Endless Love – 04. Cinta Tak -Musti- Bersatu

 
        Bila nanti kita berjumpa ,
        janganlah memelukku ,
        jangan pula kau genggam tanganku ,
        janganlah mencoba ‘tuk merayuku ,
        jangan pula kau tatap mataku dengan sorot cintamu ,
        aku ingin kau duduk di depanku ,
        meski kita berkisah seperti dulu ,
        aku ingin kau menjadi temanku . . . .
        . . . . kakakku . . . .
        sekalipun kau tahu ,
        hanya dirimu yg ada dalam hatiku . . . selamanya . . .

 
I_Miss_You_(s)
“Assalamu’alaikum . . . ”

Suara seorang wanita yg lamat kukenal menyapa , ketika hp-ku berbunyi.

“Salam.”

“Mas Yoga . . . . ”

“Dari siapa yaa ? ”

“Arum , mas.”

“Haahh !! Arum ?”

“Masih kelingan bli ?”
(Masih ingat gak ?)

“Yaa masih dong , gimana kabarnya ? Bapak dan ibu ?”
 

Sekitar 8 tahun aku tak pernah mendengar kabarnya ,
sejak terakhir aku mampir ke Indramayu ,
dan cuma bertemu dengan ibu dan kakaknya.
Setelah berhenti dari pabrik di Cirebon ,
cuma beberapa kali aku sempat bertemu dengannya ,
jadi mungkin sekitar 16 tahunan aku tak bertemu dengannya.

“Aku tadi beres-beres lemari bapak , kebetulan nemu kartu nama mas Yoga ,
takut juga sih kalo nomornya sudah ganti , soalnya khan sudah lama benget.”

Suaranya terdengar terpatah-patah diselingi isak tangisnya.

“Aku menangis bahagia koq , mas.
Rasanya kayak mimpi , masih bisa ketemu teman lama.”

“Masih berstatus istri atau . . . ?” Isengku kumat , hee..hee..hee..

“Ini perkawinanku yg ketiga , mas ?”

“Haahh !! Pasti karena kamu bosenan yaa ?”

“Gak-lah ,
kalo laki-lakinya sudah ketahuan mulai dêmênan sama perempuan lain ,
ngapain diteruskan ? . . . khan mending pisah aja.”

Aku sempat terpikir ,
mungkin itu satu hal yg membedakan orang Katolik , Kristen ,
ataupun WNI keturunan TiongHwa dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
Beberapa orang yg kukenal ,
meski banyak cobaan pun ujian dalam rumah tangganya ,
dan tak berhasil dilalui oleh keduanya bersama ,
dan dari waktu ke waktu tidak pula menjadi lebih baik ,
mereka tetap “memaksakan diri” untuk hidup bersama . . . betapapun beratnya.
Kalaupun ada yg memilih berpisah secara hukum masyarakat , tidak lagi hidup serumah ,
ataupun akhirnya dengan terpaksa memilih berpisah secara hukum negara ,
bukan lantas dengan mudah dan secepatnya menikah lagi.
 
“Bima ?”

Kembali terdengar isak tangisnya ,
sekitar lima menit aku mendengarkan ia menangis.
Beberapa kali aku mencoba membujuk , menghentikan tangisnya.

“Maaf Rum , aku gak bermaksud menyakiti hatimu ,
aku juga lama kehilangan kabar tentang dia.”

“Gak apa-apa mas . . . . .
kami mungkin ditakdirkan tidak berjodoh dalam perkawinan.
Mas Bima memang pernah datang dan bertemu denganku . . .
tapi saat itu aku sudah menikah . . . yg pertama.
Setelah itu , cukup lama mas Bima tidak muncul , juga gak ada kabarnya ,
katanya sih kerja di luar pulau.
Waktu aku sudah bercerai dengan suami pertamaku , aku pernah juga menghubunginya ,
tapi karena aku mengira bahwa rumah tangganya semakin mantap dan dia berbahagia ,
akupun dengan sombong mengatakan kalau aku masih menikah dan bahagia.
Beberapa tahun kemudian , ketika mas Bima menghubungiku ,
mas Bima bercerita kalau ia sudah bercerai . . . . .”

Kembali aku mendengar isak tangisnya . . . . .

“Rum , kalau merasa berat . . gak usah diceritakan ,
aku jadi ikut sedih mendengarnya . . . . ”

“Aku ingin mas Yoga tahu , apapun yg kurasakan.”

“Hhmm . . . kapanpun kamu butuh teman curhat , kamu boleh menelphonku.”

“Yg menyedihkan mas , pada saat mas Bima sudah berpisah sama istrinya ,
aku juga sedang menjanda yg kedua kali , tapi kami tak pernah berhubungan . . .
Dan saat mas Bima . . . menghubungiku itu . . . .
aku sudah menikah lagi dengan suamiku yg sekarang . . . . .”

“Suamimu yg sekarang orang mana , Rum ?”

Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Orang Sumatra mas , usianya lebih muda dariku 11 tahun.”

“Haahh !! Jadi rujakan dong.”
 

Aku masih ingat , waktu kami beramai-ramai berjalan-jalan di swalayan ,
kami melihat ABG-ABG yg dandanannya cukup menyolok ,
melihat rokok yg terselip diantara jemari dan juga gayanya ,
kami menebak kalau mereka itu bondon (perek).

“Mas Yoga , mau rujak gak ?”

Tanya Arum sambil melirik ke arak ABG-ABG itu ?

“Rujak ?”

“Kalo seusia segitu khan kayak bakalan rujak , masih mentah , hii..hii..”

“Haa..haa..haa…”

“Lha kalo kayak yg itu ?”

Sahut Beni sambil mengarahkan pandangan ke seorang wanita yg 30 tahunan ,
duduk bersama seorang lelaki paruh baya.

“Itu sih asinan.”

“Haa..haa..haa…”
 

“Hii..hii..hii.. dia nekat banget mas ,
kenal juga cuma sebulanan waktu aku menenangkan diri di rumah mbak Ning ,
dia langsung menemui ibu dan melamar.
Ibu sempat menolak sampe dua kali , tapi akhirnya ibu terserah yg njalani.”

“Kalo menurut aku , dari segi umur gak ideal , Rum.
Ini realistis lho . . .bayangkan aja 10 tahun lagi . . .”

“Aku sudah layu yaa , mas ? Sedang dia lagi hot-hotnya.”

“Hee..hee..hee…
yaach . . pandai-pandai ajalah kamu merawat diri ,
menjaga keharmonisan hubungan suami istri ,
perkawinan khan bukan cuma sekedar “masalah itu”.
Kedewasaan pribadinya gimana ?”

“Itu yg susah buat aku , mas.
Akulah yg musti ngêmong dia , dia tidak nampak dewasa.
Padahal sebagai suami , mustinya khan dia yg jadi panutanku.
Tapi , bagaimanapun juga saat ini ia suamiku ,
aku harus berusaha jadi istri yg baik , soleha . . .”
 

3 jam lebih kami ngobrol ,
hanya terputus beberapa saat , ketika ia pamit untuk sholat asar.
Masih banyak hal tentang perjalanan hidupnya yg diceritakan padaku.

Banyak pernikahan yg tidak didasari dengan cinta ,
tidak pula diniati untuk menumbuhkan dan merawat cinta setelah menikah ,
sering lebih karena faktor kebutuhan seseorang pendamping hidup ,
kebutuhan figur orang tua bagi anak ,
faktor menghindari pandangan dan komentar miring sekeliling ,
bahkan tak jarang karena faktor status . . ekonomi.

Aku menganggap Arum adalah sosok wanita istimewa.
Dengan kecerdasan , pandangan hidup , kesederhanaan , kedewasaan , sikap ,
semestinya ia berhak mendapat yg lebih baik dari semua yg pernah ia jalani.
Tapi . . . . bukankah kita manusia , tak pernah tahu rahasia kehidupan.
Dan selama kita masih berusaha ingin tahu ,
disitulah harapan selalu menyertai . . . . . .
harapan untuk menjadikan kehidupan kita lebih baik.
 

“Terakhir aku berbicara dengan mas Bima ,
harapanku semakin menipis untuk bahagia bersamanya . . . .
aku cuma mampu berkata . . . . ”

“Bila nanti kita berjumpa ,
janganlah . . . . . . . . . . . . . . .”
                                                                                  Yoga Hart
                                                                                  S.O.T.R , Juli ’09
 

Cinta yg tulus bukanlah berarti tak berharap balas ,
tapi bahagia dengan . . .
seulas senyum ,
sedetik pandang ,
sepatah kata ,
sebutir mimpi . . . . .

                                                                                 ( Yoga Hart )
                                                                                 S.O.T.R November ’08
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: