Sawunggaling , Satria Tanah Jawa Wetan – Bag.1

 

“Hayo !! Hayoo !! Hayo !!”  

Teriakan beberapa pemuda mengejar seorang pemuda yg berlari menuju tanah lapang ,
dan lalu berhenti di tengah-tengah sambil sesumbar dengan suara yg keras.

“Hayo , kesini kalo berani ! Reang lari bukan karena takut sama kalian ,
tapi mencari tempat yg lapang. Hayoo ! Mumpung ada tempat yg lapang.
Maju kalo berani ! Biar reang hajar kalian sampai mati !” 

Beberapa pemuda yg berdiri agak jauh saling berpandangan seakan ragu-ragu.
Bertepatan dengan seorang pemuda yg berusia lebih tua , bertubuh pendek dan gemuk melintas , yg segera melerai perkelahian yg hampir saja terjadi itu.

“Kang Markuat.”

“Ada apa tho , Joko Bêrêk ?”

“Arek-arek itu lho kang , kurang ajar. Reang gak berbuat apa-apa diejek-ejek terus.”

“Diejek gimana tho , Rêk ?”

“Gini katanya kang :
“Hoii Joko Bêrêk , arek nggunung mucuk , arek ndesa mlosok , arek gak punya bapak.”

“Hmmm , kalo gitu ya gak salah teman-temanmu. Yg salah itu pakde mu Wongsodrono”

“Lho , rika koq malah mbelani arek-arek , kang Markuat ?”

“Bukan mbelani Rêk. Kamu itu sebenarnya punya bapak , sekarang ini ada di kota Surabaya.”

“Ooo . jadi sebenarnya reang masih punya bapak , ya kang ?”

“Heeh , malah kamu itu bukan anaknya orang sembarangan , Rêk.
Begini . . . kalo kamu kepengen ketemu dengan bapakmu yg sejati ,
kamu pamitlah dengan pakdhe , mbokdhe dan yung Sangkrah ,
katakan kalo kamu mau ke Surabaya untuk mencari bapakmu.”

“Gitu ya , kang Markuat ?”

“Iya , Rêk. Nanti kalo pamitmu dapat idhi (restu) dari orang tuamu ,
berangkatnya sama-sama dengan aku.”

“Rika juga mau ke Surabaya , kang ?”

“Heeh , aku mau ke Surabaya mencari Kancil , mau nagih uangnya wedhus.”

“Waah , kalo gitu kebeneran sekali , kang. Sekarang reang pamitan dulu sama yung Sangkrah.
Didadhunga bakal dak pedhot , dipalangana bakal dak lumpati ,
boleh gak boleh reang akan tetep pergi ke Surabaya.”

“Iya , Rêk. Nanti aku tunggu kabarnya.”

“Iya kang , reang pulang dulu. Doakan semoga diijinkan ya kang.”

“Iya , Rêk. Semoga pamitmu diidhini.”

———————————————————————————————————————-

Dewi Sangkrah yg tengah duduk di ruang tengah , menampak kesedihan di raut wajahnya.
Ki Buyut Suruh , yg dikenal sebagai Ki Demang Wongsodrono dan istrinya ,
orang tua Dewi Sangkrah , mendekati dan menanyakan apa kabut yg menyelimuti hati anaknya.

“Sangkrah anakku.”

“Iya, mak.”

“Kulihat sejak tadi kamu seperti sedih hati. Apa tho yg kamu susahkan ?”

“Lha iya sih , mak. Siapa yg gak sedih kalo jadi seperti diriku ini.
Joko Bêrêk sudah besar , tapi nakalnya semakin menjadi-jadi.”

“Sudahlah , kamu jangan terlalu menyedihkan hal itu.”

Nyi Buyut suruh lalu berkata pada suaminya.

“Coba tho kang , Joko Bêrêk itu dinasehati.”

“Kurang golek , entek ngamek aku menasehati cucumu itu.” 

“Krah . . .”

“Iya , pak.”

“Makanya kalo anakmu itu kluyuran itu dicegah , kalo dolan dengan temannya juga dicegah.
Masa’ setiap kluyuran , pulang-pulang karena berkelahi.
Setiap dolan (pergi bermain) dengan temannya , ya berkelahi.
Aku sampe cape hati merasakan anakmu itu . . . . .”

Belum selesai Ki Demang Wongsodrono berbicara terpotong oleh kedatangan Joko Bêrêk ,
yg rupanya masih dikejar oleh lawan-lawan berkelahinya tadi.

“Hayo !! Kesinilah kalo berani , mumpung ada pakdhe ini.”

“Ada apa sih kamu ini , Joko Bêrêk ?”

Nyi Demang segera bertanya.

“Reang habis berkelahi dengan arek-arek itu lho dhe.”

“Oallah , nak. Kamu ini mbok ya jangan bertengkar , jangan berkelahi ,
gak baik kalo dilihat orang , nak.”

“Lha gimana , reang gak memulai tapi digara-garai , diejek-ejek.”

“Diejek gimana ?”

Tanya Ki Demang.

“Gini dhe ,
“Hoii Joko Bêrêk , arek nggunung mucuk , arek ndesa melosok , arek gak punya bapak.””

“Siapa yg bilang gitu ?”

“Itu si Jimin.”

“Jimin siapa ?”

“Jiminnya Jiman itu lho dhe.”

“Bisa aja arek-arek itu.”

“Sini , nak. Jangan bertengkar , jangan mukuli anaknya orang , nanti ditegur orang tuanya.”

Kata Nyi Demang sambil merangkul cucunya , yg mulai dewasa ,
dan mengenal Ki dan Nyi Demang sebagai pakdhe dan mbokdhe-nya.
Dewi Sangrah yg sejak tadi diam saja , lalu berkata dengan nada sedih.

“Kamu itu anaknya orang miskin , ya cung. Jangan nakal-nakal , jangan suka berkelahi.
Kalo kamu punya kelakuan yg seperti itu , aku gak tahu musti gimana lagi , nak.”

“Biar aja yung. Reang malu , sejak dulu gak pernah biyung tunjukkan bapak reang.”

“Siapa yg ngomong gitu ?”

Tanya Nyi Demang.

“Kata arek-arek reang gak punya bapak , khan malu reang.”

“Lha ini khan bapakmu !”

Kata Nyi Demang sambil menunjuk suaminya , yg segera pula ikut menimpali.

“Lha aku ini khan bapakmu , cung.”

“Wah bukan ! Bukan ! Reang nggantengnya gini sedangkan pakdhe kayak Bagong gitu.”

“Pakdhemu itu gak kayak Bagong , . . tapi kayak Togog.”

Nyi Demang menyahut.

“Iya , wong pakdhe ini khan keturunannya wayang , tambah lama tambah gepeng.”

“Reang terlanjur malu di desa , reang mau ke Surabaya saja , mencari bapak reang.”

Demi mendengar omongan anaknya , Dewi Sangkrah tak lagi kuasa menahan tangisnya.

“Oallah nak , Joko Bêrêk. Kamu koq malah menanyakan hal seperti itu tho , cung.”

“Beritahukan saja yg sebenarnya , Krah. Anakmu tambah tahun tambah dewasa.”

Sambil mengelus-elus bahu Dewi Sangkrah , Nyi Demang berkata.

“Siapa sih yg memberitahu kalo bapakmu di Surabaya ?”

Tanya Ki demang pada Joko Bêrêk.

“Reang diberitahu kang Markuat , kalo bapak reang ada di Surabaya.”

“Markuat itu bisa-bisa aja.”

“Kasihan anakmu , Krah.
Beritahukan siapa bapaknya yg sebenarnya , anakmu sudah tambah ngerti.”

Dewi Sangkrah masih menangis terisak-isak.
Ingatannya melayang pada bertahun-tahun silam ,
terbayang ketika ia sedang mencuci pakaian (umbah-umbah) di rawa Wiyung ,
dan bertemu dengan Tumenggung Jayengrono yg sedang berburu di alas Lidah Danawati.
Sang Tumenggung jatuh kasmaran pada gadis ayu putri Ki Demang Wongsodrono ,
lalu menjadikannya sebagai garwa ampil (selir) tanpa membawanya ke katumenggungan.

Tumenggung Jayengrono yg sudah mempunyai dua orang anak , Sawungrono dan Sawungsari ,
memberi cindhe puspita sebagai kenang-kenangan dan tanda bukti ,
untuk jabang bayi yg berada dalam kandungan ketika ia kembali ke katumenggungan.

Kelahiran si jabang bayi ditandai dengan ndaru cumlorot yg jatuh ke rawa Wiyung ,
dan menyebabkan ikan-ikan mati dengan keadaan badan yg rusak ( bêrêk ) ,
maka si jabang bayi putra Tumenggung Jayengrono itupun diberi nama Joko Bêrêk.

“Iya , yung. Beritahukan saja yg sebenarnya , bapak reang ada di mana ?”

Dewi Sangkrah memandangi kedua orang tuanya seakan meminta persetujuan ,
Ki dan Nyi Demang mengangguk , menyetujui untuk memberitahu Joko Bêrêk.

“Joko Bêrêk . . .”

“Iya , yung.”

Joko Bêrêk segera duduk bersimpuh dekat kaki ibunya.

“Kalo memang kamu benar-benar ingin bertemu dengan bapakmu yg sejati ,
akan kuberitahukan di mana tempat beradanya orang tua lelaki-mu.”

“Iya , yung.”

“Kamu pergilah ke kota Surabaya , nak.
Kalo sudah sampai di kota Surabaya , tujulah katumenggungan Surabaya.
Terus tanyakanlah kepada Gusti Tumenggung Jayengrono , nak.”

“Iya , yung.”

“Sebab yg memegang cacah jiwa orang se Surabaya ,
gak ada yg lain ya Gusti Tumenggung Jayengrono.”

“Begitu ya , yung ?”

“Nanti kalo kamu ditanya “siapa nama ibumu ?” ,
katakan terus terang kalo kamu itu anak dari Dewi Sangkrah atau Rara Bèngah.
Biyung gak bisa memberi apa-apa sebagai tanda bukti selain cindhe puspita , terimalah , nak.”

“Reang terima ya , yung.”

Setelah menerima cindhe puspita Joko Bêrêk pun meminta idhi pangestu dari ibunya.

“Yung , reang mohon idhi pangestu ya , yung ? Reang akan ke Surabaya untuk mencari bapak.”

“Iya , nak. Idhi pangestuku menyertaimu seperti air mengalir , nak.”

“Reang minta sawab pandonga biyung selalu.”

“Iya , nak. Berhati-hatilah kamu pergi ke Surabaya , ya nak.
Ingat-ingatlah selalu pesan biyung.”

“Iya , yung.”

“Yg pertama. Kamu jangan suka “ngrusak pager ayu”.
Sebab orang yg suka ngrusak pager ayu ,
meskipun “sacengkang kulite bakal asor jurite.”
(meskipun kulitnya sejengkal tebalnya , tetap bakal kalah dalam peperangan).”

“Iya , yung.”

“Yg kedua. Ojo sok pek minek barang’e liyan.
(Jangan menghendaki pun mengambil milik orang lain)
Sebab itu adalah perbuatan gak baik , nak.”

“Mbokdhe . . . “

“Ada apa , nak.”

“Sedemikian juga dari mbokdhe , reang mohon idhi pangestu untuk ke Surabaya.”

“Iya , iya , nak. Putuku yg paling ngganteng di desa ini.
Aku ini nenekmu ya mbokdhemu juga orangtuamu , mendoakan semoga kamu selamat selalu.”

“Iya , mbokdhe.”

“Aku akan memberimu “pegangan” , nak.
Sekeluar dari pintu , jalan tiga langkah lalu berhentilah dan tahan napasmu.
Bebasan kepethuk musuh dadi dulur , kepethuk satru dadi kadang.
(Ibaratnya bertemu musuh dan orang yg membenci akan luluh jadi saudara)”

“Iya , mbokdhe.”

Ki Demang yg tadi ke halaman belakang telah kembali dengan membawa seekor ayam jantan.

“Bawalah ayam jagomu untuk teman perjalananmu.”

“Iya , pakdhe.”

“Pakdhe gak bisa memberi sangu yg berharga , cuma berpesan padamu.

“Iya , pakdhe.”

“Wêdia ambék gumampang. Wania ambék sing têmên.
Pêrcayaa ambék Pangèranmu lan awakmu dhéwé.
Takutlah dengan -bersikap- hati-hati. Beranilah dengan -berpegang pada- kebenaran.
Percayalah -hanya- kepada Sang Pencipta dan dirimu sendiri.”

“Iya , pakdhe.”

“Hati-hatilah kalo sudah sampai di Surabaya.”

Joko Bêrêk lalu berpamitan menyungkemi biyung , pakdhe dan mbokdhenya ,
dan segera menemui Markuat untuk bersama-sama ke Surabaya.

———————————————————————————————————————-

“Rêk , Rêk . . “

“Iya , kang.”

“Lihatlah yg menjaga regol itu khan kayak Kancil.”

“Iya , ya kang.”

Joko Bêrêk dan Markuat yg telah sampai di Surabaya , di depan regol katumenggungan ,
memperhatikan prajurit yg sedang berjaga.

“Hei !! Hei !! Ini regol katumenggungan. Ada apa kamu orang jelek-jelek di sini ?
Ayo pergi sana !! Pergi sana !!”

“Wayang , wayang , wayang. Kamu itu jadi apa sih , Cil ?”

Markuat berkata dengan santainya.

“Lho ! Heh ! Heh ! Panggil aku gusti ! ndara !”

“Lha aku manggil kamu ndara itu ketemu berapa perkara ?”

“Yok opo rek. Aku iki prajurit tamtama.”

Kata prajurit penjaga regol dengan suara yg dibesarkan dan dada dibusungkan.

“Halah , halah , Cil. Kamu kuberutahu ya , Cil.
Meskipun kamu sehari salin delapan kali , aku gak bakalan pangling.”

“Lho , kamu itu siapa sih ?”

Kancil masih berpura-pura tidak mengenali Markuat.

“Kamu pura-pura gak kenal , nanti aku minta wedhusku baru tau kamu.”
 
Sadar tidak bisa lagi berpura-pura , sambil merenges (meringis lebih lebar) Kancil berkata.

“Hee.hee.hee… Wat. Kamu masih ingat aja sama aku.”

“Lagian kamu itu jadi apa , Cil ?”

“Aku itu jadi prajurit tamtama.”

“Eeee , prajurit tamtama ? Kamu aku beritahu ya , Cil.
Orang jadi prajurit tamtama itu khan mestinya mbawa tameng tho.”

“Lha ini khan tameng.”

“Kamu itu gak mbawa tameng , tapi mbawa tampah pake digambari “kucur”.”

“Ooooo , kamu ini ada-ada saja.”

“Cil. Cil. Jangan rame-rame.”

“Ada apa ?”

“Wedhus’e , wedhus’e.”

“Ooooo , malu-maluin aja kamu itu. Sudah , jangan nanyakan uangnya wedhus.”

“Lha aku jauh-jauh kesini perlu nanyakan uangnya wedhus.”

“Ini siapa ?”

Tanya Kancil

“Reang Joko Bêrêk , kang Kancil.”

“Iya , ini Joko Bêrêk. Masa’ lupa ?”

“Ooo Joko Bêrêk. Gini ya , kalian berdua sebaiknya pulang saja ke desa ,
karena sebentar lagi gusti Sawungrono dan gusti Sawungsari akan datang.”

“Lha aku disuruh pulang . . . . “

“Iya , kamu pulang saja.
Kalo ketahuan aku ngobrol sama kalian , aku bisa diberhentikan dari keprajuritan.”

“Lha uangnya wedhus.”

“Wadhuuh. Jangan tanya uang wedhus . . . . “

“Kancil !!”

Belum selesai Kancil membujuk agar mereka pergi dari regol ,
2 orang pemuda gagah sudah mendekati regol dengan menunggang kuda.

“Kamu jaga regol koq malah rame-rame , ada apa ?”

“Ini gusti , ada dua orang dari desa , gusti.”

“Koq gak kamu suruh pergi.”

“Sudah saya suruh pergi tapi gak mau.”

“Ini orang-orangnya ? Biar aku tanyai.
Yg gemuk pendek , siapa namamu ?”

“Hamba , Markuat ndara.”

“Lha yg tinggi ngganteng , siapa namamu ?”

“Reang Joko Bêrêk , lha rika siapa ?”

Joko Bêrêk menjawab dan balik bertanya dengan menggunakan bahasa ngoko ,
tidak menggunakan bahasa Jawa halus (kromo) ,
selayaknya rakyat jelata bila berbicara kepada kaum ningrat.

“Lho ! Lho ! Cil , kasih tahu . . suruh pake bahasa halus.”

Kancil segera memberitahu Joko Bêrêk.

“Bahasamu itu gimana sih. Ini adalah gusti Sawungrono dan gusti Sawungsari. Gusti !!”

“Biarkan saja lho , reang ngomong pake mulut reang sendiri , koq rika sing repot sih.”

Melihat ayam jago yg ditenteng Joko Bêrêk , Sawungrono dan Sawungsari tertarik.

“Jago yg kamu bawa itu ? Milik siapa ?”

“Lho , ini jago reang sendiri , gak bakalan kalah dengan jago riko.”

Jawab Joko Bêrêk , sambil menunjuk ayam jago yg ditenteng Sawungsari.

“Jangan sembarangan. Ini jago katumenggungan , sudah tersohor menang berkali-kali.”

“Reang gak percaya. Ayo kalo berani diadu tha ?”

“Kamu jangan menggampangkan adu jago , sebab ada taruhannya. Apa taruhanmu ?”

“Lha reang gak punya apa-apa . . . “

“Sudah gini saja , tekat-tekatan. Kalo kamu kalah kamu kubunuh , kepalamu kupancung.”

“Lha kalo reang sing menang ?”

“Kalo kamu menang , kuijinkan masuk ke katumenggungan dan aku kasih uang.”

“Gimana kang Markuat ? Dijadikan tha ?”

“Wis , jadikan saja Rêk , sudah terlanjur jauh dari rumah.”


Kemudian Sawunggaling , ayam jago milik Joko Bêrêk
dan Bagong ayam jago milik Sawungrono segera dilepas ke dalam kalangan.
Kedua ayam jago saling memukul dengn taji masing-masing ,
belum habis satu ronde sudah terlihat kalo ayam jago Joko Bêrêk lebih unggul.
Melihat itu timbul kelicikan Sawungrono dan Sawungsari apalagi merasa menghadapi orang desa ,
Bagong segera diambilnya sambil mengibaskan Sawunggaling.

“Lho !! Lho !! Lhoo !! Apa-apaan ini ?”

Teriak Joko Bêrêk.

“Lho , kalo menurut aturan Surabaya , jagomu itu sudah kalah ! Ayo sini lehermu !”

Merasa benar dan ayam jagonya yg menang , Joko Bêrêk pun melawan ,
perkelahian dua lawan satupun tak terhindarkan.
Sawungrono dan Sawungsari yg kena pukulan dan tendangan Joko Bêrêk ,
akhirnya melarikan diri masuk ke dalam katumenggungan.
Kancil segera masuk untuk melaporkan kejadian itu pada Tumenggung Jayengrono.

“Kang Markuat , reang akan meneruskan niat masuk ke dalam katumenggungan.”

“Iya , terus ?”

“Rika pulang saja. Reang titip jago ini pasrahkan ke pakdhe.”

“Baiklah , aku akan pulang ke Lidah Danawati.
Sebagai pengingat ayam jago ini , sebaiknya kamu jangan lagi memakai nama Joko Bêrêk.”

“Lha terus reang make nama siapa , kang.”

“Pake saja nama jagomu , Sawunggaling.
Sawung artinya ayam jago , corak bulunya (ules) wiring galing.”

“Kalo gitu andhum slamet (saling mendoakan) ya kang.”

 

BERSAMBUNG ke Bagian 2.

=================================================

– Arèk  :  anak.
– Kang , kakang  :  mas , kakak.
– Réang (Jawa Timur ngoko)  :  aku.
– Rika , kon (Jawa Timur ngoko) , awakmu , kowé  :  kamu.
– Yung , biyung , mak (emak) , mbok  :  ibu.
– Didadhunga bakal dak pêdhot , dipalangana bakal dak lumpati  : 
         Diikat tali akan kuputuskan , dihalangi rintangan akan kulompati.
– Kurang golèk , êntèk ngamèk  :  -Kalo- kurang , mencari lagi. -Kalo- habis , mengambil lagi. 
– Pakdhé , bapak gêdhé  :  paman besar. (Lebih tua dari orang tua kandung)
– Mbokdhé . simbok gêdhe  :  ibu besar.  (Lebih tua dari orang tua kandung)
– Cung , kacung (Bahasa Madura)  :  nak , panggilan untuk anak laki-laki.
– nDaru cumlorot  :  benda ber”ekor” cahaya yg jatuh dari langit dan membawa berkah. 
– Ngrusak pager ayu  :  menghendaki wanita (laki-laki) yg sudah sah menjadi milik orang lain.     
– Règol  :  Gapura masuk menuju katumenggungan , kadipaten , dll.
– ndara , bendara  :  tuan.
– Kucur  :  Nama jajanan tradisional , terbuat dari tepung beras , tepung terigu , digoreng.

– è : dibaca seperti e pada desa , hewan , seksi.
  ê : dibaca seperti e pada Semarang , segera , sejarah.
  é : dibaca seperti e pada Medan , capek , Denada

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: