Malam Tirakatan Tujuh Belasan

null

Acara utama malam Tirakatan Tujuh Belasan sudah selesai ,
dan biasanya dilanjukan dengan para bapak-bapak yg lek-lek’an ,
ditemani jajanan yg bermacam-macam , ada martabak , kue-kue basah , emping ,
kacang , dan minumannyapun tak kalah komplit ,
ada teh manis , kopi , wedang jahe , soft drink dan beberapa botol bir !

Aku memilih berpamitan meski pak RT dan beberapa tetangga mengajakku untuk bergabung.

Sambil membawa tas kresek berisi doorprize ,
sepotong kaos berlogo sebuah Dept Store ,
aku berjalan sambil menghisap rokokku dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara.
Asap putih kelabu yg pelahan membaur ke udara seperti membawa anganku ,
pada malam tirakatan di desaku beberapa tahun silam . . . . . . . . . .

———————————————————————————————————————-

Desa kami memang tidak luas dan agak terpencil.
Dari jalan raya sekitar 10 km melalui jalan aspal yg sudah hancur di sana-sini ,
bersandar pada bukit berhutan jati dan dikelilingi sawah ladang yg subur.

Malam tirakatan Tujuh Belasan adalah acara tahunan ,
yg hampir bisa dipastikan semua warga akan berkumpul.
Seperti tahun-tahun lalu ,
kami para pemuda desa telah menyiapkan panggung yg dihias indah ,
dengan tambahan terop yg tak pernah bisa menampung semua yg hadir ,
di lapangan yg biasa digunakan anak-anak bermain sepak bola.

Tempat duduk yg memang diutamakan buat pak Lurah beserta pegawai kelurahan ,
juga pengurus-pengurus RW sampai RT beserta keluarganya.
Paling-paling tersisa 100an kursi , dan itu jelas tidak cukup buat semua warga.
Maka kaum mudanya memilih duduk lesehan di lapangan atau berdiri mengelilingi terop.

Dulu , di pinggir-pinggir lapangan selalu ada orang-orang yg berjualan makanan , pakaian ,
mainan anak-anak dan berbagai barang lain oleh pedagang-pedagang tiban dari desa lain.
Jadi suasana malam tirakatan seperti pasar malam.
Namun semenjak pak Lurah yg sekarang menjabat melarang , tidak ada lagi yg berjualan.
Alasan beliau karena yg berjualan tambah banyak ,
warga malah tertarik dengan pasar malamnya ketimbang tirakatan malam Tujuh Belasannya.

“Lha wong malam tirakatan koq malah mremo jualan ,
ndak punya nasionalisme babar pisan ,
ndak menghargai pengorbanan para pahlawan yg telah memperjuangkan kemerdekaan.”

Itu yg dikatakan pak Lurah. Bahkan pak Lurah menghimbau lurah-lurah desa sekitar ,
agar tidak membiarkan warganya berjualan di saat malam tirakatan.

Meski ada isyu mirang-miring tentang pak Lurah yg sekarang ,
mulai dari hobinya nyambangi janda-janda muda desa tetangga ,
dana bantuan desa yg konon tidak disalurkan seluruhnya untuk pembangunan desa ,
bandha desa (harta milik desa) yg konon tidak lagi utuh ,
tetap saja beliau dihormati dan disegani oleh penduduk desa ,
karena di bawah kepemimpinan pak Lurah ,
desa kami tambah makmur , tidak ada yg kekurangan sandang ataupun pangan.
Meski sebagian masih ada yg rumahnya gedheg , namun tampak bersih dan terawat.
Tidak pernah ada colong jupuk di desa kami , semua tampak rukun dan menyenangkan.
Kalo menurut ki Dhalang , ”Gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem karta raharja”

———————————————————————————————————————-

Acara pembukaan yg diisi tari-tarian oleh penari-penari perempuan berusia remaja ,
juga pembacaan doa oleh pak Kyai ,
yg dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya ,
dan satu lagu perjuangan lain , semua sudah berlalu.
Pidato pak Lurah pun kali inipun tidak sampai membuat beberapa warga tertidur.

Yg selalu menarik buat kami ,
adalah tutur kisah perjuangan yg dipaparkan oleh mbah Wongso.
Seorang pelopor perjuangan dari desa kami yg usianya sudah lebih dari 85 tahun ,
tapi masih cukup gagah dan mampu berjalan tanpa terbungkuk-bungkuk dan tidak pikun.

Konon semasa perjuangan kemerdekaan ,
dari desa kami banyak pejuang-pejuang muda yg gagah berani dan dipelopori oleh mbah Wongso.
Bahkan ada cerita dari mbah Wongso ,
sampai pasukan Belanda takut melakukan perjalanan melewati jalan raya di desa kami.

Mbah kakungku semasa hidup juga pernah cerita kalo mbah Wongso memang pemberani.
Kabarnya pernah menyerang sendirian pasukan Belanda yg sedang berpatroli lewat jalan raya , dan sekaligus menghabisi semua tentara Belanda itu !
Entah punya aji-aji apa , kata si mbah ,
karena dulunya mbah Wongso itu pemuda petani biasa ,
yg bahkan disebut mbah kakungku sebagai “jirih getih” (takut darah).
Setelah sebelumnya menghilang beberapa bulan ,
tiba-tiba mbah Wongso muncul dan jadi pejuang yg paling ditakuti Belanda di daerah ini.

Mbah Wongso sendiri pernah bercerita ,
kalo beliau tidak pernah membiarkan Belanda yg bertemu dengannya dalam keadaan hidup , bahkan meski sudah menyerah dan memohon ampun.
Ketika Belanda sudah menyingkir dan penjajahan digantikan oleh Dai Nippon ,
tentara Jepang lah yg kemudian menjadi sasaran lanjutannya.
Semboyannya mbah Wongso , “Londo bongko , Jepang mbatang” (Belanda mati , Jepang jadi bangkai).

Mbah Wongso naik ke panggung dibantu dua gadis remaja yg memakai kebaya ,
dan lalu duduk di kursi lipat yg sudah disiapkan , namun kali ini terlihat ada 2 kursi.
Lewat mic yg tingginya sudah disesuaikan , mbah wongso meneriakkan pekik “MERDEKA” 3 kali ,
yg segera saja disambut dengan gemuruh suara warga desa ,
baik yg duduk di kursi maupun yg berdiri mengelilingi terop , seperti aku dan teman-temanku.

Namun kali ini mbah Wongso tidak segera memulai cerita
dan petuahnya dengan berapi-api , sambil sesekali menghisap rokok siong kesukaannya ,
yg sering membuatnya terbatuk-batuk.

“Ada satu hal yg mau saya sampaikan kepada semua warga desa ,
yg selama ini mempercayai saya sebagai pelopor perjuangan dari desa kita ini.
Jujur . . . . . saya memang banyak membantai tentara Belanda dan Jepang ,
dalam masa perjuangan kemerdekaan negara Republik Indonesia yg kita cintai ,
. . . . . namun saya buka pelopor , . . . . .
niat awal saya sebenarnya bukan untuk memperjuangkan kemerdekaan ,
mempertahankan tanah air tercinta dari penjajah , . . . tapi untuk membalas dendam !!!”

“Saya dendam , . . karena istri saya diperkosa oleh pasukan Belanda di depan mata saya ,
anak saya . . . anak saya . . yg masih bayi dibekap hingga tak bernyawa.
Ketika saya melawan , popor senapan menghajar saya hingga pingsan.
Dan ketika tersadar . . . . istri saya sudah meninggal . . . ditembak dan ditusuk bayonet.”

Agak lama mbah Wongso terdiam dan menunduk ,
guratan-guratan keriput di wajahnya semakin menampakkan kesedihan yg dirasakannya.
Tampak beberapa ibu-ibu yg mengusap air mata di pipinya ,
seakan ikut merasakan apa yg dialami mbah Wongso.
Warga desa yg lainpun seakan ikut tersirep dan diam , bebasan . .
tan ana sabawane walang myang awisik , gegodhongan datan obah , samirana tan lumampah.
(Tidak ada suara belalang dan binatang malam yg berbisik ,
dedaunan tak bergerak , anginpun tak berhembus)

“Saya perkenalkan komandan saya , Hendradi , yg dulu kami kira terbunuh ,
ternyata masih hidup dan meneruskan perjuangannya bergabung dengan TNI.”

Suasana yg hening sejak tadi ,
ketika mendengar pengakuan dan cerita mbah Wongso , berubah jadi gemuruh tepuk tangan meriah.
Terlebih ketika seorang lelaki seusiaan mbah Wongso ,
mengenakan seragam veteran lengkap dengan lencana-lencana yg pasti membuatnya bangga ,
naik ke panggung diiringi oleh dua gadis berkebaya yg jadi among tamu.

Mbah Hendradi duduk di sebelah mbah Wongso ,
lewat mic yg dipegang tangannya , beliau lalu meneriakkan pekik “MERDEKA” 3 kali ,
yg segera saja disambut dengan suara gemuruh dan semangat para pemuda desa.
Sambil lalu , aku dan teman-teman memperbincangkan bahwa cerita mbah Hendradi bakal lebih seru.

“Kita sudah mendengar pengakuan mbah Wongso , namun bagaimanapun juga kita tetap mengormati ,
menghargai beliau sebagai seorang pejuang kemerdekaan.
Meski niat awal beliau bukanlah untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan ,
toh dalam perjalanan waktu , beliau telah merubah niatnya untuk berjuang membela negara ini.
Dan tetap konsisten dengan tetap berjuang melawan Jepang.”

“Di jaman sekarang , banyak orang ketika memulai sesuatu , tidak dengan alasan yg sebenarnya.
Contoh saja , mereka yg mencalonkan sebagai lurah , bupati , gubernur , anggota DPR ,
selalu dengan alasan untuk mengabdi pada negara dan bangsa , demi kesejahteraan rakyat.
Benarkah hanya melulu untuk mengabdi ? Tidak punya tujuan lainkah ?”

“Sudah jadi rahasia umum , kalo mau nyalon lurah saja musti keluar modal , andhum duwit ,
lha kalo sudah jadi lurah , apa gak kepingin modalnya mbalik ? Apa gak kepingin dapet untung ?
Maka gak heran kalo ada lurah yg kemudian diperiksa karena ketahuan njual bandha desa ,
atau memasukkan dana pembangunan dari pusat kantong pribadi.”

Aku tidak tahu , apakah pak Lurah merasa tersindir ,
yg kulihat pak Lurah segera berbisik-bisik dengan sekretaris desa.

“Jaman sekarang ini , hal yg mustahil seseorang meraih suatu posisi cuma untuk mengabdi ,
tapi “komo-komo” (kira-kira) lah , jangan kebablasan , ngono yo ngono nanging ojo ngono.
(Begitu ya begitu , tapi jangan seperti itu -kebablasan-).
Rakyat tambah melek , semakin kritis dalam menilai dan bersuara.
Maka selagi masih ada waktu , masih duduk di jabatan ,
mbok ya berusaha menyesuaikan dengan apa yg dulu diucapkan ,
melaksanakan apa yg dijanjikan kepada rakyat , . . memperbaiki diri dan keadaan.”

“Buat kalian yg muda-muda , tumbuhkanlah rasa jujur ,
dengan sering-sering bertanya pada diri sendiri ,
“Sudah sesuaikah apa yg kukatakan , yg kuperbuat , dengan kebenaran , dengan hati nurani ?”
Bila ternyata belum sesuai , segeralah sadar dan memperbaiki.
Tumbuhkan juga rasa malu pada diri sendiri , karena rasa malu seperti juga kejujuran ,
di jaman sekarang sangat susah dicari , mungkin dari surga sudah gak diproduksi lagi.”

Terdengar suara tawa yg meski gak meriah ,
menunjukkan bahwa apa yg disampaikan mbah Hendradi didengarkan para warga desa.

“Saya punya cerita tentang rasa malu.
Begini , . . . suatu ketika komandan saya yg sudah jadi jendral dan kaya raya ,
melihat keadaan saya yg rumah saja masih ngontrak , berkata kepada saya.”

“Hen , kamu butuh apa ? Nanti aku kasih.”

“Ach , enggak pak.”

“Lho , gak apa-apa , katakan saja.”

“Enggak pak , gak usah . . . nanti merepotkan bapak.”

“Kamu ini . . . katakan yg tegas , kamu mau minta apa ?”

“Malu , pak . . . ”

“Waaaah , kalo itu aku gak punya.”

Beberapa tawa terdengar.
Ketika Suleman menjelaskan dimana lucunya gurauan itu kepada aku dan teman-teman yg lain ,
barulah kami ikut tertawa , bahkan semakin lama seakan seluruh warga ikut tertawa ,
oleh penjelasan model gethok tular.

Inilah akibat kalo selama ini cuma menonton pilem-pilem Warkop ,
ditambah lagi menekuni acara “Empat Mata”nya Thukul.
Kami jadi seperti mendapat pengertian ,
bahwa tertawa adalah sama dengan ketika melihat kena’asan dan kemalangan menimpa orang lain ,
ataupun yg menyangkut perempuan , berkutat di “sekwilda” (sekitar wilayah dada)
dan “bupati” (buka paha tinggi-tinggi).
Mungkin kalo menurut istilah orang kota dan orang-orang kuliahan ,
kami tidak memiliki “Sence of humor” yg “intelektual” , tidak tanggap dengan gurauan cerdas ,
bisanya guyon yg menjurus-jurus ke mesra-mesraan dan porno-pornoan. Ironis !!

———————————————————————————————————————-

Tontonan layar tancap yg memutarkan pilem “Bandung Lautan Api” tidak lagi menarik buat kami ,
maka setelah kenyang makan nasi tumpeng dan jajanan yg disediakan , kamipun memilih pulang.
Padahal 2 bulan lalu pak Lurah pernah ngomong kalo malam tirakatan tujuh belasan tahun ini ,
mau nanggap wayang , lakone “Wahyu Cakraningrat.”

Aku berjalan sendirian , sementara beberapa temanku berjalan di depanku sambil mengobrol.
Sambil menghisap dan menghembuskan asap rokok ke udara ,
pikiranku menerawang kembali pada omongan-omongan mbah Wongso dan mbah Hendradi ,
lalu mencoba mempertemukan dengan kejadian yg belum lama kualami.

“Memulai sesuatu tidak dengan alasan yg sebenarnya . . . . . ”
Ach , . . mungkin seperti itulah yg dilakukan Nastiti padaku . . .
Ketika Gunadi yg kuliah di kota pulang berlibur bersama seorang gadis dan beberapa temannya ,
Nastiti terang-terangan mendekatiku dan meminta aku mengantarkannya kesana kemari.
Padahal seluruh pemuda desa tahu bagaimana dekatnya Nastiti dan Gunadi sebelumnya ,
bahkan sempat memergoki mereka bermesraan di dangau sawah yg dekat alas jati.

Yah , rasanya memang aneh , kalo Nastiti yg beberapa kali gonta-ganti pacar ,
dan selalu dapet pemuda kuliahan atau setidaknya anak juragan ,
tiba-tiba mau jadi pacar seorang pemuda seperti aku , yg cuma ngerti ke sawah macul ,
mencari rumput buat pakan sapi atau ke alas mencari kayu bakar.
Aku baru sadar kalo ternyata cuma jadi samben selagi Nastiti belum dapet mangsa baru.
Pantas ketika keponakan pak Lurah berkunjung , Nastiti langsung . . . . .

“Dib !! . . Dibyo !! . . . Kamu mau tilik Nyai Sinden yaa ?

Teriakan teman-temanku seperti menyadarkan , bahwa mereka telah berbelok di pertigaan ,
sementara aku tanpa sadar berjalan lurus . . . . . . menuju kuburan !!
Yg pada malam-malam tertentu , sering terdengar suara wanita yg sedang nembang ,
konon itu suara Nyai Sinden , istri mantan lurah dulu , yg meninggal karena bunuh diri.

“Dhuh Gustiiii , piye tho iki . . . ”

Aku segera berbalik diiringi suara tawa teman-temanku.
                                                                                  S.O.T.R , Agustus ’10

———————————————————————————————————————-

Rokok siong : Rokok yg terbuat dari tembakau , saos , cengkeh juga bubuk kemenyan.

===========================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: