Ketika Hati Harus Memilih

 
“Besok ada waktu nggak ?”

“Sore ?”

“Iyaa , aku pengen ngobrol sama kamu.”

“Aku jemput jam enam yaa ?”

“Iyaa , makasih.”
 

Setelah meletakkan gagang telepon ,
pikiranku membayangkan masa beberapa tahun lalu ,
ketika aku dan dia sama-sama bekerja di sebuah pabrik krupuk di Sidoarjo.

Aku satu-satunya mandor laki-laki setelah mandor yg lain mengundurkan diri.
Sedangkan mandor perempuannya ada 3 orang , Giok salah satunya.
Diantara mereka , Giok nampak paling menonjol dengan kecekatannya ,
kecerdasannya , kemampuannya mengatur , galak dan cerewetnya . . .
Secara tak langsung , aku banyak belajar darinya dalam hal pekerjaan.

Perawakannya kecil langsing , kulit sawo matang , bibir tipis ,
mata sipit yg kalo tertawa tak terlihat bola matanya ,
mungkin kalo aku berlalu dari depannya , diapun tak tahu.

“Iyo aa . . .” khas gaya Malang-nya yg sering kutirukan untuk menggodanya.

“Araskeke gusaskek.”

Tak tahu dari mana dia mendapatkannya , atau mungkin dia yg menciptakan ,
tapi bahasa gaul pada masa itu , diajarkannya pada dayang-dayangnya.
Aku menyebut demikian pada beberapa anak buah perempuan yg dekat dengannya.
Jadinya , ketika mereka sedang menyortir lempengan krupuk ,
mengepak kedalam plastik dan mengelas dengan las plastik listrik ,
aku dan anak buah laki-laki yg mengepak krupuk yg sudah dipacking plastik ke dalam peti ,
cuma bengong mendengarkan mereka ngobrol dalam “bahasa mereka” sendiri dengan cepatnya.
Kalo aku merasa ada kalimat yg membicarakan aku ,
aku memandanginya dengan tatapan curiga atau melotot.

“Araskèké gusaskèk.” . .
“Arèk’é gusèk” . . artinya “Anaknya ngambeg (marah)” ,
itu katanya sambil tersenyum memandangku.

Kalo gak sambil ngobrol ,
dia akan menyetel radio atau memutar kaset dari tèp kecilnya ,
lagu-lagu seperti “Tangan Tak Sampai” , “Bunga Sedap Malam” ,
“Jangan Sakiti Hatinya” , “Tak Ingin Sendiri” , “Seindah Rembulan” dan lainnya.
Dan dia akan ikut menyanyi dengan suara merdunya.

Dayang-dayangnya tak jarang menggodanya sebagai pacarku ,
dan pipinya akan memerah tersipu-sipu.
Nampak . . meski warna kulitnya kecoklatan.
Kalo gak tahan , dengan suaranya yg nyaring dan dalam “bahasa mereka” ,
mengomellah Giok panjang pendek.
Kalo sudah begitu , dayang-dayangnya kemudian terdiam.

Perhatiannya kepadaku kuanggap hanyalah sebagai teman kerja ,
sebagai seorang wanita yg memang berhati baik.
Ketika aku sakit , dengan ditemani dayangnya dia menjengukku ,
membawakan sendiri sarapan dan makan siangku ke kamar messku di loteng ,
yg lebih tepat disebut gudang , karena disitu bertumpuk mebel rotan sisa ekspor , peti-peti berisi stock plastik-plastik pembungkus krupuk , kardus ,
mesin pemotong glondongan , dan barang-barang lain yg diselimuti debu.
Sesekali Juga disuruhnya anak buahnya untuk membersihkan kamarku.

 

Suatu ketika aku musti mengantarkan contoh gambar sablon
untuk plastik packing yg baru , ke Malang di daerah Kayu Tangan.
Karena hari libur , aku mengajaknya ikut.
Sepulang dari Malang , aku mengajaknya mampir di Kebun Raya Lawang.
Sambil berjalan-jalan di antara pohon-pohon dan duduk direrumputan ,
setelah ngobrol kesana kemari , aku bertanya padanya.

“Giok , gak kepikir buat berumah tangga ?”

“Iyaa kepikir . . . tapi aku maunya dapet yg lebih dewasa dan sudah mapan.”

“Punya rumah , mobil . . . gitu ?”

“Rumah yg utama. Kamu tahu sendiri khan , aku dan cik Lan aja numpang sama Ie-Ie (bibi).”
 

Aku mencoba mengingat dan membayangkan perasaanku waktu itu.
Aku suka pada pribadinya , tapi untuk melangkah lebih ,
ada pertimbangan-pertimbangan yg menahanku.

Usianya lebih tua dariku 3 tahun , itu yg pertama.
Tidak terlalu jauh memang ,
tapi aku berharap menemukan seseorang yg usianya lebih muda dariku.

Yg kedua , Giok menganggap aku belum dewasa dalam bersikap menghadapinya.
Bukankah wanita memang lebih cepat dewasa daripada laki-laki , bantahku.
Meski kuakui juga ,
kadang aku memang masih belum bisa memisahkan sepenuhnya ,
yg mana persoalan pribadi dan yg mana persoalan pekerjaan.

Yg ketiga , itulah kenyataan yg cukup menyakitkan.
Dalam pikiranku , kalo sudah mengarah kehubungan yg lebih serius ,
bukankah persiapan rumah tinggal dan lain-lain , bisa dipersiapkan dari awal
dan bukankah suatu hal yg wajar bila semua itu diupayakan bersama.
Kalo memang gak mampu membeli , ngontrak dulu khan juga bisa ,
sambil menabung untuk mencicil rumah.

Tapi aku tak menilainya sebagai wanita yg materialistis ,
karena aku tahu pasti apa alasan yg mendasari kemauannya itu.
 

Tak berapa lama , karena pabrik semakin sepi order ,
boss sudah mengancang-ancangkan akan menutup pabrik.
Kamipun berpisah . . . . . . . . . . . . .

 

Sekitaran tahun 1988 ,
2 tahun setelah kami melanjutkan perjalanan hidup masing-masing ,
tanpa pernah lagi saling mendengar kabar.
Dari pabrik tempat aku bekerja , sebuah coldstorage di Semarang ,
aku ditugaskan di Perwakilan di Surabaya.
Pertemuan tak sengajaku dengan Man Li ,
yg dulunya juga mandor di pabrik krupuk itu ,
membuat aku tahu kalo Giok bekerja di pabrik roti di daerah Dinoyo.
Aku segera menemuinya.

Di akhir pertemuan yg hanya sekitar setengah jam , dia berkata

“Kamu sekarang jauh lebih dewasa.”

Aku cuma tersenyum ,
andai kedewasaan itu diskalakan antara angka 1 sampai 9 ,
aku juga tak tahu diangka berapakah aku sudah berada.
Namun , kedewasaan itu , selain karena bertambahnya usia ,
yg secara alami mempengaruhi pikir dan rasa menjadi lebih matang ,
tapi juga melalui banyak renungan , membaca , mendengarkan ,
bertukar pikir dengan orang yg lebih tua dan bijak ,
menimba rasa dari orang yg lebih berpengalaman , dan laku prihatin.
 

———————————————————————————————————————-
 

Malam minggu ,
di sebuah warung tenda chinese food di sekitar Kedungdoro ,
Dua orang pengamen sebayaku , setelah mengucap selamat malam ,
memetik gitar dan menyanyikan lagu dengan bagusnya . . . “Besame Mucho” . . .
yg setelah selesai , didendangkannya pula “Historia De Un Amor” ,
mengiringi makan malamku bersama Giok.

Andai saja semua pengamen membekali diri
dengan kemampuan olah vokal dan bermain musik yg cukup . . .
pandangan sebagian orang yg menganggap mereka cuma peminta-minta berkedok pengamen , pasti akan pupus pelahan.

“Aku bingung . . . ada dua orang laki-laki yg dekat denganku.”

Darahku berdesir. Perasaan cemburukah itu ?

“Terus ?”

Aku tersenyum dan mencoba menyembunyikan perasaanku , meski kusadari ,
andai Giok memperhatikan raut wajahku , ia akan mampu membacanya.
Adakah kedewasaan juga bermakna mampu menyembunyikan perasaan yg sebenarnya ,
bahkan kalo perlu mampu pula bersandiwara ?

“Yg satu duda punya anak dua , sudah mapan , punya rumah , toko juga mobil.
Yg satu masih bujang , tapi sudah punya rumah meski kecil dan masih nyicil.”

“Kamu lebih deket dengan yg mana ?”

Giok tidak segera menjawab , tapi meneruskan ceritanya.

“Sudah sebulan lalu dan hampir bersamaan mereka mengutarakan maksudnya ,
ingin hubungan yg lebih serius , bahkan mengajak aku kawin.”

“Dan kamu menyelatankan padaku ?”

“Maksudmu ?”

“Mereka meng-utara-kan padamu . . dan kamu meng-selatan-kan padaku.”

“hi..hi..hi.. kamu sekarang pinter guyon yaa . . gak kaku kayak dulu.”

Dia tertawa hingga tak kulihat bola matanya.

“Mengajak kamu kawin ?”

“Iya.”

“Kawin apa nikah ?”

“Haiiyaa . . mulai kesana-sana , he.he.he…”

“Oke .. oke .. aku serius . . . dengan yg mana kamu merasa lebih cocok.”

” . . . . yg duda , . . tapi bukan karena harta lho.”

“Iyo aa . . ”

Aku menggodanya , tapi Giok cuma tersenyum.

“Aku masih bingung untuk memutuskan.”

“Karena . . . Cinta ?”

“Umurku sudah cukup , aku juga sudah cape menderita ,
kalo soalnya cinta , mungkin aku milih pacar pertamaku , yg di Malang.
Kami sama-sama suka , tapi dia sudah punya keluarga . .
dan aku gak mau merusak rumah tangga orang ,
itu salah satu alasan aku menerima tawaran boss kembali (di Sidoarjo).
Tapi , gak mungkin khan menemukan perasaan cinta seperti cinta pertama ?
Menemukan orang yg sama persis dengan bayangan dan impianku ?”

“Aku gak tahu pribadi mereka , anggap saja sama baiknya ,
sama-sama men…cintaimu , kamu punya tiga pilihan.”

“Tiga ? Yg satunya ?”

“Sek tha lha , aku khan belum selesai ngomong . . .
Pilihan pertama si duda , pilihan kedua si bujangan ,
pilihan ketiga tidak keduanya , kamu tunggu aja lelaki yg lain.”

“Ooo.. aku kira yg ketiga itu kamu.”

“Haa.haa.haa… dimatamu aku khan belum dewasa , dan . . . ”

“Dan apa ?”

“Dan belum ‘dewasa’.”

Nada suaraku getir , aku tak menjawab yg sebenarnya , Giok tersenyum.
Aku tak tahu apakah dia tahu yg kumaksud dengan kata ‘dewasa’ yg kedua.

“Gini aja , aku cuma mau bertanya padamu . . .
Bisakah kamu menyayangi anak-anak yg tidak kamu lahirkan dari rahimmu ,
SAMA dengan kamu menyayangi anak yg kamu lahirkan dari rahimmu ?”

Giok terdiam cukup lama. Aku menyulut rokok kedua.

“Tapi aku juga merasa kurang cocok sama yg bujang ,
meki umurnya lebih dari aku . . . malah nampak lebih dewasa kamu lho.”

Aku cuma tersenyum , aku merasa belum seperti yg ia katakan.
Sometimes , silence is one great art of conversation.

Kembali ia terdiam , mengarahkan pandangnya pada kendaraan yg lalu-lalang.
Kemudian ia menatapku.

“Giok , kadang pilihan yg tersulit adalah yg terbaik ,
yg terjelek adalah yg terbenar.
Dan pada saatnya kita harus berani memilih ,
tak peduli nantinya tak seperti yg kita inginkan.
Karena dengan berani memilih , kita sudah harus siap dengan resikonya.
Cinta , pribadi yg terlihat sempurna , harta . . .
bukanlah jaminan kebahagiaan orang berumah tangga ,
masih ada pernak pernik lain ,
yg butuh tangan keduanya untuk mengukir , memoles . . .
agar bersinar dan jadi penerang perjalanan itu.”

Selesai mengucapkannya , aku sendiri merasa takjub sesaat.
Baru sekali ini aku mampu berbicara kepadanya ,
dengan tenang dan sedemikian panjangnya . . .

“Kalo gitu , aku akan . . . ”

Aku menyilangkan jari telunjukku di bibirnya. Aku menggeleng dan berkata.

“Jangan katakan padaku , dan jangan katakan sekarang . . . .
pikirkan lagi sebelum kamu memutuskan , aku ingin kamu bahagia.”

Dia tersenyum dan kemudian menggenggam tanganku.
 

Meja sebelah telah terisi pasangan lelaki dan wanita muda.
Yg berbeda , mereka duduk berdampingan . . aku dan Giok duduk berhadapan.
Mereka berpacaran . . . aku dan Giok hanyalah sepasang insan ,
yg berbeda pandang dalam cara menapaki jalan hidup sebuah pernikahan ,
dan hanya bisa bersama sebagai sahabat.
Entah bila di reinkarnasi masa datang . . . dan reinkarnasi itu ada.

Dua pengamen yg tadi menghampiri meja sebelah ,
setelah mengucap selamat malam , kembali terdengarlah suara merdunya.

 

       Bésame , bésame mucho
       Como si fuera esta la noche
       la última vez

       Bésame , bésame mucho
       que tengo miedo a perderte
       perderte después

       Quiero tenerte muy cerca
       mirarme en tus ojos
       verte junto a mí

       Piensa que tal vez mañana
       yo ya estaré lejos ,
       muy lejos de aquí.

                                                                                  Yoga Hart
                                                                                  S.O.T.R , January ’09

 
Mencintai berarti berusaha membahagiakan yg dicintai.
Mencintai berarti merelakan yg dicintai bahagia dengan pilihannya.

 

=================================================

1 Komentar

  1. 10/05/2014 pada 10:26 PM

    […] itu , akhir tahun 1980an , perjalanan dari A.Yani ke Dharmahusada yg tidak terlalu ramai , (Gak kayak sekarang yg […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: