Coklat (Kasih Sayang Seorang Ayah)

 
Choco_heart_2
Menjelang Natal dan dilanjutkan dengan hari Valentine ,
anak-anak Han selalu berjualan coklat.
Mereka menawarkannya kepada teman-teman dan guru-guru di sekolahnya ,
tetangga , teman gereja , bahkan juga pembeli yg datang ke konter papanya , termasuk aku.

Coklat (praline) itu kebanyakan berbentuk hati ,
meski ada juga yg berbentuk lain.
Berwarna kombinasi antara coklat , pink , putih , biru ,
tidak lagi hanya berwarna coklat seperti dulu.
Harganyapun bervariasi , mulai dari 5.000,- sampai 27.500,- .
Usaha sambilan itu sudah beberapa tahun dikerjakan mereka , juga si kecil ,
yg dengan antusias dan semangat minta dibolehkan membawa sample-sample ke sekolahnya.

“Yaya bawa yg murah-murah aja yaa . . ,
nanti kalo samplenya rusak musti ngganti lho.”

“Yaya ndak cuma mau nawarin temen-temen dan kakak kelas koq ,
tapi juga tante kantin , guru-guru , juga orang tuanya temen-temen.”

Kalo si kecil sudah ngotot , kakak-kakaknyapun mengalah.
Dan ketika kedua kakaknya pulang sekolah ,
si kecil akan menyambut dengan berteriak kegirangan ,
mengabarkan tentang berapa pesanan yg sudah dia dapatkan.

“Lumayan oom , buat tambahan uang jajan.”

Jawab mereka ketika kutanya berapa hasilnya dalam semusim.

“Ada pemesan yg mintanya macem-macem gak ,
diantar pas hari Valentine jam segini , misalnya ?”

“Ndak ada sih oom , . . . tapi ada seorang pembeli yg mengesankan oom.”

Inilah cerita mereka.
 

Sekitaran tahun 2006 ,
di sekolah mereka , sebuah sekolah swasta di Semarang ,
yg TK , SD dan SMP nya berada dalam lokasi bersebelahan.
Selain kantin yg berada dalam lingkungan sekolah ,
di depan sekolahan banyak juga orang yg berjualan.
Mulai dari bakso , es liang teh , bakmi goreng , rujak buah , dll.

Ada seorang bapak berusia 30an , yg berjualan tempura , sosis , scallop.
Jangan membayangkan tempura disitu adalah terbuat dari udang Bago
(Windu , Black Tiger atau bahasa latinnya Penaeus Monodon)
berukuran tanggung (apalagi besar) yg dibuang kepala dan kulit badannya ,
dengan menyisakan satu ruas kulit bawah beserta sirip ekor ,
dan dibalut dengan tepung roti . . . . . . .
Tempura disitu hanyalah olahan tepung , daging ikan dan bumbu ,
ditusuk dengan tusuk sate , kemudian digoreng.
Memakannya dengan sambal saos atau saos tomat.
Harganya ? Lima Ratus Rupiah !
Scallop (Kerang) ? Silahkan membayangkan dengan teknik seperti diatas ,
karena harganya juga hanya Lima Ratus Rupiah . . . .
 

Ketika pak Tempura (demikian anak-anak memanggilnya) ,
tahu bahwa Santi dan Sinta berjualan coklat serta iseng-iseng menawari ,
bapak itu memesan dua paket coklat yg seharga @ 15.000,-

“Buat anak-anak bapak , mau bapak berikan nanti pas hari Valentine.”

Setiap hari pak Tempura menitipkan uang seribu sampai dua ribu kepada Santi dan Sinta , supaya saat Valentine tiba , jumlahnya sudah klop.

“Pah , pak Tempura itu kalo malem jadi bencong lho.”

Kata Sinta kepada papanya.

“Husshh , kalian jangan sembarangan.” Kata Han memperingatkan anaknya.

“Bener koq pah , . . temen Sinta ada yg pernah ngeliat sendiri.
Seringkali kalo pagi di sekolahan tho ,
masih kelihatan bekas riasan dan item-item dibawah matanya (celak mata).”

“Ndak kalian kasih potongan ? Atau kasihkan harga modal aja ?
Khan kalian sudah dapet untung dari yg lainnya ?”

“Ndak pah , . . tapi kami kasih bonus SilverQueen koq.”

“Temen-temen kalian yaa pada tahu , kalo bapak itu malemnya jadi bencong ?”

“Lama-lama yaa banyak yg tahu. Temen-temen kadang ada yg nggangguin ,
tapi bapak itu baik , ndak pernah marah.”
 

Pernah nonton film “Charlie and The Chocolate Factory” ?
Sekitar awal April 2009 , diputar juga di Trans TV.
Di film itu diceritakan ,
demi memenuhi permintaan anaknya ,
untuk mendapatkan tiket emas yg hanya diedarkan sejumlah 5 lembar ,
seorang ayah yg kaya raya membeli coklat hingga berton-ton.
Tiket emas itu berhadiah mengunjungi pabrik coklat terbesar milik Willy Wonka ,
dan anak yg terpilih akan mewarisi usaha pabrik coklat itu.
 

Nilai coklat yg dibeli ,
oleh seorang ayah yg hanya berjualan tempura
dan malam harinya dengan amat sangat terpaksa menjalani kehidupan sisi lain dirinya (Yg pasti sama sekali tidak diinginkannya , andai ia bisa memilih !!)
demi menyambung hidup dan menafkahi istri dan anak-anaknya . . .
pasti berbeda ,
dengan nilai coklat yg dibeli seorang ayah yg kaya raya ,
hingga mampu membeli berton-ton coklat demi memuaskan ego anaknya.

Apa yg membedakan ?
KASIH SAYANG !!!
 
 

Seorang ayah ,
seringkali hanya mendapatkan rasa hormat (bukan kasih sayang) dari anak-anaknya ,
karena ia tak pernah sempat menjelaskan pada anak-anaknya ,
bahwa kasih sayang yg diberikan seorang ayah ,
adalah sama besar dengan yg diberikan oleh seorang ibu.

Ia tak pernah mengambil kesempatan ,
untuk menggungkapkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya ,
seperti yg bisa dilakukan oleh seorang ibu.

Ia tak pernah mencoba mengatakan kepada anak-anaknya ,
bahwa usahanya bekerja -keras- mencari nafkah ,
adalah bentuk kasih sayang yg dikemas dalam ‘rasa’ tanggung jawab.

Ia seringkali lupa ,
bahkan merasa tak perlu untuk meluangkan waktu , sekedar bercanda ,
bergurau atau berbicara dari hati ke hati dengan anak-anaknya ,
seakan . . karena sudah dikodratkan ,
bahwa ia musti menjadi kepala rumah tangga ,
yg seringkali membuat “situasi” menjadi sebuah jarak . . . .
. . . jarak antara hatinya dan hati anak-anaknya.
 

Memang . . .
Tidak semua dari kita ,
berada dalam kondisi hanya bisa memberikan rasa hormat kepada ayah ,
tapi juga bisa memberikan rasa kasih sayang kepada ayah.
*** Jangan katakan bahwa kita menyayangi seseorang ,
bila kita tak mampu mewujudkannya dalam kata , sikap dan perbuatan. ***

Tidak semua dari kita ,
berada dalam kondisi sedemikian dekatnya dengan ayah ,
sehingga hanya bisa memberi rasa hormat pada ibu.
*** Jangan katakan setiap ibu adalah mulia ,
tak punya kesalahan yg tak bisa diterima dan dipahami oleh anak-anaknya. ***

Sungguh beruntung dan patut bersyukur ,
bila kita tidak hanya bisa memberikan rasa hormat kepada ayah dan ibu ,
tapi juga rasa kasih sayang . . . yg tulus ,
bukan pula dengan “bungkusan” : “berbakti”.
Juga sungguh patut bersyukur , bila seorang ayah ,
mempunyai kesempatan dan bisa menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya ,
dan dipahami pula oleh anak-anaknya ,
bukan sekedar dimengerti sebagai bagian kewajiban dan hak seorang ayah ,
untuk mencari dan memberi nafkah bagi keluarga.
 

Anda seorang ayah ?
Sepulang kerja nanti ,
sempatkanlah untuk singgah di toko atau swalayan dalam perjalanan pulang.
Belilah sepotong coklat , sebutir apel , buku , hiasan dinding ,
atau apapun yg disukai anak anda.
Berikanlah padanya dan katakan ,
bahwa anda menyayanginya.

Anda seorang anak ?
Rencanakan dan luangkanlah waktu untuk mengunjungi ayah anda.
Peluk hangatlah dan katakan ,
bahwa anda menyayanginya.
sebelum kesempatan itu tak pernah ada lagi . . . . .
. . . . . . . . seperti yg kualami !!
 

Hormatilah ayahmu dan ibumu ,
sepertinya memang musti dipahami sebagai
hormatilah dan kasihilah ayahmu dan ibumu.

                                                                                 S.O.T.R , Mei 2009
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: