Sejarah Natal – Bag.1

 
Setiap tanggal 25 Desember umat Kristiani merayakan Natal ,
yang sudah dipercaya sejak dulu sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.
Sangat wajar bila ada pertanyaan-pertanyaan seputar latar belakang ,
sejarah , asal-usul penetapan hari itu sebagai hari lahir Yesus Kristus.

Ternyata memang bukan hanya kalangan Kristen saja
yang mencoba mencari tahu asal-usul perayaan ini ,
tetapi mereka yang tidak mengimani Kristus pun ingin tahu.
Keingintahuan itu muncul berlandaskan motivasi yang berbeda-beda.
Ada yang ingin tahu karena ingin menggali maknanya ,
sekaligus memperdalam imannya kepada Yesus Kristus.
Ada juga yang sekedar ingin tahu tanpa mau apa-apa setelah tahu.
Ada juga yang ingin mendapatkan informasi yang benar selengkap-lengkapnya ,
sehingga tidak tersesat mengikuti kebiasaan ,
yang tidak ada dasar Kristianinya sama sekali
atau bahkan merupakan warisan dari kebiasaan paganism/kafir
yang bertentangan dengan firman Tuhan.

Tulisan ini disajikan untuk siapa saja .
yang memang ingin tahu mengenai kebenaran asal-usul perayaan Natal.
Hal ini sangat relevan dan penting untuk memahami tradisi Gereja
yang merupakan ekspresi iman Gereja akan Yesus Kristus yang terus berkembang.
Setidaknya dengan demikian kita tidak buta , masa bodoh ,
atau malah menyepelekan sejarah dari tradisi Gereja kita sendiri.
 

Sejarah Kekristenan Abad Pertama Masehi.
Jemaat Kristen Perdana atau Kristen yang mula-mula ,
ternyata tidak pernah memberikan perhatian pada tanggal kelahiran Yesus.
Seluruh perhatian umat pada waktu itu terarah pada kebangkitan Yesus
(bangkitnya Yesus 3 hari setelah wafat disalibkan)
hal ini dicatat di Alkitab Injil secara majemuk oleh rasul-rasul Yesus.
Lagipula pada waktu itu , bahkan perayaan ulang tahun saja ,
pada umumnya dipandang sebagai kebiasaan kafir
(istilah kafir digunakan orang Kristen pada waktu itu ,
memaksudkan orang-orang non Yahudi yang menyembah berhala
dan yang tidak bersunat di bawah hukum Taurat Musa).

Seorang tokoh Gereja abad pertama – Origenes (thn. 185-254 Masehi) ,
secara tegas menolak tradisi ulang tahun kelahiran di kalangan umat Kristen.
Yang mereka ketahui di zaman mereka ,
orang yg merayakan hari ulang kelahiran tahun adalah Raja Herodes
– yg memotong kepala Yohanes pembaptis pada perayaan ulang tahunnya – ,
dan sejarah sebelumnya ,
Raja Firaun Mesir yang membunuh tukang roti istana
juga pada acara perayaan ulang tahun sang Raja.
Oleh karena itu kebiasaan merayakan hari ulang tahun ,
tidak dijalani oleh orang-orang Yahudi pada zaman Yesus.

Alkitab sendiri tidak pernah mencatat Yesus Kristus merayakan hari ulang tahunnya ,
atau murid-muridnya (para rasul) merayakan hari ulang tahun mereka atau ulang tahun Yesus.
Seorang tokoh lain bernama Clemens dari Alexandria (thn. 200 Masehi)
waktu itu malahan mengejek setiap orang Kristen
yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus.
 

Kelahiran Yesus Benarkah Yesus Lahir Pada Tanggal 25 Desember ?
Berdasarkan catatan sejarah pada waktu itu ,
tidak ada yang tahu persis
kapan sebenarnya Yesus dilahirkan oleh Santa Perawan Maria ,
dan Alkitab pun tidak mencatat tanggal kelahiran Yesus.
Ini harus diakui ,
karena waktu itu memang tidak ada perhatian mengenai hal seperti itu.
Lalu jika demikian halnya kapan sebenarnya Yesus dilahirkan
dan apakah mereka perlu untuk memperingatinya ,
bagi Gereja Perdana hal itu tidak dipandang sebagai hal yang penting.
Sekali lagi , kebiasaan merayakan hari ulang tahun waktu itu
dipandang sebagai kebiasaan kafir.

Jadi ketika itu mereka hanya merayakan hari kematian
dan kebangkitan Yesus Kristus yang adalah dasar iman Gereja.
Iman akan Yesus yang bangkit itulah yang mempersatukan umat ,
untuk bersehati sejiwa merayakan misteri-misteri iman.

Kitab Suci juga tidak banyak mengungkap peristiwa seputar kelahiran Yesus.
Memang Kitab Suci bukan buku sejarah , tetapi buku iman.
Kitab Suci ditulis oleh pengarang suci ,
dan tulisan-tulisan mereka setelah melalui proses kanonisasi yang panjang ,
dikukuhkan oleh otoritas Gereja.
Tujuannya adalah agar semakin banyak orang mengenal dan mengimani Yesus Kristus , sebagaimana diimani dan diwartakan oleh Gereja.

Meskipun Gereja Perdana tidak ambil pusing dengan hari kelahiran Yesus ,
Gereja generasi berikutnya ,
tidak mungkin mengelak dari persoalan kapan hari kelahiran Yesus.
Gereja akhirnya bergumul dengan soal itu dan berusaha mencari pemecahannya.
Waktu terus berlalu dan Gereja semakin berkembang dalam banyak bidang.

Gereja mengalami penganiayaan hebat dalam abad-abad pertama kekristenan.
Salah satu alasan kuat mengapa mereka dianiaya ,
karena ada perbedaan keyakinan dengan mayoritas masyarakat Romawi ,
yang mana kerajaan Roma adalah kuasa dunia dikala itu.
Kalau masyarakat Romawi pada umumnya ,
beribadah kepada dewa-dewi dan berhala-berhala ,
sementara itu orang Kristen menyembah Allah yang mereka kenal
dan imani dalam Yesus Kristus.
 

Kolaborasi Kebudayaan Animisme ke Dalam Kekristenan (Sinkretisme).
Kebudayaan kafir yang berkembang pada waktu itu beraneka ragam ,
dan Pemerintahan Negara Romawi memiliki kepentingan dan andil besar di dalamnya.
Salah satu peran negara dalam mendukung budaya penyembahan dewa-dewi itu terjadi ,
ketika Kaisar Aurelius (thn 212M-275M) mengumumkan pada tahun 274M
(berarti pada zaman Paus Felix I yang bertahta tahun 269M-274M ,
waktu itu Gereja belum diakui secara resmi oleh negara)
bahwa 25 Desember adalah hari penghormatan khusus untuk Dewa Matahari.
Pada tanggal tersebut orang-orang Roma secara khusus
memberi penghormatan kepada Dewa Saturnus , dewa pertanian dan datangnya matahari ,
karena itu hari raya penghormatan kepada Dewa Matahari disebut hari Saturnalia.
Mereka pada hari tersebut memuja Dewa Mithra
untuk merayakan kelahiran matahari yang kasat mata , ilahi (Dies Natalis Solis Invicti).
Jadi sejak 25 Desember 274M itulah mulai ada perayaan Natal (dari kata Dies Natalis)
atau Kelahiran Matahari oleh bangsa Romawi , karena di akhir musim salju tanggal itulah , mentari mulai kembali menampakkan sinarnya dengan kuat.

Adanya hari raya resmi itu ,
tentu saja menghadapkan Gereja pada situasi yag tidak mudah.
Perlu sikap yang jelas dari para pemimpin Gereja waktu itu ,
agar dapat menjadi pegangan bagi umat.
Pada umumnya umat Kristen yang sejati dan benar , yang tinggal di Roma ,
menolak mengikuti perayaan itu.
Meski demikian , masih banyak umat yang bersifat mendua dalam hal ini
karena situasi yang mereka hadapi ,
beberapa tidak berani mengambil sikap tegas.

Setelah Konstantinus berkuasa di Roma ,
ada keleluasaan gerak bagi umat Kristen untuk melaksanakan keyakinan imannya , dalam ibadat maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan agama Kristen dikukuhkan menjadi agama resmi negara
pada tahun 313 Masehi (edict Milan) oleh Konstantinus Agung ,
yang masuk Kristen tahun 312 Masehi
(Konstantinus sendiri baru mau dibaptis menjelang ajalnya tahun 337 Masehi).
 

Transformasi Tradisi Romawi Menjadi Perayaan Natal.
Perayaan Natal untuk menghormati kelahiran matahari yang sudah begitu merakyat , sulit untuk dihapuskan begitu saja ,
meskipun banyak orang Romawi ikut menjadi Kristen ,
setelah Konstantinus Agung dibaptis.
Perayaan Natal akhirnya tetap dilakukan ,
tetapi oleh Gereja pusat dialihkan pada Perayaan Kelahiran Yesus Kristus
yang dianggap oleh orang Roma yang masuk Kristen sebagai Sang Matahari Sejati.
Yesus dianggap adalah Matahari Sejati ,
mereka meng-combine tulisan Alkitab ,
yang mencatat bahwa Yesus membawa terang ,
bagi umat manusia yang berada dalam kegelapan ,
dengan konsep sumber terang adalah Matahari ,
karena itu antara Yesus dan Matahari seolah-olah ada kemiripan.

“Counter Culture” terhadap kults kafir itu secara sadar dilakukan oleh Gereja.
Gereja sadar bahwa banyak orang Romawi menjadi Kristen karena ikut-ikutan Kaisarnya (Konstantin yang tadinya penyembah berhala belakangan masuk Kristen dan dibaptis).
Mereka ini meskipun menjadi Kristen tetapi tidak mau meninggalkan budaya kafirnya.
Jadi inkulturasi ini adalah usaha yang dilakukan oleh para pemimpin Gereja pada waktu itu , demi pertumbuhan iman umat.
Dengan demikian , maka perlahan-lahan sepanjang sejarah selanjutnya ,
Perayaan Natal umat Kristen tidak lagi dihubungkan dengan kultus kafir itu.

Pada tahun 336 Masehi , secara resmi ditetapkan oleh Gereja
bahwa tanggal 25 Desember sebagai hari untuk memperingati kelahiran Yesus.
Kaisar Kontantinus-lah yang kemudian memperkenalkannya secara luas ,
sebagai ganti tanggal 5-6 Januari.
 

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: