa jenggot yg memberi kesan tua.
Postur tubuhnya tinggi dan cukup atletis meski agak kerempeng ,
mungkin karena setiap malam keluyuran , mabok-mabokan dan merokok . . . .”

Ketika tatapan matanya beradu dengan tatapan mata Johan ,
Suster Maria merasa jengah , . . . malu . . . .
Dirasakannya , kedua pipinya merona sewarna jambu air yg tumbuh dihalaman susteran.

“Apa yg terjadi sampai Winda tega meninggalkan Johan ?”

“Mungkin , saya terlalu mencintainya sekaligus terlalu mempercayainya.
Saya terlalu menunjukkan rasa cinta saya , mudah cemburu . . . .
Sedangkan dia orangnya terlalu santai , semaunya . . . .
karena dia menganggap ikatan pacaran itu tak berbeda dengan berteman akrab.
Dia masih suka berjalan berdua dengan lelaki lain ,
kadang memang beramai-ramai tapi berpasangan.

“Berapa lama kalian pacaran ?”

“Dua tahun , . . . mungkin lebih . . . .
Sampai akhirnya tiga kali saya pergoki dia berjalan dengan lelaki yg sama , berdua . . .
Saya desak mereka untuk mengatakan yg sebenarnya.
Dia akhirnya mengakui , kalau mereka sudah berpacaran setahunan ,
malahan sudah bertunangan sebulan.
Saya tak bisa lagi menahan emosi , di depan banyak orang , di rumah makan ,
saya tampar dia dan saya pukul muka lelaki itu . . . . . .”

Johan terdiam beberapa saat , dia mencoba mengendalikan emosinya.

“Setelah itu ?”

“Saya sakit hati karena dikhianati , dan mulai berteman dengan minuman keras.”

“Narkotik dan ganja juga ?”

“Narkotik tidak , kalau ganja sesekali karena diberi teman , saya tidak kecanduan.”

“Bagaimana bisa orang yg minum minuman keras ,
juga mengisap ganja tapi tidak kecanduan ,
dan tidak terpengaruh oleh narkotik , morfin ?”

“Bisa ! Tergantung dari kemauan diri.”

“Kalau begitu bisa khan Johan tidak lagi minum minuman keras , mengisap ganja ,
seakan melarikan diri dari kenyataan ,
meski merasakan cobaan , beban yg sangat berat sekalipun ?”

Johan tersentak , selain ia tak mengira akan kearah situlah pembicaraan itu ,
kata-katanya sendirilah yg digunakan Suster Maria untuk mengingatkannya.
Beberapa saat berlalu dengan diam , setelah menghela nafas dalam-dalam.

“Saya janji tidak akan pernah lagi menyentuh minuman keras , ganja atau apapun ,
sekalipun saya sedang dalam cobaan hidup yg berat.
Saya akan belajar menyerahkan semuanya kepada Yesus Kristus.
Saya berjanji demi dan untuk Suster Maria.”

Suster Maria tersenyum.

“Jangan berjanji pada , karena dan untuk saya ,
berjanjilah pada diri sendiri , karena dan untuk diri sendiri ,
untuk kehidupan dan masa depan Johan sendiri.”
 

=================================================
 

Johan mengikuti misa setiap Sabtu sore ,
sengaja ia selalu memilih duduk di bangku seberang ,
satu baris di belakang para suster biasanya duduk.
Johan sering mencuri pandang ketika Suster Maria berlutut berdoa.
Ada keharuan dalam dadanya ketika melihat Suster Maria menundukkan kepala dalam-dalam pada saat berdoa ,
ia seakan bisa merasakan kepasrahan dalam diri Suster Maria.

Namun Johan tidak pernah menyambut Komuni , sekalipun ingin ,
ia benar-benar merasa tak layak , ia ingin mengaku dosa terlebih dahulu.
Suster Maria pun sudah mengingatkan Johan akan hal itu.

Namun rupanya mengaku dosa dihadapan Pastur butuh keberanian yg luar biasa.
Dua kali ia datang paling awal dan duduk dekat ruang pengakuan dosa.
Setelah Pastur masuk keruang pengakuan dosa ,
dan menerimakan Sakramen Tobat pada 2 atau 3 umat yg rata-rata sudah berusia lanjut.
Ketika umat terakhir keluar dari ruang pengakuan , iapun berdiri . . . . .
. . . . . . . pindah ketempat duduk dimana ia biasa duduk.
 

=================================================
 

“Suster , . . . saya mau . . . mau mengaku dosa.”

“Lho , hi.hi.hi…mengaku dosa ya sama Pastur Budi.”

“Iya , maksud saya . . . saya mau minta tolong ditemani untuk mengaku dosa.”

“Kenapa musti ditemani ? Lha wong yg diakukan khan dosa-dosanya sendiri ,
Koq tidak berani mengakui kenapa ?
Lagipula Pastur juga tidak akan memarahi , menasehati macam2 , mengomentari . . .
apalagi menyebar luaskan dosa seseorang.
Barangkali saja , setiap Pastur sekeluar dari ruang pengakuan dosa ,
sudah lupa , tadi mendengar pengakuan dosa apa saja , hi.hi.hi…
Kecuali kalau kita melakukan dosa berat yg semacam membunuh , . . . . .
itupun seorang Pastur tidak akan bertindak di luar wewenangnya.”

Johan semakin bingung , malu , dan entah perasaan apalagi ,
ia cuma terdiam mendengar penjelasan Suster Maria.

“Mengapa tidak pada waktu sebelum misa ?”

“. . . nggg . . . sudah Suster.”

Johan lalu menceritakan yg sudah dilakukannya , dua kali.

“Hi.hi.hi…mengaku dosa kalau tidak sering dilakukan , yaa seperti itu . . .”

“Suster mau yaa . . . mengantar saya menemui Pastur . . . .”

“Saya minta ijin dulu pada Suster Jose yaa ,
sekalian tanya apakah Pastur Budi ada di Pastoran dan tidak repot.”

Johan menunggu dengan perasaan penuh harap ,
semoga Suster Jose mengijinkan Suster Maria menemaninya ,
semoga Pastur Budi ada di pastoran dan mau menerima pengakuan dosanya sore itu juga.

Ia rindu menyambut Komuni , tapi kesadaran akan dirinya
membuat ia memilih agar bisa mengaku dosa terlebih dahulu.
Sekalipun juga tetap disadarinya ,
ia menganggap dirinya layak menyambut komuni , hanyalah karena belas kasihNya.
 

“Mari …kita ke Pastoran , saya sudah telpon Pastor Budi.”
 

Johan bermaksud mengambil sepeda motornya , namun suster Maria mencegah.

“Kita jalan kaki saja , meski agak mendung sepertinya tidak akan hujan.”
 

Merekapun berjalan menuju gereja , sambil bercakap-cakap.
Sesekali terdengar tawa dari keduanya ,
andai tak terlihat jubah biarawati pada wanitanya ,
seakan layaknya dua orang teman karib atau sepasang kekasih ,
yg sedang menikmati udara segar sore hari di pinggir kota.

Setelah memasuki jalan menuju gereja ,
sekitar 100 meter jalan itu membelok ke kiri ,
di sebelah kanan jalan , masih nampak sawah hijau hampir sepanjang jalan.
Di sebelah kiri jalan , rumah-rumah penduduk yg sederhana dengan pekarangan yg cukup luas , dan tak nampak rapat antara rumah satu dengan lainnya.
Pagar bilah bambu nampak rapi sepanjang jalan itu.

Senja telah hadir diantara sore dan malam.
Sapuan sinar surya terasa lembut menimpa batang-batang padi yg menghijau sejauh mata memandang.
Semakin meredup , ditingkahi mendung tipis yg menyelimuti kota itu.
Di langit nampak burung belibis berterbangan hendak pulang.
Alam begitu indahnya , siapakah yg tak terpesona ?
 

Gereja Katolik Maria Bintang Samudra ,
terletak di sebelah dalam dari sebuah lokasi tanah yg cukup luas ,
andai tak ada tembok di sisi kanan dan kirinya ,
akan nampak seakan gereja itu berada di tengah persawahan.
Di sebelah kiri ada beberapa pohon yg dibiarkan tumbuh ,
meski membuat gereja itu tampak gelap , singup lebih tepatnya.
Di samping gereja sebelah kiri , di balik pintu pagar kawat ,
halaman yg digunakan sebagai tempat parkir untuk sepeda.
Disitu ada pintu menuju sakristi , selain dari sebelah Pastoran.

Di sebelah kanan gereja , agak menjorok kedalam ,
dengan pagar pembatas yg juga dari kawat ,
nampak rumah sederhana yg digunakan sebagai Pastoran sekaligus Sekretariat gereja.

Setelah mengetuk pipa pagar dengan batu kerikil yg berserakan disitu ,
keluarlah Pastor Budi dengan senyum ramah , membukakan pintu pagar.
Sebenarnya pintu pagar itu tidak terkunci oleh gembok ,
tapi memang cukup sulit untuk membuka dari sisi luar pagar.

“Selamat sore Pastur.”

Kata Johan dan Suster Maria hampir berbarengan.

“Selamat sore , mari silahkan masuk.”

Setelah berbincang-bincang sejenak ,
merekapun menuju gereja lewat jalan tembus disamping pastoran.
 

Cukup lama Johan berada di dalam ruang pengakuan dosa.
Entah karena banyaknya dosa yg diakukannya ,
atau masih juga kesulitan mengungkapkannya.
Suster Maria menggunakan waktu menunggu dengan berdoa kepada Bunda Maria.
Ia bersyukur atas perubahan yg semakin nyata pada diri Johan.

Suster Maria melihat mata Johan yg sembab sekeluar dari ruang pengakuan dosa.

Setelah Johan selesai melakukan penitensi ,
merekapun keluar lewat Pastoran sekalian berpamitan pada Pastur Budi.
Tak seperti ketika berangkat dari susteran ,
yg diiringi dengan canda dan cerita , kini cuma diam yg serta.
Johan nampak masih terkesan dengan pengakuan dosanya ,
dan Suster Maria pun tak hendak mengganggu.

Baru separuh halaman gereja mereka langkahi ,
hujan turun dengan derasnya diiringi suara guntur.
Mereka berbalik , secara refleks tangan Johan menggenggam tangan Suster Maria ,
merekapun setengah berlari menuju teras gereja , itulah tempat terdekat untuk berteduh.
Sampai di teras Johan tak serta merta melepaskan genggamannya ,
malah dipandanginya wajah Suster Maria.

Sinar lampu dop 25 watt yg menerangi teras gereja ,
memberi nuansa tersendiri ketika Johan memandangi wajah cantik Suster Maria beberapa saat ,
sebelum Suster Maria menoleh dan menyadari tangannya masih dalam genggaman tangan Johan.
Suster Maria menunduk ketika beradu pandang dengan Johan , ditariknya pelahan tangannya.

“Maaf . . . .”

Johan tersadar dan melepaskan genggaman itu.

Suster Maria memandangi hujan yg turun deras dengan jantung berdebaran.
Ia merasa bahwa Johan masih memandanginya.
Tiba-tiba petir menyambar dengan suara yg menggelegar.

“Ya Tuhanku . . . .”

Dengan terkejut dan ketakutan Suster Maria memejamkan mata dan memeluk Johan.

Beberapa detik berlalu , Suster maria masih memeluk Johan ,
sementara Johan hanya diam tak menolak ataupun balas memeluk.
Ia tahu bahwa Suster Maria memeluknya ,
hanyalah karena kaget dan ketakutan mendengar suara petir ,
dan menyaksikan cahaya kilat yg seakan hendak membelah bumi.

“Suster . . . . .”

Suara Johan yg begitu dekat ditelinga ,
menyadarkan Suster Maria , yg kemudian segera melepaskan pelukannya.

Suster Maria kemudian memandangi hujan ,
dengan perasaan malu , senang dan bingung , silih berganti.
Malu , karena sampai sedewasa ini , baru sekali inilah ia memeluk seorang lelaki ,
dan ia seakan merasakan getaran aneh yg menjalar lewat pembuluh darahnya.
Senang , karena ia tahu Johan menyukainya , mengaguminya dengan cara memandang seperti itu.
Bagaimanapun juga , dibalik jubah dan kerudung suster ,
ia tetaplah seorang wanita , dengan perasaan ingin diperhatikan , ingin dikagumi , ingin di kasihi.
Bingung , karena ia sadar bahwa ia adalah seorang wanita yg mengikatkan dirinya pada sebuah kaul ,
pantaskah semua perasaan itu berkeliaran dalam dirinya ?

Johan tak kurang kacaunya pikiran dan perasaannya.
Tak tahu ia musti berkata apa , tak tahu ia musti berbuat apa ,
karena meski ia menyukai pribadi seorang wanita yg ada pada Suster Maria ,
ia menghormati jubah dan kerudung sebagai simbol keterikatan seorang wanita pada kaulnya.
 

“Johan . . . ”

Tanpa menoleh , dengan suara yg nyaris berbisik Suster Maria berkata.

“Iya Suster.”

“Saya akan ke Pastoran meminjam payung.”

“Jangan Suster ! Biar saya saja.”

Johan membuka jaketnya dan menggunakan sebagai penutup kepala , kemudian berlari ke Pastoran.
 

Johan menawarkan jaketnya agar Suster Maria tidak kedinginan , namun Suster Maria menolak.
Dengan berpayung merekapun melangkahkan kaki meninggalkan halaman gereja.
Separuh perjalanan , hujanpun mulai mereda , tinggal gerimis yg masih mengiringi.
Di kejauhan dari hamparan sawah yg luas ,
nampak lengkung pelangi dengan indahnya ,
seindah janji Allah ,
bahwa tak akan lagi isi bumi ini musnah oleh air hujan sederas apapun.
Suster Maria menghentikan langkahnya sesaat , matanya berbinar menatap pelangi itu ,
dibibirnya tersungging senyuman , seakan mensyukuri janji Allah itu.

“Sedemikian halus dan dalamnya perasaan Suster Maria.”

Itu yg terpikir oleh Johan.

Merekapun meneruskan langkah masih berpayung.

“Suster , boleh saya bertanya ?

“Iyaa..”

“Nama kecil Suster siapa ?”

“Anggraini.”

Cuma itu pembicaraan yg berlangsung dalam perjalanan dari gereja menuju susteran.

 

BERSAMBUNG.

=================================================

« Older entries