“Bukan Milik Saya . . .”

 
“Pak , alamat ini di daerah mana ?”

Seorang pemuda NTT berusia sekitar dua puluh lima tahunan ,
bertampang sangar , berkulit hitam , berperawakan agak kurus ,
dengan lengan sebelah kanan penuh tato ,
pagi itu menanyakan sebuah alamat sambil menyodorkan sebuah STNK mobil ,
kepada pak Pur , pemilik warung.

“Ini sepertinya di daerah sekitaran sini , . . ‘tak panggilkan saudaraku saja.”

Tak berapa lama pak Pur kembali dengan saudaranya yg berjualan di dalam Pasar ,
yg sepertinya lebih mengenal daerah-daerah di Surabaya.

“Ooo . . . ini dekat Sidoarjo. Punya siapa ini ?

“Saya menemukan dompet yg berisi STNK ini , kemarin.”

“Gak ada KTP atau kartu nama ?”

“Gak ada , cuma STNK.”

“Kalo kamu mau antar kesana , saya kasih gambaran.”

“Saya gak berani.”

Aku yg tengah sarapan seperti terperangah dengan jawabannya ,
suatu hal yg amat bertolak belakang dengan kesangaran penampilannya.

“Kenapa ?” Aku akhirnya ikut bicara juga.

“Teman saya pernah menemukan HP ,
dan sewaktu pemiliknya menelpon ke HP itu ,
minta supaya HPnya diantarkan ke rumahnya di daerah Krian ,
nanti mau dikasih ganti ongkos dan hadiah , kata yg punya.
Tapi sampai disana , teman saya malah dihajar ,
rupanya yg punya angkatan (anggota TNI) ,
dia tuduh teman saya mencuri ,
karena hilangnya HP itu bersamaan dengan hilangnya dia punya dompet.”

“Kamu tanya penerangan aja nomer telpon alamat di STNK ini ,
kalo bener punya dia , suruh aja ambil ditempat kostmu.”

“Nggg . . . iya pak , terima kasih.”

Ia membayar kopi yg diminumnya , kemudian pergi berlalu.

Hampir seminggu , obrolan di warung yg selalu up to date ,
sudah melupakan cerita tentang si pemuda , dan cerita-cerita yg semacam itu.
Namun pagi itu ia muncul kembali.

“Gimana , sudah beres ?”

Tanya pak Pur sambil menyodorkan kopi pesanannya.

“Sudah pak. Saya akhirnya minta tolong boss untuk menelpon yg punya ,
jadi sewaktu yg punya datang ambil , boss juga ada.”

Kebetulan nama di STNK sesuai dengan si pemilik mobil.
Si pemilik , seorang ibu berusia 40an ,
langsung menangis dan memeluk pemuda itu sambil mengucap terima kasih berkali-kali ,
saking terharunya ketika menerima kembali barang-barangnya yg hilang ,
sebuah tas berisi dompet beserta STNK ,
dan sebuah amplop coklat berisi uang 10 juta !
Ini bagian yg tak diceritakan pemuda itu kepada kami.

“Saya baru tahu kalo amplop itu berisi uang 10 juta.”

“Kamu gak pernah buka ?”

“Gak pernah.”

“Lha kalo kamu tahu amplo itu isinya uang 10 juta , kamu kembalikan ?”

“Tetap saya kembalikan.”

“Banyak lho 10 juta.” Aku ikut juga menggodanya.

“Itu bukan milik saya . . .”

Ibu muda itu memberi sejumlah uang kepada pemuda itu ,
sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaan atas kejujurannya.
Dan menurut ceritanya , uang itu digunakannya mentraktir teman-temannya ,
juga dibagikannya kepada teman-temannya se-fam ,
yg sedang kesulitan atau tidak bekerja.

Andai tak ada STNK mobil , apakah ia tidak membuka amplop coklat itu ?
Apakah ia akan tetap berusaha mengembalikan uang itu ?
Rasanya kita tak perlu berandai-andai atas kejadian tersebut ,
karena tiap kejadian mempunyai pelajaran tersendiri.
Setiap manusia mengalami ujian bukan pada saat “andai” ,
tapi pada saat yg tak pernah diduga , saat yg nyata.

Seorang teman di Semarang pernah kehilangan dompet ,
berisi uang sekitar dua ratus ribu , STNK motor , kartu ATM , SIM dan KTP.
Si penemu mengembalikan STNK , ATM , SIM dan KTP . . . . . lewat pos.
Uangnya ? Hee..hee..hee..
Mari belajar bersyukur dari filosofi Jawa ,
masih “untung” surat-surat itu gak dibuang sama yg nemu . . . . . . .

Seseorang yg pernah bekerja di cleaning service di sebuah Mall ,
suatu ketika bercerita pada teman-temannya , di warung pak Pur.

“Waktu aku di cleaning service , pernah ada orang yg sehabis mencuci tangan ,
mengambil sapu tangan dari kantong celananya , uangnya jatuh . . .
langsung kuhampiri , sambil pura-pura ngelap wastafel ,
uang itu kuinjak , . . . haa..haa..haa.. lumayan lima puluh ribu ,
‘tak pake buat makan mie ayam sama temenku.”

“Bukan milik saya . . .” ,
sebuah pernyataan sederhana namun mampu menggetarkan jiwa.
Terlebih , karena di jaman yg carut marut seperti ini ,
terucap dari mulut seorang pemuda ,
yg dari penampilannya lebih mudah menimbulkan kesan menakutkan daripada bersahabat , andai aku tak mengenal sebelumnya.
“Don’t judge the book from the cover” ,
seperti itulah mungkin perumpamaan yg tepat untuknya.

Dari kehidupannya sebagai anak rantau ,
dengan penghasilan satu juta rupiah sebulan sebagai seorang sopir pribadi ,
dan cuma tinggal di tempat kost seharga 150 ribu sebulan bersama temannya ,
ia mampu memberi pelajaran moral yg nyata di abad ini ,
“Manusia tidak hidup dari roti saja”(Matius 4 : 4),
tapi juga butuh iman , keyakinan untuk tetap memelihara nilai-nilai moral ,
agar badan dan jiwa ini selaras.

Agak lama ia tak muncul di warung ,
hingga suatu ketika ia singgah lagi di warung.

“Saya sudah pindah kerja , bu.”

Katanya pada bu Pur sambil memilih lauk untuk makan siang.

“Kenapa ?”

“Saya minta naik gaji , boss tidak mau kasih.”

 
Kejujuran memang tidak berbanding lurus dengan penghasilan ,
mereka berjalan di relnya masing-masing ,
seiring perkembangan jaman ,
namun untuk mencari penghasilan ,
kejujuran tetap diperlukan . . . . mutlak !

Kejujuran memang bukanlah mata uang ,
yang bisa (boleh) ditukar dengan kesenangan , kedudukan ataupun materi ,
tetapi adalah spirit dalam jiwa ,
bagaikan nyala dan cahaya sebatang lilin ,
yg harus dijaga dan dipelihara . . . . agar tak padam.

                                                                                  S.O.T.R , September ’10
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: