Sepucuk Surat Lusuh – Bag.3 (selesai)

 
Sepeda motor Ronggo memasuki halaman rumah Anisa.
Rumah itu ,
cuma sekitar satu meter dinding bagian bawahnya yg berupa tembok ,
sementara bagian atas , masih berupa dinding gedheg (anyaman bambu) , yg dikapur tebal.
Lantainyapun cuma peluran semen tanpa ubin tegel , teraso apalagi keramik.

Ibu Anisa menerima sungkem Ronggo dengan perasaan yg bercampur aduk ,
terlebih ketika diperkenalkannya wanita di sebelah Ronggo sebagai istri Ronggo ,
yg segera dengan rasa hormat dan santunnya membungkuk , mencium tangan ibu Anisa.

Belum sepatah kata terucap dari mulut wanita separuh baya itu ,
pandang mata mereka beralih ke luar rumah.
Seorang wanita muda dengan rambut yg menggelombang terurai sebahu ,
wajah bulat telur dengan sebuah lesung pipit di pipinya ,
serta senyum manis dan menyapa ramah pada orang yg dijumpainya ,
mengayuh sepedanya pelahan memasuki halaman rumah.
Di kiri kanan stang sepedanya , nampak tergantung tas belanjaan.

Matanya menatap dengan penuh pertanyaan demi dilihatnya sepeda motor di halaman rumahnya.
Ketika diarahkannya pandang matanya ke dalam rumah ,
yg tampak remang oleh mendung ,
sementara cahaya yg menerangi hanyalah dari beberapa genteng kaca dan jendela.
Listrik ?
Penerangan lampu didapat dari menyalur genset milik pak Lurah , yg menyala menjelang magrib.

Tersentak demi melihat wajah dan sosok tubuh yg amat dikenalnya.
Dilakukannya lagi hal yg sama seperti 2 tahun lalu ,
digeletakkannya begitu saja sepedanya di halaman rumah.
Diliputi kegembiraan Anisa berteriak memanggil Ronggo ,
setengah berlari ia menuju pintu , nyaris jatuh tersandung lantai bagian dalam rumah.

Anisa mengembangkan kedua tangannya hendak memeluk Ronggo ,
namun niatnya urung dan cuma bisa terpaku menatap Ronggo dan Wardah bergantian.
Naluri wanitanya sudah berbisik dan tak pernah ingkar.
Wanita di sebelah Ronggo itu adalah . . . . . . . . . .

“Anisa , . . ini Wardah , . . . . . istriku . . .”

Dari yg direncanakannya semula ,
kesombongan berbalutkan kalimat kebanggaan ,
menunjukkan bahwa ia bisa berhasil
dan bahkan mendapatkan istri yg lebih dari Anisa ,
berubah menjadi rasa menyesal , rasa bersalah , rasa malu ,
dan iapun merasa kerdil dan tak berarti di hadapan ketegaran Anisa.

Anisa limbung , dunia seperti berputar terlalu cepat . . . untuknya.
Ronggo segera meraih tubuh langsing berkulit sawo matang ,
yg setiap hari terbakar terik matahari ,
demi menunggu sebuah waktu . . . . 2 tahun.
Ronggo membopong Anisa masuk ke kamar ,
yg hanya berpintukan sehelai kain gorden ,
dan membaringkan tubuh Anisa di kasur kapuk yg nyaris rata dengan ranjang kayu.

Wardah mengulurkan minyak angin yg selalu dibawanya bila bepergian jauh ,
matanya mulai berkaca-kaca ,
pancaran keharuan terhadap perjalanan sebuah cinta.
Wardah tak mampu membayangkan apa yg telah dialami Anisa ,
ia juga tak berani membayangkan semua yg mungkin akan terjadi dengan dirinya.
Ia bisa melihat , merasakan , bagaimanapun juga suaminya masih mencintai Anisa.

Ronggo yg duduk di sisi ranjang mengoles-oleskan minyak angin di bawah hidung Anisa , agar aromanya mampu membuat Anisa tersadar.
Ibu Anisa cuma berdiri mematung dan terisak-isak ,
perempuan lugu itu tak mampu berkata apapun ,
meski ingin rasanya ia menumpahkan kemarahan pada Ronggo.

Tak berapa lama Anisa mulai siuman ,
Ronggo membantu Anisa duduk bersandar pada dinding gedheg kamar.
Adik Anisa masuk membawa segelas teh manis hangat dan menyodorkannya pada Ronggo ,
yg segera meraih dan meminumkannya pelahan-pelahan pada Anisa.

“Mengapa , mas ? Mas tidak percaya dengan janjiku ?”

“Janji ?? Janji apa , Nis ?
Bukankah waktu itu engkau bersikukuh akan menerima lamaran Margono ?”

Air mata Anisa tak lagi terbendung ,
genggaman tangan Ronggo tak lagi menenangkan hatinya , . . . seperti dulu ,
namun terasa seperti mengalirkan listrik yg setiap denyutnya menyakitkan hati.
Ditatapnya dengan penuh kecintaan wajah ‘kekasih’nya ,
yg dirindukannya siang dan malam , hujan dan terang , sakit dan sehat , tawa dan tangis.
Yg hampir setiap malam didaraskannya doa , agar selamat dan berhasil dirantau ,
demi semua harapan , demi semua angan dan demi semua mimpi mereka.
Yg demi dirinya , ia telah bersujud memohon pada bapaknya ,
agar mengembalikan rembug rencana lamaran dirinya ,
yg bagi orang desa seperti mereka adalah pamali , pantangan.
 

“Bukankah aku sudah menuliskannya di surat itu , mas ?
Aku akan memohon agar bapak membatalkan rembug itu.
Aku akan menunggumu selama 2 tahun ,
bahkan andai sampai mas merasa sudah berhasil.
Aku akan selalu berdoa untuk semua usahamu , . . demi kita , demi impian kita.
Apakah mas lupa dengan isi suratku ?
Apakah mas tidak percaya dengan janjiku ?”

Ronggo tak mampu berkata apapun.
Seribu sesal memenuhi rongga dadanya , meluapkan sedih bernama air mata.
Seribu andai memenuhi benaknya , namun sang waktu tak kan pernah kembali.

Masih terbayang , ketika kemudian ia mengambil lagi surat itu dari sakunya.
Pelahan disobeknya amplop itu menjadi dua bagian ,
lalu menumpukkan kedua bagian itu dan menyobek , . . menyobek , . . dan menyobek lagi ,
hingga menjadi bagian kecil-kecil ,
yg ketika diulurkannya tangannya ke jendela mobil ,
angin dengan cepat menerbangkan kata demi kata yg tak pernah dibacanya.

Andai waktu itu Ronggo tak menuruti kata hatinya ,
akankah duka dan kesedihan terjadi seperti saat ini ?
Andai waktu itu Anisa bisa mengucapkan semua kata-kata itu ,
akankah kebahagiaan yg menaungi pertemuan mereka ?
Ach , semua sudah terjadi . . . .
Seribu andai tak akan mengembalikan bintang-bintang kepada malam.
 

       Sebaris kata tak terucap ,
       sebaris kata tak terbaca ,
       telah merubah sebuah kisah.
                                                                    Yoga Hart
                                                                    S.O.T.R , April ’10
 
 
=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: