Sastra Jendra Hayuningrat [Ulasan]

 

Rahayu , mugi kinalesna ing rubeda.

Makna kalimat “Sastra Jendra Hayuningrat”.

Secara etimologi , “Sastra Jendra Hayuningrat” berasal dari kata-kata :
Sastra  :  ajaran , pengetahuan , tulisan.
Jendra berasal dari kata harja + Indra (têmbung sandhi atau têmbung garban).
Harja  :  raharja , rahayu , selamat.
Indra  :  penguasa -Kaindran , Indraloka- , Bathara Indra.
Hayu  :  ayu , rahayu , selaras , selamat , indah.
Ning  :  nya (akhiran) ; di (awalan).
Rat  :  alam semesta , bumi.

Arti secara luas dari “Sastra Jendra Hayuningrat” adalah ,
ajaran tentang keselamatan untuk penguasa demi tercapainya keselamatan alam semesta.

Yg dimaksud dengan penguasa di sini bukan hanya raja , pemimpin negara ,
ataupun pemimpin lain dalam ruang lingkup besar maupun kecil ,
yg mempunyai kekuasaan atas manusia lain beserta kekayaan alam ,
namun terlebih dari semua itu (yg ‘hanya’ bersifat “kedudukan”) , adalah diri sendiri !
Seseorang haruslah mampu menaklukkan dan menguasai dirinya sendiri ,
sebelum mencoba menjadi pemimpin bagi orang-orang lain.
Dalam konteks filosofi kejawen (kawruh kebathinan) yg musti ditaklukkan dan dikuasai ,
adalah hawa nafsu angkara murka yg berada dalam diri sendiri.

Dalam bahasa Kawi , kata ‘indra’ bermakna  :  ratu (raja) ; gunung ; Bathara Indra.
Yg dimaksud dalam “Sastra Jendra” sebagai ‘indra’ adalah ,
sesuatu yg tinggi , memiliki kekuasaan , bukanlah indra dalam kalimat “panca indra”.
Sebab “panca indra” dalam bahasa Jawa akan ditulis sebagai ‘panca indriya’.

Jadi “Sastra Jendra Hayuningrat” dapat juga diartikan sebagai ,
ajaran tertinggi untuk keselamatan (keselarasan) dunia (jagad , alam semesta).
 
Tentang kata ‘Indra’ yg mengacu pada Bathara Indra yg menguasai Indraloka ,
Layang Wedhapurwaka menyebutkan bahwa dalam struktur anatomi tubuh manusia ,
ada ‘tempat’ berdiamnya Bathara Guru , Bathara Indra , Bathara Bayu ,
Bathara Kala , dan 6 putra Bathara Guru yg lain , di ‘tempat’ yg berbeda-beda.
Hal ini musti dipahami dengan menggunakan penalaran kawruh Kajawen , bahwa ,
yg dimaksudkan adalah “sifat” dan “daya”nya , bukan “nama” dan “wujud”nya.

“Sastra Jendra” adalah mikrokosmos (Jagad Alit) ,
sedangkan “Hayuningrat” adalah makrokosmos (Jagad Ageng).

“Sastra Jendra” dan “Hayuningrat” sama-sama bersandingkan kata ‘harja’ dan ‘hayu’ ,
yg maknanya sama , yaitu : rahayu , selamat , indah , selaras ,
ini menunjukkan secara samar (atau jelas ?) konsep pemikiran bahwa
“Seseorang haruslah mampu menyelamatkan dirinya sendiri , 
barulah ia mampu memberi keselamatan (kesejahteraan) bagi orang-orang lain.”
( “memayu hayuning bawana” )

Makna kata ‘selamat’ adalah mampu menjalani hidup dan kehidupan dengan baik dan benar ,
sesuai dengan apa yg diajarkan oleh keyakinan , agama.
Makna kata ‘selamat’ kedua adalah kedamaiaan antara sesama manusia ,
terciptanya keselarasan (harmonisasi) antara manusia dengan alam dan mahkluk hidup lain.

      
———————————————————————————————————————-

“Sastra Jendra Hayuningrat” mulai diperkenalkan.

Ungkapan “Sastra Jendra Hayuningrat” mulai diperkenalkan dalam serat “Arjuna Sasrabahu” ,
karya R. Ng. Sindusastra , pujangga di jaman Paku Buwana VII , pada tahun 1830 Masehi.

Ada beberapa ungkapan tentang “Sastra Jendra Hayuningrat” dalam serat “Arjuna Sasrabahu”.
Karena serat itu ditulis dalam bentuk tembang , 
maka adalah hal yg wajar (dalam kasusastran Jawa) ,
bila kemudian terjadi mulur-mingsed (memanjang dan mengkerut) pada kata dan kalimat ,
atau perubahan ukara (kata) untuk menyesuaikan guru lagu pada masing-masing gatra (baris) ,
yg sebenarnya tetap memiliki makna yg tak berbeda (sama ‘rasa’nya).

Diantaranya adalah :
– Sastra Harjendra Hayuning Bumi.
  (Ajaran keselamatan penguasa untuk keselamatan bumi).
– Sastra Harjendra Hayuningrat Pangruwating Barang Sakalir. 
  (Ajaran keselamatan penguasa untuk keselamatan bumi dan memulihkan semuanya).
– Sastra Harjendra.
  (Ajaran keselamatan penguasa).
– Sastra Harjendra Yuningrat Pangruwating Diyu. 
  (Ajaran keselamatan penguasa untuk keselamatan bumi dan memulihkan angkara).
  Diyu , ditya , raseksa , buta , semua adalah perlambang dari hawa nafsu , angkara murka. 
– Sastra Harjendra Wadiningrat. 
  (Ajaran keselamatan penguasa rahasia alam semesta).
– Sastrayu atau Sastradi.
  (Ajaran keselamatan atau ajaran luhur).
– Sastra ugering agesang kasampurnaning titah , titining pati patitising kamuksan.
  (Ajaran pedoman hidup sebagai manusia yg sempurna , hingga mencapai ajal ,
  kembali ke alam kelanggengan dengan tepat -tidak kesasar-).
– Jatining Sastra.
  (Ajaran yg sebenarnya).

Dalam serat “Arjuna Sasrabahu” tidak ada uraian secara jelas tentang “Sastra Jendra” ,
baik mengenai materi (bentuk dan isi) maupun laku-nya (cara melaksanakannya).
Malah mungkin saja dalam suatu pagelaran wayang kulit ,
Ki dhalang bisa memberikan uraian yg lebih memadai (sekalipun hanya sebatas ‘kulit’).
Dan bagi orang yg memiliki bakat (kepekaan) , dasar-dasar pengetahuan Jawa (kawruh Kejawen) ,
dan semiotik Jawa (kemampuan membaca tanda dan tanggap sasmita) ,
akan mampu menangkap makna dan tujuan dari ajaran “Sastra Jendra” tersebut.

Namun bukan berarti bahwa di kalangan masyarakat Jawa (para winasis ing babagan kawruh) ,
tidak ada yg mengetahui tentang bentuk , isi , dan laku dari ajaran “Sastra Jendra”.
Juga bukan berarti “Sastra Jendra” baru ada pada masa sang pujangga Sindusastra.

Bisa ditafsirkan bahwa sebenarnya pada masa itu ,
“Sastra Jendra” adalah ajaran (kawruh) yg sudah lama diketahui oleh kalangan tertentu ,
(dalam bentuk , materi dan isi yg serupa namun dengan nama yg berbeda) ,
namun oleh karena berbagai hal , situasi , kondisi , lingkungan , sosial , budaya ,
“Sastra Jendra” belumlah saatnya untuk dibabarkan kepada masyarakat yg lebih luas ,
sekalipun masih pada lingkup kesamaan pandangan dan spritual.  

Catatan  : 
Semiotik berasal dari kata Yunani ‘semeion’ yang berarti ‘tanda’ (bahasa Inggris : sign).
Semiotik didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan tanda dan simbol ,
sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi.
Semiotik meliputi bentuk visual dan verbal serta semua tanda atau sinyal ,
yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki. 

———————————————————————————————————————-

Kutipan tentang “Sastra Jendra Hayuningrat”.

Di bawah ini adalah kutipan dari serat “Arjuna Sasrabahu” ,
tentang “Sastra Jendra” dalam bentuk tembang Sinom ,
yg secara garis besar ada dalam “Sastra Jendra Hayuningrat” ,
di bagian dialog antara Prabu Sumali dan Resi Wisrawa.

       Sastrarjéndra hayuningrat ,
       Pangruwat barang sakalir ,
       Kapungkur sagung rarasan ,
       Ing kawruh tan wontên malih ,
       Wus kawêngku sastradi ,
       Pungkas-pungkasaning kawruh,
       Ditya diyu raksasa ,
       Myang sato sining wanadri ,
       Lamun wêruh artiné kang sastrarjéndra.

       Rinuwat dèning bathara ,
       Sampurna patiniréki ,
       Atmane wor lan manusa ,
       Manusa kang wus linuwih ,
       Yèn manusa udani ,
       Wor lan dèwa panitipun ,
       Jawata kang minulya ,
       Mangkana prabu Sumali ,
       Duk miyarsa tyasira andhandhang sastra.

Terjemahannya :

       Ajaran tertinggi tentang keselamatan alam semesta ,
       Untuk memulihkan (meruwat) segala hal ,
       Dahulu semua orang membicarakan ,
       Pada ilmu ini tiada lagi ,
       Telah terangkum dalam ajaran luhur , 
       Kesimpulan dari pengetahuan ini ,
       -bahwa- Segala jenis raksasa ,
       Dan semua binatang di hutan ,
       Jika mengetahui arti Sastra Jendra.

       Akan dipulihkan (diruwat) oleh dewa ,
       Kematiannya akan sempurna ,
       Jiwanya berkumpul dengan manusia ,
       Manusia yg utama ,
       Jika manusia yg mengetahuinya ,
       Ketika mati -jiwanya- berkumpul dengan para dewa ,
       -menjadi- Dewa yang dimuliakan ,
       Demikianlah Prabu Sumali ,
       Ketika mendengar hatinya ingin sekali mengetahui ajaran -Sastra Jendra-.

———————————————————————————————————————-

“Sastra Jendra Hayuningrat” Kawedhar.

Ki dhalang lalu melanjutkan ceritanya.

Setelah Resi Wisrawa dan Prabu Sumali berada di dalam sanggar pamujan
(ruang untuk memuja Hyang Maha Kuasa) dan duduk bersila berhadap-hadapan.
Resi Wisrawa menaburkan dupa ke bokor emas berisi arang yg menyala sambil membaca doa.
Prabu Wisrawa memejamkan mata untuk memusatkan pikir dan rasa.

Beberapa saat kemudian , Resi Wisrawapun mulai membabarkan “Sastra Jendra Hayuningrat”  

Sastra Jendra Hayuningrat adalah sebuah kawruh kunci ,
untuk seseorang dapat memahami isi pusat tubuh (Indraloka) manusia ,
yg berada di dalam rongga dada , yaitu pintu gerbang dari rasa jati.
Dalam hal ini adalah Nur Cahaya Illahi yg ditiupkan ke dalam diri manusia dan bersifat gaib.

Sastra Jendra Hayuningrat adalah Pangruwating Diyu.
Dimulai dari mengenal watak diri pribadi (hawa nafsu) dan selanjutnya ,
dengan sungguh-sungguh dan jujur mengendalikan dan melenyapkan yg bersifat jahat ,
memupuk dan mengembangkan yg bersifat baik semaksimal mungkin ,
dengan tuntunan Hyang Bersifat Luhur dalam diri pribadi.

Sastra Jendra disebut Sastra Cetha (cetha = jelas , nyata).
Kawruh (pengetahuan) yg nyata tentang kebenaran , keluhuran , keagungan ,
akan kesempurnaan terhadap hal-hal yg bagi manusia belum nyata (meragukan). 
Karena itu Sastra Jendra disebut pula sebagai Sastra Jendra Wadiningrat ,
pengetahuan (ilmu) tentang rahasia seluruh alam semesta beserta perkembangannya.

Sastra Jendra adalah ugering agesang kasampurnaning titah ,
pedoman untuk menjalani hidup mencapai kesempurnaan seorang manusia.
(Manusia ketika ‘awal’ ‘diwujudkan’ oleh Sang Maha Pencipta ?)

Untuk mencapai tingkatan hidup seperti itu tidak cukup hanya dengan menjalani persyaratan :
Sirik : Tidak melakukan , memakan , meminum , menikmati , hal-hal keduniawian
        yg bersifat kesenangan , kenikmatan. 
Mutih : Makan nasi putih tawar tanpa lauk apapun dan hanya minum air putih.
Puasa : Tidak makan dan minum apapun (dalam rentang waktu tertentu).
Ngebleng : berpuasa dan juga tidak tidur sehari semalam.
Patigeni : ngebleng dalam ruangan yg tanpa penerangan apapun. 

Namun selain mengurangi makan , minum , tidur dan kesenangan duniawi lain (prihatin) ,
adalah melakukan samadi (Semedi , tafakur , meditasi , sembahyang)
memusatkan pikir dan rasa untuk mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta Alam Semesta.
Galibnya seseorang yg bersemedi akan mendapatkan ilham atau wisik (tinarbuka).
(Sembahyang berasal dari penggabungan 2 kata , yaitu Sembah dan Hyang).

Laku-laku tersebut di atas disebut bertapa (menjauhkan diri dari keduniawian).
Ada 7 tahapan yg harus dilakukan untuk dapat mencapai tataran hidup yg sempurna , yaitu :

Tapaning raga.
Mengendalikan , mengurangi segala kegiatan atau daya gerak tubuh.

Tapaning budi.
Menghindarkan dari perbuatan-perbuatan hina , tidak benar dan tidak jujur. 

Tapaning hawa napsu.
Mengendalikan , menjauhkan dari perbuatan yg dikarenakan oleh hawa nafsu ,
atau angkara murka yg bersumber dari diri pribadi.

Tapaning suksma.
Menenangkan jiwa dengan banyak melakukan perbuatan baik dan berderma ,
dengan dasar keikhlasan hati dan tak berharap balasan atau karena pamrih apapun.

Tapaning cahya.
Hendaknya selalu awas dan waspada , jangan sampai lupa diri oleh keadaan cemerlang ,
yg dapat mengakibatkan pandangan (bathin) yg samar dan ragu.

Tapaning gesang (urip).
Artinya selalu berusaha , berjuang sekuat daya dengan tetap wiwéka (waspada , berhati-hati)
ke arah kesempurnaan hidup dengan penuh taat Kepada tuhan Yang Maha Kuasa.

Karena semua pengetahuan tentang cara atau laku untuk mencapai tingkat hidup tertinggi ,
maka “Sastra Jendra Hayuningrat” disebut pula sebagai “winihing Jagad”
(Benih seluruh alam semesta).
Itulah sebab dirahasiakan , tidak dibabarkan kepada semua (sembarang) orang ,
sebab benih yg ditaburkan pada tempat yg gersang dan kering hanyalah berbuah kesia-siaan.

“Sastra Jendra Hayuningrat , Pangruwating Diyu , Pangleburing Dur Angkara” ,
hanyalah sebagai kunci untuk dapat memahami Rasa Jati , Sejatining Rasa ,
sedangkan untuk mencapai sesuatu yg luhur , mutlak diperlukan perbuatan yg sesuai.

Rasa Jati adalah perlambang jiwa (suksma) atau badan halus setiap manusia ,
yg memiliki sifat keinginan , kecenderungan , dorongan kuat ,
entah itu menuju hal yg baik maupun hal yg buruk atau jahat.

———————————————————————————————————————-

Penutup “Sastra Jendra Hayuningrat”. 

       Ngèlmu iku kalakone kanthi laku ,
       Lêkasé lawan kas ,
       Têgêsé kas nyantosani ,
       Sêtya budya pangêkêsé dur angkara.

Terjemahannya :

       Ilmu itu dapat terwujud bila dilaksanakan (dilakukan , dijalankan) ,
       Dimulai dengan kemauan yg sungguh-sungguh ,
       Artinya kesungguhan dapat memberikan kesantosaan (keteguhan , kekokohan) ,
       Setia kepada budi – yg bersifat luhur- adalah penghancur angkara murka.

Tembang Pocung petikan dari “Serat Wedhatama” ,
(yg masih dipertanyakan tentang pengarang yg sesungguhnya ,
R. Ng. Ronggowarsito ataukah KGPAA. Mangkunegara IV) ,
kiranya dapat memberi gambaran ,
seberapa tinggi sebuah ilmu , seberapa luhur sebuah kawruh , semua tidaklah berarti apa-apa ,
bila tidak diikuti dengan tindakan perbuatan nyata (laku) yg sesuai.

Mencoba menyimpulkan bahwa “Sastra Jendra Hayuningrat” sebenarnya adalah pengetahuan
tentang asal (sangkan) manusia dan ajaran untuk menjalani hidup dengan baik ,
berlandaskan kebenaran -yg mutlak- ,
serta selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa ,
agar bila kelak meninggal kembali ke asalnya (paran) ,
(dalam konteks keagamaan , yg lebih mudah dipahami : “masuk surga”) ,
seakan mengatakan bahwa tinggi penjabaran daripada makna , luhur penggambaran daripada isi.

Namun , terlepas dari penilaian terhadapnya , sebuah pengetahuan yg nyata
(tentang ajaran kebaikan dan kebenaran) , bila diterima dengan ikhlas ,
diyakini dengan sunguh-sungguh dan dilaksanakan dengan tekun dan sabar , 
pada waktunya akan menunjukkan ,
bahwa kuasa Tuhan Yang Maha Esa berada dalam lingkup yg tak terbatas oleh apapun.

Tetap saja , pikiran dan perasaan manusia (penulis) yg rapuh ,
tak mungkin bisa mengerti dan memahami sedikitpun keagungan Sang Pencipta.
Itu hanyalah bagai memindahkan air samudra ke sebuah lubang di pantai ,
menggunakan batok bolu (tempurung kelapa berlubang tiga).

Ngèlmu iku kalakone kanthi laku , sinartan têmên lan tumêmên.

                                                                                         S.O.T.R , Juni ’11 

———————————————————————————————————————-

Daftar Pustaka (sumber-sumber) :
– Sejarah Wayang Purwa  –  Hardjowirogo.
– Sarasilah Wayang Purwa  –  S. Padmosoekotjo.
– Wayangprabu.com
– Menyingkap Serat Wedotomo  –  Anjar Any.
– Pagelaran wayang yg pernah dilihat dan didengar.
– Lain-lain. 

==================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: