Sepucuk Surat Lusuh – Bag.2

 
Mencari seseorang yg bekerja di sebuah pabrik sepatu di daerah Rungkut industri , pastilah bukan hal yg semudah dalam bayangan Ronggo ,
apalagi hanya berbekal nama , asal dan ciri-ciri.

3 pabrik sepatu yg letaknya berjauhan sudah didatanginya ,
satpam yg mencoba membantupun tak membuahkan hasil.
Satu sesal menggema , andai saja ketika Wardoyo pulang Idul Fitri 3 bulan lalu ,
ia mau diajak langsung ikut ke Surabaya ,
karena saat itu memang ada lowongan kerja.
Andai saja ia menanyakan lebih jelas alamatnya.

Matahari sudah menggelincir ke barat , menyelinapkan sinar kemerahan ,
di antara bangunan-bangunan kokoh dan angkuh simbol modernisasi sebuah kota.

Ribuan buruh dan karyawan di kawasan industri itu mulai bergerak meninggalkan pabrik-pabrik , menuju rumah , tempat kost , mereka masing-masing.
Untuk sejenak melepas lelah , agar esok kembali bisa bergelut dengan kerasnya kehidupan.

Ronggo menatapi satu persatu orang yg keluar dari pabrik ,
ada yg berjalan kaki lalu menuju angkutan-angkutan umum ,
ada yg dengan menaiki sepedanya , ada pula yg bersepeda motor.
Ia masih berharap menemukan sosok temannya , meski satpam telah mengatakan ,
tidak ada karyawan di pabrik itu , seperti yg dimaksud Ronggo.

Ronggo terbiasa menahan lapar ,
namun energi dua potong pisang goreng dan secangkir kopi ,
sudah lama habis tergerus perjalanan kaki yg hampir seharian ,
belum lagi keputus-asaan yg mulai menggerogoti semangatnya.

Pelahan ia berbalik ketika tinggal mobil-mobil yg bergerak meninggalkan pabrik.
Ia berjalan menuju warung terdekat ,
hendak melepaskan lelah dan mengisi perut kosongnya ,
lalu mencari mushala atau masjid terdekat untuk beristirahat.
Agar esok kembali bisa meneruskan pencariannya.

“Bu , minta nasi dan tempe saja , kalo boleh minta sedikit kuah sayur.”

Si ibu menatap Ronggo sejenak , lalu tersenyum dan mengangguk ,
mengambil piring dan mengisi dengan nasi , tempe , sepotong ikan bandeng dan kuah.
Suaminya segera menyiapkan segelas teh manis hangat , meski Ronggo belum memesan.

“Bu , . . lauknya tempe saja , saya tidak punya uang.”

Kata Ronggo ketika menerima piring yg disodorkan ibu itu.

“Makan sajalah dulu , nak.”

Ronggo mengucapkan terima kasih dan mulai makan.

Ibu dan suaminya , pemilik warung itu ,
sepertinya sudah sering menjumpai keadaan seperti itu.
Seorang pemuda dengan tas di pundak ,
berwajah lusuh nyaris bergambar keputus-asaan ,
yg ketika berangkat dari desa dengan wajah sumringah , semangat menggebu ,
dan setumpuk harapan untuk merubah nasib.
Ada yg setelah beberapa hari baru mendapatkan sebuah pekerjaan ,
namun beberapa musti pulang dengan kecewa ,
tak punya nyali untuk mencoba lagi.

Warung masih sepi , karena para buruh , karyawan pabrik ,
yg biasa makan di warung baru mulai berdatangan selepas magrib.

“Dari mana , nak ?”

Bapak pemilik warung itu duduk di sebelah Ronggo ,
sambil mengambil piring yg telah kosong dan menyodorkan pada istrinya.

Ronggo menceritakan asal dan sebab ia sampai ke kota ,
sambil bertanya , barangkali saja bapak dan ibu pemilik warung mengenal Wardoyo , temannya.
Yg cuma dijawab dengan gelengan kepala oleh keduanya.
Ibu itu melambaikan tangannya pada suaminya , dan beberapa saat mereka berbicara sendiri.

“Kalau nak Ronggo mau , bisa bantu-bantu bapak berjualan ,
kebetulan ibu ingin membuka sebuah warung lagi di sebelah barat.”

Di saat seseorang menghadapi ujian hidup yg bertubi-tubi ,
yg serasa melebihi kemampuan diri ,
seringkali yg diharapkannya adalah sebuah keajaiban , bukan kesempatan.
Sehingga , seringkali hikmah dan kesempatan dibiarkan lewat begitu saja ,
dengan tatapan kecewa , rasa nyaris putus asa . . . yg manusiawi ,
serta tidak lagi percaya pada sebuah lobang jarum kemungkinan.

Namun tidak demikian dengan Ronggo ,
baginya yg penting saat ini adalah bisa segera bekerja ,
daripada di desa yg cuma membantu bapaknya di sawah , angon kambing atau beternak ayam.
Ia menerima tawaran baik bapak dan ibu Yitno dan mensyukurinya sebagai sebuah pertolongan.
Pertolongan dari orang yg bahkan baru mengenalnya dari cerita ,
cerita yg bisa saja berbalut dan bertabur kebohongan . . . untuk orang jaman sekarang.

“Bapak juga punya kost-kostan di sebelah rumah , tinggal saja di situ.”
 

———————————————————————————————————————-
 

Satu setengah tahun sudah berlalu , Ronggo menjalani kehidupan di kota ,
meski tidak menjadi karyawan pabrik seperti yg diangankannya semula.
Sesekali ada kerinduan untuk menengok kampung halaman ,
namun ia selalu ingat akan janjinya , “2 tahun” dan “berhasil”.

Kerajinan , kejujuran , kesederhanaan dan rasa tanggung jawab Ronggo ,
membuat pak Yitno dan istrinya menyayangi seakan anaknya sendiri ,
terlebih ke empat anaknya semua perempuan.
Merekapun berniatan menjodohkan Ronggo dengan putri ketiganya , Wardah ,
yg dua tahun lalu lulus Madrasah Aliyah ,
dan memilih membantu orang tuanya berjualan , sambil mengikuti kursus membuat kue.

Meski tanpa kehadiran dan restu orang tua Ronggo ,
pernikahan tetap berjalan tanpa sesuatu masalah apapun.
Toh mereka sudah cukup mengenal Ronggo selama satu setengah tahun.
Surat-surat ? Bukan hal yg sulit . . . terlebih masa itu.
 

———————————————————————————————————————-
 

Bulan depan adalah genap 2 tahun waktu bergulir sejak kepergian Ronggo dari desanya.
Kian tebal rasa rindu di diri Ronggo ,
rindu pada desanya , pada bapak dan ibunya ,
pada adik perempuannya dan , . . . . pada Anisa . . . .

Ach , apalagi yg musti dirindukan tentang Anisa ?
Toh , Anisa sekarang sudah menjadi milik Margono , bukan lagi kekasihnya.
Apalagi yg bisa diharapkan dari kekecewaan yg telah diberikan Anisa padanya ?

Setidaknya , kepulangannya kali ini untuk menepati janji pada dirinya sendiri ,
membuktikan janji yg disaksikan Anisa ,
bahwa ia baru akan pulang setelah 2 tahun ,
setelah berhasil merubah nasib dengan usaha dan kemampuan dirinya sendiri.
Ia sudah mengelola sebuah warung
dan iapun sudah mendapatkan seorang wanita ,
yg menurut ukuran orang-orang di desanya , pasti di atas Anisa.
Dan ia ingin Anisa mengetahui semua itu . . . .
Mengapa ??? Untuk apa ???
 

———————————————————————————————————————-
 

Sebuah motor Honda Astrea yg masih baru , menghantar Ronggo dan istrinya memasuki desa.
Cuaca seperti bersahabat dengan perjalanan mereka.
Mendung bergayut di angkasa , namun tak menjanjikan hujan.

Bapak , ibu dan adik perempuannya amat terkejut dan gembira melihat kepulangan Ronggo.
Karena selama ini tak sedikitpun terdengar beritanya ,
Wardoyo yg ketika pulang sempat dimintai tolongpun tidak memberi kabar apapun.
Apalagi kepulangan Ronggo dengan seorang wanita yg terlihat soleh , santun ,
dan cepat sekali akrab dengan suasana desa , meski tinggal di kota.

Bapak Ronggo segera menuju ke belakang ,
memilih ayam untuk selametan atas kepulangan anaknya.
Sementara adik perempuannya mulai sibuk di dapur , dibantu tetangga yg mengetahui.
 

“Bagaimana kabar Anisa , bu ? Sudah punya anak khan ?”

Tanya Ronggo kepada ibunya di depan istrinya.
Sementara istrinya cuma tersenyum ,
tanpa ada sedikitpun rasa tidak suka ataupun cemburu terbias di wajahnya.
Ronggo sudah menceritakan semua yg dialaminya dan ia percaya dengan suaminya.
Ya , bagi Ronggo , Anisa hanyalah masa lalu.
Bahkan disadari atau tidak oleh Wardah ,
ia pun ingin menyaksikan segaris sesal di wajah Anisa ,
karena lebih memilih Margono ketimbang Ronggo.
 

Satu hal yg sering dilupakan oleh manusia di saat ia merasa sudah berhasil.
Bahwa itu semua tercapai adalah juga karena orang lain ,
bukan hanya yg memberi semangat dan kesempatan dengan senyuman ,
namun juga yg menghambat dan mencaci hina dirinya sekalipun ,
yg nyata-nyata sering lebih membangkitkan semangat.

Bahkan seseorang pernah berkata ,
“Musuh menguatkan , sahabat melemahkan.”
Tentu ia punya pengalaman yg berbeda tentang “musuh” dan “sahabat” ,
sehingga sampai ia mengucapkan kata-kata itu ,
karena banyak hal lain yg ikut menentukan dalam setiap perjalanan.

Namun satu hal yg pasti ,
Kita berada di “hari ini” , adalah karena kita pernah berada di hari “kemarin”.
Dan dalam perjalanan dari “kemarin” hingga sampai di “hari ini” ,
banyak yg patut kita syukuri ,
bahkan ketika itu adalah hal yg menyakitkan sekalipun.

Hal yg indah , manis , lucu , punya , suram , pahit , sedih , tiada ,
semua hanyalah menjadi pernik-pernik yg terangkai menjadi untaian bernama hidup.
 

Wanita separuh baya itu menatap anak dan menantunya silih berganti ,
kesedihan mulai tergambar di antara kerutan-kerutan yg menghias wajahnya.
Pelahan air mata mengembang di pelupuk matanya.

“Anisa tidak jadi menikah dengan Margono.”

“Haahhhh !!!

Andai saat itu geledheg yg paling keras membelah langit ,
tak akan membuat Ronggo seterkejut itu.

“Kenapa , bu ?”

Tanya Ronggo dengan suara bergetar. Perasaannya mulai bercampur aduk.

“Bapaknya Anisa merelakan sawah sepetak satu-satunya untuk membayar hutang , agar Anisa tidak jadi menikah dengan Margono.
namun pakwo Jamil rupanya sakit hati ,
disebarkannya omongan bahwa pakwo Jamil yg membatalkan lamaran itu ,
karena Anisa sudah bukan perawan. Omongan orang kaya khan lebih dipercaya.
Beberapa bulan kemudian bapak Anisa meninggal , hatinya sakit . . . malu . . .”

Yaa !!! Bagi -sebagian- orang miskin ,
cuma harga diri , kebenaran dan rasa malu ,
yg dipunyai , yg bisa dibanggakan ,
yg membuatnya berani menatap matahari dan kokoh disapu angin.
Sekalipun sering ,
nilai-nilai itu tidaklah dipandang dengan jujur dan dihargai dengan arif ,
namun di’label’i sebagai pembangkangan , kebodohan dan
bentuk ketidak-tahu-dirian atas ‘baju miskin’ yg dikenakannya.

Kita memang masih sering lebih terpikat ,
terpesona dan membungkuk dalam-dalam ,
pada selembar sampiran bernama kedudukan ,
pada sejumput titipan bernama harta ,
dan enggan memberi kesempatan pada jiwa untuk mengaca.

 

Darah Ronggo seperti mendidih.
Siapa sasaran omongan “Anisa sudah bukan perawan” , bila bukan dirinya.
Selama mereka berpacaran ,
berpelukan dan berciuman saja ,
sudah membuat mereka merasa seakan suami istri ,
dan tak berani melangkah lebih jauh sebelum mereka benar-benar sah sebagai suami istri.

“Lalu . . . . ”

“Temuilah sendiri , nak. Biasanya jam-jam segini Anisa sudah pulang dari berjualan di pasar.”
 

Ada kecemasan terbias di raut wajah Wardah ,
ketika mendengar cerita ibu mertuanya.
Ia tidak segera bangkit berdiri ketika Ronggo menggamit tangannya ,
mengajaknya untuk menemui Anisa.

“Percayalah padaku , dik. Aku cuma ingin bersilaturahmi , melihat keadaannya.
Tidaklah akan aku berubah pikiran meski Anisa tidak jadi menikah dengan Margono.
Toh , sebelum aku ke kota , Anisa berkali-kali mengatakan ,
kalau keputusannya tetap akan menerima lamaran Margono.
Kalau sekarang keadaannya seperti ini , pastilah bukan salahku.”
 

Siapa manusia yg mau , bisa dan berani berteriak “Ini salahku !” ,
terhadap sesuatu akibat yg tidak jelas disebabkan olehnya ?
Sedang ketika salah jelas terpampang saja ,
masih bertopeng “kata” dan sodorkan “kambing hitam”.

 
 

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: