Makna Di Balik Pagelaran Wayang Kulit – Bag.2 (Selesai)


 

Pagelaran wayang kulit gagrag lawas ,
selalu dimulai pada pukul 21.00 sampai matahari terbit.
Diawali dengan gêndhing patalon atau gêndhing pembuka ,
(dari kata dasar ‘talu’ , bahasa Kawi yg artinya awal)
setelah dhalang memijit-mijit ujung kayon sambil membaca mantera ,
dan cêmpala dibunyikan untuk pertama kalinya.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk terdiri dari 3 babak (bagian).
Babak pertama disebut pathêt ênêm (pathêt Lasem) yaitu mulai jam 21.00 sampai jam 24.00.
Babak ke dua disebut pathêt sanga , dari jam 24.00 sampai jam 03.00.
Babak terakhir adalah pathêt manyura , dari jam 03.00 sampai sekitar jam 06.00.
Kata ‘manyura’ berasal dari bahasa Kawi (Jawa kuno) yg berarti ‘merak’ (burung merak).
Dinamakan pathêt manyura (mêrak) sebab pathêt itu di waktu “pêrak esuk” (hampir pagi).

Dalam lakon apa saja , urut-urutan jalan cerita pagelaran wayang kulit selalu sama.
01. Jêjêr pathêt ênêm (bisa diartikan : Adegan -dengan- Dasar 6) ,
    atau Jêjêr pathêt Lasem , adegan Sang Prabu di ruang persidangan
    (parêpatan agung) bersama patih ,
    penasehat atau tetua keraton membahas sesuatu hal.
    Adegan ini menggambarkan apa yg terpikirkan (gêtêring cipta).
    Dari awal inilah asal mula semua yg akan terjadi digambarkan , diungkapkan.
02. Kadhatonan atau Gupitmandragini , adegan di dalam keraton ,
    (Gupitmandragini : ruang untuk wanita utama) ,
    pertemuan antara Sang Prabu dengan Prameswari (lelaki dan wanita) ,
    yg menggambarkan menyatunya pikir dan rasa menjadi karsa (niat) ,
    yaitu keinginan (niat) untuk memiliki keturunan (anak).
03. Paséban jaba (tempat menghadap -séba- di sebelah luar dari balairung) ,
    patih menyampaikan apa yg menjadi inti persidangan
    kepada mantri dan putra raja ,
    lalu memberikan perintah untuk menyiapkan wadyabala (pasukan).
    Adegan ini menggambarkan kelahiran si jabang bayi.
04. Bodholan (budhaling wadyabala) , Pemberangkatan (berangkatnya pasukan) ,
    berangkatnya pasukan dari kerajaan (angka 1) , ditandai dengan suluk
    “Ada-ada Hastakuwala” dan “Ada-ada Budhalan Mataraman”.
    Adegan ini menggambarkan polah sang jabang bayi yg mulai bertambah usia.
05. Jêjêr sabrangan , adegan di kerajaan seberang (kerajaan lain).
    Sang Prabu yg juga membahas sesuatu hal dengan patih atau penasehatnya.
    Adegan ini menggambarkan si jabang bayi sudah menjadi anak-anak (bocah) ,
    dan mulai mempunyai keinginan-keinginan.
06. Perang gagal.
    Ada 2 macam perang yg terjadi pada pathêt ênêm , yaitu :
    06.1 “Perang ampyak” ,
       digambarkan dengan pasukan kerajaan (rampogan) yg memperbaiki jalan ,
       dan dimainkan setelah adegan bodholan (budhaling wadyabala).
    06.2 “Perang simpangan” , digambarkan pasukan kerajaan (angka 1)
       bertemu dengan pasukan kerajaan seberang dan terjadi perselisihan ,
       namun memilih menghindari terjadinya pertempuran dengan menyimpang.
       Dimainkan setelah jêjêran kerajaan seberang.
    Di pathêt ênêm ini hanya ada satu perang
    dan belum ada paraga (tokoh wayang) yg mati.
    Adegan ini menggambarkan anak (bocah) yg belum dewasa ,
    sehingga belum bisa menahan keinginan ,
    belum bisa mengendalikan hawa nafsunya.
    Pathêt ênêm berakhir dan memasuki pathêt sanga (babak ke dua).
07. Pathêt sanga dibuka dengan adegan ‘gara-gara’.
    Dunia dalam keadaan seakan menghadapi kiamat oleh berbagai bencana alam.
    Manusia hanya mampu berlarian kesana kemari mencari perlindungan.
    Para pandhita tak mampu mengucap mantra , tak kuasa bersemedi.
    Sang Raja tak berdaya , hanya bisa berharap pertolongan dewa.
    Namun dewa juga bersedih , karena bencana juga melanda Suralaya.
    Di tengah gara-gara tiba-tiba muncullah 2 bocah bajang (orang kerdil).
    Yg seorang membawa tempurung berlubang 3 (batok bolu = bolong telu)
    hendak menguras air samudra dan mengeringkannya.
    seorang yg lain membawa sebatang lidi (sada lanang)
    hendak menggiring angin menyapu jagad.
    keduanya berebut kebenaran yg menambah dasyatnya bencana.
    Namun kehendak Sang Pencipta , gara-gara pelahan mereda
    dengan munculnya seberkas sinar memancarkan cahaya bak purnama.
    Seiring sirnanya sinar itu muncullah dewa berwujud manusia.
    Berdiri seakan tugu batu , duduk laksana gumuk (bukit).
    Itulah Sang Hyang Ismaya atau Ki Lurah Semar.
08. Jêjêr pandhita ,
    bambang (satrya muda) menghadap pandhita dan menerima petuah.
    Adegan yg menggambarkan anak (bocah) yg mulai dewasa (pemuda) ,
    pikiran dan hatinya mulai terbuka
    dan mulai mencari pengetahuan (ngangsu kawruh) , menimba ilmu ,
    untuk bekal menjalani kehidupan.
09. Jêjêr madyaning alas , adegan di tengah hutan.
    Bambang (satrya muda) dengan diiringi panakawan
    (Semar , Gareng , Petruk dan Bagong) , bertemu dengan 3 danawa (raksasa).
    Terjadi pertengkaran dan perkelahian yg dimenangkan oleh sang bambang ,
    dengan berhasil membunuh ke 3 danawa tersebut.
    3 danawa adalah gambaran dari watak angkara-murka (hawa nafsu) ,
    yg berhasil ditundukkan oleh satrya muda setelah ngangsu kawruh nggilut ilmu.
    Selanjutnya memasuki babak ke tiga , pathêt manyura.
10. Adegan warna-warni ,
    yg menggambarkan bahwa dalam menempuh perjalanan hidup ,
    manusia akan mengalami kejadian beraneka macam , berbagai rasa ,
    senang , susah , mujur , sial , untung , malang , menang , kalah , dsb.
    Dari setiap kejadian itulah
    manusia musti memetik hikmah dan menempa pribadinya.
11. Perang bubruh ,
    secara harafiah bermakna perang dengan emosi yg meluap (amuk-amukan).
    Disebut juga ayak-ayakan dan diiringi dengan ‘gêndhing sampak.
    Raja dari seberang dan pasukannya
    menyerang ke kerajaan pada jêjêr kawitan (adegan pertama) ,
    dan terjadilah perang amuk-amukan (bubruh).
    Raja seberang dan pasukannya kalah.
    Bila Raja seberang adalah dewa atau satrya yg bersalin wujud
    (mancala warna) , maka kembalilah pada wujud yg sebenarnya.
    Bila perang bubruh ini terjadi pada jaman Prabu Rama (Ramayana) ,
    maka yg merampungi (menyelesaikan) selalu adalah Hanuman.
    Bila perang bubruh ini terjadi pada jaman Pandawa (Bharatyudha) ,
    maka yg merampungi (menyelesaikan) selalu adalah Bhima (Wrekudara).
    Hanuman dan Bhima disebut Bayu Suta , anak Sang Hyang Bayu ,
    yg dimaksudkan adalah ‘angin kecil’ , yaitu napas (ambekan).
    Adegan perang bubruh adalah perlambang , bahwa pada akhirnya ,
    napas jualah yg mengakhiri perjalanan hidup manusia.
12. Berkumpulnya Raja , putra raja dalam suasana yg menyenangkan ,
    adalah gambaran manusia yg meninggal dunia dengan tenang ,
    karena telah menjalankan kewajibannya sebagai “titah”
    dengan sebaik-baiknya.

Jêjêr kawitan (adegan permulaan) dan jêjêr sabrangan (adegan seberang) ,
tidak selalu menggambarkan adegan di sebuah kerajaan.
Dalam lakon “Wahyu Tohjali” jêjêr kawitan adalah keadaan di Kahyangan (Suralaya).

Setelah cerita pagelaran wayang kulit selesai , sebelum tancep kayon ,
dhalang mengeluarkan wayang golèk (wayang yg terbuat dari kayu , dari Jawa Barat) , dan menarikan wayang golèk tersebut.
Hal ini bermakna sebagai sasmita dari dhalang :
“golèkana surasané” , carilah maknanya.

Pertunjukan wayang , pada hakikatnya ,
adalah simbolisasi perjalanan hidup manusia , dari lahir hingga mati.

                                                                                           S.O.T.R , Juni ’11

=================================================

– Antawacana : anta = batas , wacana = ucapan
   Arti secara padhalangan :
   perbedaan suara tokoh wayang yg satu dengan lainnya.
– Suluk dalam padhalangan adalah ‘syair’ yg dilagukan oleh dhalang ,
   untuk memberikan penggambaran suasana atau keadaan.
   Biasanya diambil dari tembang tengahan
   ataupun petikan dari kakawin Bharatayuddha.
   Suluk sendiri adalah karya sastra yg diciptakan oleh Sunan Bonang ,
   berupa puji-pujian , doa , petuah hidup ,
   sebagai jalan (sarana) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
– Ada-ada : Jenis sulukan dalam padhalangan.
   Ada-ada juga berarti : serat daun ; tonggak penyangga ;
   tanda awal tulisan dengan aksara Jawa.

=================================================

Daftar Pustaka (sumber-sumber) :
– Sejarah Wayang Purwa – Hardjowirogo.
– Sarasilah Wayang Purwa – S. Padmosoekotjo.
– Pagelaran wayang yg pernah dilihat atau didengar.
– Lain-lain

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: