Bima , Mencari Tirta Prawita – Bag.1

 
Rahayu , mugi kinalesna ing rubeda. 
 

Di kerajaan Amarta , prabu Yudhistira merasa sedih dan khawatir ,
ketika Wrekudara (Bima) berpamitan hendak ke Astina menemui Pandhita Druna ,
untuk berguru ilmu Kasampurnaning Urip (Kesempurnaan Hidup).

Arjuna menyembah dan berkata.

“Janganlah kakanda prabu ijinkan , watak orang Astina penuh kejahatan ,
selalu berusaha untuk memusnahkan Pandawa.
Tak urung bapa pandhita Druna juga dipengaruhi.”

Wrekudara berkata.

“Tidak perlu mengkhawatirkan diriku , hidup matiku ada yg menguasai.
Niatku hendak mencari ilmu sejati.”

Menyadari bahwa tak mungkin kata-kata dapat mengurungkan niat Wrekudara ,
didadhunga medhot , dipalangana mlumpat ,
(diikat dengan talipun akan diputus , dipalangipun akan melompat) ,
dengan berat hati , prabu Yudhistira akhirnya mengijinkan ,
dengan berulangkali berpesan agar berhati-hati dan waspada.
Para saudara beserta istri-istri Pandawapun mengiringi dengan doa.

 
Eling-eling putra Sang Hyang Bayu ,
langkah kakinya didahului suara gemuruh , prahara dan lesus mengiringi ,
membuat kaget dan takut penduduk desa yg dilalui ,
seketika ndhodhok menyembah-nyembah , mengira dewa sedang turun ke bumi.
Ada yg sempat menghaturkan sesajipun tak dihiraukan oleh Wrekudara.
Niatnya lurus dan tak terbendung , untuk segera dapat menemui sang guru ,
pandhita Druna yg juga disebut Dhang Hyang Dorna.

Kemudian , tampaklah gapura besar menjulang tinggi
puncaknya bagai memancarkan sinar mutiara ,
berpendar-pendar cahayanya nampak dari kejauhan.

———————————————————————————————————————-

Di dalam pura , prabu Duryudhana memanggil pandhita Druna ,
untuk segera bergabung dalam rapat.
Hadir pula sang Maharesi Bhisma , prabu Salya , prabu Drestrasta ,
patih Arya Sangkuni , prabu Karna , Dursasana ,
Jayadrata , Jayasusena , dan para kurawa lainnya.

Yg dirembug tak lain adalah upaya untuk mengurangi kekuatan Pandhawa.
Karena wus pinesthi (sudah digariskan) Bharatayudha Jayabinangun
tak mungkin dihindarkan , selama kedua belah pihak yg berseberangan ,
bersikukuh dengan watak , prinsip , kemauan dan kebenaran masing-masing.

Bukan yg pertama kali dan selalu ,
Maharesi Bhisma dan prabu Salya tidak menyetujui
dan memberi saran untuk mengembalikan hak para Pandhawa , separuh kerajaan Astina.
Agar kemudian bisa hidup rukun berdampingan.

Ora pasah dening wewarah , ora luluh dening pituduh ,
(tidak mempan dengan ajaran , tidak turut dengan petunjuk) ,
itlah watak prabu Duryudhana.
Ditambah lagi sang ayah , prabu Drestarasta tak punya pendirian teguh.

 
Kedatangan Wrekudara yg langsung masuk ke dalam pura ,
membuat pembicaraan terhenti dan kagetlah semua yg hadir.

Setelah menghaturkan sembah bekti kepada para sesepuh ,
Wrekudara mengutarakan maksud kedatangannya ,
yaitu untuk bertemu dengan pandhita Druna.
Dengan tetap berdiri , Wrekudara megutarakan maksudnya ,
hendak ngangsu kawruh Kasampurnaning Urip (Menimba Ilmu Kesempurnaan Hidup).

Prabu Duryudhana segera asung sasmita , memberi tanda kepada pandhita Druna.
Yg segera pula dipahami oleh pandhita Druna ,
sebagai kesempatan yg tak boleh disia-siakan.
Bebasan Ula marani gepuk , kutuk marani sunduk.
(Ibarat ular mendatangi pentung , ikan gabus mendatangi tusuk)

“Anakku Wrekudara , bila engkau hendak mengetahui Kasampurananing Urip ,
maka carilah Tirta Prawita Sari , letaknya di hutan Tibrasara ,
sebelah utara Gandamadana , di gunung Cabdramuka.”

Tak ingin membuang waktu dan sudah jelas dengan keterangan pandhita Druna ,
Wrekudara pun segera mohon pamit.
Mahresi Bhisma , prabu Salya dan pandhita Druna mengiringi dengan berkat ,
serta pandangan mata yg menyiratkan kesedihan.
Mereka tahu betul , hutan Tikbrasara adalah hutan yg gawat keliwat-liwat ,
bebasan jalma mara mati , sato mara mati.
(Manusia maupun hewan yg memasuki hutan itu pasti mati).

Namun kemantapan tekad dan setya tuhu dengan petunjuk sang guru ,
membuat tak ada keragu-raguan di hati Wrekudara ,
ataupun memikirkan bahaya yg akan menghadang.
Kepercayaan kepada guru adalah syarat mutlak yg harus dimiliki ,
ketika seorang satria ngangsu kawruh (menimba ilmu pengetahuan).
Mungkin karena pada masa itu ,
tak seseorang berani mengaku sebagai guru ,
sebelum benar-benar bisa digugu dan ditiru.

———————————————————————————————————————-

Setelah beberapa saat menempuh perjalanan ,
sampailah Wrekudara di hutan Tibrasara , di kaki gunung Candramuka.
Tampaklah keindahan alam yg mampu menentramkan hati siapapun ,
yg mau melayangkan pandangan mata segenap penjuru kaki gunung.
Tampak merah merona daun pohon wijah ,
dikelilingi pohon kanigara , wilasa dan gandasuli.
Bertebaran anggrek bulan , janggamure , ergula dan menur.
Disana-sini tampak kembang nagapuspa , melathi , tanjung ,
sridenta , kenanga dan kemuning.

Beriring-iring bagai awan putih di angkasa ,
kumbang dan lebah terbang hendak mencari dan menghisap madu ,
seakan menyambut kehadiran sang putra Bayu , Wrekudara.
Sang Surya yg tiba di tengah hari , seperti memperlambat gerak Wrekudara.
Keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Wrekudara mulai hilang kesabaran ,
karena tak juga ditemukannya Tirta Prawita Sari.

Sembari matek aji Wungkal Bener dan aji Bandung Bandawasa ,
Wrekudara mulai menerjang semua yg dianggapnya menghalangi langkahnya.
Pepohonan kecil tercerabut dari pertiwi ,
terkena daya angin ribut dari sang putra Bayu.
Pohon-pohon tanggung bertumbangan dan terlempar ,
terkena terjangan dan tendangan Wrekudara.
Pohon besarpun dicabutnya dan dilemparkan jauh-jauh.

Segera geger seluruh isi hutan , seperti dilanda prahara dan lindhu.
Gajah , banteng , badak berlarian saling bertubrukan.
Kidang dan hewan-hewan kecil terjerembab ke jurang , mati mengenaskan.
Ular semakin mempererat lilitannya pada batang pohon.

Pertapa dan cantrik padepokan di sekitar kaki gunung Candramuka ,
segera berlari menyinglir ke desa terdekat.
Suara Genta pemujaan tiba-tiba saja senyap.
Bokor berisi dupa tertumpah ke dalam api pemujaan ,
baunya semerbak menelusupi pepohonan.

Batu-batu besar dibongkar , dilemparkan jauh-jauh.
Gua-gua tak luput dari amukan Wrekudara yg merasa kesal ,
karena tak juga menemukan Tirta Prawita Sari.

 
Sigeg sawatawis.
Di gunung Candramuka yaitu di dalam gua Reksamuka ,
tinggallah 2 raksasa , Rukmuka dan Rukmakala.
Mereka sedang bertapa untuk memohon ampunan Jawata.
Lamat-lamat terdengarlah oleh mereka suara yg menakutkan ,
seakan gunung Candramuka sedang dibongkar ,
lalu terciumlah bau manusia ,
ketika Wrekudara mulai mendekat ketempat 2 raksasa itu tinggal.

Ke 2 Raksasa itu segera mendatangi Wrekudara ,
begitu dilihatnya Wrekudara yg membuat keributan , mengganggu tapanya ,
tak perlu tegur sapa atau caci maki , diseranglah Wrekudara.
Wrekudara terlibat pertarungan sengit melawan ke 2 raksasa itu.

Dengan kuku Pancanaka yg tajamnya melebihi 7 pisau pencukur ,
Wrekudara berhasil membunuh Rukmuka dan Rukmakala.
Seketika , mayat ke 2 raksasa itupun musnah ,
bersalin wujud sebagai Hyang Endra dan Hyang Bayu.

“Anakku Wrekudara , hentikanlah sepak terjangmu ,
yg merusak hutan membongkar gunung , membunuh kehidupan di dalamnya.
Semua itu tak ada gunanya ,
apalagi sasadhara (bulan) sudah memancarkan sinarnya.”

Wrekudara pun mendekati Hyang Endra dan Hyang Bayu ,
menghaturkan sembah bekti dengan perasaan takut akan mendapat kemarahan.

Hyang Endra dan Hyang Bayu menjelaskan bahwa ke 2 raksasa itu ,
sebenarnya adalah mereka ,
yg tengah menjalani hukuman dari Sang Hyang Jagad Wisesa ,
karena melakukan kesalahan.
Namun Wrekudara telah meruwat (melebur dosa dan memulihkan) mereka.

“Ketahuilah Wrekudara , engkau sebenarnya terkena tipu daya.
Apa yg disampaikan pandhita Druna itu sebenarnya tidaklah nyata.
Namun janganlah hatimu kecewa ,
bila niatmu teguh dan bersungguh-sungguh ,
nisaya akan terkabullah apa yg menjadi keinginanmu.”

Hyang Endra dan Hyang Bayu menasehati Wrekudara ,
untuk tetap mendekati dan membujuk pandhita Druna ,
serta melaksanakan apa yg diperintahkan ,
karena itulah jalan menuju keutamaan bagi seorang murid.

Wrekudara matur sendika , akan menurutkan nasehat itu.
Hyang Bayu memberi anugrah dengan mengajarkan ilmu-ilmu kadigdayan.
Hyang Endra memberi pusaka candrasa berhias manik Tirta Maya ,
yg mempunyai daya kesaktian dapat masuk ke dalam air ,
selayaknya berada di darat tanpa kesulitan.
Itulah yg disebut Ekal Druwendra.

Setelah selesai ,
Hyang Endra dan Hyang Bayu pun musnah , kembali ke kahyangan.
Wrekudara kemudian menuruni gunung Candramuka ,
hendak kembali menuju Astina.

 
BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: