Malaikat Tak Bersayap – Sepatu

 
LitleGirl-Alone

Malam telah menunjukkan pukul sembilan.
Kota kecil itu mulai mengantar penduduknya beristirahat.
Semua toko di sebuah jalan yg menjadi pusat kota , sudah tutup.

Tampak seorang anak perempuan berusia sekitar sebelas tahun ,
berpakaian lusuh dengan beberapa tisik’an di bajunya ,
masih berdiri di depan sebuah toko , yg semeter diatas dindingnya ,
terbatasi oleh kaca tebal , memajang puluhan sepatu indah dan model baru.
Lampu neon panjang-panjang yg menyala membuat sepatu-sepatu itu semakin indah.

Air matanya pelahan menetes ,
beberapa saat kemudian ia berbalik dan duduk selonjor di tembok toko.
Sesekali orang lalu lalang , namun tidak mengacuhkannya.
Seorang ibu dan suaminya yg baru pulang dari sebuah pesta pernikahan ,
meletakkan selembar uang ribuan di tangan anak perempuan itu.
Anak perempuan itu diam saja , kesedihan membuat ia tak peduli sekelilingnya.

Tak berapa lama tampak seorang anak lelaki berusia sebaya dengannya ,
berjalan ke arah anak perempuan itu berada ,
dengan mengapit dua tongkat di ketiaknya ,
sebelah kakinya buntung , sedang sebelah lagi timpang.
Tapi dari pakaian yg dikenakannya , tampak seperti anak orang berkecukupan.

Suara tongkat yg beradu dengan trotoar membuat anak perempuan itu menoleh.
Beberapa saat ia memandangi anak laki-laki itu , yg semakin dekat.
Tiba-tiba anak perempuan itu tersenyum , wajahnya berbinar.

Anak lelaki itu menghampirinya dan dengan tersenyum lalu bertanya.

“Mengapa kamu tadi menangis lalu tersenyum ketika melihatku ?”

“Aku menangis karena bersedih tidak punya sepatu dan tidak mampu membeli sepatu.
Tapi ketika melihatmu yg tidak bisa memakai sepatu ,
aku bersyukur karena aku dikarunia sepasang kaki yg utuh.”

Anak lelaki itu tersenyum lembut ,
sungguh menyejukkan bagi anak perempuan itu ,
yg lalu mendekat dan mengeluarkan sebatang coklat dari saku bajunya.

“Terimalah , . . untukmu.”

Anak perempuan itu ragu-ragu mengulurkan tangannya menjemput coklat itu ,
sebuah kemewahan yg selama ini cuma bisa didapatnya dalam angan-angan dan mimpi.

“Terima kasih . . . kamu tidak bersedih dengan keadaanmu ?”

Anak lelaki itu meletakkan sebelah tongkatnya ,
lalu duduk selonjor di sebelah anak perempuan itu.
Tak sedikitpun ia menunjukkan rasa risih apalagi jijik ,
meski terlihat jelas perbedaan keberadaan antara mereka.

“Mulanya iyaa , sedih . . . sangat sedih . . .
aku bertanya , mengapa Tuhan menciptakan aku seperti ini ?
Tapi burung pipit membuat aku sadar dan bersyukur.”

“Burung pipit ? Bersyukur ?”

“Iyaa , burung pipit yg selalu hinggap di pohon di luar jendela kamarku ,
selalu riang berkicau , meski tercipta sebagai burung kecil ,
yg diburu burung besar , binatang lain dan manusia .
Bukankah kicauannya adalah tanda syukur memujiNYA.”

“Lagipula , aku punya orang tua yg baik ,
memperhatikanku , memeliharaku , merawatku , dengan kasih sayang.
Bukankah pantas bila aku bersyukur atas semua itu.”

“Bila kita memandang sekeliling kita ,
selalu akan ada yg lebih susah , selalu ada yg lebih menyenangkan ,
tapi itu kehidupan mereka , bukan kehidupan kita ,
dan kita tak pernah tahu , apa yg sesungguhnya mereka rasakan.”

“Kalau kita memandang segala sesuatu dengan suka cita , dengan kegembiraan ,
selalu ada yg bisa membuat kita bersyukur , selalu ada hal yg patut kita syukuri.
Nikmatilah semua yg Tuhan beri dengan bersyukur.
Bersyukur tentang apa saja , karena hidup adalah suatu karunia ,
Tuhan tidak pernah memberi sesuatu yg sia-sia.
Namun , . . . manusialah yg menyia-nyiakan pemberianNYA , karuniaNYA.”

Anak perempuan itu mendengarkan dengan seksama ,
pelahan-lahan meresap ke dalam hatinya.
Lalu ia berkata.

“Orang tuaku tidak punya waktu untuk memperhatikan aku ,
mereka harus bekerja mencari barang-barang bekas , memulung , hingga larut malam.”

“Bersyukurlah , karena kamu masih punya orang tua.
Bersyukurlah , karena kedua orang tuamu bekerja untuk menghidupimu.
Bersyukurlah , karena keberadaanmu berarti bagi kehidupan orang tuamu.
Bersyukurlah , karena kamu punya kesempatan untuk berarti bagi orang lain.
Bersyukurlah . . . . . . ”

Anak lelaki itu memegang kedua tongkatnya dan lalu berdiri ,
anak perempuan itupun membantunya sambil berterima kasih.

“Senang bertemu denganmu , aku pulang dulu yaa . . .”

Kata anak lelaki itu sambil mengayunkan langkahnya.
Anak perempuan itu mengangguk dan melambaikan tangannya ,
memandangi punggung anak lelaki yg berjalan itu ,
hingga lenyap dari pandangan di tikungan ujung jalan itu.

Anak perempuan itu lalu membungkuk hendak mengambil coklat dan pulang ,
tapi dilihatnya selembar uang seratus ribuan tergeletak ditindih coklat itu.
Ia segera mengambil coklat dan uang itu ,
merasa tidak diberikan kepadanya , yg berarti bukan miliknya ,
ia berlari ke ujung jalan mencari anak lelaki itu.
Tapi yg dicarinya seperti lenyap begitu saja.
Beberapa orang yg ditanyainya ,
berkata tak melihat seorangpun yg melintas sejak tadi.
 

Ach , . . malaikat tak lagi bersayap ,
untuk mengajarkan kepada manusia ,
agar berusaha hidup lebih baik
dan belajar untuk mensyukuri karuniaNYA.
                                                                                  S.O.T.R , 06 Feb ’10
 

Jangan bersedih karena engkau tak mempunyai sepatu ,
sebelum engkau melihat orang yg tak mempunyai kaki.

 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: