Sawunggaling , Satria Tanah Jawa Wetan – Bag.3 (Selesai)

 
“Haik yak !! Wakakakaka . . Jih ! Jih !” 

Suara Sawunggaling dari atas kudanya di dalam alas Nambas Kêlingan. 

“Siapa yg naik kuda ini ? Mandheg ! Mandheg !!” 

“Loo loo loo bo` bo` bo` bo’ . . siapa yg berani menghalangi Sawunggaling Kulma Sosronegoro ?”

“Nèk pancèn kon gak êruh ambék aku , ya aku Syeh Mala Raja Nambas Kêlingan.”
(Kalo kamu memang tidak tahu dengan diriku , ya aku Syeh Mala Raja Nambas Kelingan)

“Syeh Mala Raja Nambas Kelingan ?”

“Bener !”

“Ketahuilah Raja Nambas ! Semua kawulamu , jin , sètan , pêriprahyangan , ilu-ilu , 
gênderuwo , tèk-tèk’an , banaspati , brêkasak’an , bawalah pergi menyingkir !
Sebab aku sudah membunuh Satir dan Satar. Malah Satir jadi jaran Mayangkara.
Satar jadi Pecut Gembolo Geni. Maka , mau tidak mau harus nurut dengan Kulma Sosronegoro.”

“Jadi Satar dan Satir sudah kamu bunuh ?”

“He eh !”

“Kalo begitu tinggal satu orang seperti aku , bakal manunggal manjing ke dalam ragamu.”

“Kalo begitu gak usah menunggu lama-lama !”

Syeh Mala pun dikalahkan oleh Sawunggaling Kulma Sosronegoro. 
Raja Jin penguasa Alas Nambas Kelingan yg menyatu dengan jiwa raga Sawunggaling 
itupun menambah kesaktian Sang Tumenggung Kanoman yg belum di wisuda itu.

Hutan gawat keliwat-liwat itupun lalu mulai didiami penduduk dan menjadi perdesaan.

“Loo loo loo bo` bo` bo` bo’ , Bangsa Belandaaa ! Hati-hati dan waspadalah !
Sudah waktunya para menurunkan beslit reang jadi Tumenggung Kanoman kota Surabaya.
Sisip sèdèng paningalmu , mblènjani janjimu ,
‘tak towok Biring Lanang , bakal dadi randha bojomu. Hua.ha.ha.ha…..”
(Tidak -mau- melihat yg sebenarnya , mengingkari janjimu ,
kutusuk Biring Lanang , bakal jadi janda istrimu.
Biring Lanang  :  nama dapur/bentuk perwujudan tombak.)

Sawunggaling pun melarikan kuda Mayangkara , hendak menemui kompeni dan Sosrohadiningrat.

———————————————————————————————————————-

Sosrohadiningrat tengah berbicara dengan komandan pasukan kompeni.

“Hmmmm . . . Celaka . . Celaka . .”

“Tuan Sosrohadiningrat. Bagaimana ?”

“Ini benar-benar celaka. Kalo mendengarkan omongan orang di jalan-jalan ,
Sawunggaling sudah berhasil membabat Alas Nambas Kelingan menjadikannya perdesaan.”

“Dulu Tuan berkata , kalo Sawunggaling ke Nambas tidak akan kembali.”

“Semestinya begitu ! Tapi ketahuilah , Sawunggaling bukanlah orang eceran ,
Sawunggaling masih keturunan ningrat , aku tahu sejarah hidupnya.”

“Iya. Lalu bagaimana ?”

“Ini soal mudah. Ikuti saja rencanaku.”

“Iya. Iya.”

“Sekarang , adakanlah pesta besar-besaran.
Untuk menghormati keberhasilan Sawunggaling membabat Alas Nambas Kelingan.
Siapkanlah minuman-minuman yg berasal dari negara Belanda.
Lha minuman yg untuk Sawunggaling , campuri racun. Kalo sudah minum racun , pasti mati !”

———————————————————————————————————————-

“Lha itu khan Cakraningrat yg datang. Bersikaplah wajar , .  . yg tenang saja.”

Kata Sosrohadiningrat kepada kompeni Belanda tatkala pesta yg dimaksud sudah saatnya.

“Dhimas Cakraningrat.”

“Inggih Kangmas Sosrohadiningrat. Ada perlu apa mengundang saya kesini ?”

“Ini ada acara penting. Perlunya para pinisepuh Tanah Jawa Wetan ikut menyaksikan ,
Sawunggaling berhasil menyelesaikan sayembaranya Belanda yg nomer dua.”

“Lhaaa , hè.hè.hè.hè.hè……. Rak inggih mêkatên kangmas.
Gênika sé énama’agi gul-agul’a Jêbê Témor.”
(Lhaaa , hè.hè.hè.hè.hè……. Khan memang begitu kangmas.
Ini yg disebut jagoannya Jawa Timur.)

“Iya dhimas. Sawunggaling memang pantas dijagokan.”

“Hè.hè.hè.hè. anak muda yg bintangnya baru muncul.”

“Dhimas senang hatinya , aku juga senang.”

“Apa sudah datang Sawunggaling ?”

“Belum datang . . . . . . lha itu apa orangnya.”
“Londooooooo . . . Haik yak !! Wakakakaka . . . . . .”

Dari jauh terdengar teriakan dan tawa Sawunggaling mengiringi ringkikan kudanya.

“Sawunggaling . . .”

“Inggih , bagaimana njeng wo Sosrohadiningrat ?”

“Sama-sama dalam keadaaan baik-baik khan ?”

“Berkat dan pangestu njeng wo Sosorohadiningrat dan njeng wo Cakraningrat.”

“Ini karena senangnya hati para pinisepuh Surakarta dan njeng wo-mu Cakraningrat ,
sebab kamu bisa membabat alas Nambas Kelingan jadi perdesaan.”

“Memang benar seperti itu adanya.”

“Lha ini saking senangnya Belanda , diadakan jamuan penghormatan ,
bersenang-senang , minum-minum minuman yg berasal dari negera Belanda.”

“Ooo . . jadi sebelum reang menerima beslit , diadakan pesta ?”

“Iya , ngger.”

“Nyumanggakaken kemawon njeng wo.”

Cakraningrat lalu berkata.

“Kangmas Sosrohadiningrat , apa para sinden dan pangrawit sudah siap semua ?”

“Sudah disediakan semuanya , tinggal memberi perintah saja.”

Suara rebab dan gamelanpun mulai mengalun mengiringi minuman yg mulai disajikan.

“Ini yg untuk Sawunggaling.”

Sosrohadiningrat mengulurkan gelas berisi minuman bercampur racun ,
yg memang dipersiapkan untuk Sawunggaling.
Namun ketika Sawunggaling hendak meneguk minuman itu . . . . . .

“Tè-ngatè !”
(Hati-hati !)

Cakraningrat segera menepis , sehingga gelas minuman itupun jatuh dan isinya tumpah.
Lalu Cakraningrat berdiri dan menuju tempat kudanya ditambatkan.

“Loo loo loo bo` bo` bo` bo’ . . jangan lari njeng wo Cakraningrat.”

“Sawunggaling , kalo kamu memang benar-benar sakti mandraguna , ayo hadapi aku.”

Adipati Cakraningrat segera menaiki kudanya dan melarikannya menjauhi tempat pesta itu.

Sawunggaling yg terkejut dan marah segera disabar-sabarkan oleh Sosrohadiningrat.

“Sawunggaling . . .”

“Njeng wo Sosrohadiningrat , bagaimana ini njeng wo Cakraningrat ?”

“Anak angger Kulma Sosronegoro , aku kanjeng uwakmu ,
yg benar-benar senang kalo kamu bisa jadi Tumenggung Kanoman di Surabaya.”

“Benar njeng wo.”

“Lha ini yg gak setuju , yg berhati busuk , gak lain ya njeng wo-mu Cakraningrat !”

“Loo loo loo bo` bo` bo` bo’ . .”

“Nyatanya minumanmu ditepis hingga jatuh. Makanya gak usah menunggu lama-lama ,
kejarlah larinya dan bunuh saja njeng wo-mu Cakraningrat.”
 
Sambil sesumbar , Sawunggaling menaiki jaran Mayangkara , mengejar Adipati Cakraningrat.

———————————————————————————————————————-

“Njeng wo Cakraningraaaaat !! Jangan lari kalo memang lelaki sejati.
Hadapilah Sawunggaling Kulma Sosronegoro , hua.ha.ha.ha……”

Jauh dari tempat pesta , Cakraningrat memperlambat kudanya dan turun dari pelana.

“Hop! Hop! Mandheg ! Mandheg ! Mandheg !”

“Loo loo loo bo` bo` bo` bo’ . . Ciri ati njeng wo Cakraningrat.”

“Tumenggung Kanoman Surabaya. Ayo mandheg ! 
Aku minta para turun dari kuda. Jangan rembugan di atas kuda.”

“Aku niati aku kajati , gak lega gak rela kalo belum membunuh njeng wo Cakraningrat.”

“Hè.hè.hè.hè.hè…. Beh ! Beh ! Beh ! Jêriya bêdhê rèng towa é patèk’ana bi’ nak-kanak.”
(Hè.hè.hè.hè.hè…. Beh ! Beh ! Beh ! Ya ini ada lakon orang tua mau dibunuh anak-anak)

“Meskipun mati kalo sudah gamblang , meskipun mati kalo sudah jelas perkaranya.
Sawunggaling ! Para , dengarkan ceritaku terlebih dulu.
Aja kêladug ati kêliru penampa dengan siwo para Adipati Tanah Sabrang ini.”

“Apa maksud njeng wo Cakraningrat ?”

“Apa sebabnya gelas minuman para aku tepis ? Karena minuman itu beracun ! 
Kalo dikatakan aku sirik hati. Gak bener !!
Kalo dikatakan aku punya hati iri , drêngki , srèi , mêthakil. Gak bener !!
Aku ngeman (sayang) para Sawunggaling , sebab ada salah satu sesepuh Tanah Jawa ,
yg tidak setuju kalo para bisa jadi Tumenggung Kanoman di Surabaya.”

“Seperti itukah njeng wo Cakraningrat ?”

“Bukti yg pertama. Para disuruh masuk dan membabat alas Nambas Kelingan ,
itu sebenarnya cuma bertujuan untuk membunuh para. 
Yg kedua. Para sengaja diberi gelas minuman yg sudah dicampuri racun.
Tujuannya membunuh para , supaya para gak jadi Tumenggung Kanoman Surabaya ,
sebab sebenarnya sudah ada yg disiapkan untuk menggantikan lekmas Tumenggung Jayengrono.”  

“Inggih njeng wo.”

“Yg pungkasan ! Sawunggaling ya Tumenggung Kanoman Surabaya . . . .
Sebenarnya , . . para bukanlah anaknya orang pidak pedarak’an ,
tapi sebenarnya . . orang tua lakimu . . tidak lain adalah lekmas Tumenggung Jayengrono.”

“Loo loo loo bo` bo` bo` bo’ . . njeng wo Cakraningrat.
Meninggalnya orang tua lelakiku , siapa sebenarnya yg membunuhnya ?”

“Lhaa . . meninggalnya romo para adalah di tangan siwo para , Sosrohadiningrat.”

“Loo loo loo bo` bo` bo` bo’ . . Kalo begitu terang dan nyata , 
njeng wo Sosrohadiningrat tidak setuju reang jadi tumenggung kanoman di Surabaya.”

“Sawunggaling Kulma Sosronegoro. Rembug cukup , nak !
Ayo ! Kejar dan selesaikan urusanmu dengan siwo para Sosrohadiningrat.”

———————————————————————————————————————-

Sawungaling yg mengamuk dan membunuhi banyak serdadu Belanda ,
membuat Sosrohadiningrat melarikan diri dan mencari tempat yg aman.

“Wah. Wah. Wah. Celaka. Celaka. Mengamuknya Sawunggaling seperti mengejar napasku.
Sudah kuniati dan kukajati , Belanda aku adu domba dengan Jawa.
Jawa aku adu dengan Madura. Madura menang , ikut Madura.
Jawa menang , ikut Jawa. Belanda menang , ikut Belanda.”

Tak berapa lama datanglah komandan kompeni.

“Tuan Sosrohadiningrat. Sawunggaling mengamuk , banyak Belanda yg jadi korban.”

“Kalo cuma Belanda satu tangsi saja gak ada artinya buat Sawunggaling.”

“Lalu bagaimana ini ?”

“Pergilah ke Batavia minta bantuan tentara Belanda lagi.”

“Baiklah kalo begitu. Terima kasih , selamat tinggal ya.”

“Sama-sama semoga selamat.”

———————————————————————————————————————-

“Sosrohadiningraaaaaatt !!”

Terdengar teriakan Sawunggaling menyusul tempat keberadaan Sosrohadiningrat.

“Adhuh . . Adhuh . . .”

Sosrohadiningrat berusaha melarikan diri.

“Berhentilah kalo memang lelaki sejati !!”

“Sareh dhisik , anak angger . Sabar dulu.”

“Huaa.ha.ha.ha… njeng wo Sosrohadiningrat.”

“Iya , anak angger.”

“Ketahuilah , ini Sawunggaling Kulma Sosronegoro menemui para.”

“He em. Ada apa anak angger ?”

“Tidak ada orang tua yg ‘dijangkar basane’ , sebab orang tua gak bener kelakuannya.”
(Dikurang-ajari dengan memanggil nama dan tidak menggunakan bahasa Jawa halus.)

“Gak apa-apa , wong perang koq.”

“Reang bakal tanya sama para.
Siapa yg membunuh orang tua reang , Tumenggung Jayengrono ?”

“Yg . . yg . . yg membunuh ? Yg . . yg membunuh . . gak tahu aku . . ”

“Oo , gak tahu ? Siapa yg memberi racun pada minuman Sawunggaling Kulma Sosronegoro ?”

“Yg . . yg . . yg memberi racun ? yg . . yg memberi racun . . gak tahu aku.”

“Loo loo loo bo` bo` bo` bo’ . . njeng wo Sosrohadiningrat ,
ibarat antara Sawunggaling dan njeng wo Sosrohadiningrat , hutang beras membayar beras ,
hutang sakit membayar sakit , hutang nyawa membayar nyawa !”

Sawunggaling pun menghabisi nyawa Sosrohadiningrat ,
lalu menaiki kudanya sambil sesumbar dan mencari dimana saja tentara Belanda berada.

“Hua.ha.ha.ha.. . Bangsa Belanda ! Polahnya seperti gabah diayak dalam tampah ,
berlarian ke utara , selatan , barat , timur , mencari penghidupan.
Hadapilah Sawunggaling Kulma Sosronegoro anaknya biyung Dewi Sangkrah.
Jangankan satu dua tiga , sepuluh duapuluh , majulah bersama-sama !”
                                                                                  S.O.T.R , September ’10

 

Catatan :  Tulisan ini berdasarkan kaset rekaman pementasan Ludruk RRI Surabaya , dengan lakon “Sawunggaling” pada sekitaran tahun 1975.

=================================================

=================================================

Ada tulisan versi yg berbeda menyebutkan bahwa ,
Dewi Sangkrah sebenarnya adalah seorang putri keraton Jogya yg ketika ke Surabaya ,
tersesat di desa Lidah dan lalu ditampung dan diangkat anak ,
oleh mbah Buyut Suruh atau Raden Karyo Sentono.

Perkawinan Adipati Jayengrono dengan Dewi Sangkrah ,
yg hanya sepengetahuan Raden Karyo Sentono , tanpa ijin dari keraton ,
melahirkan seorang anak lelaki yg diberi nama Sawunggaling.

Setelah Sawunggaling dewasa , diantarkan kakek angkatnya Raden Karyo Sentono ke Surabaya ,
dengan membawa tanda bukti berupa cindhe puspita yg diberikan Adipati Jayengrono.

Berbagai rintangan dan kesulitan yg menghadang ketika melewati daerah Lidah ,
Wiyung dan Lakarsantri , yg pada masa itu masih berupa hutan belantara ,
dapat diatasi berkat bantuan Raden Ayu Pandansari ,
putri cantik anak raja jin penguasa hutan Wiyung.

Bahkan juga halangan oleh saudara tirinya , Sawungrono dan Sawungsari ,
ketika Sawunggaling sudah sampai di kadipaten , dapat diatasi. 
Sawunggaling pun akhirnya bertemu dengan ayah kandungnya , adipati Jayengrono.
Sawunggaling lalu diberi tugas menjadi pendamping adipati sebagai tumenggung kanoman ,
dengan gelar Raden Mas Ngabehi Sawunggaling Kulma Sosronegoro. 

=================================================

Makam Sawunggaling berada di Jl. Lidah Wetan Gang III. Surabaya. 
Gang ini dikenal dengan nama Gang Sawunggaling.

Di dalam cungkup pesarean ada lima buah makam , yg terdiri dari ,
makamnya Raden Ayu Pandansari (Anak Raja Jin yg konon juga istri Sawunggaling) ,
makamnya Sawunggaling , makamnya Dewi Sangkrah (biyungnya Sawunggaling) ,
makamnya Mbah Buyut Suruh atau Wongsodrono (kakek Sawunggaling) ,
dan makamnya Karyo Sentono , abdinya Sawunggaling.

Pesarean Sawunggaling termasuk dikeramatkan oleh masyarakat Lidah dan sekitarnya.
Setiap malam Jum’at Kliwon dan Kamis Legi , banyak yg mengalap berkah di makam itu.
Setiap tahun sekali diadakan haul , yaitu setiap tanggal 10 bulan Ruwah.
Menurut seorang teman ,
masyarakat desa Lidah dan sekitarnya terlebih dulu akan melakukan ritual , 
bila hendak mementaskan ludruk dengan lakon Sawunggaling. 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: