Kado Ultah Dari . . . – Bag.2

 
Hand_in_hand
Di kamar , Siska menghidupkan laptopnya.
Dibukanya site lelaki itu dan dipandanginya lama.

Ingatannya kembali membayang ke saat-saat sekitaran satu setengah tahun yg lalu.
Saat mereka bertemu dan berkenalan dalam sebuah situs jejaring sosial.
Setelah melewati berbagai pernak-pernik di dunia maya ,
mereka mulai dekat dan merasakan cinta di antara mereka.
Meski sebenarnya disaat itu , ia masih menjalin sebuah cinta yg lain . . .
cinta terlarang dengan seorang lelaki yg sudah beristri dan beranak satu.

Kepada Dharma , Siska mengakui dengan jujur tentang hubungan cinta terlarangnya.
Dharma memilih tak mengomentari , karena ini adalah tentang perasaan ,
karena percaya bahwa Siska benar-benar mencintainya dan mampu mempertimbangkannya sendiri.
Dharma hanya bisa berharap Siska akan sesegera mungkin memutuskan hubungan itu.

Namun , meski Siska menyadari dan mengakui ,
pada diri Dharma ia menemukan kembali apa yg diakui sebagai cinta ,
setelah 12 tahun lalu ,
tanpa alasan yg jelas kekasihnya memutuskan begitu saja hubungan mereka ,
meski pertunangan bahkan telah direncanakan dalam bilangan hari.
Keberadaan Dharma yg telah mengisi ruang kosong dalam hatinya selama ,
tetap saja ia tak mampu . . .
atau mungkin lebih tepat , “tak mau” , memutuskan hubungan cinta terlarangnya !

“Maaf ya , aku gak bisa datang di ulang tahunmu.”

“Gak apa-apa mas , khan pas hari kerja , aku juga gak bisa menemanimu.”

“Mau dirayakan di mana , Sis ?”

“Paling cuma makan-makan di Saur Kuring , mas.”

“Sama siapa aja ?”

“Paling sama Yoyok , Venna dan dua temennya . . cewek.”

“Bagus , juga ?”

“. . . . iya , mas.”

“Hmmm . . . . . .”

“Kenapa , mas ? Cemburu ?”

“. . . . . aku percaya padamu.”

———————————————————————————————————————-

“Acaranya belum selesai yaa , Sis ?”

Sebuah sms masuk ketika Siska dalam perjalanan pulang.

“Sudah , mas. otw to home.”

Ternyata di sisi gerbang ,
Dharma tengah menantinya sambil duduk di atas motor.
Siska segera turun dari mobil dan menghampiri Dharma sambil merentangkan kedua tangannya.

“Kapan datang , mas ?”

Tanya Siska setelah mengajak Dharma masuk ke paviliun tempat ia tinggal.

“Tadi subuh , naik kereta.”

“Katanya gak bisa datang ? Tahu gitu khan mending ikut sekalian ?”

“Aku tadi ke sana koq.”

“Lhaaa , koq nggak masuk sih mas . . . iiih , mas ini aneh deh.”

“Aku melihat kamu duduk berdampingan sama Bagus . . . aku keluar lagi.”

“Mas , berapa kali sih kita musti membahas soal seperti itu ?”

“Maaf . . maaf . . aku salah . . . enak gak makanannya ? Menunya apa aja ?”

Dharma segera menyadari , ini adalah hari ulang tahun Siska , kekasihnya.
Selayaknya ia berbuat apapun demi kegembiraan dan kebahagiaan Siska ,
bahkan menekan perasaan cemburu melihat kenyataan ,
bahwa hubungan cinta terlarang itu masih dan tetap berlanjut ,
meski sudah 5 bulan purnama menghias malam kebersamaan Dharma dan Siska !

“Selamat ulang tahun ya sayang , semoga panjang umur , sehat selalu , bahagia dan . . . ”

” . . dan apa ?”

“Semoga lekas dapet pasangan , haa.haa.haa..”

Dharma mencoba bergurau.

“Mas tuuh , yg mustinya berdoa gitu . . buat anak-anak.”

“Ach , amat sangat sedikit sekali wanita yg mau dan bisa jadi ibu tiri yg baik ,
apalagi kalo ayahnya cuma lelaki seperti aku , hee.hee.hee…”

“Ooo . . mau nyari yg lain ?”

Dharma melanjutkan omongannya sambil mengambil sebuah kado dari balik jaketnya , lalu memberikannya pada Siska.

“Ach , udahlah , koq jadi ngomong yg kayak gitu. Ini untukmu , say.”

“Makasih ya , mas. Apa isinya ? Cincin kawin ? hi.hi.hi.hi . . ”

“Ooo . . mau Cincin kawin tho ? Gimana kalo kawinnya dulu , cincinnya nyusul ? haa.haa.haa.”

Obrolan demi obrolan , guyonan demi guyonan telah mengisi malam saat mereka bersama.
Dua cangkir coklat panas yg tersaji di meja telah habis sejak tadi ,
dan telah berganti dengan sebotol air putih , yg juga tinggal separuh.

“Aku pamit dulu ya , daripada nanti adikku mbuat laporan orang hilang.”

“Ngggg . . . iya dah. Pulang kapan , mas ? Besok jalan-jalan dulu yuuk.”

“Lain kali aja , say. Aku gak tega ninggalin anak-anak di rumah.”

“Semoga di ulang tahunmu aku bisa ke sana.”

“Amin ! . . . ”

“Tahu jalan gak ?”

“Hallaaah , paling nyasar dikit-dikitlah.”

Dharma berdiri memandangi Siska yg juga telah berdiri dari duduknya ,
belum sepotongpun rasa rindunya terobati , namun malam sudah semakin larut.
Suara tiang listrik di dekat pos ronda telah terdengar dipukul dua belas kali.

Pelahan dihampirinya Siska dan dipeluknya erat-erat seakan enggan melepaskannya.
Siska membenamkan kepalanya ke dada lelaki itu sambil memejamkan matanya ,
dadanya berdebar seperti yg dirasakannya pada dada Dharma.

Jemari Dharma menyentuh dagu Siska dan pelahan mendongakkannya ,
Siska cuma diam dengan mata terpejam ,
ketika bibir Dharma mengecup keningnya ,
mengecup kedua kelopak matanya , lalu mencium lembut bibirnya . . .
dan Siska pun membalas ciuman itu . . . .

 
BERSAMBUNG

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: