Cinta Sejati (Masih Adakah ?)

 
Ketika berjalan menuju makam papa ,
aku menyaksikan pemandangan yg menarik perhatianku.
Seorang perempuan bukan Tionghwa yg mengenakan kerudung ,
bersimpuh dan berdoa dengan khusuknya disebuah pelataran makam seorang Tionghwa.

Istri pejaga pemakaman menyambutku dengan basa-basi ketika melihatku datang ,
kemudian mengiringi langkahku dengan diikuti 3 orang anaknya yg masih kecil.
Aku bertanya tentang perempuan yg kulihat tadi ,
yg segera dijawabnya dengan cerita yg panjang . . . . . . . . . .
 

———————————————————————————————————————-
 

“Mengapa kamu mau menikahinya ?”

Tanya Wiyono pada Tan ,
yg memintanya untuk menjadi wali nikahnya dengan Maesaroh . . . secara Islam.

 

Mereka tak muda lagi , usia Tan sudah kepala lima dan Maesaroh hampir 40.
Dan itupun bukan pernikahan pertama mereka.
Tan masih berstatus suami dari seorang wanita yg memberinya 3 orang anak.
Sedangkan Maesaroh pernah menikah 2 kali , namun tidak mempunyai anak.

Perjalanan hidup seseorang bisa diramalkan , namun tidak bisa dipastikan.
Ketika Dewi Fortuna menyertai , rejeki dan keberuntungan seakan tak habisnya.
Namun ketika cobaan menerpa , ibarat orang jatuh yg tertimpa tangga ,
tertusuk paku yg ada pada tangga , masih pula terinjak orang yg lewat.

Itu yg dialami Tan , yg dulunya sub kontraktor proyek Inpres.
Ketika usahanya merugi , rekanannya tidak juga menyelesaikan pembayaran ,
sedangkan ia harus membayar bahan-bahan yg sudah diambilnya secara bon ,
dokter memvonisnya dengan penyakit paru-paru , mungkin karena uap karbit.
Stress dan entah karena apa lagi , ia menderita penyakit kulit disekujur tubuhnya.

Istrinya tak mau menerimanya lagi karena berkeyakinan ,
bahwa itu adalah karena penyakit kelamin.
Dianggapnya pula kehancuran usaha itu adalah nasib sial yg dibawa Tan.
Keterangan dokter pun tak membuat istrinya berpikir , ia malah mengusir suaminya.
Ia lupa sudah , itulah lelaki paling tampan pujaan hatinya ,
yg bertahun-tahun lalu diterimanya dengan hati bersemarakkan sejuta bunga ,
untuk membimbingnya menuju tahta pelaminan.

Kembalilah Tan ke kota kelahirannya dan menumpang pada teman karibnya , Wiyono.
Wiyono memberinya pekerjaan membantu menjaga tokonya di kota itu.
Sebulan atau dua bulan sekali Tan menengok anak istrinya ,
memberi uang untuk biaya hidup dan biaya sekolah anak-anaknya.

Pertemuannya dengan Maesaroh memberinya warna kehidupan yg lain.
Merekapun menikah secara Islam dan tinggal di desa dekat kota itu ,
meneruskan toko kelontong milik Maesaroh.
Namun hasil toko kecil itu tak cukup untuk hidup mereka dan biaya berobat Tan.
Maesarohpun memutuskan untuk menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita).

2 atau 3 bulan sekali Maesaroh mengirim sepucuk surat ,
sebagai ungkapan kerinduan dan cintanya pada sang suami.
Tak sedikitpun ada keluhan atau kesedihan yg ditulisnya.
Di suratnya , Maesaroh selalu memberi harapan dan semangat hidup untuk suaminya.
Dijanjikannya pula ,
sepulangnya nanti , ia akan membawa suaminya berobat ke dokter terbaik.
Dan setiap menerima surat dari Maesaroh ,
Tan akan menatapi dan membaca surat itu berulang-ulang ,
sambil meneteskan air mata.

Hingga suatu hari , toko kelontong yg biasanya buka jam 6 pagi itu ,
menimbulkan kecurigaan tetangga yg akan berbelanja ,
karena setelah jam 8 pun masih tutup.
Setelah berkali-kali mengetuk dan memanggil tanpa ada jawaban ,
tetangga itu melapor ke RT dan bersama dengan tetangga lain mendobrak masuk.
Dalam kamarnya , Tan telah terbujur kaku tak bernafas ,
bibirnya nampak menyunggingkan senyum . . .
sementara kedua tangannya menumpang di dadanya ,
mendekap sepucuk surat ….dari Maesaroh , istrinya.
Seakan rasa dan suksma istrinyalah yg didekapnya . . . erat.
Ia meninggal . . . . dalam kesendirian.

Tetangganya segera menemui Wiyono.
Dan Wiyono pun menghubungi istri pertama Tan , yg berada di kota lain.
Pada hari-hari sebelum pemakaman ,
istri Tan dan anak-anaknya berdiri di sisi peti ,
seperti layaknya adat orang Tionghwa.
Isak tangis dan kesedihan yg ditunjukkan istri pertama Tan ,
adalah untuk menggenapi janji pernikahan . . . . . sehidup semati ,
bukan sehidup . . . . seperjalanan . . . . semati . . . .
 

Maesaroh yg pulang 2 bulan kemudian ,
menangis meraung-raung di makam suaminya , tak hanya sekali . . . . . . .
Tak henti ia menyesali ,
andai ia tak menuruti permintaan majikannya untuk menunda kepulangannya ,
dengan tawaran tambahan gaji berlipat ,
mungkin suaminya tak meninggal ,
mungkin ia masih sempat merawat suaminya ,
mungkin ia masih sempat melihat dan menemani hari-hari akhir suaminya ,
mungkin . . . . . . .
mungkin . . . . . . .

 

“Mengapa kamu mau menikahinya ?”

“Ia mencintaiku . . . . . .
menerima aku apa adanya sekalipun ia tahu keadaanku seperti ini.
Ia juga tahu , aku belum bisa mencintainya.
Aku hanya mampu berusaha mengimbangi cintanya ,
dengan menunjukkan kasih sayang setulus yg aku bisa.
Ia tak tahu apa yg membuatnya mencintaiku.
Ia tak tahu tentang rumusan cinta.
Ia tak pedulikan itu semua.
Yg ia tahu hanyalah . . . mencintaiku.”

 

———————————————————————————————————————-
 

Seperti umumnya makam Tionghwa ,
di bagian depan ada pelataran kecil untuk sembahyang ,
di sebelah kanan depan pelataran ada rumah-rumahan kecil untuk menghormati dewa bumi.
Sedang bagian belakangnya melebar dengan gundukan tanah yg meninggi di tengahnya.

Makam itu meski sederhana namun terlihat bersih dari rumput dan tanaman liar ,
tidak seperti makam-makam di sebelahnya.
Cerita istri penjaga makam ,
2 atau 3 bulan sekali Maesaroh selalu datang ,
berdoa dan membersihkan makam suaminya.
Sementara Istri pertama Tan dan anaknya ,
bersama atau bergantian datang ketika Cengbeng.

 

Sambil membakar uang-uangan kertas , aku menghisap rokok dan merenung.

Seperti itukah “Cinta Sejati” ?
Sehidup . . . . seperjalanan . . . . semati . . . .
Sementara banyak terlihat ,
yg hanya mampu sehidup dan sepenggal perjalanan lalu berpisah di simpang jalan.

Adakah sebenarnya setiap orang punya “Cinta Sejati” ,
yg menantinya di suatu waktu , di suatu tempat ?
Berapa kalikah sumpah setia dan janji nikah yg musti diucapkan ,
untuk seseorang dapat menemukan “Cinta Sejati” ?

Apakah cinta baru dinilai “Sejati” ,
bila salah seorang atau keduanya meninggal tetap setia bersama.

Tak cukupkah pengorbanan waktu , harta benda ,
perasaan , pikiran bahkan harga diri sekalipun ,
untuk seseorang layak mendapatkan sebuah “Cinta Sejati” ?
atau . . .
untuk layak dihargai cintanya sebagai sebuah “Cinta Sejati” ?

 

Dalam perjalanan ,
aku sering menjumpai
orang-orang “biasa” yg melakukan perbuatan “luar biasa” , untuk orang lain.
sementara . . . .
orang-orang “luar biasa” melakukan perbuatan ‘luar biasa’ , untuk dirinya sendiri.

                                                                           (Yoga Hart)
                                                                            S.O.T.R , Oktober 2008

 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: