Kado Ultah Dari . . . – Bag.3 (selesai)

 
3 hari setelah ulang tahun Siska.
Senja baru saja merayapi hari menjemput malam pelahan-lahan ,
menyisakan bias-bias sinar matahari diufuk barat ,
yg mulai memudar dalam gelap ,
ketika Dharma sedang chatting dengan Siska.
Obrolan-obrolan ringan tentang apa saja , yg kadang menjadi canda tawa ,
dan suasana mesra mulai merambat pelahan hadir diantara mereka . . .

Dari inbox terlihat Bagus memposting quicknote ,
yg segera dikomentari oleh beberapa teman dan juga oleh Dharma.
Namun tidak seperti tadi ,
tiba-tiba Bagus berhenti mereply komen-komen yg masuk ,
demikian juga Siska yg lama baru mereply chatt Dharma ,
itupun sama sekali tak menyambung dengan obrolan antara mereka tadi.

“Lagi ngobrol sama siapa aja , say ?”

“Ini Frans baru muncul , dia bilang kalo kawin nanti bareng-bareng , hi.hi.hi.”

“Frans ??? Hmmm . . . aku rasa bukan Frans.”

Dharma cukup peka ,
cukup hapal dengan kebiasaan-kebiasaan beberapa temannya.
Ia merasa bahwa Siska juga sedang chatt dengan Bagus yg baru muncul ,
dari sekedar mengetes . . . ia menjadi yakin bahwa Siska berbohong.
Dengan siapapun Siska mau chatting , itu adalah haknya , Dharma menyadari.
Tapi mengapa harus berbohong bila tidak ada sesuatu yg patut disembunyikan ?

“Sudahlah , mas. Gak usah mempersoalkan nama.”

Lagi-lagi jawaban yg salah ,
demi mengalihkan suatu kebohongan yg nyaris terkuak ,
disodorkannya lagi sebuah pengalihan.
Yg membuat Dharma bertanya dalam hati
dan mulai meragukan sesuatu yg selama ini diyakini ada pada Siska , kejujuran !
 

Kejadian demi kejadian membuat Dharma tak lagi mampu mengontrol diri , mengendalikan emosi.
Malam harinya mereka berdiskusi panjang lebar mengenai keberadaan Bagus diantara mereka.
Dharma malah merasa ,
ia sebenarnya tak lebih hanyalah orang yg berada diantara mereka !
Dan Siskapun menunjukkan kekerasan hatinya ,
merasa bahwa apa yg menjadi privasinya dikomentari , dipersoalkan.

Yg sering tak disadari ketika seseorang mulai menjalin sebuah hubungan kebersamaan ,
segala sesuatu hal yg muncul karena dan menyentuh pada kebersamaan mereka ,
seyogyanya bisa disikapi dengan berdasar pada ,
kebersamaan mereka lah yg musti diposisikan prioritas ,
bukan lagi “aku” atau “kamu”.
 

“Aku minta maaf karena telah mengusik egomu ,
mempersoalkan hakmu untuk berhubungan dengan siapapun yg kamu maui.
Sejak semula aku sudah menyadari , aku tak layak untukmu.

Tentang Bagus ,
aku sudah berusaha menerima keberadaannya sebagai orang yg dekat denganmu.
Namun meski sudah sekian lama kita berjalan bersama ,
tak terlihat sedikitpun niatmu untuk memutuskan hubunganmu dengan Bagus ,
bahkan terlihat semakin dekat dan terkesan sengaja dipamer-pamerkan.

Siapakah orang yg bisa menahan diri , tidak cemburu ,
ketika mengetahui dan melihat ,
kekasihnya merayakan ulang tahun dengan orang yg dekat dengan kekasihnya ,
yg sebenarnya tidak lebih hanyalah sebuah hubungan perselingkuhan . . .

Aku tidak akan memintamu untuk memilih , seakan aku amatlah berarti bagimu ,
itu hanya akan membuat aku kecewa.
Dari kejadian demi kejadian sudah nampak dan seharusnya kusadari ,
bahwa di hatimu , di kehidupanmu ,
aku sebenarnya tidaklah seberarti seperti yg aku rasakan , seperti yg kau ucapkan.
Aku memang tak layak untukmu . . . . .
Lebih baik kita berpisah saja . . . . .

Terima kasih untuk kebahagiaan yg telah kau berikan padaku.
Semoga Tuhan menjagamu selalu.”

 
Dari mencoba mencari titik temu ,
penjelasan demi penjelasan yg disodorkan Siska ,
malah semakin memperlebar jarak ,
memperdalam jurang , mempertinggi dinding ,
karena penjelasan yg dimunculkan bukan lagi berlandas pada kebenaran , tapi pada ego !

Dharma pun mulai menjaga jarak bahkan mencoba menjauhi Siska ,
meski ia sadar . . . hal itu sangatlah sulit baginya ,
sekurangnya sampai dengan kurun waktu tertentu , entah sampai kapan . . . .
Dharma tak mampu membohongi diri atas perasaan cintanya pada Siska.

Hampir dua bulan setelah diskusi , yg lebih tepat disebut pertengkaran ,
Dharma merasa di ulang tahunnya ,
Siska akan datang . . seperti yg pernah dikatakannya.
Namun yg dilakukan Dharma justru tidak berharap ataupun berupaya ,
bahwa hari itu akan menjadi moment kemungkinan ,
untuk memperbaiki hubungan antara mereka , sekurangnya tidak semakin memburuk.
Dharma malah memposting tulisan yg menyindir hubungan Siska dan Bagus.
Tujuannya jelas , agar andai ada niat Siska untuk datang . . akan menjadi batal.

Tiga hari setelah ulang tahunnya , Dharma menerima paket kado dari Siska.
Ada perasaan menyesal , perasaan bersalah , menyelimuti hati Dharma ,
melihat perhatian yg masih juga ditunjukkan oleh Siska padanya ,
namun ditegarkannya dirinya , menerima semua konsekwensi dari pilihannya.
 

———————————————————————————————————————-

 
Suara tiang listrik yg dipukul satu kali oleh petugas ronda ,
menunjukkan bahwa hampir satu jam Siska larut dalam lamunan kejadian-kejadian yg lalu.
Suara itu sekaligus menyentakkan pikiran Siska , pelahan-lahan menjadi normal ,
dan mulai memikirkan keanehan-keanehan yg ditunjukkan oleh Dharma , tadi.

Sikapnya yg tak banyak bicara , sama sekali tidaklah seperti Dharma yg ia kenal ,
yg meski memiliki sifat serius , namun cukup humoris bahkan terkadang usil.
Dan . . . setiap omongannya tidak lebih dari 3 kata ? . . . ya !! mengapa cuma 3 kata !!!

Wajah yg terlihat pucat , tubuh yg terasa dingin , sikapnya yg kaku ,
tatap mata begitu dingin dan tajam setiap bertemu pandang . . . .
Sungguh bukanlah Dharma yg ia kenal.
Lagipula , bagaimana Dharma bisa tahu ,
kalau ultahnya kali ini dirayakan bersama teman-teman juga di Saur Kuring ?
Sedangkan ia dan Dharma sudah setengah tahun lebih nyaris tak lagi ada komunikasi.
Sms pun sangatlah jarang dan tak lebih hanya sekedar basa-basi ,
yg bahkan tak sulit dipahami , . . tak berharap balasan . . .
di forum pun Dharma sudah jarang muncul.

Bukankah ketika ia tadi melongok ke jalan ,
semestinya masih bisa melihat Dharma ,
karena baru beberapa langkah Dharma meninggalkan gerbang ,
tapi bayangannyapun tak nampak.
Bayangan ?! . . . bayangan ?!!!
Ketika di halaman . . . . ???
Ia mencoba mengingat-ingat kejadian yg baru dialaminya , tapi . . . . .
Lolong anjing yg terasa menyayat ketika Dharma keluar dari gerbang . . .

Jangan-jangan ? . . . . . . Ach , tidak mungkin !!
Tapi dari sikapnya . . . . . . hmm . . . . apa mungkin ???
Bulu kuduk Siska kembali meremang ,
seluruh tubuhnya seperti dialiri darah bermuatan listrik.
Rasa takut mulai menjalar bahkan seakan menyelimuti suasana kamar.

Sambil mengambil hape yg sedang di-charge dari meja ,
ia mengucap dalam hati doa “Salam Maria” berulang-ulang.
Dicobanya menghubungi Dharma ,
lewat nomor yg masih disimpannya . . . . di luar area.
Juga ketika dicobanya nomor Dharma yg lain , tidak ada sambungan.
Lalu dicobanya menghubungi Adi , adik Dharma.

“Hallo , selamat malam , kak.”

“Mat malam , dik. Maaf nih , kakak menelpon tengah malam.”

“Gak apa-apa kak. Gimana kabarnya , kak ?”

“Baik-baik aja , dik.
Ini lho , kakak lama gak ada komunikasi dengan mas Dharma.
Pengen tau kabarnya aja.
Tadi waktu kakak hubungi , gak nyambung. Apa ganti nomor ?”

“Nggg . . . kakak belum tau ya ?”

“Soal apa ya ?”

“Nggg . . . . Kak Dharma . . . . sudah meninggal , kak.”

“Hahhh !!!!! Ya Tuhanku dan Allahku. Kapan , dik ? Kenapa ? ”

“Meninggalnya tadi subuh . . .
Kemarin malam kereta api yg ditumpanginya tabrakan dengan kereta lain.”

Kembali seluruh tubuh Siska bergetar . . merinding.
Antara tak percaya dan sedih bercampur menjadi air mata ,
yg pelahan setetes demi setetes jatuh dari pelupuk matanya.
Hilang rasa takutnya ,
ia tahu Dharma menemuinya di batas hidup dan mati , di antara ada dan tiada ,
adalah karena cintanya pada Siska , yg dulu diharapnya . . . namun lalu ditampiknya . .
Amethyst Heart Ring
Pelahan ia merogoh saku dasternya dan mengambil kado pemberian Dharma.
Dibukanya kertas kadonya dan dari dalam kotak kardus ,
dikeluarkannya sebuah tempat cincin berbentuk hati warna merah.
Dibukanya dan diambilnya sebentuk cincin yg indah . . . bahkan teramat indah baginya ,
dengan berhiaskan zircon di kanan kiri mengapit batu amethyst berbentuk hati.
Dikenakannya cincin itu di jari manis kirinya , pas !

Diambilnya selembar kertas bercoretan tulisan tangan Dharma ,
ucapan selamat ulang tahun dan sebaris doa untuknya.
Di bagian bawahnya tertulis sebuah puisi . . yg sepertinya belum selesai , atau ?

            Dak sawang jerone katresnanmu
            Amung sapangilon sapandulu ing kaca rasa
            Nanging saben netraku miwiti dina
            Ayang-ayange isih semliweran ing sukmaku
            Lir thathit angrujit atiku

            Dak ukur dawane katresnanmu
            Amung limang purnama nyumunari bawana
            Nanging saben rina gumanti ratri
            Cahyane isih sumarambah jroning raga
            Ngobahake rasa kang ora dak mangerteni

            Dak rasakake wujude katresnanmu
            Amung pratignya kang tinulis tanpa papan
            Nanging saben jantung kemrenteg getih ndalidir
            Anyuwara lumantar sumiliring angin
            Agawe tuwuh pangarep-arep kang wus dak leremake

            Dak timbang abote katresnanku marang sliramu
            Amung sawinihe sawi kang tumiba ing pratiwi
            Nanging tuwuh lan . . . . . . . . . . . .

 
 

Wajah Siska semakin sembab oleh airmata yg tak henti mengalir ,
buram . . . namun terus dipandanginya cincin bermata amethyst berbentuk hati di tangan kirinya ,
sementara tangan kanannya bergetaran menggenggam erat-erat kertas itu.

Kado ulang tahun yg tak akan pernah tergantikan oleh apapun . . .
Kado ulang tahun dari orang yg masih mencintainya . . .
Kado ulang tahun dari dunia lain . . . . . .
                                                                                  S.O.T.R , Juli ’10
 

———————————————————————————————————————-

Batu Amethyst atau Kecubung yg berasal dari Kalimantan ,
adalah simbol keikhlasan , keselamatan dan kedamaian pikiran

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: