Filosofi Artis Tandhak Bêdhès

 
Aku melirik sekilas , demi melihat bajunya yg lusuh dan tambalan dibagian lengan dan saku ,
aku merogoh kantong celanaku dan lalu kusodorkan sekeping uang logam 500 rupiah.

“Ini , pak.”

Ia menoleh padaku , namun cuma tersenyum memamerkan gigi-giginya yg hitam karena nikotin.

“Terima kasih. Tapi aku bukan pengemis.”

Seketika itu juga mukaku kurasakan memerah , seperti kepiting direbus hidup-hidup.

“Maaf . . . maaf . . .”

“Gak apa-apa mas , . . .
kebanyakan orang memang sering menilai orang lain dari penampilan saja.”

Kata-kata indah itu diucapkannya dengan nada arif berhias senyum kesederhanaan.
Mukaku mungkin semakin merah padam ,
tapi rasa malu seperti terus menusuk-nusuk hatiku.
Membuat aku tak mampu berkata apa-apa ,
senyumpun rasanya hambar mengambang.

“Aku artis lho.”

Bapak yg kuperkirakan setengah baya itu kuanggap melontarkan gurauan ,
agar aku tak terbenam dalam rasa malu berkepanjangan dan suasanapun mencair.

“Artis apa , pak ?”

“Artis tandhak bêdhès , hee.hee.hee….”

Katanya sambil mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke sepeda yg tersandar di pohon , terlihat diboncengannya tergantung peralatan permainan tandhak bêdhès (topeng monyet) , dan seekor monyet yg terikat rantai duduk di sadelnya.

“Haa..haa..haa…”

Aku tertawa keras , lalu berkata.

“Tapi di sini anak-anak khan gak mungkin nanggap tandhak bêdhès , pak.”

“Iya. Aku cuma mau menengok anakku.”

“Anak bapak sekolah di sini ?”

Antara percaya dan lebih banyak tidak percayanya aku bertanya.
Bagaimana mungkin seorang bapak yg cuma artis tandhak bêdhès mampu menyekolahkan anaknya , di SMP Katolik yg terkenal di kota besar ini.
Wis tho , meski sekolahan punya misi mencerdaskan anak bangsa yg kurang mampu ,
tetep saja uang dengan bilangan 7 digit musti disiapkan , dibayarkan ,
untuk uang gedung , uang seragam , uang buku , dan lain-lainnya.

“Iya ! . . tuh lihat anak perempuan yg rambutnya panjang sepundak dan dikuncir kepang. Itu anakku , namanya Mitha , . . Pradnya Paramitha.”

“Sampeyan gak guyon tho , pak ?”

Aku malah bertambah ragu-ragu , apalagi mendengar nama yg disebutkannya ,
kayak nama-nama di jaman kerajaan Singosari , Mojopahit.

“Naaah , menilai buku dari samaknya lagi , hee..hee..hee..”

Kali ini aku bisa tertawa tanpa merasa malu.
Lalu kusodorkan kepadanya kotak rokok “Tali Jagad” yg telah kubuka tutupnya ,
ia mengambil sebatang lalu mengeluarkan koreknya.
Korek yg sudah jarang sekali kulihat orang yg mau memakainya ,
yg bahan bakarnya dari bensin dengan pemantik batu api.

“Rokok sekarang tambah mahal , ya ?”

Aku cuma mengangguk meng”iya”kan ,
rasa penasaran membuatku enggan mengomentari ucapannya.

“Gimana sih pak ceritanya , anak sampeyan koq sampe bisa sekolah di sini.”

“Ya ibunya yg ngurusi.”

Aku semakin bingung mendengar jawabannya.
Ia lalu mengajakku menyingkir dari jeruji-jeruji pagar yg membatasi murid-murid sekolahan ,
dengan para pedagang jajan , makanan dan minuman di luar area sekolah.
Aku mengikutinya , karena jam istirahat juga sudah selesai.

Kamipun duduk bersandar di pohon dekat dengan sepeda yg disandarkannya.

“Mitha , anakku itu tadi , adalah anakku dari istriku yg kedua.
Aku gak wayuh lhoo , tapi kawin dua kali , setelah istri pertamaku meninggal , tanpa anak.
Sekitaran tiga belas tahun yg lalu , aku ikut proyek ke Kalimantan ,
saat itu istriku sedang hamil tiga bulan.
Tapi rencana kerja yg cuma setengah tahun jadi gak karuan ,
karena mandornya kabur mbawa uang gaji karyawan , uang kas kantor , uang material.
Akhirnya aku luntang-lantung bekerja apa saja , asal bisa hidup.”

Ia terdiam sejenak.
Sambil menghembuskan asap rokok , ia memandang ke angkasa ,
seakan menerawang apa yg telah dialaminya waktu itu.

“Dua tahun yg lalu , akhirnya aku pulang ke Jawa , ke kampungku di Bojonegoro.
Ternyata istriku sudah kawin lagi karena aku tidak ada kabarnya dan Mitha masih bayi.
Dapet pedagang sayur dari Surabaya ,
dan sekarang mereka sudah sukses , . . enak hidupnya.
Tapi saudaranya di kampung tidak mau memberitahu alamatnya ,
karena menganggap aku tidak bertanggung jawab . . . . .”

“Sudah dua tahun aku mencari anakku dengan memilih menjadi artis tandhak bêdhès ,
agar aku bisa masuk ke lingkungan perumahan sederhana sampe yg mewah sekalipun.
Sing njaluk bakal éntuk , sing nggayuh bakal wêruh , sing luru bakal nêmu.
Kemarin aku ketemu istriku , eh . . bekas istriku ,
pas aku lewat dan anaknya yg kecil minta nanggap luna maya.”

“Luna maya ?” Tanyaku keheranan.

“Itu nama monyetku , haa..haa..haa…”

“Haa..haa..haa…, terus , pak ?”

“Istriku , eh . . bekas istriku dan suaminya mau menunjukkan anakku ,
tapi dengan syarat aku tidak boleh mengaku sebagai ayahnya.”

Dhug ! Rasa jengkel , heran bercampur haru ,
mendengar nada suara yg biasa-biasa saja ,
juga raut wajah yg tetap menunjukkan kebahagiaan.

“Aku menyetujui , karena kulihat dan kurasakan ,
suaminya memperlakukan anakku tidak ubahnya seperti anaknya sendiri.
Mereka juga jauh , . . sangat jauh lebih bisa ketimbang aku ,
dalam menyiapkan sarana untuk mencapai masa depan yg cerah buat anakku.”

“Tapi sebuah pengakuan sebagai anak , sebagai ayah ,
. . khan merupakan hal yg wajar ?”

“Iya , benar. Tapi apa itu akan membuat anakku bangga kalau tahu ,
bahwa ayah kandungnya ternyata cuma seorang artis tandhak bêdhès ?
Dengan usia mudanya , kehidupan nyamannya ,
tiba-tiba melihat dan dipaksa menerima kenyataan itu ,
secara psikologis cuma akan membuat jiwanya schock , terkejut yg sangat.
Dan itu bakal mempengaruhi secara negatif semangat hidupnya , cita-citanya.”

“Dhuuuh , bapak yg cuma artis tandhak bêdhès saja ternyata pertimbangannya matang , bahkan mampu mikir sampe ke soal pisikolobis segala.”

Aku cuma mengucapkannya dalam hati.

“Dari anak , . . seorang ibu mendapat rasa cinta ,
sedangkan seorang ayah mendapat rasa bangga , rasa hormat.
Akan membuat jiwa seorang anak bertumbuh kembang positif manakala kedua hal itu ada padanya.
Maka biar saja anakku dengan keadaan seperti saat ini ,
toh aku sudah tahu dengan pasti bahwa anakku terawat lahir dan bathin.
Kalau kelak sudah dewasa , bisa atau tidak bisa menerima kenyataan ,
itu soal nanti . . .”

Aku semakin kagum dengan buah pikirannya ,
yg meski terdengar dalam kalimat sederhana ,
selain soal piskol . . . tadi ,
tapi runtut , masuk akal dan mengandung kebaikan yg benar ,
bukan cuma kebaikan untuk diri sendiri yg sering gak benar.

“Kebanggaan se-orang tua adalah ketika anaknya berhasil menjalani kehidupannya ,
meniti tangga setapak demi setapak dengan baik dan benar.
Kebahagiaan se-orang tua adalah ketika anaknya bahagia dalam kehidupannya.
Kebanggaan , kebahagiaan , cuma bisa terasa di sini . . . . .”

Ia menunjuk dadanya yg kurus dengan jari tengahnya.

“Orang lain hanya mendengar , ikut tahu , tapi tidak bisa merasakan rasa itu.”

Aku cuma bisa manggut-manggut ,
seperti kerbau yg dicocok hidung dan diajarkan membajak sawah ,
meski setiap kali mengulangi hal yg sama ,
tapi tetap saja kulakukan kesalahan . . . yg sama !

“Aku bahagia bisa melihat anakku dari sini , kapanpun aku mau.”

Aku masih cuma bisa terdiam ,
mencoba mencerna dengan pelahan satu persatu kalimat-kalimat indahnya.

“Wis dhisik yoo , aku mau cari pisang buat luna maya , hee..hee..hee….”

Ia lalu menuju sepedanya , dan mulai mengayuh pedalnya pelahan.

“Tung . . tung . . tung . . .”

Suara tambur kecil yg dipukulnya seakan mengisyaratkan ,
ia menawarkan hiburan yg telah ada entah sejak kapan dan tak lekang oleh jaman.

Aku menuju motorku.
Sambil menstarter aku menghisap dalam-dalam rokokku.
Kepulan-kepulan asapnya yg pelahan membumbung berbaur dengan udara ,
seperti gambaran sebuah tanya yg terlintas dan tak berjawab.

“Bahagiakah anak-anakku ?
Banggakah anak-anakku padaku , bapaknya . . .
yg cuma seorang penjual bakso pentol keliling ?”
                                                                                     S.O.T.R , Juli ’10

=================================================

 – Sing njaluk bakal éntuk ,
    sing nggayuh bakal wêruh ,
    sing luru bakal nêmu =
    Yg meminta akan menerima ,
    yg menggapai akan mencapai ,
    yg mencari akan menemukan.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: