Kado Ultah Dari . . . – Bag.1

 
Solitude
Kebahagiaan masih juga tergambar di wajahnya.
Senyum lebar dan sesekali tawa kecil menghiasi bibirnya ,
ketika membaca dan mereply message lewat eBuddy di hapenya.

Hingga ketika sopirnya menghentikan mobil di depan gerbang pagar ,
pandangan matanya seolah tertarik ,
pada sesosok tubuh berjaket hitam di pinggir gerbang ,
yg menatap lekat ke mobil seakan tak berkedip ,
sambil menghembuskan asap rokok ke udara.

Jantungnya berdegub kencang dan darahnyapun berdesir ,
ia tak lupa , tak akan bisa melupakan lelaki itu.
Segera ia membuka pintu mobil
dan bergegas menghampiri sambil merentangkan kedua tangannya.

“Mas Dharma !!”

Dipeluknya erat tubuh lelaki yg dipanggilnya Dharma itu ,
perasaannya bergejolak tak menentu setelah sekian lama tak bertemu ,
bahkan tak pula bertegur sapa meski cuma sekedar lewat sms.
Namun lelaki itu hanya memeluknya ringan ,
seolah-olah hanya menempelkan telapak tangan kirinya di pinggangnya
sementara telapak tangan kanannya menempel di punggung ,
tak lagi mengusap-usap punggungnya seperti dulu.
Dingin ! Sikap dan tubuh lelaki itu dirasakan Siska.

“Koq gak ngabari dulu sih , kalo mas mau datang.”

“Aku cuma sebentar.”

Lelaki itu menjawab pendek dan mencoba menghias wajahnya dengan senyum.

“Masuk yuuk , mas.”

Siska menggamit lengan lelaki itu , tak memperdulikan sikap dingin lelaki itu.
Paling-paling itu karena kedinginan oleh hawa malam ,
dan sedikit jengkel karena mungkin telah lama menunggu di depan pagar ,
ditemani rintik gerimis yg sejak sore tak henti membasahi bumi.
Nanti setelah beberapa saat mengobrol , bercanda ,
paling juga hilang jengkelnya . . . pikir Siska.

“Aku di teras aja.”

“Gak masuk ke dalam tha ? Dingin lhoo di teras . . gak ada yg meluk lagi.”

Siska mencoba bercanda , namun lelaki itu cuma tersenyum tipis.
Sopirnya meletakkan kunci mobil di meja teras dan lalu berpamitan.

“Ya wis , aku salin dulu ya , mas.”

Lelaki itu cuma mengangguk , memandangi Siska yg masuk sambil membawa kunci mobil.

Sambil berganti daster , ingatan Siska membayang pada setahun yg lalu.
Ach , mengapa musti terjadi lagi di saat hari bahagianya , hari ulang tahunnya.

Siska keluar sambil membawa nampan berisi dua cangkir coklat panas ,
lalu meletakkan nampan itu di meja teras sambil berkata.

“Koq gak bilang-bilang kalo mas mau datang ,
aku khan bisa njemput , terus sama-sama ke . . .”

“Aku tadi di sana.”

“Koq gak masuk aja , mas ?”

“Melihat kemesraan kalian . . . ”

“Mas ! Mbok ya jangan . . . . . ”

Siska merasa malu , sedih dan agak jengkel ,
karena diingatkan lagi hal yg membuat mereka putus ,
ia mencoba menatap lembut mata lelaki itu , seakan hendak meluluhkan hatinya.
Namun lelaki itu balas menatap dari wajahnya yg nampak pucat.
Entah karena tatapan lelaki itu yg terasakan tajam dan dingin ,
seakan menusuk ulu hatinya ,
atau karena semilir angin dingin yg tiba-tiba serasa meraba tengkuknya ,
jantungnya kembali berdegub kencang ,
dirasakannya seluruh bulu-bulu tangannya berdiri , ia merinding
. . . . iapun lalu menunduk.

“Maafkan aku . . . sayang.”

Siska memejamkan matanya lekat-lekat mendengar kata terakhir yg diucapkan lelaki itu.
Perasaannya menjadi tak menentu , bercampur aduk dan menyesaki dadanya ,
nyaris setitik air mata menggenang di pelupuk matanya ,
namun segera ditepisnya dengan mengingat bahwa semua sudah berlalu.
Ia tetap mencoba membenarkan sikapnya saat itu dengan tersenyum manis.

“Aku mengantarkan ini.”

Lelaki itu mengambil sesuatu dari saku di balik jaketnya ,
terkesan betapa berharganya barang itu baginya dari cara ia menyimpannya.
Lalu disodorkannya pada Siska sebuah kado yg berbungkus kertas bergambar hati.

“Selamat ulang tahun.”

Siska menerima kado itu dan memperhatikannya sekilas ,
lalu memasukkannya ke dalam saku dasternya.

“Makasih , mas.”

“Tuhan menjagamu selalu.”

“Sebenernya gak usah repot-repot gini , mas. Aku jadi gak enak.”

“Ini yg terakhir . . . . ”

“Bukan begitu maksudku , maaas.
Mas menelpon atau sms aku juga sudah senang koq ,
itu berarti mas tetap mengingat diriku , meski kita . . . ”

Siska tak jadi melanjutkan ucapannya , ia tersadar . .
lelaki itu terlalu peka untuk setiap kata-kata ,
terlalu perasa untuk setiap kejadian ,
terlebih bila berkaitan dengan hal yg membahagiakan ataupun yg menyakiti hatinya.
Namun keterlambatannya menyadari ketika itu ,
tak pernah disangkanya akan menorehkan luka pada hati lelaki itu dan hatinya.

“Mas sakit tha , koq keliatan pucat ?”

Lelaki itu cuma menggelengkan kepalanya pelahan , lalu berucap.

“Aku pamit dulu.”

“Koq buru-buru sih mas , gak kang . . . ”

Hampir terlontar kata “kangen” di bibir Siska , namun urung diselesaikannya.
Kembali ia teringat ,
oleh sikapnya yg ceplas-ceplos , gurauan-gurauan mesranya-lah ,
lelaki itu terjatuh ke pelukannya , setelah sekian tahun menutup hatinya dari kata “cinta”.
Ach , itu bukan salahnya ! Toh lelaki itu juga telah mengakui jatuh hati padanya ,
hanya kebetulan Siska yg terlebih dahulu memberi tanda ketertarikan dan bersedia didekati.

Lelaki itu cuma tersenyum tipis , dari wajah pucatnya terbayang kesedihan.

“Sudah larut malam.”

“Besok masih di sini khan , mas ?
Besok aku ke kantor sebentar , mas aku jemput . . di rumah Adi ya ?

Lelaki itu cuma menggelengkan kepalanya ,
lalu berdiri dari kursinya dan melangkah menuju pagar rumah tanpa menoleh sedikitpun.

“Maaaas . . . ”

Siska tak mampu lagi menahan diri ,
ia bangkit dari kursinya dan setengah berlari menyusul ,
lelaki itu berbalik tepat disaat Siska memeluknya erat-erat ,
dan membenamkan kepalanya di dada lelaki itu , meledaklah isak tangisnya.
Pelahan tangan kiri lelaki itupun merangkul pinggangnya ,
sementara tangan kanannya mengusap pelahan rambut Siska yg tak lagi sebahu , seperti dulu.

Dingin , tetap itu yg dirasakan Siska dari tubuh dan sikap lelaki itu.
Pelahan Siska mendongakkan kepalanya , dipejamkannya matanya ,
berharap lelaki itu akan menciumnya mesra seperti dulu ,
namun hanya kecupan sekilas dikening yg didapatkannya.

“Kau tidak mencintaiku . . .”

Lelaki itu berucap lirih , namun terasa bagai sembilu yg menoreh hati Siska.
Lalu sambil melepaskan pelukan Siska , ia berkata.

“Relakan aku pergi . . .”

Lelaki itupun melangkahkan kakinya.
Beberapa langkah setelah ia meninggalkan pagar ,
terdengar suara anjing yg melolong . . .
terasa begitu memilukan dan menyayat hati . . .
Seakan suara seseorang yg memanggil-manggil kekasih sejatinya.
Menjerit hingga ke langit , merintih hingga ke bumi , namun tak jua ditemui . . . .

Dari pos ronda terdengar tiang listrik di sebelahnya di pukul dua belas kali.
Sambil menggembok gerbang dicobanya melihat ke jalan , namun tak dilihatnya lelaki itu.

Siskapun melangkah masuk ke rumah , di lihatnya dua cangkir coklat di meja ,
yg masih utuh dan kini telah dingin , sedingin sikap dan tubuh lelaki itu.
Dihalaunya prasangka yg melintas di benaknya ,
lalu dibawanya kedua cangkir itu masuk.
 

BERSAMBUNG

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: