Sastra Jendra Hayuningrat

 

Rahayu , mugi kinalesna ing rubeda.

Kabar tentang sayembara yg diadakan oleh Prabu Sumali , raja Alengka (Ngalengka) ,
sampai juga ke telinga Prabu Wisrawana , raja Lokapala yg belum mempunyai garwa prameswari.
“Barang siapa yg bisa mengalahkan senapati Alengka , Arya Jambumangli ,
akan dinikahkan dengan Dewi Sukesi , putri Prabu Sumali.”

Panjanging tembang punjunging kidung (lagu yg terdengar hingga ke tempat yg jauh dan tinggi)
tentang keelokan , kepandaian dan keluhuran budi sang putri Dewi Sukesi ,
membuat Prabu Wisrarana (Juga disebut Prabu Danapati atau Danaraja ) membulatkan tekad ,
sekalipun sudah tersiar pula kabar , putra raja dan raja yg dikalahkan oleh Jambumangli.

Mendengar titah sang Prabu Wisrawana , patih Banendra segera menghaturkan sembah ,
hendak menyiapkan wadyabala (pasukan) guna mengiringi keberangkatan Prabu Wisrawana
menuju kerajaan Alengka memasuki sayembara tersebut.
 
Namun kedatangan Resi Wisrawa ,
ayah Prabu Wisrawana yg telah seleh kaprabon madeg pandhita
(menyerahkan kepemimpinan kerajaan dan menjauhi keduniawian dengan menjadi pandhita) ,
membuat Prabu Wisrawana mengurungkan niatnya.
Resi Wisrawa yg mendengarkan rencana Prabu Wisrawana memberi wejangan , 
bahwa memang sudah waktunya bagi Prabu Wisrawana untuk berkeluarga , 
namun seyogyanya tidak dengan cara menempuh perkelahian atau pertempuran ,
melainkan dengan meminang secara baik-baik , untuk mendapatkan calon garwa prameswari.  

Bebasan “anak polah bapa kepradah” (anak berulah , bapak yg musti menangung kerepotannya)
(arti kata ‘pradah’ : menjalani hukuman seperti budak -batur tukon-) ,
Resi Wisrawa yg akan menemui Prabu Sumali , meminang Dewi Sukesi untuk Prabu Wisrawana. 

Resi Wisrawa akan berangkat sendirian menuju kerajaan Alengka ,
dengan pertimbangan , seandainya pinangan itu ditolak , tidak ada orang yg mengetahui.
Prabu Wisrawana menyetujui dan menuruti dhawuh (nasihat) sang ayah.

Tak dikisahkan perjalanan Resi Wisrawa dari Lokapala menuju Alengka.
Setibanya di Alengka , Prabu Sumali yg mendapat laporan bahwa Resi Wisrawa berkunjung ,
segera menyambut dengan tergopoh-gopoh , lalu mengiringkan sang resi ,
menuju pantisari (rumah di tengah pertamanan)
dan mempersilahkan duduk di dhampar rukmi (kursi emas).

Setelah berbagi salam dan cerita sekedar pembuka pembicaraan ,
sang Resi Wisrawa menyampaikan maksud kedatangannya yg sebenarnya.

“Kakang Begawan , sebenarnya sudah menjadi prasetya (janji) anak paduka ,
bahwa : “Tidak akan menikah sebelum mengetahui (putus) dalam berbagai sastra.”
Meski telah mengetahui dan memahami makna bermacam ragam sastra ,
masih ada satu yg belum diketahuinya , yaitu “Sastra Jendra Hayuningrat”
Selain itu , ada satu penghalang untuk anak paduka menikah , yaitu Jambumangli.
Jambumangli yg masih terhitung saudara sepupu ,
ingin menjadikan anak paduka Dewi Sukesi sebagai istri ,
maka diadakanlah pasanggiri (sayembara) perang tanding.”

“Adhi Prabu , sungguh mengherankan yg menjadi keinginan anak Dewi Sukesi. 
Lagipula , siapa yg memberitahukan tentang “Sastra Jendra Hayuningrat” kepadanya ?
Ketahuilah adhi prabu , “Sastra Jendra Hayuningrat”
adalah wadosing bawana ingkang sinengker dening Sang Hyang Jagadnata ,
(rahasia alam semesta yg dijaga dengan sangat hati-hati oleh Sang Hyang Jagadnata).
Meski pandhita utama sekalipun , belum tentu mengetahui tentang hal ini.
“Sastra Jendra Hayuningrat” adalah pengetahuan tertinggi dan mulia tentang kehidupan.
Binatang yg mendengarkan ketika “Sastra Jendra Hayuningrat” diwedarkan (diuraikan) ,
bila mati mendapat kemuliaan setara dengan manusia.
Manusia yg mengetahui dan bisa memahami makna “Sastra Jendra Hayuningrat” ,
bila meninggal sukmanya akan mendapat kemulyaan , bersatu dengan para Jawata (dewa).”

Mendengar penjelasan Resi Wisrawa , tergugah rasa bathin Prabu Sumali ,
ingin mengetahui tentang “Sastra Jendra Hayuningrat”. 
Prabu Sumali pun lalu memohon kepada Resi Wisrawa ,
agar berkenan membabar wejangan makna “Sastra Jendra Hayuningrat”.

“Adhi Prabu , “Sastra Jendra Hayuningrat , Pangruwating Diyu , Pangleburing Dur Angkara” ,
tidak boleh diwedarkan di sembarang tempat.”

Prabu Sumali lalu paring dhawuh (memberi perintah) kepada abdi ,
agar membersihkan sanggar palanggatan (tempat bersembahyang)
dan menyiapkan segala keperluan.

Setelah semua siap sedia , Prabu Sumali dan Resi Wisrawa memasuki sanggar palanggatan.
Lama waktu bergulir mengiringi pembabaran kawruh tentang “Sastra Jendra Hayuningrat” ,
yaitu Sastra cetha ugering ngaurip , kang njalari patitising pati sampurnaning kamuksan.
(Ajaran yg nyata tentang pedoman menjalani kehidupan ,
yg membuat -seseorang- mati sesuai dengan garis hidup ,
dan meninggalkan dunia dengan sempurna)

Setelah selesai Prabu Sumali menerima wejangan , tergambar dari wajahnya ,
hatinya merasa amat senang bisa mengerti makna “Sastra Jendra Hayuningrat”.

Prabu Sumali dan Resi Wisrawa lalu kembali menuju Pantisari di taman Argasuka.
Sang prabu menyuruh abdi untuk memanggil Dewi Sukesi.
Setelah Dewi Sukesi tiba di Pantisari , sang prabu lalu menjelaskan ,
bahwa keinginan Dewi Sukesi untuk mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat” akan terkabul.
Resi Wisrawa akan memberikan wejangan “Sastra Jendra Hayuningrat” ,
sebagai syarat untuk meminang sang Dewi.
Namun Resi Wisrawa hanyalah sebagai wakil dari putranya , yaitu Prabu Wisrawana.
Jadi sebagai calon menantu Dewi Sukesi tidak perlu rikuh atau pekewuh untuk bertanya ,
bila dalam pembabaran “Sastra Jendra Hayuningrat” ada yg dirasa kurang dipahaminya.

Lalu Prabu Sumali meninggalkan Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa di Pantisari.

Ketika Resi Wisrawa membabar makna “Sastra Jendra Hayuningrat” kepada Prabu Sumali ,
menimbulkan ‘gara-gara gora reh kagiri-giri’ , berbagai bencana alam yg mengerikan.
Hawa panas akibat ‘gara-gara’ membumbung hingga ke Suralaya (Sura = Dewa. Laya = tempat) ,
mengguncang Jongringsalaka (Gunung yg teramat tinggi berwarna putih -karena tertutup awan-).

Bathara Guru segera mengetahui apa yg menjadi penyebab semua itu.
Resi Wisrawa telah membuka rahasia alam semesta kepada orang yg tidak mendapat idhi ,
dari Sang Pencipta , hanya demi kepentingan pribadinya.

Dengan menahan marah , Bathara Guru diikuti Bathari Uma , sang garwa ,
segera turun ke marcapada (buwana , jagad) menuju ke taman Argasuka.
Kedatangan Bathara Guru dan Bathari Uma tepat tengah malam ,
di saat Resi Wisrawa memulai pembabaran “Sastra Jendra Hayuningrat” kepada Dewi Sukesi.

Dengan tujuan membatalkan terbukanya rahasia alam lebih jauh kepada yg tidak berhak ,
Bathara Guru menyusup (manjing) ke dalam raga Resi Wisrawa
dan Bathari Uma menyusup (manjing) ke dalam raga Dewi Sukesi.
Niatnya adalah menggugah rasa sih tresna dan nafsu birahi Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi.
Seketika itu juga Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi tuwuh penggalih kasmaran (jatuh cinta).
Keduanya lalu melakukan hubungan badan (pulang asmara ; saresmi) layaknya suami-istri.

Meski setelah selesai Resi Wisrawa merasa bahwa apa yg terjadi bukanlah yg sewajarnya ,
namun tak mampu menyingkirkan perasaan itu , demikian juga dengan Dewi Sukesi.
keduanya hingga beberapa hari tinggal di taman Argasuka dan terus memadu kasih.

Prabu Sumali merasakan keanehan dengan tingkah polah Resi Wisrawa dan putrinya.
Namun setelah mengetahui apa yg terjadi , sang Prabu hanya bisa berserah pada kehendak Jawata. 

Arya Jambumangli yg mendengar kabar tentang Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi ,
seketika marah meluap-luap , dengan segera menuju taman Argasuka menantang Resi Wisrawa.
Kemudian terjadilah perkelahian yg mengerikan antara keduanya ,
karena keduanya sama-sama mengeluarkan seluruh kesaktian yg dimiliknya. 
Namun akhirnya Jambumangli kalah , mati oleh panah Resi Wisrawa.

Kabar tentang Dewi Sukesi yg menjadi garwa (istri) Resi Wisrawa ,
tidak hanya tersebar di seluruh penjuru Alengka , namun hingga ke kerajaan lain.
Prabu Wisrawana yg juga mendengar berita itu menjadi marah.
Segera diperintahkannya patih Banendra menyiapkan pasukan untuk menyerang Alengka.
Yg menjadi dasar Prabu Wisrawana untuk melakukan hal ini adalah :
“Sanajan sudarma , menawa awatak candhala tumindak cidra , putra kena midana.”
(Ayah sekalipun , jika berwatak jahat melakukan kebohongan , anak boleh memberi hukuman.)

Patih Banendra segera menyiapkan pasukannya yg terdiri dari pasukan raksasa dan manusia.
Senapati dari golongan raksasa adalah : Gohmuka , Rukmuka , Gurmuka dan Wisnungkara.
Sedangkan dari golongan manusia adalah : Citrajaya , Citrasudirga , Citragana , Citrasakti.

Prabu Wisrawana memimpin di depan dengan menaiki wimana Puspaka apangirid turangga wolu.
(Kereta Puspaka yg ditarik delapan ekor kuda) (‘Puspaka’ sendiri berarti : kendaraan).

Setiba di perbatasan Kerajaan Alengka ,
Raksasa Marica yg menjaga tapal-batas mencoba menghalang-halangi pasukan Prabu Wisrawana.
Tapi tak perlu waktu lama , Marica menyadari kekalahannya dan berlari menuju keraton Alengka.
Melaporkan kepada Prabu Sumali bahwa barisan pasukan musuh telah melewati tapal batas.

Prabu Sumali terkejut mendengar laporan Marica ,
segera menitahkan Mintragna dan senapati lain menyiapkan pasukan menjadi 2 bagian.
Sebagian menghadapi serbuan pasukan Lokapala , sebagian lagi berjaga di sekeliling keraton.

Pasukan Alengka dapat dikalahkan oleh pasukan Lokapala ,
para prajurit yg berlarian ke keraton membuat Resi Wisrawa tergugah ,
untuk memimpin pasukan melawan serbuan pasukan Lokapala. 

Mengetahui sang rama (ayah) yg memimpin pasukan berperang ,
Prabu Wisrawana seperti dibakar api kemarahan segunung.
Para wadyabala diperintahkan sumisih piyak ngiwa nengen (menyingkir di sisi kiri dan kanan).
Terjadilah perang tandhing antara anak dan ayah.
Keduanya sama-sama sakti mandraguna.

Prabu Wisrawana melepaskan jemparing Dahana (api) yg segera ditangkis (ditulak)
dengan jemparing Barunastra (Baruna = laut , samudra. Astra = panah) oleh Resi Wisrawa.
Perang tanding antara keduanya berlangsung lama ,
masing-masing mengeluarkan aji kemayan dan pangabaran (kesaktian).
Akhirnya habis kesabaran Prabu Wisrawana , dikeluarkannya senjata pamungkas ‘Kunta Baswara’.
Melihat itu , Resi Wisrawa hanya bisa memejamkan mata , pasrah akan apa yg akan terjadi.

Secara tiba-tiba , Bathara Narada turun dari angkasa dan memegang senjata Kunta Baswara ,
yg hampir saja dilepaskan oleh Prabu Wisrawana.
Bathara Narada lalu berkata.

“Jangan diteruskan perbuatanmu anak Prabu ! 
Engkau dapat diibaratkan orang mabuk , terburu-buru berbuat keliru ,
menurutkan hati hendak membunuh sudarma (ayah).
Meski seorang ayah melakukan kesalahan , anak tidak boleh menghukum apalagi membunuhnya.
Sedangkan perbuatan anak Prabu , mengarahkan senjata pamungkas kepada orang lain saja ,
sudah termasuk perbuatan salah , apalagi dalam hal ini adalah karena “rebutan istri”.
Oleh karena perbuatan anak Prabu ,
Lokapala kelak akan dirusak oleh saudara anak Prabu sendiri , yg dilahirkan oleh Dewi Sukesi.
Anak Prabu Danaraja , lebih prayoga mintalah pengampunan kepada ayahanda resi Wisrawa.
Dan segera tinggalkanlah medan peperangan ini ,
kembali ke kerajaan Lokapala dan banyaklah laku prihatin (tapa brata) ,
memohon ampunan kepada Jawata atas perbuatan salah anak Prabu ini.”

Setelah itu , Bathara Narada musna kembali ke Kahyangan.
Prabu Wisrawana dengan perasaan sedih menyembah sang ayah dari atas kereta Puspaka.
Lalu memerintahkan para wadyabala untuk kembali ke Lokapala.

 

Dewi Sukesi tetap menjadi istri (garwa) Resi Wisrawa dan melahirkan 4 orang anak ,
yaitu : Dasamuka (Rahwana) , Kumbakarna , Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana.

Sabda Bathara Narada terlaksana.
Di kemudian waktu kerajaan Lokapala diserang dan dihancurkan oleh Dasamuka ,
namun Prabu Wisrawana mendapat pertolongan dewa ,
diangkat ke Kahyangan dan menjadi dewa (asalira dewa) ,
bergelar (jejuluk) Bathara Wisrawana atau Bathara Kuwera , dewa yg menguasai harta kekayaan.

Kelahiran dan keberadaan 4 orang anak dari Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi ,
sejatinya adalah perlambang dari 4 hawa nafsu (angkara) yg berada dalam diri manusia.

Dasamuka adalah perlambang dari keinginan akan kekuasaan , kekuatan , kesaktian.
Kumbakarna adalah perlambang dari keinginan akan kesenangan ,
itu sebab ‘pekerjaan’ Kumbakarna hanyalah makan sebanyak-banyaknya dan tidur selama-lamanya.
Sarpakenaka adalah perlambang dari keinginan akan lawan jenis (nafsu birahi).
Sebuah lakon wayang (“Rama Gandrung”) menceritakan , karena tertarik melihat Rama ,
Sarpakenaka mancala putri (merubah diri menjadi putri yg cantik) dan merayu Rama.
Karena Rama menolak , Sarpakenaka ganti merayu Laksmana , namun Laksmana juga menolaknya.
Padahal selain sudah bersuami , Ditya Karadusana ,
Sarpakenaka juga memiliki ‘peliharaan’ beberapa lelaki (raksasa).
Wibisana adalah perlambang dari hawa putih , hawa baik.
Pilihan Wibisana meninggalkan saudara-saudaranya ,
tata gelar (apa yg terlihat) adalah tindakan tak terpuji ,
tapi niatan Wibisana adalah berdasar kebenaran dan demi menghindari kehancuran Alengka.

 
                                                    Tancep Kayon

———————————————————————————————————————-

Catatan  : 
– Cerita di atas dalam pagelaran wayang kulit berjudul “Alap-alapan Dewi Sukesi” ,
  namun sebagian dhalang menyebutnya “Sastra Jendra Hayuningrat” , atau “Rahwana Lair”.

– Cerita di atas adalah berdasarkan pakem pagelaran ringgit purwa ,
  ada perbedaan-perbedaan yg cukup menyolok bila dibandingkan
  dengan apa yg dikisahkan dalam Layang Mahabharata dan Layang Uttarakanda.

===========================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: