Kaca Wirangi – bagian 3 & 4

 
Kaca Wirangi – bagian 3.

Lalu berlian yg sedari tadi mendengarkan ucapan kupu dan batu permata berkata.

“Nah , sekarang kalian semua sudah mengerti ,
kalau bersinarnya wujud adalah karena daya cahaya ,
artinya warna merah , hijau , ungu dan sebagainya ,
bila tidak memiliki cahaya akan nampak kusam.
Walau tanpa warna ,
bila memiliki cahaya tidak akan terlewatkan oleh pandangan mata,
karena cahaya yg memancar itu mampu menyilaukan mata.
Terbukti bahwa cahaya adalah nyawa bagi warna.
Seperti halnya Manikmaya , meski hanya berwarna putih namun karena bercahaya , jadi lebih berharga.
Demikian pula dengan Geni Yara dan lainnya.”

“Sekarang aku akan bertanya :
“Manakah yg akan kalian pilih ,
memiliki warna dengan cahaya yg biasa-biasa saja ,
atau tidak memiliki warna hanya cahaya saja ,
tapi cahayanya memancar melebihi semua yg berwarna ?”

Berlian kemudian melanjutkan karena semua masih belum memahami.

“Aku lebih memilih tidak memiliki warna tapi memiliki cahaya yg utama.
Aku tidak terlalu mementingan warna , yg kugapai adalah cahaya.
Sebab walaupun tidak memiliki warna tapi bila dianugrahi cahaya utama ,
bisa menampakkan/memancarkan aneka warna karena beningnya cahaya itu.”

“Lihatlah aku , aku tidak tidak memiliki warna , tidak putih , tidak merah ,
tidak ungu , tidak hijau , tidak kuning , tidak biru , tidak pula hitam.
Namun karena warnaku melebihi warna batu permata ,
meski tanpa warna ,
saat aku memancarkan warna merah tidak kalah dengan Geni Yara ,
ketika memancarkan warna biru tidak kalah dengan Nila Pakaja , dan seterusnya.
Seakan-akan aku memuat semua warna yang ada pada batu permata ,
karena aku tidak memiliki warna tapi memiliki cahaya utama”

“Seandainya aku memiliki cahaya utama tapi masih memiliki warna ,
tidaklah mungkin bisa memancarkan aneka warna.
Meski tanpa warna namun bila cahayaku tidak utama ,
aku juga tidaklah mampu memancarkan aneka warna.
Jadi yg terbaik adalah ,
‘Tidak memiliki warna , tapi memiliki cahaya utama’“.

———————————————————————————————————————-

    Cahaya adalah ibarat budi.
    Warna adalah ibarat watak atau sifat (rahsa).
    Berlian adalah penggambaran dari :
    budi yg lebih bersinar tapi tidak menonjolkan ke’aku’annya ,
    bisa menundukkan kemauannya , tidak pilih kasih ataupun berat sebelah.

    Seorang manusia dalam upaya menggapai keluhuran (keutamaan) ,
    belum cukup meski sudah -merasa- bisa melepaskan diri
    dari nafsu keduniawian(kesenangan raga , kekayaan , kedudukan , dll) ,
    berbuat kebaikan (sebagai perwujudan budi luhur) ,
    senantiasa “eling” pada Yang Maha Kuasa ,
    namun juga musti bisa “tidak memiliki watak”.

    Maksud dari “tidak memiliki watak” adalah ,
    bisa menerima dan menampung (momot) berbagai keadaan dan kondisi ,
    bahkan yg bertolak belakang dengan apa yg disukai dan diyakini.
    Pada kebanyakan orang , menyukai ‘ini’ dengan membenci ‘itu’ ,
    Suka ria ketika dalam keadaan senang , namun berkeluh-kesah ketika susah ,
    hanya menyukai kebaikan namun sangat membenci kejelekan ,
    menerima yg benar namun menolak (tidak menerima keberadaan) yg salah ,
    (menganggap bahwa apa yg diyakininya benar adalah paling benar ,
    yg tidak sama dengan keyakinannya harus disingkirkan , dimusnahkan).
                                                                                     S.O.T.R , Maret ’08
 

=================================================

 
Kaca Wirangi – bagian 4.

Semua batu permata merasa kalah dibandingkan dengan berlian , lebih-lebih kupu-kupu.
Kemudian sepakat untuk mengangkat berlian menjadi raja ,
sebab berlian memiliki wujud yg paling unggul diantara mereka.

Berlian yg hendak diangkat menjadi raja , lalu berkata.

“Kalian semua hendak mengangkat aku menjadi raja ,
karena aku memiliki cahaya yg paling utama dan tanpa warna.
Keutamaan cahayaku membuat wujudku gemerlap.
Ketiadaan warna yg menyebabkan mampu menampung banyak warna.
Semua dasar (alasan) itu benar , namun sebenarnya aku ini belum sempurna ,
masih ada wujud lain yg memiliki cahaya melebihi aku ,
mampu menampung (memuat) warna lebih sempurna dari pada aku.
Bukan hanya itu , ia mampu menampung warna dan juga wujud (bentuk).
Contohnya , ia tidak hanya bisa hijau , merah ,
tapi juga bisa berwujud seperti batu , seperti kupu ,
seperti permata , berlian , seperti matahari , seperti orang ,
pendek kata , bisa seperti bentuk-bentuk yg ada di jagad raya ini.
Apakah kalian tahu nama wewujudan yg seperti itu ?”

Kupu-kupu dan semua permata hanya terdiam.

“Yaitulah yg disebut : Kaca Benggala Ageng (Kaca Cermin besar).”

Kupu-kupu dan semua permata keheranan
dan ingin mengetahui seperti apakah wujud kaca benggala.

Ada batu yg ingin bisa menggambarkan wujud dari kaca benggala ,
lalu bertanya kepada berlian.

“Wujud kaca benggala itu seperti apa ?
Apakah memang seperti wujud suatu benda atau berbeda (tak memiliki bentuk) ?
Apa bisa disebut bening seperti air ?”

Berlian lalu menjawab.

“Kalau dikatakan seperti bentuk (wujud) sebuah benda ,
memang benar , namun tidak benar-benar tepat.
Karena kaca benggala memang bisa seperti wujud batu ,
seperti kupu-kupu , seperti permata , seperti berlian dan seterusnya.
Maksud dari kalimat ‘tidak benar-benar tepat’ , begini :
batu itu kusam , tapi kaca benggala tidak kusam.
Batu keras menggumpal dan jelek ,
tapi kaca benggala tidak bisa dikatakan keras menggumpal dan jelek.
Arang hitam , tapi kaca benggala tidak hitam.
Mirah dalima kuning dan kecil , tapi kaca benggala tidak kuning dan kecil.
Pendek kata , semua berbeda dengan kaca benggala ,
tapi seperti tadi kukatakan : seperti bentuk benda.
Kalaupun dikatakan : bening , itu benar , tapi juga masih kurang tepat benar.
Sebab makna bening itu seperti air yg berada di dalam gelas.
Air memang bening , tapi bening yg hampa (suwung) ,
berbeda dengan beningnya kaca benggala : bening yg menguasai wujud ,
sebab cahayanya menjadi satu dengan rasa ,
ya rasa itulah yg tanpa warna , tapi tidak hampa.
Si cahaya menjadi cahayanya rasa , si rasa menjadi tempat (wadhah) dari cahaya.”

“Maka disebut tidak mempunyai warna tidak mempunyai wujud ,
sebab andaikan dicari warna wujudnya , tidak akan ketemu.”

“Keadaan seperti itu dapat dikatakan :
ada di dalam hampa (suwung amengku ana).
Atau , tidak baik tidak jelek , tapi memuat baik dan jelek.
Entahlah , apa nama bentuk wujud yg seperti itu . . .
Sebaiknya mari kita sama-sama menyatakannya.”

Batu , para kupu dan permata , kemudian bersama-sama menuju ke tempat kaca benggala.

Batu menghadap yg pertama kali , lalu berkata.

“Sang Kaca Benggala ,
saya menghadap hendak menghambakan diri kepada tuan ,
sebab konon tuan memiliki wujud yg paling utama sejagad.
Namun ijinkanlah saya terlebih dahulu melihat wujud tuan.”

Kaca benggala menjawab.

“Iya , lebih baik mendekatlah kemari untuk melihat wujudku ,
wujudku sama dengan wujudmu.”

Saat Batu berada di depan kaca benggala ,
amat heranlah melihat bahwa kaca benggala memang sama persis dengan batu.
Batu kemudian mohon pamit mundur.

Demikian juga arang , kupu-kupu dan batu permata ,
mereka heran bahwa kaca benggala ternyata hanyalah sama dengan mereka.

Mereka semua lalu kembali ke tempat keberadaan mereka semula.

Kupu-kupu lalu membicarakan kejadian tadi.

“Kabarnya kaca benggala itu utama dalam wujud ,
ternyata hanya sama dengan kupu ,
tidak mempunyai cahaya seperti batu permata , masih lebih bagus permata.
Apalagi kalau diperbandingkan dengan berlian , jauh lebih bagus berlian ,
sebab kaca benggala tidak punya cahaya , tidak berkelip-kelip.”

Batu dan arang menyahut.

“Kaca benggala wujudnya kusam dan hitam seperti wujudku.
Karena wujudku jelek , kaca benggala persis seperti aku ,
maka kaca benggala ya jelek dan hitam.”

Berlian lalu menjelaskan pada kupu , arang , batu dan permata.

“Ketahuilah oleh kalian semua ,
kaca benggala itu meskipun utama (unggul) dalam wujud ,
tidak mau memamerkan wujudnya ,
tidak mau membandingkan dirinya dengan yg lain ,
seperti kupu yg saling menggunggulkan ,
lalu mencari berbagai alasan untuk membenarkan pendapatnya , memuji diri sendiri.
Sudah menjadi hal yg wajar , yg belum sempurna mencari perbandingan diri ,
namun tidak demikian dengan yg sudah sempurna.”

“Kupu putih memamerkan warna putihnya ,
kupu merah menceritakan indah merahnya ,
permata memamerkan cahayanya , berlian (aku) memamerkan kerlip cahaya ,
bahkan batu juga pamer , yaitu memamerkan kejelekannya.
Baik ataupun jelek , kalau ditunjuk-tunjukkan , iya tetep saja namanya : pamer.”

“Itu semua sebab belum sempurna.
Kebanyakan tidak mau disebut jelek , minta disebut baik , berharap dipuji.
Tapi kaca benggala tidak minta disebut baik ,
juga tidak mempunyai niatan supaya disebut jelek seperti batu dan arang.
Kaca benggala menerima disebut seperti yg menyebut.
Menerima disebut jelek seperti batu dan arang ,
tapi disebut berkelip-kelip seperti berlian juga tidak menolak.
Namun jangan salah menyangka ,
menerima disebut jelek bukan karena mengharapkan atau meminta ,
serta menerima disebut baik bukan karena memamerkan diri atau suka dipuji.
Jadi mau menerima-nya adalah karena kebesaran hati (legawa)
dan memuat (menerima keberadaan) sebanyaknya wujud.”

“Nah , sekarang batu dan arang bisa mengetahui ,
kalau kusam yg ada di kaca benggala itu bukan karena kusamnya kaca benggala ,
sebenarnya karena sedemikian beningnya.
Kelihatan hitam juga bukan karena hitamnya kaca benggala ,
malah karena bening yg tak terkira , sampai batu dan arang tidak mengira.
Coba pikirlah , seandainya kaca benggala itu hanya kusam dan hitam saja ,
bagaimana bisa menampakkan wujud.”

Setelah mendengar penjelasan berlian , kupu , batu dan arang merasa ,
kemudian percaya bahwa kusam yg nampak di kaca benggala ,
itu adalah kusamnya sendiri , bukan kusamnya kaca benggala.
Sebab kaca benggala juga bisa berkerlap-kerlip seperti berlian ,
bisa bercahaya hijau seperti permata Tinjo Maya.

———————————————————————————————————————-

    Keberadaan kaca benggala itu
    ibarat watak (pribadi) manusia yg sudah sempurna ,
    yaitu manusia yang sudah tidak lagi mementingkan wujud lahiriah.
    Manusia seperti itu : lupa terhadap diri ,
    artinya , sudah tidak punya niat menunjukkan keberadaan dirinya ,
    ataupun membandingkan kebesaran diri.
    Tidak lagi merasa sombong , senang , iri , susah , dan berbagai sifat lain.
    Sebab hawa nafsunya sudah padam dan budinya sudah bercahaya terang ,
    ke-ada-an dirinya sudah tidak lagi dirasakan ,
    membuat bisa memuat (mewadhahi) berbagai watak.
    Tujuan akhir hidupnya hanyalah untuk keselamatan yg lain ,
    (mamayu hayuning bawana)
    serta berupaya untuk membuat senang perasaan sesama
    (karyenak tyasing sasami).

    Orang yg seperti itu dengan senang hati disebut rendah (buruk) ,
    meski demikian juga tidak menolak disebut luhur ,
    serta kerelaan dan senang hatinya tidaklah dipamerkan.
    Hatinya tidak mempunyai rasa suka terhadap sesuatu ,
    yg membuat tidak lagi memihak pada salah satu dari yg lain.
    Tidak menyukai yg baik dan benar dengan membenci yg jelek dan salah.
    Tidak pula menyukai yg jelek dan salah dengan membenci yg baik dan benar.

    Meskipun manusia utama (pinunjul) , bila masih suka membandingkan diri ,
    atau mempunyai rasa suka dalam hati serta mempunyai rasa benci ,
    belumlah sempurna.
    Cahayanya masih dipengaruhi (diarahkan) oleh hawa nafsunya ,
    masih tunduk pada sifat angkaranya.

    Ada sebagian orang yg tidak minta disebut baik , tapi minta disebut jelek ,
    yg seperti itu juga masih tergolong orang yg menunjukkan kebaikan sifatnya ,
    jadi masih mengutamakan diri.
    Sebab bila disebut baik , pasti akan tidak senang hatinya.

    Ada pula manusia yg menerima disebut seperti yg menyebut ,
    disebut baik ataupun jelek.
    Namun menerimanya ditunjuk-tunjukkan , dipamerkan.
    Yg seperti itu juga belumlah sempurna ,
    masih mempunyai harap yg bersifat pujian.

    Sanajan kasampurnan iku mengku becik lan ala ,
   nanging dalane mung becik thok-thok , ora kena diwori ala.
   Meskipun kesempurnaan itu bisa memuat baik dan buruk ,
   tapi jalan -menuju ke kesempurnaan- hanyalah kebaikan saja ,
   tidak bisa dicampuri dengan keburukan.

                                                                                  S.O.T.R , November ’12
 

=================================================

Dipetik dan diterjemahkan dari “Serat Kaca Wirangi”.
“Serat Kaca Wirangi” diterbitkan pertama kali tahun 1922
oleh Toko Buku Tan Khoen Swie , Kediri , dalam bahasa dan huruf Jawa.

Kaca Wirangi artinya cermin ,
maksudnya agar bisa menjadi cermin bagi yg membaca
dan mencoba memetik pelajaran yg terkandung di dalamnya.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: