Endless Love – 01. Mas , Aku Cantik Gak ?

 
“Mas, aku cantik gak ?”

Dia bertanya sambil menyodorkan semangkuk mie instan rebus ,
dengan kuah bercampur tomat yg dihaluskan ,
lalu duduk di bangku seberangku.

Gadis itu bernama Arum.
Dia membantu ibunya menjaga warung di dekat kawasan wisata pantai Tirtamaya.
Aku dan teman-teman di bagian Pengadaan Material sebuah coldstorage di Cirebon , sering mampir ke warung itu , sekedar sesaat melepas lelah ,
sepulang dari survey ke tambak-tambak udang di daerah Indramayu dan sekitarnya.

Terkadang aku betah berlama-lama dan enggan segera kembali ke pabrik.
Karena suasananya yg tenang dengan sayup deburan ombak pantai ,
nyaman dengan banyaknya pepohonan dan angin semilir yg menyejukkan.
Pada masa itu , sekitaran tahun 1990 , memang daerah itu masih sepi.

Ibunya yg ramah dan bijak , tak menganggap kami hanya sekedar pengunjung ,
namun juga sebagai anak-anak muda
yg butuh diingatkan tentang berbagai hal , dalam menjalani kehidupan.
Namun , pastinya gadis itu , yg cerdas , enak diajak ngobrol ,
mempunyai wawasan lebih bila dibandingkan dengan umumnya perempuan di daerah ,
menjadi daya tarik tersendiri bagi kami.
 

“Lho memangnya kenapa , kalo perempuan ya cantik , laki-laki ya ganteng tho ?”

Aku mencoba mengalihkan pertanyaan sambil mencoba memahami maksud yg sebenarnya.

“Bli mêngkonon (gak gitu) , aku khan sudah 21 tahun mas ,
temen-temenku sudah pada kawin , ada yg punya anak dua malah.”

“Ya , kawin tho sana , he.he.he…”

“Memange kawin kayak luru kanca dholanan gaplek.”
(Memangnya menikah -gampang- seperti cari teman main domino)

Aku ketawa mendengar jawabannya , dia merengut.

“Lha , terus maksudmu ?”

“Aku khan ya pingin punya suami yg ngerti sama aku , sama keadaanku ,
bisa nafkahi keluarga dan nyiapin masa depan ,
pemikirannya dewasa dan maju bisa membimbing aku ,
gak cuma mandang aku sebagai penjaga warung yg bisa digodain.”

“Salahmu sendiri , kamu sama si anu katanya pacaran ,
sama si itu ya mau diajak jalan-jalan , jangan-jangan sama si inu ya mau ,
gak salah kalo akhirnya mereka cuma nganggep kamu temen dolan.”

“Cuman temen semua , maaass . . .
Memangnya cewek sama cowok gak boleh berteman akrab tho mas ?”

Katanya menirukan logat jawa diakhir kalimatnya.

“Namaku bukan thomas !”

Dia tertawa sambil memukul lenganku.

“Susah Rum , apalagi kayak di daerah sini ,
cewek sama cowok berteman akrab runtang-runtung kesana kemari , bakalan ada omongan ini itu.
Kalo gak gitu , salah satunya akan mulai memendam perasaan cinta ,
syukur-syukur kalau keduanya memang saling cinta , kalau enggak ?
Ruwetlah pertemanan itu , . . . gak semua sih , tapi biasanya gitu.
Jadi batasan temenan sama pacaran itu musti jelas.”

Dia terdiam beberapa saat , seakan merenungkan omonganku.
Lalu dia tersenyum dan mengulangi lagi pertanyaannya.

“Aku cantik gak sih , mas ?”

Kalau aku bilang dia gak cantik , berarti aku bohong ,
tapi menurut teori relatifitasku , dia lebih tepat dibilang manis.

“Rum , Perempuan yg terlihat cantik karena dicintai ,
adalah lebih bahagia , daripada yg dicintai karena terlihat cantik.

“Ach , ngomong aja aku jelek , jadinya gak ada yg mau sama aku . . .”

“Haa…haa… enggak koq , kamu manis ,
cuman mungkin jodohmu aja yg belum waktunya.”
                                                                                  Yoga Hart
                                                                                  S.O.T.R , April ’08
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: