Sandya Ning Kasogatan Lan Kasewan

 
Rahayu. Mugi kinalesna ing rubeda.

Taman sari malam itu tak berhias tawa ceria.
Mega pekat yg mengusap purnama , semilir bayu yg membelai sendu ,
seakan ikut menggambarkan suasana kalbu Putri Pramodawardhani ,
yg sejak tadi duduk bersimpuh di tepi kolam ,
memandangi gemulai indah gerak renang ikan-ikan yg kian kemari.

Deretan prasasti peresmian candi kamulan yg baru dipindahkan ke taman sari ,
seakan tak mampu menggambarkan kebesaran dan keagungan ayahandanya ,
Sri Maharaja Samarottungga atau Samaragrawira dari wangsa Syailendra (Çailendra).

Ayahandanya baru saja menyelesaikan pembangunan sebuah gunung kecil ,
yg keseluruhannya dibuat dari batu-batu kali yg hitam dan keras.
Sebuah tempat suci dalam bentuk mandala yg sarat dengan ajaran-ajaran agama Buddha.
Pahatan-pahatan pada dinding , bentuk-bentuk bujur sangkar , lingkaran ,
arca-arca Buddha , dengan sebuah “gentha” di pucuk tertingginya ,
semua merupakan gambaran dan simbolisasi dari ajaran menuju kesempurnaan.

Sebuah candi bertingkat sepuluh dan diberi nama Bhūmi Sambhāra Bhudhāra.
Yg berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Boddhisattva”.
(Di jaman sekarang disebut sebagai Candi Borobudur.)

 
Kerajaan Mataram purba yg didirikan oleh Prabu Sanjaya telah terpecah menjadi dua.
Sebelah barat yg meliputi daerah Bagelen dan Yogyakarta ,
di bawah kekuasaan Maharaja Samarottungga yg memeluk agama Buddha.
Sedangkan wilayah sebelah timur di bawah kekuasaan Rakai Pikatan ,
keturunan Prabu Sanjaya yg beragama Syiwa (Hindu).

Dan bayangan seorang ksatria tampan perkasa bernama Rakai Pikatan itulah ,
yg kini seakan tergambar pada air kolam dan menyentakkannya dari lamunan.
Putri Pramodawardhani beberapa kali bertemu
dan bertatap mata dengan Rakai Pikatan dalam upacara-upacara kerajaan.

“Ach , sayang ia bukan wangsa Syailendra dan bukan pengikut Dharma Sang Buddha.”

Desah hati Putri Pramodawardhani sambil mengibaskan rambutnya lalu menggelengkan kepalanya.

“Mungkinkah aku yg hanya seorang wanita menyelamatkan kerajaan dan rakyatku ?”

Sang putri tunduk terpekur , lalu mengusap kain sutra tipis warna hijau yg membalut tubuhnya.
Hiasan perut yg serba emas memantulkan cahaya damar di taman sari ,
yg seakan ingin mengetahui “emas” lain yg tersembunyi di balik raga elok sang putri.

“Anakku , hanya engkaulah satu-satunya harapan ayah dan seluruh kawula kerajaan ,
yg akan mampu menyelamatkan bahkan membawa kerajaan ini menjadi besar dan makmur.
Karena engkau putriku yg cantik jelita dan lembut raga jiwa adalah titisan Dewi Tara.”

Terngiang kembali sabda ayahanda Prabu semalam.

Seakalipun pada dahulunya wangsa Syailendra berhasil menanamkan kekuasaan pada Wangsa Sanjaya.
Namun Mataram timur di bawah pemerintahan Rakai Pikatan menjadi kuat melebihi Mataram barat.
Daerah Pangramwan dan Wandihati menjadi amat maju dan makmur.
Lereng selatan dan timur gunung Suci telah berubah menjadi subur dan banyak penduduknya.
Candi-candi pamujan Mahadewa Syiwa tersebar di seluruh penjuru wilayah.
Bala tentara Mataram timur amatlah banyak dan terlatih ,
telah beberapa kali maju perang menumpas musuh dan selalu menang.

Maharaja Samarottungga khawatir , apabila suatu saat terjadi penyerbuan oleh Rakai Pikatan ,
Wangsa Syailendra akan tumpas dan kerajaannya bakal hancur lebur sia-sia.
Satu-satunya jalan keluar untuk menutup kemungkinan itu sekaligus menyelamatkan rakyatnya ,
adalah mengawinkan putrinya dengan Rakai Pikatan.
Dari beberapa kali pertemuan antara penguasa-penguasa kerajaan Mataram purba yg terpecah ,
Maharaja Samarottungga bisa membaca dari tutur kata dan sikap ,
bahwa Rakai Pikatan menaruh hati pada putrinya.

Lalu diberikanlah nasehat-nasehat kepada sang putri ,
agar suka berkorban seperti apa yg telah dilakukan Dewi Tara.

“Hanya dengan penyatuan seperti itulah , Wangsa Syailendra maupun Wangsa Sanjaya ,
bisa menghindarkan penderitaan yg suatu saat akan terjadi.
Bahkan melalui perkawinan ananda dan Rakai Pikatan , kerajaan akan makmur dan tentram.”

“Ayahanda , hamba menyadari beban yg harus hamba pikul demi para kawula kerajaan ini.
Namun , bagaimana jadinya bila hamba bersuamikan seorang pemuja Syiwa ?
Apakah Sang Buddha tidak akan menjatuhkan kutukan atas dosa hamba ?
Apakah Maha Buddha Wairocana tidak akan merusakkan kerajaan ini ?”

“Sama sekali tidak anakku ,
sebab Dharma Sang Buddha pada hakekatnya adalah Dharma Kasih Sayang.
Tidak ada sesuatupun yg dibedakan dari semua yg terhampar di bhumi ini.
Kasih sayang haruslah memenuhi seluruh pancaran kehidupan seorang pengikut Buddha ,
yg telah bersumpah atas nama Tri Ratna.
Yg telah menyerahkan diri kepada Sang Buddha , Dharma dan Sangha.”

“Gusti Ayu . . . . ”

Terkejutlah Putri Pramodawardhani dan tersadar dari lamunannya ,
ketika seorang emban dengan amat pelahan menyentuh kakinya.

“Malam telah bergulir jauh dan bintang waluku samar mulai menampak.
Marilah Gusti Ayu tinggalkan taman sari , hamba iringkan naik ke katil kencana.”

Sang Putri masih berdiam diri lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali.
Terbayang kembali wajah ksatria tampan nan gagah berani , Rakai Pikatan.
Terngiang sabda ayahanda Prabu.
Sang Putri mantap mengambil keputusan bersedia diperistri Rakai Pikatan.
Karena itulah satu-satunya jalan untuk menghindarkan kehancuran kerajaan ,
bahkan menjadi harapan untuk datangnya kemakmuran , kemajuan dan kesejahteraan.
Lagipula , Rakai Pikatan sudah berjanji akan menghormati agama yg dianut Wangsa Syailendra.

“Mari mbok emban . . .”

Suara yg lembut dan merdu bagai burung Kalavinka (burung Phoenix) ,
gerak lenggang yg segemulai kepak burung Hamsa (Angsa) ,
lambaian kain sutra hijau seakan ekor burung Manyura (burung merak) yg mengembang ,
. . . . berjalan pelahan meninggalkan taman sari.

———————————————————————————————————————-

Pernikahan agung Putri mahkota Wangsa Syailendra , Sang Pramodawardhani ,
dengan Sang Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya ,
dirayakan secara besar-besaran selama 40 hari 40 malam.
Seluruh golongan dari kedua Wangsa kerajaan bertemu untuk pertama kali dalam suasana bahagia.
Para sudra papa seakan tak hentinya menerima derma dan sedekah yg dihamburkan.
Para tapa , brahmana , resi , ajar , biksu dan pandhita bersama memanjatkan kidung doa ,
diantara bunyi genta dan asap dupa yg harumnya memenuhi angkasa.

Kerajaan Mataram Purba telah dipersatukan kembali dengan damai dan dalam kerukunan.
Rakai Pikatan dinobatkan sebagai Maharajadiraja memerintah kerajaan Mataram ,
bersama permaisuri Pramodawardhani yg mendapat gelar Sri Kahulunan.

Dalam penobatan itupun Sang Maharaja bersumpah atas nama kekuasaan Mahadewa ,
akan melindungi seluruh rakyatnya yg beragama Syiwa maupun yg beragama Buddha.
Akan melindungi seluruh keluarga dari Wangsa Sanjaya maupun dari Wangsa Syailendra.

Cinta Sang Prabu semakin berkembang seakan tak ada habisnya untuk sang permaisuri.
Putri Pramodawardhani seakan adalah Dewi Tara sendiri yg turun ke marcapada.
Cantik lahirnya juga cantik bathinnya , lembut jasmaninya juga lembut rohaninya.

Cinta dan kasih sayang seakan berkembang dan meruah ke seluruh kerajaan.
Para kawula tak henti memuji dan memanjatkan doa bagi raja dan permaisurinya ,
yg telah membawa kesejahteraan dan kedamaian.

Seluruh pejabat kerajaan dari Demang sampai Maha Nayaka ikut bekerja sama dengan semangat ,
ketika Sri Maharaja Rakai Pikatan membangun candi kerajaan yg maha besar ,
di Pangramwan (Yg di jaman sekarang disebut Prambanan) , Sima , Wandihati.
Sang Maharaja Syiwa bersemayam megah disana.
Candi mahabesar dibangun pula dekat keraton , di desa Plaosan.
Serta dipahatkan nama-nama pembesar kerajaan yg menyumbang candi-candi perwara (kecil).

 
Arca Sang Buddha Mahabesar berjajar di candi induknya.
Arca Sang Prabu disemayamkan dalam wujud Bodhisatwa ,
sementara Sang Permaisuri dalam perwujudan arca Dewi Tara.

Nama Sang Maharaja pun meresap indah dipahatkan , Dharma Sri Maharaja.
Berhadapan dengan candi lain dengan pahatan nama sang permaisuri , Sri Kahulunan.

Meski Sang Maharaja beragama Syiwa (Hindu) , ia tidak hanya membangun candi-candi Hindu ,
namun juga membangun candi-candi Buddha , karena permaisurinya beragama Buddha ,
dan ia telah bersumpah untuk menerima keberadaan agama Buddha ,
serta menjaga kerukunan kedua pengikut agama.

Bila Sang Maharaja mengadakan sesaji di candi Hindu ,
sang Permaisuri pun ikut menyembah Bhatara Syiwa.
Demikian pula sebaliknya , bila sang Permaisuri mengadakan sesaji di candi Buddha ,
sang Maharajapun ikut menyembah kepada Bathara Buddha.

———————————————————————————————————————-

Kita tak bisa membuat semua orang senang , . . selalu di setiap waktu ,
sekalipun kebaikan kita curahkan dan kebenaran kita genggam erat-erat.

Di kahyangan maupun di nirwana yg berselimut suasana damai dan berhembus kebenaran ,
tetap saja bisa timbul kericuhan dan kejahatan , apalagi di bhumi manusia.

Sang Pangeran Balaputradewa , putra Sri Maharaja Samarottungga yg lahir dari selir ,
seorang putri yg berasal dari kerajaan Sriwijaya ,
adalah bagai api dalam sekam bagi ketentraman dan kedamaian kerajaan Mataram Purba.

“Pamanku yg setia kepada Sang Buddha dan setia kepada Wangsa Syailendra ,
kita tidak boleh percaya dengan muka ramah , mulut manis dan sikap bijak Rakai Pikatan.
Kekuasaan kerajaan Wangsa Syailendra telah berada dalam tangan Rakai Pikatan ,
tak lama pula agama kita Dharma Sang Buddha akan dihancurkannya.”

Banyak lagi kata-kata ketidaksenangan Balaputradewa kepada Rakai Pikatan , kakak iparnya.
Dan para bhiksu yg berdiam di Vihara dekat Pangramwan meniupkan hasutan ,
yg membuat api kebencian dan dendam semakin membesar dan membara.
Iapun membangun benteng yg kuat di gunung Baka (Boko) , di area Vihara para Bhiksu.

Maharaja Rakai Pikatan telah mendengar laporan-laporan tentang hal itu.
Pangeran Balaputradewa pun dipanggil menghadap
dan ditanya maksudnya membangun benteng itu.
Pangeran Balaputradewa menjawab dengan tersenyum santun.

“Kakanda Prabu , adinda tidak sedikitpun berniatan jahat ,
benteng itu dapat dipergunakan apabila terjadi peperangan dengan sesiapapun ,
karena benteng itu adalah untuk mempertahankan kerajaan Mataram.
Lagipula , mustinya kakanda Prabu juga sudah mendapat laporan ,
adanya gerombolan yg berusaha memancing kekeruhan untuk menghancurkan Vihara Baka ,
yg telah dua belas windu menjadi pusat cahaya Dharma Sang Buddha ,
tempat guru-guru Wangsa Syailendra berdiam.
Kehadiran hamba sekedar untuk membalas budi kebaikan mereka dan menentramkan hati mereka.
Karena itu , mohon ijin dan perkenan kakanda Prabu.”

Maharaja Rakai Pikatan tidak sepenuhnya percaya dengan kat-kata Pangeran Balaputradewa.
Tapi ia tidak mengambil tindakan apapun ,
tidak juga memerintahkan agar Pangeran Balaputradewa menghentikan pembangunan itu.
Karena Maharaja tidak ingin menyakiti hati permaisuri , kakak Pangeran Balaputradewa.
Bila Pangeran Balaputradewa berniat buruk , biarlah ia memperlihatkannya terlebih dahulu ,
agar sang Permaisuri , seluruh rakyat kerajaan dan para pemuka agama mengetahui.

Lebih dari semua itu , Maharaja Rakai Pikatan meyakini ,
kemakmuran , ketentraman dan kemajuan kerajaan Mataram hanya akan dicapai ,
dengan persatuan wangsa Sanjaya dan wangsa syailendra melalui keturunannya nanti.
Juga persatuan dan kerukunan para pengikut Sang Dharma Buddha dan para pengikut Syiwa.

Setelah merasa kekuatannya cukup , Pangeran Balaputradewa tidak lagi bisa menahan diri.
Iapun menggerakkan prajuritnya menyerbu keraton dengan buas dan ganas.
Banyak prajurit Mataram dan keluarga kerajaan yg tewas.
Keraton Mataram pun berhasil direbutnya.

Maharaja dan permaisuri lari ke timur , membangun keraton baru di Mamratipura.
Maharaja sudah membuktikan , bahwa adik iparnyalah yg berniat buruk.
Juru Penerang dan para Nayaka kerajaan berhasil menyatukan rakyatnya ,
baik dari Wangsa Sanjaya maupun dari Wangsa Syailendra yg semula ragu-ragu.

Satu warsa perang berkecamuk.
Banyak desa dibakar , sawah ladang dirusakkan oleh pemberontak.
Maharaja Rakai Pikatan menyusun kekuatan dan memimpin prajuritnya sendiri ,
menyerbu Pangeran Balaputradewa di bentengnya.
Benteng Baka akhirnya berhasil direbut ,
dan Pangeran Balaputradewa dibiarkannya melarikan diri ke Sriwijaya.

Sejak itu , Keraton Baka dan Viharanya berselimut kesunyian.
Serakan bebatuan bekas keraton dan viharanya masih terlihat hingga kini ,
di gunung Baka , yg berjarak 3 kilometer dari Prambanan , Yogyakarta.
                                                                                 S.O.T.R , September ’10

=================================================

Sandya Ning Kasogatan Lan Kasewan = Bersatunya Agama Buddha dan Agama Hindu Syiwa.

Ada pula tulisan yg menyebutkan ,
bahwa nama candi Borobudur berasal dari kata Bhumi Sambhara Budura.
Artinya , tanah yg timbul atau gunung kecil (Istilah Jawa : Punthuk atau gumuk) ,
yg terletak di pedukuhan Budur.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: