Makna Di Balik Pagelaran Wayang Kulit – Bag.1


 

Pagelaran wayang kulit bukanlah sekedar tontonan hiburan semalam suntuk ,
selain mengandung banyak makna filosofi , ajaran-ajaran budi pekerti dan kebathinan , sekaligus menjadi ‘wadah’ 6 kepandaian , kelebihan (bahasa Jawa : kagunan) , yaitu :
1. Kepandaian di bidang suara (swara) , yaitu pada têmbang (lagu) , suluk ,
    ada-ada dan dialog (anta wacana) yg dilagukan , diucapkan oleh dhalang.
2. Kepandaian di bidang karawitan ,
    yaitu pada laras indahnya gamelan ketika memainkan gêndhing.
    Karawitan sendiri berasal dari kata ‘rawit’ yg berarti rumit , halus , indah , asri.
3. Kepandaian di bidang gambar , ukir , tatah dan lukis (sungging) ,
    yaitu pada wayang kulit.
    Hiasan kêlir , perangkat gamelan (grobogan gamelan) , gantungan gong
   (pulase gayor) , juga termasuk sebagai bagian dari kepandaian seni ini.
4. Kepandaian di bidang tari (bêksa , jogèd) ,
    yaitu pada kepiawaian dhalang menggerakkan wayang (sabetan).
    Seorang guru pernah berkata ,
    dhalang yg hebat mampu memainkan wayang cakil ,
    sehingga tampak bagai seorang penari wayang orang ,
    sebaliknya , seorang penari wayang orang yg berperan sebagai cakil
    akan nampak luar biasa , ketika ia mampu menari bak wayang kulit cakil ,
    yg dimainkan oleh dhalang.
5. Kepandaian di bidang tontonan atau seni drama ,
    yaitu pada pagelaran wayang itu sendiri.
    Semalam suntuk , tak hanya menyajikan tontonan yg menghibur ,
    namun dhalang juga musti bisa menyampaikan ajaran-ajaran luhur.
    Meski urutan cerita pagelaran wayang kulit selalu sama ,
    namun seorang dhalang musti faham (hafal) , tentang tokoh-tokoh wayang ,
    tempat tinggal (keraton , kasatryan , padhepokan) ,
    nama lain (dasanama) , senjata , silsilah , dan lain-lain ,
    seakan menguasai biografi tokoh-tokoh wayang tersebut . . satu persatu !
    Tak berlebihan jika dikatakan
    bahwa di dunia ini tidak ada ‘penghibur’ sehebat dhalang.
6. Kepandaian di bidang sastra yaitu pada cakêpan têmbang (syair lagu) ,
    suluk dan ada-ada , keindahan kata-kata yg digunakan
    untuk menceritakan sebuah keadaan atau suasana ,
    juga tata bahasa (unggah-ungguh) yg dipergunakan oleh tokoh wayang
    ketika bercakap-cakap.

Meski seorang dhalang sudah terlihat memiliki kepandaian (kagunan) dalam berbagai seni ,
pengetahuan di bidang kebudayaan Jawa , namun ada sebutan (pilahan) tersendiri , yg menunjukkan kelebihan seorang dhalang , yaitu :
1. Dhalang Sejati.
    Dhalang yg ketika mementaskan sebuah lakon cerita wayang
    berisi ajaran ilmu kebatinan (kawruh kebathinan) , sangkan paraning dumadi
    (asal dan tujuan makhluk hidup -manusia-) ,
    memberi ‘terang’ (tinarbuka) pada penonton yg hatinya masih gelap ,
    dan wejangan-wejangan tentang hidup menuju kesempurnaan.
    Agar antara lahir dan bathin selaras (jumbuh).
2. Dhalang Purba.
    Dhalang yg memainkan wayang dengan lakon cerita yg beraneka macam ,
    namun juga memberi wejangan secara halus dan mampu meresap
    ke sanubari penonton , tentang berbagai hal yg terjadi
    dalam kehidupan sehari-hari ,
    sehingga secara pelahan menuntun lahir dan bathin menuju kesempurnaan.
    Dhalang Purba adalah seorang yg sudah mampu merasakan ‘rasa’ halus
    dan kasar-nya manusia.
3. Dhalang Wasesa.
    Dhalang yg mahir (mempunyai penjiwaan yg kuat) memainkan tokoh
    dan cerita wayang.
    Sehingga , karena pandainya menceritakan , menggunakan kata-kata ,
    memainkan wayang , cerita (lakon) tersebut seakan ‘hidup’ ,
    perasaan dan pikiran penonton terbawa.
    Ikut sedih ketika tokoh wayang susah ,
    tertawa ketika suasana gembira dan sebagainya.
4. Dhalang Guna.
    Kemampuannya menguasai pakeliran
    hanya pada cerita yg menyenangkan penonton ,
    namun cerita (lakon) yg dibawakan tanpa “isi” , hanya sekedar ramai.
    Memainkan wayang secara lugu , juga penguasaannya dalam hal gêndhing.
    Ibarat “Dhalang kurang lakon”.
5. Dhalang Wikalpa.
    Cara membawakan cerita , memainkan wayang ,
    pengetahuan tentang seni pagelaran wayang ,
    semua seperti ketika belajar di sekolah Padhalangan.
    Jadi lebih seperti meniru saja ,
    tidak mempunyai kemampuan untuk mengembangkan diri.

Ada 4 macam lakon (cerita) yg menjadi dasar sebuah pagelaran wayang kulit , yaitu :
1. Pakem (babonan) , yg ceritanya mengambil dari perpustakaan wayang purwa ,
    misalnya : Bale Sigala-gala , Pandawa Dadu , Rama Gandrung ,
    Hanoman Duta , dsb.
2. Carangan , yg secara garis besarnya saja bersumber
    pada perpustakaan wayang purwa , namun diberi tambahan cerita ,
    seperti : Babad Alas Mertani , Partakrama (Arjuna Wiwaha) ,
    Semar Boyong , dsb. (carang = dahan)
3. Gubahan , yg ceritanya tidak bersumber pada perpustakaan wayang purwa ,
    hanya menggunakan nama tokoh dan keraton yg ada pada cerita wayang ,
    seperti : Gambiranom , Dewa Amral , Dewa Katong , dsb.
4. Karangan , yg ceritanya sama sekali lepas dari perpustakaan wayang purwa ,
    seperti : Praja Binangun , Linggarjati.
    Dalam lakon Praja Binangun diketengahkan nama tokoh-tokoh wayang seperti :
    Ratadahana (Jendral Spoor) , Kala Miyara (Meiyer) , Dewi Saptawulan (Juliana) ,
    Bumiandap (Nederland) , dsb.

Yg dimaksud perpustakaan wayang purwa dan menjadi acuan lakon pagelaran wayang kulit
adalah “Serat Pustaka Raja Purwa” karangan R.Ng. Ronggowarsito (1802 – 1873).
Selain itu ada “Serat Purwakhanda” karangan Sri Sultan Hamengkubuwana V (1822 – 1855) ,
dan “Serat Pedhalangan Ringgit Purwa” karya KGPAA Mangkunegara VII (1916 – 1944).

Namun babon (induk) dari semua serat tersebut di atas ,
bahkan juga kakawin Bharatayuddha karya Empu Sedah yg dilanjutkan oleh Empu Panuluh ,
pada jaman kerajaan Daha (Kediri) di masa pemerintahan Sri Aji Jayabaya ,
adalah layang Ramayana dan Mahabharata yg berasal dari India.

Menurut orang India , Layang Ramayana dan Mahabharata adalah semacam buku sejarah ,
artinya , cerita yg ada di dalam ke dua layang (buku , kitab) ,
pada jaman dahulu memang benar-benar terjadi di India.
Bahkan ada yg menerangkan bahwa :
1. Kerajaan Hastina ,
    yg pada jaman Prabu Bharata (Adik Sri Rama) disebut Pratistana ,
    terletak di kaki pegunungan Himalaya di antara lembah Madya-Desa ,
    di tepian bengawan Gangga dan pertemuan sungai Jamuna dan Serayu.
2. Kerajaan Indraprastha (Amarta , Ngamarta , yaitu kerajaan Prabu Yudhistira) ,
    pada jaman sekarang adalah yg disebut kota Delhi.
3. Kerajaan Madra (Madraka , Mandraka , Mandaraka) ,
    yaitu kerajaan Prabu Salya) , pada jaman sekarang disebut Madras.
4. Kerajaan Langka (Alengka , Ngalengka , yaitu kerajaan Ratu Rahwana) ,
    pada jaman sekarang adalah negara Srilanka (Srilangka).

Rama Prasad , seorang sarjana India memperkirakan bahwa terjadinya Bharatyudha
(peperangan antara Pandhawa melawan Kurawa) hingga sekarang sudah 5.000 tahun lebih.
Meninggalnya Maharesi Bhisma (Dewabrata) di sekitaran tahun 3.137 sebelum tahun Saka.
Para Pandawa murca (mukswa , sirna -raga beserta suksmanya-) ,
sekitaran tahun 3.179 sebelum tahun Saka.

Sekalipun yg menjadi sumber cerita wayang Jawa adalah layang Ramayana dan Mahabharata ,
namun para empu dan pujangga Jawa tidak dengan serta merta menterjemahkan begitu saja.
Isi kedua buku tersebut diolah sedemikian rupa sehingga menjadi lebih indah ,
dan “bercita-rasa” Indonesia (Jawa) , selain mengandung ajaran-ajaran kebathinan ,
sekaligus menjadi simbolisasi perjalanan hidup seorang manusia , dari lahir hingga ajal.

Maka bukan hal yg aneh bila orang India sendiri kemudian ‘pangling’ ,
bahkan tidak mengira bahwa cerita wayang yg ada di Indonesia itu ,
sebenarnya digubah dari layang Ramayana dan Mahabharata.

Buku “Ensiklopedi Wayang Indonesia” mencatat ada 274 lakon pakem dan carangan.
Lakon yg satu dan lainnya terlihat berbeda , berbeda tokoh (paraga) dan cerita ,
namun sebenarnya memiliki makna yg tak berbeda ,
yaitu sama-sama menggambarkan kehidupan manusia ,
mulai dari “tidak ada” , berada dalam guwa garba (kandungan) ,
lahir , membesar dan mendewasa lalu pada masanya meninggalkan dunia ini.

Maka ‘surasa’ , makna cerita wayang satu dan lainnya bisa diibaratkan ,
“Kadya suruh lumah lan kurêbé , yèn dinulu séjé rupané , yèn ginigit padha rasané.”
Seperti daun sirih sisi atas – yg terlihat rata dan halus – ,
dan sisi bawah – yg terlihat tulang-tulang daunnya bertonjolan – ,
bila dilihat tampak berbeda , tapi bila digigit sama saja rasanya.

Tidak hanya cerita wayang saja yg mengandung perlambang ,
orang yg menanggap (mengundang pementasan) , dhalang ,
wayang dan semua uba rampe (perangkat) juga memiliki makna (perlambang) , yaitu :
1. Orang yg menanggap wayang ibarat Hyang Mahawiddhi.
2. Dhalang adalah perlambang Trimurti.
3. Wayang adalah perlambang para titah (manusia).
4. Kêlir (layar kain putih) adalah perlambang langit , angkasa.
5. Dêbog (batang pisang tempat menancapkan wayang)
    adalah perlambang bumi (bantala).
6. Blèncong (lampu minyak tanah)
    adalah perlambang matahari , bulan dan bintang-bintang.
7. Gamêlan adalah perlambang kebutuhan manusia
    (sandhang , pangan , papan , hiburan , dsb)

Pada diri manusia , semua yg disebut di atas juga memiliki perlambang tersendiri.
1. Orang yg menanggap wayang ibaratnya Sang Hyang Atma
    (suksma , jiwa manusia).
2. Dhalang adalah perlambang cipta-sir ,
    pikir dan rasa (niat) yg ada pada manusia.
3. Wayang adalah perlambang hawa napsu manusia
    yg pecah menjadi pancadriya (lima indra).
4. Kêlir adalah perlambang angan-angan manusia.
5. Dêbog adalah perlambang raga (badan jasmani) manusia.
6. Blèncong adalah perlambang ‘pramana’
    (detak jantung yg menjadi pertanda kehidupan).
    Kata ‘pramana’ memiliki arti : cahaya , terang ; batas , ukuran ; waspada.
7. Gamêlan adalah perlambang kebutuhan manusia
    (sandhang , pangan , papan , hiburan , dsb)

Sedangkan :
1. Kotak (tempat menyimpan wayang)
    adalah perlambang sangkan-paran (asal-tujuan) ,
    asal dan tujuan seorang manusia ,
    sebelum dititahkan ke alam dunia dan setelah meninggal.
2. Gunungan atau kayon adalah gambaran dari ‘hidup’ ,
    keadaan dunia beserta isinya.
    Kata ‘kayon’ berasal dari kata ‘khayun’ yg berarti hidup.
3. Cêmpala atau dhodhogan
    (kayu yg dipukulkan secara berirama ke kotak wayang)
    adalah gambaran dari -detak- jantung.
4. Kêpyak (lempengan logam yg dibunyikan dengan kaki oleh dhalang)
    adalah gambaran dari mengalirnya darah.

BERSAMBUNG ke Bagian 2.

===========================================================

2 Komentar

  1. tong2sot - Kantong Bolong said,

    13/03/2015 pada 3:57 PM

    Tentang ada2 greget saut (6)
    “Dhadha muntap lir kinetap” menurut leksikon di http://www.sastra.org , yang benar adalah “Krodha muntap lir kinetap” Krodha, maknanya kira2 adalah amarah. Mbah Nartosabdo juga jelas sekali dalam setiap suluknya, menyebut “krodha”, bukan “dhadha”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: