Bima , Mencari Tirta Prawita – Bag.3

 
Byar ! Seketika Wrekudara telah berada di tepi samudra.
Sejenak Wrekudara termangu-mangu ,
menatapi besarnya ombak dan luasnya air yg bagai tanpa tepi.
Menyadari bahwa tak mungkin untuk kembali ,
setelah menjalani semua hingga tiba di tepian samudra gung ,
bersumpahlah Wrekudara ,
lebih baik mati di samudra , bila tak mendapatkan hasil.

Seolah menjadi saksi kesungguhan tekad sang Bayu Siwi ,
seketika guruh dan guntur bersautan , petir membelah angkasa ,
ombak besarpun bergulung menerpa pantai ,
burung di angkasa berteriak parau , mengerikan.
Sungguh , itulah sebuah sumpah dengan segenap jiwa raga !

Wrekudara mengheningkan cipta ,
menyatukan semua kekuatan pikir dan rasanya ,
mulai melangkahkan kaki menyibak samudra.
Beberapa kali diterpa ombak besar ,
membuat Wrekudara hampir tak sadarkan diri ,
dirasakannya sang kematian sudah semakin dekat.
Segera digenggamnya manik Tirta Maya dan matek (merapal) Aji Jalasengara ,
Kekuatannya pun pulih kembali , Wrekudara meneruskan langkahnya.

Kemudian muncullah seekor naga yg teramat besar ,
sambil menyemburkan sembilan macam bisa.
Itulah Naga Nemburnawa ,
yg ketika melihat Wrekudara , segera mendekati dan menyerang ,
keduanyapun bertarung di dalam air.

Tak seperti yg sudah-sudah ,
Naga Nemburnawa tidak dengan mudah bisa dikalahkan.
Ketika Naga Nemburnawa berhasil melilit tubuh Wrekudara ,
yg semakin lama semakin kuat lilitannya ,
sambil membawa semakin ke tengah samudra.
Wrekudara mengira inilah ajalnya.
Namun ia teringat pada kuku Pancanaka ,
Wrekudara berusaha berontak agar bisa menggerakkan tangannya ,
hingga ketika mendapat kesempatan ,
segera dihunjamkannya kuku Pancanaka ke leher Naga Nemburnawa.
Seketika itu hilang musnah Naga Nemburnawa.
Wrekudara bersyukur kepada Hyang Maha Wisesa.
Setelah beberapa saat berdiam diri , melepaskan kelelahan yg luar biasa ,
Wrekudara kemudian kembali melanjutkan upayanya ,
mencari pusat samudra , mencari Tirta Prawita Sari.

———————————————————————————————————————-

Sementara itu di Amarta ,
prabu Kresna kembali berusaha menenangkan saudara-saudaranya.
Mereka merasa bahwa Wrekudara akan menemui ajalnya di samudra gung.
Sebagai titisan Hyang Wisnu , prabu Kresna tidaklah samar
akan segala sesuatu yg sudah menjadi pepestening Hyang Maha Wisesa.
Namun tetap saja prabu Kresna tidak boleh miyak wadining jagad ,
tidak boleh membuka rahasia alam , ataupun mendahului sang waktu.

Namun karena desakan saudara-saudaranya ,
akhirnya prabu Kresna memberikan keterangan yg sinamar.

“Saudara-saudaraku semua , hentikanlah kesedihan kalian ,
ketahuilah bahwa Wrekudara tidaklah menyongsong ajal.
Bila berhasil mengatasi ujian yg menghadang ,
malah akan menerima nugraha dari Dewata ,
wenang alingga Bathara (berbadan selayaknya Dewa).
Waskita dan mampu mengatasi godaan dan marabahaya apapun.
Itulah yg sebenarnya menjadi keinginan Wrekudara.”

Mendengar keterangan prabu Kresna ,
pelahan-lahan luluh lilih duka dan kesedihan mereka.
Merekapun segera menuju sanggar pamujan ,
menghaturkan doa agar sang Wrekudara selamat sentosa ,
menemukan apa yg dicari , mendapatkan yg diinginkan.

———————————————————————————————————————-

Wrekudara yg berada di tengah samudra ,
terus mencari Tirta Prawita Sari ,
sambil tak henti-henti memohon kepada Hyang Maha Wisesa.
Karena tekad , keyakinan dan usaha yg sungguh-sungguh ,
Sang Hyang Akarya Jagad pun mengabulkan permohonan Wrekudara.

Tanpa diketahui dari mana datangnya ,
tidak pula ada tanda-tanda yg mendahului ,
tiba-tiba nampaklah seorang anak kecil ,
amatlah kecil bila dibandingkan dengan Wrekudara yg tinggi besar ,
sendirian , ditengah samudra yg luas itu.
Sejatinya , itulah Hyang Maha Wisesa ,
menjelma dalam wujud bocah bajang , bernama Sang Dewa Ruci.

Melihat keelokan itu , Wrekudara cuma termangu-mangu menatapi Sang Dewa Ruci ,
yg pelahan-lahan menghampiri Wrekudara.
Dengan tersenyum , Sang Dewa Ruci mendahului menyapa Wrekudara ,
suaranya lembut namun jelas terdengar oleh Wrekudara.

“Hei manusia , apa yg engkau lakukan di sini , apa yg engkau cari ?
Sedangkan di sini sonya sepi , tak ada apa-apa.
Segala wujud makanan , pakaian ataupun kesenangan ,
sesekali tak akan engkau temui.
Maka katakanlah niat yg membawamu kemari ,
sehingga engkau rela menjalankan “laku” ,
selayaknya manusia yang hendak menghadap Hyang Maha Wisesa ,
namun masih mengenakan “busana” kehidupan.”

Meski masih terheran-heran , di samudra luas yg bagai tak bertepi itu ,
ada bocah bajang yg serupa dengan dirinya ,
namun ucapannya bagai memenuhi bawana.

“Dhuh pukulun Yang Maha Mengetahui ,
hamba hanya bisa pasrah berserah akan kehendak paduka.”

Wrekudara merasa yakin , bahwa bocah bajang itu bukanlah titah sawantah ,
bukanlah manusia biasa , bukan pula sekedar dewa , namun Dewa Agung.
Maka dengan menunduk penuh rasa hormat ,
pelahan Wrekudara menjawab dengan menggunakan bahasa halus (Krama inggil).
Selama ini , kepada dewa sekalipun ,
Wrekudara tak pernah menggunakan bahasa halus.

“Ingsun sudah mengerti semuanya.”

Hilang musnah seluruh keberanian dan kekuatan Wrekudara ,
seperti tercerabut dari raganya.
Ketika Sang Dewa Ruci menjabarkan apa yg menjadi niat Wrekudara.
Juga ketika diceritakannya silsilah leluhurnya ,
mulai dari Resi Manumayasa hingga prabu Pandu Dewanata ayahnya ,
ibunya Dewi Kunthi , serta perjalanan hidup Wrekudara dan saudara-saudaranya.

“Hei Bhima putra Pandu , segeralah masuk ke dalam guwagarba Ingsun ,
jangan terlalu lama engkau berada di pusat samudra ini.
Karena sesungguhnya , ini bukanlah tempat yang nyata.”

Wrekudara kaget mendengarnya ,
dengan tersenyum tipis , pelahan berkata.

“Pukulun , bagaimana hamba musti bersikap , terhadap sesuatu yg mustahil ?”

“Tidak ada yg tak mungkin bagi Hyang Maha Wisesa.”

Dengan takut teramat sangat ,
Wrekudara bertanya jalan menuju guwagarba Sang Dewa Ruci.

“Manjinglah lewat telinga kiri Ingsun.”

Dengan jiwa dan raga yg serasa bergetar ,
Wrekudara menyembah lalu memejamkan mata.
Dengan sarana cipta Wrekudara telah berada dalam guwagarba Sang dewa Ruci.
Merasakan berada dalam suasana yg berbeda ,
Wrekudara membuka matanya.

Dilihatnya , sekelilingnya bagai samudra tak bertepi ,
dengan pendaran-pendaran cahaya yg tak pernah disaksikannya.
Wrekudara seperti lupa , apa yg telah terjadi dengan dirinya.

Tak lama , Sang Dewa Ruci menghampiri Wrekudara ,
seluruh tubuhnya diselubungi cahaya gemilang tak berbayang.

 
BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: