Sejarah Natal – Bag. 02 (Selesai)

 
Epifani.
Di dunia Kristen belahan Timur , jauh sebelum peristiwa di atas terjadi ,
sudah ada Gereja yang merayakan Pesta Penampakan Tuhan (Epifani) setiap tanggal 4 Januari.
Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifani ,
ialah munculnya Yesus – sebagai Anak Allah – pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan.
Gereja sebagai keseluruhan (Eropa) bukan saja menganggap baptisan Yesus sebagai epifani ,
tetapi terutama kelahiran-Nya di dunia.
Sesuai dengan anggapan ini , Gereja – pada permulaan abad ke-IV –
merayakan pesta Epifani pada tanggal 6 Januari ,
sebagai pesta kelahiran dan pesta baptisan Yesus.

Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam
(menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah ,
yang terdiri dari Pembacaan Alkitab & puji-pujian (nyanyian).
Ephraim dari Syria menganggap Epifani sebagai pesta yang paling indah.
Ia katakan :

“Malam perayaan Epifani ,
adalah malam yang membawa damai sejahtera dalam dunia.
Siapakah yang mau tidur pada malam , dimana seluruh dunia berjaga-jaga?”

Pada malam perayaan Epifani semua gedung Gereja dihiasi dengan karangan bunga.
Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di gua Betlehem ,
di mana (menurut kepercayaan orang) Yesus dilahirkan .

Perayaan Epifani sendiri ,
yang jatuh pada tanggal 5-6 Januari itu , tidak muncul begitu saja ,
tetapi ada ikatan dengan kebiasaan yang berkembang di dunia timur waktu itu.
Ada catatan para ahli sejarah bahwa sejak tahun 1996 SM ,
bangsa Mesir sudah mengenal kalender matahari.
Menurut kalender itu , puncak ketinggian matahari jatuh pada tanggal 6 Januari.
Tetapi pada zaman Alexandria tahun 331 SM ada koreksi terhadap kalender itu ,
karena ditemukan adanya ketidaktelitian penghitungan.
Puncak ketinggian matahari bukan jatuh pada tanggal 6 Januari ,
melainkan tanggal 25 Desember.
Rupanya baik festival Natal 25 Desember maupun Epifani ,
keduanya berkaitan erat dengan titik balik matahari.

Awalnya keduanya bukan budaya Kristiani ,
tetapi diambil alih dan diberi makna baru yang sesuai dengan nilai-nilai kristiani.
Konsili Nicea yang berlangsung tahun 325 M dengan kuat menggarisbawahi ,
bahwa Yesus sejak lahir-Nya adalah Anak Allah.
Hal ini mendorong Gereja untuk merayakan hari ulang tahun (dies natalis) Yesus ,
sebagai suatu pesta tersendiri , lepas dari pesta Baptisan-Nya.
Untuk itu Gereja membaptis pesta kafir dewa matahari menjadi Pesta Kristen ,
yakni Pesta Natal Yesus Kristus Sang Terang Dunia.

Pesta kafir dewa matahari lama sekali masih berpengaruh dalam praktik umat ,
yang belum menyadari sepenuhnya iman Kristen.
Bahwa pengaruh ini masih ada hingga abad V
bisa kita simak dari tindakan Paus Leo (thn 440-461)
yang harus menasihatkan orang-orang Kristen pada waktu itu ,
supaya mereka jangan merayakan pesta dewa matahari , tetapi Natal Yesus Kristus.
 

Dari Epifani 6 Januari ke Natal 25 Desember.
Rupanya tradisi Natal (Epifani) sudah ada terlebih dahulu di Gereja Timur ,
yang kemudian mengilhami Gereja Barat (Roma).
Gereja Barat semula juga merayakan Epifani tanggal 5-6 Januari ,
tetapi kemudian dipindah menjadi 25 Desember.
Pergeseran ini sudah terjadi
sebelum dikukuhkan secara resmi pada tahun 336 M di Roma.

Setelah penetapan ini , Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember
terus menyebar ke seluruh dunia kekristenan.
Tercatat bahwa di Antiokhia , Perayaan Natal sudah dilakukan pada tahun 375 M
dan di Konstantinopel tahun 380.
Tahun 430 M Perayaan Natal juga mulai dirayakan di Alexandria (Mesir)
dan berlanjut ke tempat-tempat lain dimana kekristenan sudah menanamkan akarnya.

Masa Natal sebagaimana kita kenal sekarang merentang ,
dari tanggal 25 Desember sampai tanggal 6 januari.
Sejak Konsili Vatikan II ,
Epifani dapat dirayakan hari Minggu yang jatuh sebelum tanggal 6 Januari.

 
Natal yang Semakin Meriah dan Meninggalkan Maknanya.
Sekarang Natal sudah bukan lagi dirayakan hanya oleh orang beriman kristiani.
Natal telah mendunia , dikenal seantero jagad.
Kesan yang kuat bila orang bicara mengenai Natal adalah lagu-lagu yang merdu ,
liturgi yang indah, pesta-pesta yang meriah ,
tokoh legendaris Sinterklas dengan kereta rusanya sambil bagi-bagi hadiah ,
Piet Hitam , lilin-lilin , pohon natal ,
salju berupa kapas , kandang atau gua Natal , dll.

Apakah sejak awal dirayakan semua kesan Natal yang sekarang kita gambarkan sudah ada ?
Tahun 336 adalah awal tahun liturgi yang terus berkembang ,
sampai seperti yang sekarang kita kenal.
Ada sekian banyak genrasi dan berbagai pelosok dunia ,
yang memberikan sumbangan ide terhadap aksesoris perayaan Natal ,
dari berbagai sumber dan atas dasar perenungan mereka mengenai Natal.
Misalnya saja , Palungan Natal baru dimulai dan diperkenalkan
oleh St. Fransiskus Asisi dan para pengikutnya tahun 1223 M.

 
SinterklasAsal Usul Pohon Natal & Sinterklas.
Jika kita mencari kata Pohon Natal , Sinterklas di dalam Alkitab ,
maka kita tidak akan menemukannya.
Pohon Natal diambil atau diadopsi
dari kebudayaan Jerman untuk kepentingan iman Kristen.
Menurut tradisi , St. Bonifasius (thn 680) adalah rasul bangsa Jerman.
Ia mengganti pohon Eik yang dikurbankan untuk “Odin” dengan pohon Den ,
yang dipersembahkan untuk menghormati kanak-kanak Yesus.
Pohon terang itu menjadi lambang hidup abadi.
Pohon terang menjadi lambang kehadiran Yesus sendiri ,
yang menawarkan hidup abadi kepada bangsa-bangsa.

Ada satu tradisi yang berasal dari Inggris ,
yakni berkunjung dari rumah ke rumah dengan lilin bernyala ,
sambil menyanyikan lagu-lagu Natal (Christmas Carol).

Kartu Natal baru dimulai tahun 1846M.
Tokoh legenda Sinterklas (berasal dari nama Santo Nikolas , Uskup Myra abad ke-IV) adalah seorang tokoh yang membawa kegembiraan baru , popular di New York abad 19.

Dari pembahasan ini semua ,
kita tahu bahwa kesan Natal yang sekarang kita miliki ,
tidak serta merta ada sejak zaman Yesus ,
tetapi itu merupakan kristalisasi dari suatu proses tradisi ,
yang panjang dari berabad-abad yang lalu.

Kini Natal tidaklagi sekedar perayaan iman dalam liturgi Gereja ,
tetapi telah menjadi pesta dunia.
Natal seringkali menjadi kesempatan yang baik
bagi keluarga-keluarga untuk berkumpul , berbagi hadiah , dan makan bersama.

Di kota-kota besar Natal disambut dengan hiasan-hiasan yang menakjubkan ,
persiapan-persiapan pesta besar ,
tak jarang juga discount untuk produk tertentu digelar demi tujuan tertentu pula.

Natal juga telah menjadi kesempatan untuk mengembangkan jaringan bisnis ,
yang kadang-kadang “bisnis kotor”.
Orang bernegosiasi sambil merayakan Natal , merayakannya sambil minum minuman keras.
Natal dalam arti tertentu telah menjadi budaya kapitalis.
Natal gemerlap yang dirayakan di gedung-gedung megah dengan hiasan yang wah , semakin menjauhkan Natal Kelahiran Yesus Kristus dari konsep kesederhanaan.

Padahal ketika Yesus lahir ke dunia , ia lahir di kandang hewan.
Yesus juga lahir bukan dari keluarga kaya ,
ayahnya hanyalah seorang tukang kayu yang miskin ,
ibunya Maria hanya bisa mempersembahkan kepada Tuhan ,
sepasang burung tekukur atau dua ekor merpati muda setelah Yesus lahir – Lukas 2:24,
(kebiasaan orang Yahudi di bawah hukum Taurat ,
adalah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah di Bait ,
apabila orang itu kaya maka persembahannya berupa domba jantan yang tidak bercela , namun kalau seseorang itu berasal dari keluarga miskin ,
persembahannya berupa sepasang burung tekukur atau merpati) – Imamat 5:7 & Imamat 5:11.

Yesus juga lahir di kota yang kecil Betlehem , bukan kota besar ,
Yesus lahir dalam kondisi kesederhanaan , dalam ketulusan ,
dalam kemurnian hati yang tercermin dalam sikap dan kata itulah sebenarnya Ia menyapa kita.
Semoga hal ini tidak kita lupakan.
                                                                               S.O.T.R , November 2009

Deo Gratia.

=================================================

Tulisan ini kudapatkan dari sebuah Buletin Sekolah , dengan editan seperlunya.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: