Kaca Wirangi – bagian 1 & 2

 
Kaca Wirangi – bagian 1.

Ada sebuah kerajaan yg tersohor akan keindahan tamannya.
Berpagarkan jeruji emas ,
ditumbuhi pepohonan dengan rimbun daun yg meneduhkan ,
lebih dari seratus macam bunga beraneka warna ditanam rapi berkelompok.
Juga sebuah kolam yg tepiannya terbuat dari batu hitam halus berkilau.
Sementara di sekeliling kolam yg airnya jernih , beberapa patung perunggu
dan hiasan beraneka macam yg serba emas bertahtakan batu permata.

Tak jauh dari kolam , ada tempat duduk terbuat dari batu hitam halus ,
biasanya digunakan untuk peristirahatan ,
di sekitarnya bertebaran batu permata beraneka warna.

Bila pagi hari ,
kupu-kupu berwarna putih , merah , kuning , ungu , hijau , biru dan hitam ,
yg berterbangan kesana kemari mencari madu pada bunga-bunga yg bermekaran.
Menambah semarak indahnya taman.

Suatu ketika kupu-kupu itu saling memamerkan keindahan warna sayapnya.

Kupu putih berkata kepada kupu-kupu yg lain.

“Lihatlah warna sayapku yg putih bersih , tidak seperti sayapmu yg kotor.
Sebenarnya , tidak ada warna yg melebihi kebaikan dan keindahan warna putih ,
karena putih itu bersih dan menjadi lambang yg suci.
Oleh karena itu banyak orang yg suka memakai sandangan putih.
Putih itulah yg menjadi dasar dari warna-warna lain.
Orang menulis , menggambar , membatik , pada dasar yg berwarna putih.
Rumah yg indah dan terlihat bersih berwarna putih ,
hati manusia yg baik juga dilambangkan dengan warna putih.
Karena warna yg utama adalah putih ,
maka kupu yg paling indah adalah yg berwarna putih.”

Kupu merah menyahut.

“Warna putih itu hanya berguna untuk sementara.
Hiasan-hiasan yg berwarna putih tidak membuat tampak indah.
Kalo di taman ini semua hiasan berwarna putih malah jadi pucat.
Dan warna yg tidak pucat adalah warna yg menyala dan menyolok.
Tidak usah mencari jauh-jauh , lihatlah warnaku yg merah mencorong ,
juga bunga-bunga yang ada ditaman ini , perhatikanlah yg tampak menyolok ,
seperti kembang mawar , kembang jengger ayam , kembang sepatu ,
semuanya berwarna merah menyala.
Jadi kesimpulannya kupu merahlah yg paling indah.”

Kupu kuning mendengar itupun ikut berkata.

“Putih dibandingkan dengan merah , jelas lebih menyolok merahnya ,
tapi bila dibandingkan dengan kuning , lebih elok kuningnya ,
seperti halnya emas dibandingkan dengan tembaga atau perak.
Hiasan yg terlalu banyak warna merahnya malah membosankan ,
tapi tidak demikian dengan hiasan yg berwarna kuning keemasan meskipun banyak.
Warna merah hanya disukai oleh anak-anak ,
namun kuning menjadi kesukaan orang-orang luhur ,
seperti kereta kencana , payung , bordiran kain , gamelan ,
semua terlihat indah karena berwarna kuning.”
Orang yg terlihat bagus karena kulitnya kuning , bukan putih ataupun merah.
Pendek kata , warna putih pucat , warna merah gagah tapi tidak indah ,
warna kuning tidak membosankan dan indah.”

Kupu ungu segera menyambung.

“Warna kuning masih terlihat membosankan , ketahuilah kalian semua ,
bahwa warna yg paling menyolok , tidak pucat dan tidak membosankan , adalah warna ungu.
Tandanya , permadani yg menghiasi rumah , putih pucat , merah jelek ,
kuning aneh , hijau kurang bagus ,
apalagi bila disandingkan dengan perabotan rumah ,
yg pliturannya berkilap-kilap , warna ungulah yg paling indah.
Kembang jengger ayam terlihat menyolok karena warna ungu (keungu-unguan).”

Kupu hijau memotong ucapan kupu ungu.

“Coba dengarkan.
Kalian semua tidak tahu Kehendak Gusti Allah
menciptakan dedaunan dan rerumputan dengan warna hijau ,
karena warna hijau adalah tanda kesuburan.
Kebun dan sawah terlihat asri bila hijau.
Kalau lebih bagus putih , merah atau kuning , pasti daun-daun tidaklah hijau.
Lihat saja burung merak , warnanya hijaunya menonjol , merahnya cuma sedikit.”

Kupu biru ikut berkata pula.

“Warna yang tidak membosankan adalah biru.
Lihatlah awan , langit ,gunung , air laut semua biru.
Tempat tinggal yg asri terlihat indah karena tanamannya hijau dan langitnya biru.
Hijau hanya berada di daratan ,
tapi kalau biru ada di daratan , angkasa dan lautan.
Bulu merakpun lebih terlihat biru daripada hijau.
Jadi warna biru adalah yang terbaik karena diciptakan lebih banyak dari yang lain.”

Kupu hitampun berkata.

“Mana ada warna yg melebihi banyaknya warna hitam ,
ketika malam tiba , tidak peduli didaratan , angkasa dan lautan , semua terlihat hitam.
Baju , celana sepatu terlihat gagah dengan warna hitam.
Juga rambut , kumis , jenggot , jambang semua hitam.
Tulisan dan gambar yg jelas juga memakai tinta hitam.”

———————————————————————————————————————-

    Yg dikatakan bagus atau jelek
    itu sebenarnya tergantung pada hati dan pikiran.
    Apa yg disukai , itulah yg terlihat baik , jeleknya tertutupi.
    Apa yg dibenci , itulah yg terlihat jelek , baiknya tersamarkan.

    Orang yg berwatak tidak teguh , mengutamakan diri ,
    sesaat yg sedang disukai dianggapnya sebagai yg paling baik ,
    yg paling benar.
   (Tak berapa lama waktu berlalu , akan berubah pula pandangannya)

    Ada pribahasa ,
    “wong demen ora kurang pangalembana ,
    wong gething ora kurang pamada” ,
    “orang yg suka tak sudahnya memuja ,
    orang yg benci tak henti mencaci”.

    Karena sudah dikodratkan oleh Gusti Kang Akarya Jagad ,
    bahwa pada dasarnya manusia mencintai dirinya sendiri (egois) ,
    maka tidak ada manusia yg bosan memuji dirinya sendiri ,
    membenarkan diri sendiri , dengan berbagai cara ,
    bahkan kalau perlu dengan mencela orang lain pula.
                                                                                      S.O.T.R , Maret ’08
 

=================================================

 
Kaca Wirangi – bagian 2.

Ada batu permata , warnanya putih samar-samar bernama Manik Maya ,
tergeletak ditempat peristirahatan dalam taman itu.

Mendengar pembicaraan para kupu , iapun lalu berkata.

“Hai kupu-kupu semuanya , sebenarnya semua warna kalian indah ,
yg putih , merah , kuning , ungu , hijau , biru juga hitam.
Hanya sayangnya kalian tidak bercahaya ,
seandainya memiliki cahaya , betapa indahnya kalian semua.
Coba lihatlah aku , warna putihku tidaklah secerah merah , atau segagah hitam ,
namun karena aku memiliki cahaya , warna putihku tampak memancarkan cahaya.
Manusia sekalipun , walau tampan atau cantik , badan bagus , berpakaian indah ,
tapi bila tidak memiliki pancaran cahaya dari dalam ,
tidak berbudi luhur , tidak berwibawa , tidaklah berarti apa-apa.
Meskipun orang yg buruk rupa , badan kurus kering , bila luhur budinya ,
bersungguh-sungguh mencari keutamaan bathin , akan banyaklah orang yg asih dan segan ,
karena memancarkan cahaya yg wingit , tajam , yaitu pancaran cahaya budi yg wening.

Disitu ada pula batu permata merah bernama Agni Maya ,
memamerkan cahayanya yg merah menyala seperti bara api.

Ada pula batu permata kuning bernama Mirah Dalima ,
memamerkan cahayanya yang kuning berkilauan.

Juga batu permata ungu bernama permata Manik Puspa Raga ,
permata hijau bernama Tinjo Maya , permata biru bernama Nila Pakaja,
dan permata hitam bernama Musthika Bumi.
Semuanya memamerkan keindahan cahayanya.

Semua kupu-kupu terdiam ,
karena merasa terlihat kusam bila dibandingkan batu permata.
Karena kupu hanya memiliki warna tapi tidak memiliki cahaya.

———————————————————————————————————————-

    Banyak orang yang lebih mengutamakan menurutkan kesenangan ,
    mengejar kekayaan , harta benda , kemewahan , kedudukan ,
    kekuatan raga (semua yg bersifat lahiriah) ,
    daripada mengolah rasa , menggapai weningnya pikir , keluhuran budi ,
    selalu ingat (eling) pada Yang Maha Kuasa (yg bersifat bathiniah).

    Warna putih , merah , kuning , ungu dan sebagainya ,
    adalah ibarat sifat (watak) manusia (hawanya disebut : nafsu) ,
    sedangkan cahaya adalah ibarat terangnya budi (bathin).

———————————————————————————————————————-

    Cahya lan warna kang kasebut ing dongeng iki
    sejatine mung kanggo ngibaratake :
    cahya lan warna kagunganing Dhat kang wujud ,
    kang gumadhuh (kaparingake) ana ing manungsa.

    Wujude cahya iku : budi.
    Awit budi iku wujud pepadhang kang sumorot saka gaib ,
    madhangi (nyoroti) kabeh nyawa saka wiwitan nganti pungkasan.

    Dene wujuding warna , yaiku : rahsa (hawane karan : nafsu).
    Awit rahsa iku dayane mahanani sifating cahya warna-warna :
    putih , abang , kuning , ijo , lan sapanunggalane.

    Rahsa iku ya wujud nyawa , hawane marakake manungsa asring duwe rasa :
    bungah , susah , dhemen , gething , jahil , drengki , kumingsun , gumun ,
    getun , wedi , uwas , sumelang , welas asih , loma lan sapanunggalane.

    Cekake marakake manungsa duwe wewatekan dhewe-dhewe ,
    ala utawa becik (ing basa Jawa lumrahe mung karan : pangrasa utawa ati).

    Hawaning rahsa kang sumebar jenenge nafsu ,
    iku kena kaumpamakake kukus ,
    awit nafsu iku iku dayane memetengi utawa gawe butheking cahya.

    Sireping nafsu utawa rahsa : manawa mligi nglumpuk ana ing Rasa ,
    sipate ora putih , ora abang , ora ijo , lan sapanunggalane ,
    lire : ora bungah , susah , kepengin , dhemen , gething , lan sapiturute ,
    kang ana mung : tentrem.
                                                                                     S.O.T.R , Maret ’08
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: