Sukasrana , Sang Buta Bajang

 
Sukasrana dan Sumantri adalah putra Maharesi Suwandagni di padhepokan Ardi Sekar.
Namun , meskipun mereka saudara satu ayah dan ibu , sama-sama laki-laki ,
perbedaan wajah dan wujud raga bagaikan bumi dan langit.

Sumantri tampan rupawan , sakti mandraguna , cerdas dan pintar ,
mahir dalam bab olah senjata , memiliki banyak aji jaya-kawijayan.
Bahkan karena kesungguhannya bertapa ,
Sumantri mendapat senjata dari dewa , berwujud Cakra.

Sukasrana , wajah dan wujudnya lebih dari sekedar mengecewakan.
Kulitnya hitam seperti tinta , berkerut-kerut keriput seperti jeruk purut ,
gigi-giginya runcing seperti duri daun pandan ,
taringnya berbisa , hidungnya besar seperti terong , pundaknya menonjol ,
jalannya timpang , punggung bungkuk , . . . . .
mungkin semua yg jelek berkumpul pada raga Sukasrana.

Karena Maharesi Suwandagni merasa malu ,
ketika baru lahir Sukasrana dibuang di hutan yg gawat keliwat-liwat ,
bebasan jalma mara mati , sato mara mati.
(ibaratnya , manusia ataupun binatang yg memasuki hutan itu pasti mati)
Tapi Sukasrana tidak mati , meski sendirian.
Hingga dewasapun wujudnya tetap kecil dan mirip raksasa ,
maka Sukasrana sinebut buta bajang (disebut raksasa kerdil).

Dibuang kedalam hutan yg wingit (angker) itu ternyata malah menjadi tapa brata ,
yg membuat Sukasrana mempunyai “kelebihan” luar biasa.
Sakti mandraguna , bisa terbang ke angkasa ,
penciumannya sangatlah tajam , taringnya yg ampuhnya melebihi bisa ular naga.
Karena itulah , semua makhluk halus seisi hutan menjadi hamba sang Sukasrana.

Sukasrana amat mencintai kakaknya , Sumantri.
Kalau kangen , ia mendatangi padhepokan ayahnya pada malam hari ,
dan pulang sebelum fajar menyingsing.
Sehingga tidak ada orang lain yg mengetahuinya.
Ia melakukan itu karena menyadari keburukan wajah dan wujudnya.
Ia tidak mau membuat ayah dan kakaknya malu.

Kocap kacarita ,
Sumantri telah mengabdi pada Prabu Arjunasasrabahu di kerajaan Mahespati ,
dan diangkat sebagai patih.
Oleh Prabu Arjunasasrabahu ia diberi tugas untuk melamar Dewi Citrawati ,
putri Prabu Citragada di kerajaan Magada.
Sumantri berhasil melaksanakan tugas itu ,
sekaligus mengalahkan Prabu Darmawasesa dari kerajaan Widarba
yg juga melamar sang putri.

Namun Sumantri membuat kesalahan dengan mencoba kedigdayaan Prabu Arjunasasrabahu , sebelum menyerahkan sang Putri dewi Citrawati.
Sumantri kalah ,
setelah Prabu Arjunasasrabahu tiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung ,
karena sang Prabu adalah titisan Bathara Wisnu.

Prabu Arjunasasrabahu masih mau menerima pengabdian Sumantri dengan syarat ,
Sumantri bisa membawa turun Taman Sriwedari milik Bathara Wisnu ,
yg berada di Wukir Untara di kahyangan Utarasagara.

Dengan perasaan malu , sedih dan kecewa ,
Sumantri pergi dari Mahespati dan masuk kedalam hutan.
Ia bertekad tidak akan pulang ke Padhepokan ayahnya ,
lebih baik mati di tengah hutan.
Karena merasa tidak mungkin bisa melaksanakan titah sang Prabu.

Sukasrana yg merasa sangat rindu pada kakaknya , pergi ke Padhepokan ayahnya.
Ketika tak dijumpainya sang kakak , ia menanyakannya kepada ayahnya ,
dan diberitahu bahwa kakaknya pergi ke kerajaan Mahespati ,
untuk suwita (mengabdi) pada Prabu Arjunasasrabahu.

Sukrasana hendak menyusul Sumantri ke Mahespati ,
namun ketika perjalanannya melewati hutan ,
ia mencium bau manusia yg ternyata adalah kakaknya.
Setelah saling melepaskan rindu , Sumantri menceritakan apa yg sudah dialaminya.
Sukasrana menyatakan sanggup membantu memindahkan Taman Sriwedari ,
dengan permintaan ia bisa berkumpul terus dengan sang kakak ,
karena merasa tak sanggup berpisah lama dengan saudara yg dicintainya.

Sumantri menyanggupi permintaan adiknya.
Singkat cerita , dengan kesaktiannya ,
Sukasrana berhasil memindahkan Taman Sriwedari ke kerajaan Mahespati.

Prabu Arjunasasrabahu yg telah mendapat laporan ada “taman tiban” ,
hendak memeriksa dengan diiringi permaisuri dan para selir.

Sumantri yg mengetahui bahwa sang Prabu sedang menuju Taman Sriwedari ,
bermaksud menyuruh Sukasrana pergi.

“Adhiku Sukasrana ,
sang Prabu bersama rombongannya sedang menuju ke Taman ini ,
sebaiknya adhi pergilah dulu ke hutan kediamanmu.
Nanti kalau sang Prabu sudah menerima kembali pengabdianku ,
aku kan menjemputmu atau mengirim utusan untuk menjemputmu.
Aku kuwatir kalau sang Prabu tidak mau menerimaku ,
karena aku punya saudara buta bajang.”

“Kakang Sumantri , janjimu belum dilewati hari , mustahil kakang lupa.
Apakah sebenarnya kakang bermaksud mengingkari ?
Kalau kakang malu mengakui sebagai saudara , karena aku ala tanpa rupa ,
akukan saja aku sebagai hambamu , pembantumu , atau apa saja ,
asalkan aku tetap bisa bersamamu.”

Karena Sukasrana tetap tidak mau pergi , meski dibujuk berkali-kali ,
Sumantri kemudian mengeluarkan senjata Cakra.
Sumantri menakut-nakuti dengan senjata Cakra yg siap dilepaskan dari busur ,
dengan harapan Sukasrana takut dan mau pergi.

“Kakang Sumantri , mari hujamkanlah senjatamu ,
daripada aku dipaksa pergi lebih baik aku mati oleh senjata Cakra.
Aku merasa tidak bisa hidup lebih lama bila harus berpisah denganmu.”

Karena mengira sang Prabu sudah semakin dekat ,
Sumantri gugup , senjata Cakra mrucut (terlepas) dan mengenai leher Sukasrana ,
yg seketika itu juga putus ,
kepalanya jatuh ke bumi bersamaan dengan robohnya tubuh kerdilnya.

Sumantri yg tersadar berlari bergegas menghampiri jasad dan kepala adiknya ,
hendak memeluk . . namun jasad dan kepala Sukasrana tiba-tiba musnah.
 

Sang Dhalangpun melantunkan Sêndon Tlutur . . . . . . .

Surêm surêm diwangkara kingkin ,
lir manguswa kang layon . . . . . . .
(gelap gulita sang surya bersedih)
(seakan hendak mencium jasad itu)
                                                                                  S.O.T.R , September ’10
 

=================================================
 

Sukasrana , Sang Buta Bajang (Secuil Ulasan)
 

Nama Sumantri dan Sukasrana tidak ditemui dalam kitab-kitab Hindu ,
hanya terdapat dalam perpustakaan Jawa , jagad Paringgitan.

Seperti halnya lakon-lakon dalam pertunjukan wayang ,
cerita Sumantri dan Sukasrana ngemot pitutur luhur (mengandung ajaran mulia).

Hidup Sukasrana memang hanyalah sa’gebyaran tat-tit (sekerlipan bintang jatuh) ,
Namun , sekalipun dibuang ke hutan ,
mendewasa dan berkumpul dengan segala macam makhlus halus
dalam artian yg bersifat buruk ,
tidak menjadikannya memiliki sifat-sifat buruk ,
ia tetap memiliki kasih sayang , tetap mencintai kakaknya.
Ia pun menyadari wujudnya ,
sehingga berhati-hati saat ingin sowan ke padhepokan ,
memilih waktu dimana tak ada orang yg akan mengetahui.
Eling-eling trahing atapa (mengingat bahwa keturunan pertapa ,
-orang yg menjauhkan diri dari nafsu dan angkara-)
sifat-sifat baik yg diturunkan tidaklah musnah begitu saja.

Karena cinta dan keinginannya untuk bisa hidup berkumpul dengan kakaknya ,
Sukasrana mau membantu melepaskan kesulitan yg menimpa kakaknya.
Namun Sumantri malu untuk mengakui Sukasrana sebagai adiknya ,
malu karena Sukasrana tidak berwujud sebagaimana dirinya , manusia lumrah.
Bahkan ia menakut-nakuti dengan senjata Cakra dan “membunuh”nya.

Pada reinkarnasi berikutnya ,
Sukasrana menitis pada Resi Bagaspati yg berwujud raksasa
dan mempunyai anak seorang putri yg cantik jelita , Dewi Pujawati.
Sumantri menitis pada Narasoma (Prabu Salya) ,
yg dimimpikan oleh Dewi Pujawati.
Narasoma semula menolak permintaan sang Resi Bagaspati
karena mengira anak raksasa pasti juga berwujud raksasa ,
namun setelah melihat sang dewi yg ternyata berwujud manusia ,
dan memiliki kecantikan luar biasa , karena ibunya adalah widadari ,
Narasoma mau menikah dengan Dewi Pujawati
tapi tidak mau mempunyai mertua raksasa.
Demi kebahagiaan anaknya , Resi Bagaspati merelakan nyawanya.

Sumantri dan titisannya menolak untuk hidup berdampingan
dengan orang yg mengasihi dan mencintainya , namun berwujud raksasa

Rupanya , meski seseorang sinung daya linuwih (mempunyai kelebihan) ,
tetap saja mata hatinya tidak mampu membaca hati yg lain ,
masih terpikat oleh selubung lahiriah , kerupawanan , kemolekan , harta , benda.

Sumantri yg bakal sinengkakake ing aluhur oleh Prabu Arjunasasrabahu ,
(diangkat dan diberi drajad/kedudukan yg tinggi)
lupa bahwa itu mungkin terjadi hanyalah berkat bantuan adiknya , Sukasrana.
Sumantri menganggap Sukasrana tidak layak untuk ngemping kamukten
(sekedar mencicipi kemuliaan) , hingga tega mengusir adiknya ,
bahkan ngagag-agagi (menakut-nakuti) dengan senjata Cakra.
Dengan mengeluarkan senjata yg ampuh ,
berarti Sumantri sudah “siap” membunuh ,
bila apa yg dimauinya tidak dituruti oleh Sukasrana.
Untuk prajurit sekelas Sumantri yg diangkat sebagai patih ,
senjata Cakra yg “mrucut” (tidak sengaja terlepas) adalah tidak masuk akal.

Ini perlambang , agar seseorang yg telah berhasil ,
janganlah melupakan orang kecil yg telah membantunya ,
apalagi malah mengancam , mengusir , bahkan menyengsarakannya.

Kesaktian seperti halnya juga kekuasaan ,
hendaknya tidak dibuat main-main.

                                                                                  S.O.T.R , September ’10
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: