Bima , Mencari Tirta Prawita – Bag.2

 
Kembali di kerajaan Astina ,
prabu Duryudhana bersama para sesepuh keraton dan para Kurawa ,
tengah membicarakan kepergian Wrekudara yg telah sehari berlalu.
Mengira telah berhasil menyingkirkan Wrekudara ,
mereka merencanakan tipu muslihat lagi ,
untuk menyingkirkan prabu Yudhistira dan saudaranya yg lain.

Belum selesai apa yg direncanakan , Wrekudara telah masuk ke dalam pura.
Meskipun terkaget dan kecewa ,
prabu Duryudhana segera bermuka manis menyambut Wrekudara ,
dengan menanyakan keadaan dan hasil perjalanannya ke gunung Candramuka.

Pandhita Druna pun berkata.

“Wrekudara , anakku yg gagah perkasa ,
mari nak , ceritakanlah kepada bapa ,
apa yg telah engkau dapatkan.

Wrekudara menceritakan bahwa di gunung Candramuka tidak ada Tirta Prawita Sari ,
yg ada hanya 2 raksasa dan telah dibunuhnya pula.
Dan meminta kepada pandhita Druna untuk memberi petunjuk yg sebenarnya ,
dimanakah Tirta Prawita Sari harus dicarinya.

“Wrekudara anakku , janganlah ragu-ragu kepada bapa gurumu ini.
Bapa hanya mencoba kemantapan hatimu , nak.
Ini sudah menjadi pertanda , bahwa akan kau temui Tirta Prawita Sari.
Tempatnya di pusat samudra , sedangkan jalan untuk menuju pusat samudra ,
adalah melalui gua Sigrangga , pintu masuknya adalah sumur Jalatundha.
Bila engkau berhasil melaluinya , itulah jalanmu menuju kesucian.”

“Dhuh bapa guru , jangankan di tengah samudra ,
meski ada di atas kahyangan ataupun di bawah bumi sap tujuh ,
aku tak akan berhenti mencarinya.
Pangestu (doa dan berkat) bapa guru akan aku pundhi sebagai jimat ,
tiada sekalipun akan menyingkir dari petunjuk sejati.”

Mendengar kesungguhan tekad dan kepercayaan Wrekudara kepada sang guru ,
hati pandhita Druna trenyuh luluh seketika.
Namun mengingat bahwa ia berada di bawah kuasa Prabu Duryudhana ,
ia hanya bisa memohon pada Sang Hyang Jagad Wisesa ,
agar berkenan melimpahkan nugraha bagi Wrekudara.

“Anakku , bila engkau setya pada janjimu ,
kang sinedya bakal teka , kang cinipta bakal ana ,
(apa yg diinginkan akan tiba , apa yg diangankan akan ada).
Bila sudah tercapai tujuanmu ,
semua isi dunia ini seakan dalam kekuasaanmu.
Maka janganlah ragu-ragu , anakku.”

Prabu Duryudhana pun berpura-pura ikut memberi semangat.
Wrekudara memohon pamit ,
diiringi berkat dan doa Resi Bhisma , prabu Salya dan pandhita Druna.

Sesampainya di batas kerajaan Astina ,
timbul keinginan untuk berpamitan lebih dahulu kepada sang kakak ,
prabu Yudhistira , sebelum menuju pusat samudra.

———————————————————————————————————————-

Di kerajaan Amarta , prabu Yudhistira , Arjuna , Nakula dan Sadewa ,
beserta para istri Pandawa , terlihat sangatlah berduka.
Mereka mengira Wrekudara terkena tipu daya para Kurawa.

Beruntung prabu Sri Bathara Kresna datang berkunjung ,
yg segera menenangkan suasana ,
setelah prabu Yudhistira menceritakan apa yg terjadi.

“Yayi prabu , jangan kuwaitr dengan apa yg dilakukan yayi Wrekudara.
Yayi Wrekudara dalam keadaan baik-baik saja ,
meski terjerat tipu daya Kurawa , Dewata tetap akan melindungi.
Orang yg berniatan baik , sekalipun diperlakukan jahat ,
yg melakukan akan mendapat balasan dikemudian hari.
Trimaa sing nglakoni , masa trimaa sing momong.
(Meski yg menjalani menerima , yg memelihara tidak akan berdiam saja).”

Perbincangan itupun terputus dengan hadirnya Wrekudara secara tiba-tiba.
Semua segera mengerubung dan menanyakan apa yg telah terjadi dengannya.
Wrekudara lalu menceritakan semua yg telah dialaminya ,
mulai dari bertemu dengan pandhita Druna ,
pergi ke gunung Candramuka
dan bertemu dengan Hyang Endra dan Hyang Bayu , yg memberinya nugraha.
Namun seketika itu juga Wrekudara berpamitan untuk pergi ke pusat samudra.
Semua yg ada terkejut bukan kepalang ,
kembali perasaan sedih memenuhi pura dalam istana Amarta.
Prabu Kresna berusaha menahan dan membatalkan niat Wrekudara ,
dengan menjelaskan bahwa semua itu hanyalah tipu daya Kurawa ,
agar Wrekudara menemui ajal di samudra gung.

Prabu Yudhistira dan saudara yg lain ikut membujuk ,
bahwa yg diucapkan pandhita Druna itu tidaklah nyata ,
hanyalah bagian dari tipu daya Kurawa yg ingin menyengsarakan Pandawa.

Para istri Pandawa menjerit dan menangis tersedu-sedu ,
meminta agar Wrekudara membatalkan niatnya.

Namun Wrekudara tetap pada niatnya ,
ia tak mau dikatakan sebagai satrya yg tak menepati janji ,
sekalipun nyawa adalah taruhannya.

Segera dikibaskan dan disisihkannya tangan para saudara dan iparnya ,
menyembah kepada prabu Yudhistira dan prabu Kresna ,
lalu segera melesat lari keluar dari pura.
Semua yg berusaha mengejar hanyalah menemui kesia-siaan ,
Wrekudara telah hilang dari pandangan.

———————————————————————————————————————-

Perjalanan Wrekudara telah sampai di pinggir hutan Amarta ,
Hyang Bagaskara sudah kembali ke khayangannya ,
pertanda tak lama lagi Hyang Sasadhara kawuryan ,
menyapu gelapnya malam dengan cahayanya.

Namun Wrekudara tanpa ragu-ragu memasuki hutan ,
terbawa besarnya niat , tak dipikirkannya bahaya yg menghadang.

Gua Sigrangga mulai dimasukinya ,
tak lama kemudian dilihatnya sesuatu menghadang jalannya.
Seekor ular betina yg sedang bertapa ,
yg saking besarnya , hingga nyaris memenuhi gua.
Ular yg tengah bertapa itupun terkaget ,
ketika mencium bau manusia yg semakin mendekat.
Menganggap ada bahaya yg mendatangi ,
ular raksasa itupun segera menyerang Wrekudara.

Wrekudara pun bersiap sedia ,
sehingga serangan ular raksasa itu dapat dihindarkan ,
dan selanjutnya terjadilah pertarungan antara keduanya.
Namun tak terlalu lama , ular raksasa itupun mati terkena kuku Pancanaka.
Asap mengepul mengiringi musnahnya bangkai ular raksasa ,
dan bersalin dengan keberadaan seorang widadari ,
yg segera menyapa sang Wrekudara.

Widadari itu adalah Dewi Suparti ,
istri Hyang Anantaboga dewa yg berwujud naga ,
yg juga adalah mertua Wrekudara.
Niatnya menghadang Wrekudara adalah untuk memberi wangsit.

Wrekudara segera menyembah dan mohon petunjuk ,
arah dan apa yg musti dilakukannya untuk mencapai pusat samudra.

“Engkau melaksanakan petunjuk guru , untuk mencari sejatinya dirimu.
Begitu percayanya engkau kepada guru ,
sehingga membuat engkau salah memahami perkataannya.
Namun Hyang Maha Wisesa maha mengetahui keinginan manusia.
Ketahuilah , semua yg telah engkau jalani menjadi panglebur beban ,
yg sebenarnya memberatkan perjalanan hidupmu.
Engkau bisa meninggalkan cinta kepada anak , istri dan saudara ,
itu menunjukkan bahwa apa yg kau gapai akan tercapai.
Sekarang sudah dekat dengan apa yg kau cari , yg kau inginkan ,
namun tetap waspada dan berhati-hatilah ,
sebab masih ada bahaya menghadang yg harus kau pungkasi.”

Selesai menyampaikan wangsit , Dewi Suparti pun musnah.

 
BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: