Sawunggaling , Satria Tanah Jawa Wetan – Bag.2

 

Di pendopo , Tumenggung Jayengrono terlihat sedang bersusah hati memikirkan nasib rakyatnya.
Lebih lagi setelah mendengar laporan dari Kancil ,
Tumenggung Jayengrono nampak kecewa dengan kelakuan kedua anaknya ,
yg diharapkan kelak dapat meneruskan perjuangannya ,
membela rakyat dari tindakan semena-mena Kompeni Belanda.

“Lhooo , masuk ke sini koq gak ada arek itu ?”

“Hmm . . ini anak muda yg dimaksud Kancil.”

Kata Tumenggung Jayengrono dalam hati.

“Sini ! Sini ! Anak muda.”

“Lho wak , gak bertemu dengan dua arek yg masuk ke sini ?”

Tanya Joko Bêrêk dengan memakai bahasa Jawa ngoko (kasar).

“Dua anak tadi ?”

“Iya , wak.”

“Ketahuilah , dua anak tadi itulah yg disebut putra katumenggungan ,
Sawungrono dan sawungsari. Lha kamu itu anak mana ?”

“Reang arek Lidah.”

“Namamu siapa ?”

“Joko Bêrêk ya Sawunggaling.”

“Orang tuamu siapa namanya ?”

“Biyung Dewi Sangkrah ya Rara Bengah.”

Tumenggung Jayengrono terdiam bebarapa saat demi mendengar jawaban Joko Bêrêk ,
namun ia tetap berusaha menyembunyikan perasaannya ,
meski mengira bahwa pemuda gagah berani di hadapannya adalah anak kandungnya sendiri.

“Kamu pergi jauh dari desamu sampai ke Surabaya , diberi sangu apa oleh orang tuamu.”

“Lha ini tandanya , wak.”

Joko Bêrêk mengeluarkan cindhe puspita dan menunjukkan kepada Tumenggung Jayengrono.

“Hmmmm . . . ”

Tumenggung Jayengrono tersenyum senang dan lalu berkata aris.

“Joko Bêrêk . . . .”

“Iya , wak.”

“Kalo kamu bener-bener ingin ketemu dengan orang tua lelakimu ,
aku sanggup mempertemukan , tapi ada syaratnya.”

“Syaratnya apa , wak ?”

“Kamu harus bisa merawat kudaku yg berjumlah seratus empat puluh empat.
Selama merawat , kalo sampe ada yg brodhol bulunya , lehermu kupotong sebagai gantinya.
Kalo kamu sanggup , itulah jalan untuk kamu cepat bertemu dengan orang tua lelakimu.”

“Iya , wak. Memang niat reang kepengen bertemu dengan bapak reang ,
umpama setelah bertemu reang dibunuhpun rela.
Dimana tempat pemeliharaan kuda itu , wak ?”

“Di belokan ujung jalan itu.”

Jawab Tumenggung Jayengrono sambil menunjukkan arahnya.

“Reang rawatnya ya , wak.”

———————————————————————————————————————-

Tak berapa lama kemudian , datang tentara Belanda utusan Jendral De Leer di Batavia.
Yg menyampaikan bahwa masa jabatan Tumenggung Jayengrono selama satu windu sudah habis.
Kompeni tidak meneruskan masa jabatan Tumenggung Jayengrono karena dianggap tidak becus ,
banyak rakyat yg tidak mau menyetorkan padi dan hasil buminya ke kompeni.
Juga pemberontakan di sana-sini yg banyak menewaskan tentara kompeni Belanda.

Untuk itu akan diadakan sayembara “sodoran” ,
memanah cindhe Tunggul Yudha di atas menara kitiran Nawalagala , di alun-alun Kartasura.
Barang siapa saja yg bisa memanah cinde Tunggul Yudha ,
akan diangkat jadi pengganti Tumenggung Jayengrono di Surabaya.

———————————————————————————————————————-

Di pelabuhan , Adipati Cakraningrat duduk di atas kudanya sambil mengudar rasa.

“Êhhê ! Hè.hè.hè… Abo !! Cék ‘tak nyaman é pékér.
Mangkêl ongguh mun nénggu blêndhê sé bêdhêh é tanah Jêbê.
Mun bêdhêh parlona , mêsté ambu é Sorbêjê ‘tak laju ka Mêdurê.
Sé kapéng duwêk . . ngèding kabbêr , lékmas Tumenggung Jayengrono
é pa’ambu sé dêddi tumênggung é Sorbêjê. Apan’apa sé dêddi salah ? Hè.hè.hè…”

(Êhhê ! Hè.hè.hè… Abo !! Sungguh tidak enak pikiranku.
Mangkel sungguh kalo melihat tingkah laku Belanda yg ada di tanah Jawa.
Kalau ada perlunya , selalu singgah dulu di Surabaya , tidak bablas ke Madura.
Yg nomer dua . . dengar kabar , dhimas tumenggung Jayengrono
diberhentikan jadi tumenggung di Surabaya. Apa sebenarnya yg jadi kesalahannya ? Hè.hè.hè…)

Adipati Cakraningrat lalu menggerakkan tali kekang kudanya ,
sambil mengangkat kedua kaki depannya sang kuda meringkik keras lalu berlari kencang.
Adipati Cakraningrat meneruskan perjalanan menuju alun-alun kota Kartasura.
dengan tidak singgah lebih dulu ke katumenggungan Surabaya.

———————————————————————————————————————-

Di alun-alun Kartasura , tampak Sosrohadiningrat sedang berbicara dengan komandan kompeni.

“Wis , rika gak usah susah , aku membuat sayembara ini sudah kuperhitungkan masak-masak.
Gak bakalan ada penduduk Nusantara Jawa Wetan yg bisa memanah cindhe Tunggul Yudha.”

“Iya.”

“Cindhe Tunggul Yudha ditaruh di atas menara kitiran (kincir angin) Nawalagala.
Gendhewa dipentang (busur dibentang) , jemparing (anak panah) dilepaskan ,
belum sampai mengenai cindhe sudah menabrak kitiran ,
jemparing patah dan jatuh berkeping-keping.”

“Lalu , kalo nanti tidak ada yg bisa ?” Siapa yg akan menggantikan Tumenggung Surabaya ?”

“Gampang. Nanti Kêncêt , keponakanku.
sebab ia bisa diajak kerja sama dengan ratu kulit putih seperti rika.”

“Oo , Kêncêt , Iya. Iya. Tidak salah itu.”

“Lha ini , apakah para pinsepuh Tanah Jawa Wetan sudah diundang ?”

“Sudah semuanya . . . .”

Tak berapa lama Tumenggung Jayengrono bersama Sawungrono dan Sawungsari ,
sampai di alun-alun dan memasuki arena peserta dengan menunggang kuda.

“Dhimas Jayengrono.”

“Inggih kangmas.”

“Bagaimana kabar kedatanganmu ?”

“Berkat doa pangestu kangmas , saya baik-baik saja.”

“Lho , siapa dua orang di belakang Dhimas Jayenngrono ?”

“Mereka putra katumenggungan , Sawungrono dan Sawungsari.”

“Ooo . . Sawungrono dan Sawungsari.
Waaah , bagus-bagus benar kudanya , siapa yg merawat ? Kalian sendiri ?”

“Inggih kanjeng wo.”

Keduanya menjawab bersamaan.

“Sabar sebentar , siapa yg datang itu ? Hmmm . . Madura . .”

“Tabik ! Tuan.”

“Tabik ! Tabik !”

Si kompeni membalas sapaan Adipati Cakraningrat.

“Abo !! Kangmas Sosrohadiningrat. Bagaimana kabarnya ?”

“Sama-sama baik-baik saja dhimas.”

“Lékmas Tumenggung Jayengrono. Bagaimana kabarnya ?”

“Berkat doa pangestu kangmas.”

Setelah saling mengucap salam dan berbagi kabar , Sosrohadiningrat menerangkan keadaannya.

“Senang sekali rasa hatiku karena para pinisepuh sudah berkumpul semua di sini.
Niat tuan Belanda mengadakan sayembara memanah (sodoran) ini ,
adalah untuk mencari pengganti Tumenggung Jayengrono yg sudah habis masanya.
Sebelum dimulai , keamanan selama sayembara ini aku serahkan pada dhimas Cakraningrat.”

“Kangmas Sosrohadiningrat. Kula , sagah dèrèng kantênan , mbotên dèrèng kêlampahan.”
(Menyanggupi belum tentu bisa , menolak belum terlaksana.)

“Ya disanggupi dhimas. Sebab kulihat tidak ada pinisepuh yg bisa selain dhimas Cakraningrat.”

“Coba saja !”

“Karena semua sudah siap , sayembara bisa dimulai. Yg pertama adalah Sawungrono.”

Sawungrono segera maju dan memohon restu dari para pinisepuh.

“Kanjeng romo , saya mohon berkat pangestu memanah cindhe Tunggul Yudha.”

“Iya anakku , berkat pangestuku menaungimu.”

“Wo Cakraningrat , saya mohon mohon berkat pangestu.”

“Iya !” Cakraningrat menjawab singkat.

“Wo Sosrohadiningrat . . . . . ”

“Aku doakan. Semestinya kamu yg bisa menggantikan ayahmu menjadi tumenggung di Surabaya.”

Dengan liciknya Sosrohadiningrat mengucapkan kata-kata itu.

Sawungrono segera memasang jemparing pada gendhewa ,
sambil membidik sasaran pelahan-lahan menarik tali gendhewa , lalu melepaskannya.
Seperti yg sudah direncanakan Sosrohadiningrat ,
sebelum jemparing mengenai cindhe Tunggul Yudha ,
lebih dulu mengenai baling-baling kitiran dan jatuh terputus mata panahnya.

“Waaaahhh . . Luput. Luput.”

Sorak sorai mereka yg menonton seakan menggambarkan kekecewaan Sawungrono.

“Dhimas Jayengrono. Bagaimana dhimas mendidik putramu ?
Koq tidak bisa memenangkan sayembara ini ?”

Sosrohadiningrat berpura-pura menunjukkan kekecewaannya atas kegagalan Sawungrono.

“Inggih. Mohon maaf kangmas.”

“Kalo begitu sekarang giliran Sawungsari.”

Sawungsari pun maju menyiapkan diri dan memohon berkat pangestu kepada para sepuh.

“Dhuh njeng romo . . . Wo Sosrohadiningrat . . . Wo Cakraningrat . . .
Putramu Sawungsari mohon tambah idhi pangestu sampeyan semua.
Semoga dalam memanah cindhe Tunggul Yudha bisa berhasil.”

Namun Sawungsari juga gagal memanah cindhe Tunggul Yudha.

Tiba-tiba masuk seorang pemuda dengan mengendarai kudanya ,
ke arena yg semestinya hanya untuk peserta dan para sesepuh Tanah Jawa.

“Siapa itu ada orang masuk.” Kata kompeni.

Tumenggung Jayengrono yg mengenali segera menghentikan penunggang kuda itu.
Sebagai sesepuh Tanah Jawa dan yg dipercaya Kompeni Belanda ,
Sosrohadiningrat hendak mencari tahu tentang pemuda itu ,
namun didahului Cakraningrat yg hendak memukul pemuda itu ,
beruntung segera dihalangi oleh Jayengrono dan sesepuh yg lain.

“Abo !! Kurang ajar sekali! Kutampar baru tahu !”

“Sabar ! Sabar ! Wong anak gak berbuat apa-apa koq.”

“He eh dhimas Cakraningrat. Sabar sauntara , biar aku tanyai dulu.”

“Genika tanpo amit !”
(-Orang- ini tanpa permisi !)

“Iya , anak ini memang lancang.
Sudah lumrah kalo kawula cilik itu kurang tata , kurang krama , kurang hati-hati (deduga).
Para pinisepuh kudu bisa ngemong dan sabar.”

Sosrohadiningrat lalu bertanya kepada Tumenggung Jayengrono.

“Dhimas Jayengrono. Aku mau bertanya. Kenal dengan orang ini.”

“Numun inggih. Saya mengenalnya.”

“Ooo . . jadi dari Surabaya ?”

“Iya , benar.”

“Kalo begitu aku akan menanyai langsung.”

Sosrohadiningrat mendekati pemuda dan bertanya.

“Orang muda , kamu dari mana ?”

“Reang dari Lidah Danawati , wak.”

“Namamu siapa ?”

“Reang Joko Bêrêk ya Sawunggaling.”

“Lha , apa keperluanmu masuk ke sini ?”

“Reang mau lihat tontonan , wak.”

“Bê !!! ‘tak abêssê !!!”
(Lho !!! Tidak berbahasa halus !!!)

Adipati Cakraningrat kembali marah dan mendekati Sawunggaling.
Karena Sawunggaling menjawab pertanyaan Sosrohadiningrat dengan bahasa ngoko ,
bahasa yg selayaknya hanya digunakan pada yg sederajat dan umumnya kaum jelata.
Sosrohadiningrat segera menahannya.

“Dhimas Cakraningrat . . .”

“Inggih , kangmas.”

“Sabar sauntara ya dhimas. Biar aku tanya keperluannya masuk ke arena ini.
Sebab kalo memang berniat mengikuti sayembara , Belanda tidak pilih kasih.
Siapa saja , meskipun wong pidhak pedara’an (rakyat jelata) boleh mengikuti , kalo berani.”

“Inggih , kangmas.”

Sosrohadiningrat lalu kembali berujar kepada Sawunggaling.

“Begini ya , Sawunggaling . . .”

“Iya , wak.”

“Kalo kamu masuk ke arena ini cuma untuk menonton , gak ada gunanya ,
kecuali kalo kamu memang berani mengikuti sayembara bangsa Belanda ini.
Sayembaranya adalah memanah cindhe Tunggul Yudha di atas kitiran itu.”

“He eh , wak.”

“Kalo kamu berhasil , kamu bakal jumeneng jadi Tumenggung Kanoman di Surabaya.
Tapi kalo gagal , kamu musti tahu . . . .
Kalo kaum ningrat atau bangsawan , meskipun gagal dimaafkan , tidak ada hukuman apapun.
Tapi kalo rakyat biasa , ada hukumannya , . . dipotong lehernya.”

“Oooo , jadi reang boleh mengikuti sayembara ini ya , wak ?”

“He eh.”

“Tapi kalo gagal leher reang dipancung ?”

“Ya sudah semestinya.”

“Iya sudahlah , wak. Hitung-hitung buat penglaris.”

“Kalo gitu panahlah !”

“Iya , wak.”

Sawunggaling lalu maju menyiapkan diri , sambil memegang jemparing dan gendhewa ,
ia lalu tengadah ke langit , tertawa keras dan mengucapkan kalimat-kalimat bertuah.

“Ha.ha.ha.ha.. Êhêmm . . . Biyung Dèwi Sangkraaaah ! Pakdé Wongsodrono !
Nyai Roro Pati lan Buyut Suruh. Réang anak putu rika , Joko Bêrêk ya Sawunggaling.
Njaluk pangèstu rika nglêboni patêmbayané bangswa Landa.
Nyodor gêndhéra Tunggul Yudha sumubêng sa’dhukuré mênara Nawalagala , yung , dhé.
Idhinana kaya banyu mili. Pêno mangan kêsêrêtana. Ngombé kêcêgukana.
Mlaku kêsandhunga , nèk turu tangia.
Madhêp kêkarêpan kang ndadikna urip.
Bisa katêkan apa sing dadi kêkarêpan réang.
Loo loo loo bo` bo` bo`. Biyung Dèwi Sangkraaaaaaaaaaah !!!”

Sambil meneriakkan nama biyungnya dengan suara yg seakan membelah angkasa ,
Sawunggaling mementang langkap dan membidik , ketika jemparing dilepaskan ,
sorak sorai penonton ambata rubuh menandai keberhasilannya.

“Wah , Celaka. Celaka . . ”

Sosrohadiningrat membatin sambil memikirkan rencana selanjutnya.
Ia lalu mendekati Carkraningrat ,
dengan tetap menunjukkan kegembiraannya atas keberhasilan Sawunggaling.

“Dhimas Cakraningrat.”

“Inggih , kangmas Sosrohadiningrat.”

“Sudah bisa dipastikan bahwa Sawunggaling berhasil menyelesaikan sayembara ini.”

“Lalu bagaimana ?”

“Baik atau jeleknya aku serahkan kepada dhimas Cakraningrat.”

“Inggih. Kangmas Sosrohadiningrat , amit !”

Lalu Cakraningrat mendekati Sawunggaling. Dari rasa marah karena kurangnya tata krama ,
menjadi rasa suka , karena ternyata Sawunggaling berhasil memanah cindhe Tunggul Yudha.

“Sawunggaling.”

“Iya , wak.”

“Para saka ngendhi ?”
(Kamu dari mana ?)

“Lidah Danawati.”

“Nah , begini putraku , Sawunggaling.
Para gak pantes kalo menjadi Tumenggung Kanoman di Surabaya memakai nama Sawunggaling.”

“Iya , wak.”

“Kalo baiknya , aku kasih jejuluk . . . “Kulma Sosronegoro””.

“Ha.ha.ha.ha….. ehhhmm. Lalu bagaimana njeng wo Cakraningrat.”

“Para belum bisa menjadi tumenggung sebelum para menerima beslit dari Belanda. Pertama.”

“Inggih , njeng wo.”

“Yg kedua , sebelum para menerima busana dari Mataram.”

“Inggih , njeng wo.”

“Kalo para sudah menerima keduanya , para bisa menjadi Tumenggung Kanoman Kulma Sosronegoro , ya tumenggung Surabaya menggantikan dhimas Tumenggung Jayengrono.”

“Inggih , njeng wo.”

“Nah ! Semoga selamat “mbahu dendha anyakrawati”.”

“Kangmas Sosrohadiningrat , mohon pamit. Tuan , tabik !.”

Adipati cakraningrat segera naik ke punggung kuda dan melecutkan cemeti ,
meninggalkan alun-alun , diam-diam ia sudah menebak rencana Belanda dan Sosrohadiningrat.

“Anak angger Kulma Sosronegoro.”

“Selanjutnya bagaimana njeng wo Sosrohadiningrat ?”

“Belum waktunya kalo kamu menerima beslit. Sebab sayembaranya Belanda masih ada satu lagi.
Kalo kamu bisa menjadikan alas Nambas Kelingan menjadi karang perdesan ,
barulah kamu menjadi Tumenggung Kanoman di kota Surabaya.”

“Ooo , begitu kemauan bangsa Belanda ?”

“Sanggup ?”

“Mohon berkat pangestu akan saya babat hutan Nambas Kelingan untuk perdesaan.”

“Iya , aku beri pangestu.”

Sawunggaling segera menuju ke kudanya dan melarikan kencang menuju alas Nambas Kelingan.
Alas yg terkenal gawat keliwat-liwat , “bebasan jalma mara mati , sato mara mati”.
(Ibaratnya , manusia ataupun hewan yg memasuki hutan itu pasti mati).

Sepeninggal Sawunggaling , kompeni Belanda mengatur siasat dengan Sosrohadiningrat.

“Tidak cocok kalo Sawunggaling menjadi tumenggung di Surabaya.”

“Aku sendiri juga tidak setuju. Makanya aku suruh membabat alas Nambas Kelingan ,
gak pulang manusianya bakal pulang namanya saja.”

“Betul kalo begitu.”

“Tapi kalo sudah terlaksana kemauan Belanda di Nusantara Jawa Wetan Surabaya ,
Belanda jangan lupa , bintangku musti bertambah.”

Kata Sosrohadiningrat sambil menepuk-nepuk pundaknya.

“Oo , jangan kuatir. Nanti saya sampaikan Jendral De Leer di Batavia.”

“Selainnya bintang , nyonya Belanda empat belas yg ayu-ayu jadi selirku.”

“Oo iya , betul itu. Tidak salah permintaan tuan.”

 

BERSAMBUNG ke Bagian 3 (Selesai)

=================================================

– Wak , uwak = pakdhe , pakwo : paman besar.
– Wo , tuwo : tua.
– mBahu dendha anyakrawati : memikul tanggung jawab menjalankan roda pemerintahan.
– Ambata rubuh : suara gemuruh seperti dinding bangunan bata yg tiba-tiba roboh.
– Karang : desa. Karang perdesan : menjadi perdesaan (banyak desa)
– Para , kon , rika : kamu.
– Lékmas , alék êmas = dhimas , adhi emas : adik yg disayang.
– njêng , kanjêng : tuan , yg dipertuan.
(Kanjêng dan panjênêngan sama-sama berasal dari kata dasar “jêng” ,
dari bahasa Sansekerta “jung” , yg berarti “tinggi”.)

– Kata-kata dalam bahasa Madura , a dibaca a (ada yg dibaca ê) ,
tidak dibaca o seperti pada -sebagian besar- bahasa Jawa.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: