Bima , Sang Putra Bayu

 
Bima (Bhima) berarti menakutkan (nggegirisi) , ksatryannya di Jodipati.
Bima mempunyai dasanama (nama lain) , yaitu :

– Bratasena , yg berarti mempunyai tekad dan kemauan yg lurus.
– Arya Sena , karena berasal dari ras Arya.
   Bratasena dan Arya Sena adalah nama ketika masih muda.
– Wrekudara (Wrekodhara)
– Ballawa (Valala) , ketika dalam masa pembuangan ,
   menyamar menjadi juru masak di kerajaan Wiratha.
– Jagal Abilawa , nama Ballawa menurut pedhalangan.
– Bayu Putra , Bayu Siwi , Bayu Suta.
   Sebagai putra Bathara Bayu , sang dewa Angin.
– Wijasena

Belum lagi nama-nama yg hanya ada dalam pakem pedhalangan , semisal
– Tugu Wasesa , ketika bertakhta menjadi raja di kerajaan Gilingwesi.
– Dan lain-lainnya (Tidak ingat , tidak tahu)

Putra kedua prabu Pandu Dewanata dan Dewi Kunti itu ,
tidak seperti saudaranya yg lain ,
Yudhistira , Arjuna , Nakula dan Sadewa ,
yg oleh Ki Dhalang ditonjolkan ketampanan , kehalusan tata kramanya ,
ataupun pesona lain selayaknya seorang satrya.
Maka tak heran bila istri-istrinyapun bukanlah sembarang putri atau dewi.

Sebut saja Dewi Arimbi atau Hidimbi ,
yg telah memberinya seorang anak , Gathotkaca.
Asal mulanya adalah seorang raseksi (raksasa wanita) ,
adik raja Hidimba dari kerajaan Pringgodani ,
yg jatuh hati karena mimpi bertemu dengan Bhima ,
padahal belum sekalipun pernah dikenal atau dilihatnya.
Oleh sabda Dewi Kunti , Arimbi berubah menjadi putri yg secantik-cantiknya.

Dewi Nagagini , istri tertua Bhima ini adalah putri Hyang Antaboga
(Hyang Anantaboga) dan widadari Dewi Suparti.
Hyang Anantaboga adalah dewa naga di sapta pratala.
Dengan Dewi Nagagini , Bhima mempunyai seorang anak bernama Antareja ,
yg juga disebut Antasena.
Ini menurut Padhalangan versi Sala (Surakarta).

Dewi Urangayu , memberinya seorang anak bernama Antasena.
Ini menurut Padhalangan versi Ngayogyakarta.

Lalu , apa yg ditonjolkan dari Bhima , sang panenggak Pandawa ?
Tubuhnya yg tinggi besar , kekuatannya yg luar biasa , tekadnya yg lurus ,
kejujuran dan sikap apa adanya ketika berhadapan dengan siapa saja.

Dari wayang sekotak , cuma Bhima yg tidak bisa dhodhok (duduk bersila) ,
dan tak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) ,
ketika berhadapan dengan mereka yg lebih tua ,
atau yg derajatnya lebih tinggi , termasuk dewa sekalipun !

Pengecualian hanya ketika Bhima berhadapan dengan Sang Dewa Ruci.

Apakah bisa dikatakan bahwa Bhima memang gak cerdas-cerdas amat ?
Kawruh yg dimiliki Bhima itu sampurna namun tersamar , tersembunyi.

Bhima sejatinya adalah putra Sang Hyang Bayu (dewa angin) ,
ini karena daya aji Pameling Adityahredaya yg dirapal oleh Dewi Kunti ,
ketika Prabu Pandu dalam pengasingan ,
menginginkan seorang putra yg gagah perkasa dan berkekuatan luar biasa.

Yg disebut darah Bayu adalah dewa , manusia , raksasa dan hewan ,
yg menguasai lakuning angin , yaitu :
1. Bathara Bayu.
2. Sang Dewa Ruci.
3. Hanuman (Begawan Kapiwara).
4. Wrekudara (Bhima)
5. Wil Jajahwreka.
6. Liman Setubanda.
7. Sarpa Nagakuwera.
8. Garuda Mahambira.
9. Begawan Maenaka.

Laku Bhima mencari Tirta Prawita Sari ,
dan akhirnya bertemu dengan Sang Dewa Ruci , Sang Guru Sejati ,
adalah simbolisasi manusia yg mencari jati diri , dirinya yg sejati.
Maka wujud Sang Dewa Ruci tan prabeda dengan Bhima ,
hanya dalam ukuran tubuh saja yg serba lebih kecil.

Maka dalam lakon Dewa Ruci atau Bhima Suci ,
ngemot ajaran-ajaran mistik tentang ,
sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan manusia) ,
jumbuhing kawula Gusti (menyatunya “sang Manusia” dan “Hyang Maha Wisesa”)
dan ajaran (kawruh) lainnya.

Apakah cukup dengan memahami pakem “Dewa Ruci” ,
mempelajari seluruh ajaran yg terkandung di dalamnya ,
seseorang akan dengan mudah menemui “Sang Guru Sejati” ?
Tidak !!!

Dengan demikian , apakah Bhima adalah simbol wayang yg paling utama ?
Tentu saja tidak !
Isining jagad maneka warna ,
satu dan yg lain adalah saling melengkapi ,
saling mengimbangi , saling menyempurnakan.
Yaa . . . sebagaimana isi alam ini ,
ada panas – dingin , ada gelap – terang , ada baik – buruk , dst.

Bagaiman bisa disebut baik , bila tidak ada yg buruk ?
Bagaimana bisa di sebut Gusti , bila tak ada kawula yg menyebutnya ?

Pada setiap akhir pertunjukan wayang kulit (gagrag lawas) ,
yg disebut perang bubruh atau Ayak-ayakan , yg diiringi Gendhing Sampak ,
bila cerita itu di jaman Prabu Rama , yg merampungi selalu Hanuman.
Bila cerita itu di jaman Pandawa , yg merampungi selalu Bhima.

Hanuman dan Bhima disebut Bayu Suta , anak Sang Hyang Bayu ,
yg dimaksudkan adalah ‘angin kecil’ , yaitu napas (ambekan).
Ini adalah perlambang , bahwa pada akhirnya ,
napas jualah yg mengakhiri perjalanan hidup seorang manusia.

Pertunjukan wayang , pada hakikatnya ,
memang simbolisasi perjalanan hidup manusia , dari lahir hingga mati.
                                                                                 S.O.T.R November ’09
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: