Hingga Gugurnya Kelopak Bunga Terakhir

 

Saat pria putus cinta . . ia tidak akan menangisi cintanya ,
namun ia perlu waktu lama untuk melupakan cintanya yang t’lah usai.
Sementara perempuan . . ia akan menangisi cintanya 7 hari 7 malam ,
namun saat datang pengganti sang cinta ,
maka 100 % ia akan melupakan cinta yang lalu itu.
( from Pingkan MD )
 

Mungkin lelaki yg menuliskan kata-kata di site-nya , yogahart.multiply.com ,
tidak pernah menemui perempuan yg ketika putus cinta ,
tak juga mampu melupakan sakit hatinya setelah bertahun-tahun berlalu.
Yg bahkan memilih menutup rapat pintu dan jendela hati
dan membiarkan satu demi satu lelaki ,
yg mempersembahkan nampan berisi cinta ,
yg berkemilauan harta , bermaniskan rayu dan puji , beraromakan kasih sayang ,
berlalu dengan seribu tanya dan kekecewaan bahkan tatapan sinis.
 

———————————————————————————————————————-
 

“Mitha , kapan kamu akan memikirkan untuk menikah ?

“Lelaki seperti apa sih , yg kamu cari ?”

“Apa kamu menunggu adik ragilmu juga melangkahimu , baru kamu terpikir untuk menikah ?”

Itu cuma sebagian dari kata-kata mama yg sering terlontar ,
ketika menerima undangan pernikahan anak temannya ,
melihat berita selebritis di tivi ,
mendengar pengumuman rencana pernikahan di akhir misa ,
bahkan ketika Minah , pembantu kami yg baru 18 tahun minta berhenti karena akan menikah.

“Nanti akan tiba waktunya , ma.”

Cuma itu selalu jawabanku ,
karena aku sadar tak mudah menyembuhkan luka hatiku ,
sejak Anton tiba-tiba memutuskan hubungan cinta kami yg sudah terjalin 4 tahun , dan 3 bulan kemudian aku menerima undangan pernikahannya dengan sahabatku !

Dan kini ,
setelah 6 tahun berlalu tanpa pernah ada seorang lelakipun yg mengisi hatiku ,
dan aku merasa sudah bisa bersikap datar dan tawar , tanpa kesedihan ,
gejolak kemarahan ataupun terasa luka perih menoreh hatiku ,
ketika teringat berbagai peristiwa dalam lembaran catatan cinta yg tlah berlalu ,
Tuhan tak hanya mempertemukan aku dengan seorang namun dua orang !
 

———————————————————————————————————————-
 

Tiba-tiba setir Innova yg kukemudikan terasa berat ke sebelah kanan ,
ban depan sebelah kanan pasti kempes.
Aku segera meminggirkan dan menghentikan mobilku
di depan sebuah kios cucian kiloan dan persewaan buku di pinggir kota.

Aku mengambil hape dari tasku dan hendak menghubungi mama ,
semoga pak Ratno , sopir papa belum pulang dan bisa menyusulku untuk mengganti ban.
Namun , baru saja tersambung , nada low batt terdengar dan hapekupun mati.

“Dhuuuh , gimana ini . . . .”

Keluhku dalam hati sambil melihat ke sekeliling , barangkali ada tambal ban yg buka.
Namun meski baru jam sembilan malam , hujan membuat jalanan nampak sepi.
Warung dan kios-kios yg bersebelahan dengan kios persewaan buku itu tutup semua.

Tak berapa lama , kulihat dari kios itu seorang lelaki keluar ,
dengan berpayung menuju ke arahku dan kemudian mengetuk kaca samping.

“Mobilnya kenapa mbak ?”

“Nggg , bannya kempes mas , . . ada tambal ban gak ya di sekitar sini ?”

“Agak jauh mbak , lagian jam segini juga sudah pada tutup.
Ban serepnya ada khan ?
Kalo mau , biar saya gantikan bannya , mbak nunggu di kios saya aja.”

Akupun keluar dari mobil dan dipayunginya aku berjalan menuju ke kiosnya.

“Kalo mau minum , di lemari dispenser ada teh celup dan gula , . . kopi juga ada.”

Ia lalu mengambil jas hujan dari motornya dan memakainya lalu menuju mobilku.
Melihat ia jongkok berhujan-hujan menurunkan ban serep ,
hatiku merasa tak enak , aku mengambil payung dan mendekatinya bermaksud memayunginya.

“Gak usah mbak , mbak di kios aja.
Nanti dimarahi mama lho , kalo hujan-hujanan.”

Aku tersenyum geli mendengar gurauannya.
Gurauan yg biasa saja bahkan terasa kekanakan tapi begitu menyenangkan hatiku.
Akupun lalu menurutinya dan kembali masuk ke kiosnya.

Sambil menyeduh teh di 2 cangkir melamin , aku melihat-lihat koleksi buku yg disewakannya.
Wooow , lengkap juga buat ukuran persewaan pinggiran kota ,
mulai komik-komik anime , cerita silat Kho Ping Hoo , Gan KL ,
sampai novel-novelnya Mira W , Agatha Christie , Sidney Sheldon ,
bahkan sastra melayu seperti Salah Asuhan , Siti Nurbaya , Kasih Tak Sampai.

“Mbak , ini kuncinya. Ban yg bocor saya taruh di belakang.”

Aku tak menyadari ia telah berada di dalam kios ,
karena aku membelakangi pintu kaca kios asyik membaca sebuah novel.

“Oh iya , makasih ya mas. Ngg . . koq masih buka tho jam segini ?”

“Tadi sudah mau tutup , pas mbak . . .”

“Mitha , panggil saja aku Mitha.”

Kataku sambil mengulurkan tangan.

“Dharma , maaf . . tanganku basah dan kotor.”

Ia tersenyum dan menunjukkan kedua tangannya.

“Aku pinjam novel ini yaa ? Berapa , mas ?”

“Bawa aja , gak apa-apa.”
 

Dharma , ia lelaki pertama ,
yg pelahan-lahan membuat aku kembali merasakan apa yg bertahun-tahun terlupakan.
Rasa kangen , ingin berdekatan , memperhatikan , diperhatikan , dan berbagai rasa yg baru kusadari ,
sebelumnya tak pernah kurasakan seperti ini getarannya ,
ketika bersama Anton.
 

———————————————————————————————————————-
 

“Mitha , ada anak teman papa yg baru pulang dari Singapore , mungkin bisa menjadi temanmu.”

“Tapi , ma . . . ”

“Cuma berteman sayang , mama gak memintamu untuk menikah dengannya.”

Sebulan setelah aku mengenal Dharma ,
dalam sebuah acara makan malam bersama teman bisnis papa , aku diperkenalkan dengan Brain ,
yg tak kupungkiri , ketampanan dan gayanya yg simpatik mampu membuat aku tertarik.

“Dia terlalu sibuk belajar dan bekerja , karena dia calon pewaris perusahaan papanya.”

Itu jawaban papa ketika kutanyakan ,
mengapa lelaki tampan , pintar dan sekaya itu ,
yg pasti mampu membuat banyak wanita terpikat bahkan mungkin beberapa akan mengejar-ngejar ,
hingga usia empat puluh tahun masih juga belum berkeluarga.
 

Lima bulan aku menjalani hubungan yg masih belum bermahkotakan status dengan Brain.
Hubungan yg berjalan baik-baik saja , tak ada gejolak ,
bagai air kolam tanpa ikan yg bisa sesekali meloncat ke atas air.
Meski komunikasi terjalin baik , lancar dan nyambung ,
namun lebih banyak berupa pertukaran pendapat dan pandangan tentang visi masa depan.

Dengan Dharma aku merasa lebih menjadi diriku ,
berdiskusi tentang tokoh sebuah buku ,
berfilsafat ringan dari kehidupan sehari-hari ,
bergurau , berdebat , saling mengolok ,
bahkan saling bercerita tentang kisah cinta masa lalu masing-masing ,
lalu menarik benang warna-warni dan mencoba menjadikan sulaman angan tentang indahnya cinta.
 

———————————————————————————————————————-
 

Ada yg berbeda tentang perasaan dan pikiran pada seseorang wanita dewasa , ketika mencintai dengan ketika memutuskan untuk menikah.
Ketika mencintai ia menutup mata dan telinga tentang lelaki yg dicintainya.
Ia menyisihkan pikiran dan menggantikannya dengan perasaan yg penuh semerbak bunga.
Namun ketika tiba waktunya untuk memutuskan menikah ,
ia akan membuka lebar-lebar mata , telinga tentang hal-hal sekecil apapun dari lelaki itu.
Tiba-tiba ia mampu menyisihkan semua yg tentang perasaan
dan menggantikannya dengan pikiran yg penuh pertimbangan dan perhitungan.

Pasti tidak berlaku untuk semua wanita , lelaki itu menambahkan.
Dan aku membenarkan yg Yoga Hart , lelaki itu tuliskan di sitenya ,
sekurangnya , itulah yg saat ini menjadi pemikiranku ,
mempersiapkan diri untuk ketika tiba waktunya memutuskan ,
dengan siapa aku akan menjatuhkan pilihan menjalani kehidupan bersama dalam sebuah ikatan.
 

“Mas , aku mau ngomong sesuatu nih.”

Kataku pada Dharma di kios persewaan bukunya.

“Tentang apa ?”

“Nggg , aku lagi deket dengan seseorang.”

“Khan kita memang lagi deket , cuma terpisah meja ini , hee.hee.hee..”

Entah karena ia mengira dirinyalah yg kumaksudkan , atau ia hanya bercanda , aku tak tahu.

“Beneran nih , mas . . aku serius.”

Lalu akupun menceritakan tentang Brain ,
yg bahkan minggu kemarin saat kami makan malam bersama.
Mama Brain secara terus terang mengatakan sangat bahagia dengan kebersamaan kami ,
dan berharap dalam waktu yg relatif dekat segera menikah.

Aku melihat pelahan-lahan raut wajah Dharma berubah , . . muram.
Meski selama ini tak sekalipun ia mengutarakan perasaannya padaku ,
aku tahu pasti , . . ia mencintaiku.
Aku merasa , karena perbedaan status sosial dan ekonomi di antara kami ,
Dharma selama ini memilih menahan diri dan menikmati saja kebahagiaan hubungan kami.

“Maafkan aku , mas. Kita tetap bisa berteman khan ?”

Aku meraih tangannya dan menggenggamnya.

“Kita khan memang berteman , Mit. Hanya berteman !”
 

Sebagian besar lelaki itu tidak pandai berbohong ,
ia berusaha menunjukkan dengan seakan-akan berkata dan bersikap jujur.

Beda dengan sebagian besar wanita ,
yg hanya tersenyum manis , diam tak bersuara sedikitpun , tahu-tahu wussss . .

Kembali aku teringat kalimat di site lelaki itu untuk mereply komen dari seorang temannya.
Sebenarnya kalimat lelaki itu mengomentari tentang perbedaan antara lelaki dan wanita , dalam menyembunyikan kebohongan karena memiliki hubungan dengan yg lain , berselingkuh.

Kurasakan kebenaran kalimat itu. Dan Dharma mencoba menutupi perasaannya ,
perasaan kecewa , sedih , sakit , atau entah apa lagi . . .
agar aku senang dan merasa mantap , tak ada yg mengganjal dengan keputusanku.
Meski sebenarnya , di antara aku dan Brain
belum ada pembicaraan yg lebih serius tentang hubungan kami.
 

Berbeda ketika aku bercerita kepada Brain ,
bahwa aku memiliki seorang teman dekat.
Tak sedikitpun perubahan yg ditunjukkan raut wajahnya , ia bahkan meyakinkan diriku.

“Bagiku yg terpenting adalah pada kenyataannya kita punya banyak keserasian ,
untuk meneruskan hubungan kita ke pernikahan , dan nantinya itu semua tinggal masa lalumu.”

Mungkin terlihat sedemikian dewasa , santun dan bijaknya Brain menyikapi ,
tapi aku merasa bahwa ia sebenarnya ia hanya memperdulikan pikirannya ,
ia tak terlalu peduli dengan perasaanku !
 

———————————————————————————————————————-
 

Satu bulan berlalu sejak aku menceritakan hubunganku dengan Brain ,
Dharma tak pernah lagi mendahului menelponku atau mengirim sms ,
namun dari suaranya aku merasakan nada kebahagiaan ketika aku yg menelponnya lebih dulu.

“Kenapa mas , gak pernah lagi menelponku atau sms ?”

Tanyaku suatu sore ketika kusempatkan mampir di kios persewaan bukunya.

“Mit , pacarku yg ketiga , yg paling akhir ,
meninggalkan aku karena ia menilai aku masih juga memberi perhatian berlebih
dan terlalu dekat dengan mantan-mantanku.
Padahal menurutku , waktu itu , . . itu adalah hal yg wajar saja.
Yg penting cintaku hanya untuk dia , namun ia tidak bisa menerimanya.
Dari situlah aku belajar dan kuterapkan padamu.
Meski tak pernah kukatakan , kita sudah sama-sama dewasa ,
kamu pasti mengerti perasaanku padamu.”

“Semestinya mas berjuang untuk perasaan itu , bukannya malah nglokro gitu mas.”

Sekilas sesal terlintas setelah aku mengucapkan kalimat itu ,
kalimat yg bermakna memberinya harapan bahkan sebenarnya aku mengharapkannya.

“Ini bukan saatnya untuk menunjukkan perjuangan yg bisa kulakukan untuk cintaku ,
ini saatnya untuk melihat hasil perjuanganku , . . dan kamu sudah menentukan pilihan.
Aku tidak mau terasa berada di antara kalian ,
apalagi sampai bersemi lagi harapan yg telah kupupus pelahan-lahan !”
 

———————————————————————————————————————-
 

Dua minggu kemudian , di hari ulang tahunku ,
Dharma menelponku pagi-pagi mengucapkan selamat ulang tahun
dan sekedar berbasa-basi bertanya kabar , tak ada pembicaraan yg istimewa.

Namun menjelang malam , ketika Brain menjemputku untuk makan malam ,
Dharma datang dengan motornya dengan membawa buket bunga mawar merah.
Tampak indah dengan beberapa bunga putih kecil diantara kuntum-kuntum mawar yg mulai mekar.
Meski tak kuhitung , nampaknya jumlah kuntumnya disamakan dengan umurku.

Aku menyuruh bibi untuk memindahkannya ke salah satu vas bunga koleksi mama.

Setelah mereka saling kuperkenalkan , aku berbasa-basi.

“Mas , ikut sekalian yuk ?”

“Gak ach , lagian aku juga sudah janjian makan malam koq , sama Ratih.”

Aku cuma tersenyum lebar mendengar jawabannya , Ratih adalah keponakannya yg masih SD.
 

———————————————————————————————————————-
 
Red_Rose

Sepulang dari makan malam , aku mengamati bunga mawar pemberian Dharma.
Harum wanginya seakan membuat aku terbayang saat-saat bersama dengan Dharma.
Sebuah kartu ucapan yg tadi tak sempat kubaca , tergeletak di samping vas bunga.
Aku membuka dan membaca tulisan yg ada di bagian dalam kartu kecil merah muda itu.

           “Selamat Ulang Tahun , Mitha.
           Semoga sehat selalu , berlimpah berkah dan berbahagia.
           Tuhan memberkatimu.

           Dalam diam ,
           aku akan mencintaimu hingga gugurnya kelopak bunga terakhir.”
 

Aku tersenyum ketika sekali-lagi membaca kalimat terakhir itu.
Berapa lama , bunga mawar akan mampu mempertahankan keguguran kelopak demi kelopaknya ?

Aku menyuruh bibi mengganti air vas setiap hari ,
agar bunga mawar itu mekar sempurna semuanya sekaligus mempertahankan kesegarannya.
Hampir setiap hari sebelum berangkat kerja dan sepulangnya , aku mengamati bunga mawar itu.

Hingga hari ke enam , kulihat beberapa kelopak bunga mawar mulai berguguran.
Aku kembali bertanya-tanya , apa sebenarnya makna kata-kata yg Dharma tuliskan.
Aku mengumpulkan kelopak-kelopak itu dan menyimpannya dalam sebuah guci kecil milik mama
dan kuletakkan di atas nakas di sebelah tempat tidurku.

Hari ke tujuh , semakin banyak kelopak-kelopak kuntum mawar yg berguguran.
Kukumpulkan semuanya dan kujadikan satu dengan kelopak yg kemarin.
Aku merasa sedih , mungkinkah itu hanya kata-kata romantis untuk menyenangkan hatiku ?

Hari ke delapan , aku terburu-buru berangkat kerja ,
sehingga baru sepulang kerja aku bisa mengamati dengan seksama.
Kulihat beberapa tangkai sudah tak lagi berkelopak ,
perasaanku seperti terbawa kelopak-kelopak yg gugur.
Pelahan mataku terpaku pada sekuntum bunga mawar yg berada di tengah ,
ya Tuhan ! tak satupun kelopaknya yg gugur , ia masih utuh.
Darah di seluruh tubuhku seakan mengalir dengan kencang ,
tangankupun terasa bergetar ketika meraih tangkai bunga itu.

Aku memejamkan mataku sambil menggenggam tangkai bunga mawar merah itu , tak tahu musti tersenyum ataukah menangis sebagai ungkapan perasaanku.

Itu hanyalah bunga hiasan yg mirip sekali dengan bunga asli.
Achhh , . . . . adakah ia mengumpamakan dirinya , cintanya ,
sebagai mawar hiasan , yg meski tak wangi semerbak ,
namun takkan pernah gugur kelopaknya dan layu ?

Kusadari kesedihan yg teramat dalam menyentuh hatiku ,
dari sudut-sudut mataku mengalir air mata yg kemudian jatuh setetes demi setetes.

          “Mas Dharma , . . .
           Maafkanlah aku , yg tak punya keyakinan berpijak lekat pada cinta ,
           ‘tuk berkayuh biduk bersamamu , mengarungi samudra kehidupan . . . ”

                                                                                  S.O.T.R , Oktober ’10
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: