Endless Love – 05. Aku Bukan Orang Ke Tiga !

Faraway_by_anarashake 
“Mas , ngganggu gak ?”

“Ngggg . . . kenapa ?”

“Aku mau curhat nih . . . Lagi ngapain sih ?”

“Lagi njawab telponmu sambil internetan.”

“Chatting ya ? Sama cewek ?”

“Nggak , cuma mbaca-baca blog , . . kenapa ? Suamimu lagi ?”

Arum meng”iya”kan , lalu meluncurlah cerita tentang suaminya ,
yg waktu bulan lalu pulang ke rumah , HP-nya beberapakali ada yg misscall.
Sewaktu suaminya main pergi main billiard tanpa membawa HP ,
oleh Arum nomer yg misscall tersebut dihubungi.
Langsung terdengar suara wanita yg menanyakan , “kapan pulang”.
Ketika ditanya oleh Arum , wanita itu malah mengaku sebagai “istrinya”.
Namun setelah diajak bicara dan dijelaskan oleh Arum ,
wanita itupun mengaku pacar suami Arum , yg dijanjikan akan dinikahi ,
karena ngakunya sudah mau cerai dengan istrinya (maksudnya Arum).

“Kamu tuh istrinya yg keberapa sih ?”

“Resminya ke dua , tapi gak tau yg sebenernya.
Waktu nglamar aku aja ngakunya perjaka ,
baru ketahuan kemudian kalo ternyata sudah punya istri ,
meski dalam proses khan tetep aja masih suami orang.”

“Kamu sih , liat brondong langsung main nerima aja.”

“Perempuan khan seperti kembang , mas.
Cuma bisa nunggu dan menerima kumbang yg datang.”

“Itu keliru ! Kalo kembang gak punya daya buat menolak , tapi wanita punya.
Wanita bisa memilih pada kumbang yg mana ia akan memamerkan madunya ,
agar si kumbang terpikat.
Bahkan kalo gak suka pada kumbang yg datang , wanita bisa koq mengatupkan kelopaknya.”

Arum terdiam beberapa saat.

“Suamimu gak pulang tha ?”

“Minggu kemarin juga gak pulang.
Katanya ada perempuan bawa anak ikut dari Jambi ke Jakarta ,
minta dianterin nyari suaminya. Katanya mau ngasih ongkos lumayan.”

“Jangan-jangan suaminya yaa suamimu itu !”

“Koq , mas Yoga punya perkiraan gitu ?”

“Rum , aku ini laki-laki.
Kamu kalo mau tahu tentang lelaki , belajarlah sama lelaki.
Sebagian besar lelaki itu sebenernya gak pinter bohong ,
sebab ditunjukkan dengan seakan-akan jujur.
Beda sama wanita , gak bersuara , gak nunjukin perubahan sikap sedikitpun ,
tau-tau bablasssss . . . haa..haa..haa..”

“Iya ya , mas. Aku tadinya juga sempet curiga ,
tapi karena perempuan yg ikut itu akhirnya disuruh suamiku ngomong sama aku ,
kecurigaanku jadi menurun , tapi perasaan percayanya tetep gak bisa ikhlas tuh.”

“Ya nanti kalo pulang diajak omong baik-baik tho.
Sebagian besar lelaki itu , meski salah maunya minta menang ,
jadi kamu musti bisa menundukkan secara halus.
Kamu yg lebih ngerti sifat suamimu , pinter-pinterlah mencari sela.
Jangan datang-datang langsung disambut dengan teguran , diajak berantem . . .
Ladeni aja dulu layaknya suami pulang kerja , kasih minum , siapin mandinya ,
makan bareng , . . nah kalo sudah di ranjang baru kamu ajak omong.”

“Sebelum berhubungan apa sesudahnya , mas ?”

“Wakakakakak , yaa terserah kamu lah.”

Arum cuma tertawa sesaat , kemudian berkata lagi.

“Gak kuat aku , mas . . . kalo terus-terusan kayak gini.
Cuma setahun lebih aja tenang , setelah itu selalu urusan soal perempuan.
Uang gaji juga selalu berkurang , ada aja alasannya ,
yg nabrak kambing lah , kaca mobil depan tiba-tiba pecah lah ,
dompet ketinggalan di warung tapi uangnya gak ada lah . . . ”

“Kamu tuh sudah punya anak , Rum ,
gak bisa dengan mudah mutusin cerai seperti kayak yg dulu-dulu.
Umur juga sudah cukup , belum lagi kamu musti mikir biaya anakmu.
Cukup tha gaji guru-mu buat biaya hidupmu dan anakmu ?

“Ya , gak cukup , mas.
Kupikir dari ngototnya dulu dia melamar aku , dia itu bener-bener cinta ,
khan sudah tahu kalo aku janda , lebih tua dari dia lagi.”

“Kali aja kamu buat percobaan , gimana rasanya punya istri yg lebih tua ,
yg lebih berpengalaman , haa..haa..haa..
Gak taunya , . . ternyata suamimu jauh lebih berpengalaman.”

Arum ikut tertawa , tapi aku merasa seperti tawa yg ditahankan.

“Mas , jawab yg jujur yaa ?”

“Apa ?”

“Mas Yoga punya pacar ?”

“Haa..haa..haa. . . aku sudah gak laku , Rum.”

“Kata temenku , kalo chatting itu gampang cari pacar.”

“Rum , aku tuh gak chatting-chattingan , cuma nulis-nulis iseng di blog.”
Lagipula , seusiaan kita ini , ngapain kalo cuma pacar-pacaran.
Jujur aja , aku sudah gak berani mikir kesitu.
Kalopun terpikir , aku musti sadar diri , aku ini siapa , apa dan bagaimana.
. . . . kamu cukup kenal aku khan ?”

Arum tidak menanggapi omonganku , malah berkata tentang hal lain.

“Padahal nih , kalo aku mau , pacarku waktu SPG (Sekolah Pendidikan Guru) ,
waktu tempo hari ketemu , masih mengharapkan aku mau jadi istrinya.
Pekerjaannya juga lebih mapan.
Kalo kupikir-pikir , gak ada gunanya aku setia sama suamiku.
Aku salah meletakkan kesetiaan.”

“Kamu punya tho ?”

“Aja ngomong kaya mêngkonon jé , mas.”
(Jangan ngomong seperti itu sih , mas.)

Nada suaranya seperti memelas ,
seakan menyadari kelemahannya dalam menghadapi lelaki.
Kelemahan untuk “setia” pada harapan ,
“setia” pada cinta yg meskipun tak berbalas , bahkan yg tak terucapkan.

“Hee..hee..hee.. kenapa ?
mustinya kamu meletakkan kesetiaanmu pada Bima ?”

“Bukan ! . . Buat kamu !”

“Gak usah aneh-aneh.”

Entah kenapa , malam itu aku ngobrol dengan Arum gak seperti biasanya.
Semenjak beberapa bulan lalu ia menelponku , kami sering ngobrol.
Memang , lebih banyak ia yg menelponku ,
kadang ia minta aku menelponnya , kalo kehabisan pulsa.
Selain ngobrol tentang kejadian-kejadian masa lalunya dan Bima ,
tentang ibu , juga bapak yg sudah almarhum ,
selalunya ia curhat tentang rumah tangganya.

Aku bukan lelaki lugu yg baru lepas dari biara ,
yg gak mudheng babar blas soal wanita ,
aku lelaki normal yg meski gak muda lagi ,
tapi juga gak tua , karena menurutku “matang” lebih tepat ,
dan sebentar lagi mulai membusuk , haa..haa..haa….
Jadi , meski kalo guyon dengan Arum kadang usilku -mungkin- kebablasan ,
dan diapun sesekali menggodai aku ,
tapi aku merasa tetap berada di jarak yg aman , di batas yg jelas ,
karena aku sadar dan gak pernah lupa , ia adalah istri orang.
Terhadap keluh-kesahnya , akupun selalu berusaha netral ,
dan terus memberinya support ,
agar tak putus asa membenahi hubungan dengan suaminya.
Meski sebenarnya dalam hatiku ada keyakinan ,
lelaki macam suaminya , di ujung mautpun gak akan berubah !

Namun malam ini seperti baru kusadari , aku mulai merasa ,
“jarak” yg menurutku aman , “batas” yg menurutku jelas ,
ternyata bisa bermakna beda bagi orang lain !
 

“Mas , kalo naik kereta dari Cirebon ke Surabaya berapa jam ?”

Arum mengalihkan pembicaraan.

“Cirebon Semarang sekitar 4 jam. Semarang Surabaya sekitar 5 jam.
Itu kalo langsung lho. Kenapa ?”

“Tadi aku sempet ribut di telepon . . . ”

“Sama suamimu ?”

“Iyaa. Aku tanya , besok (Sabtu) pulang gak.
Dia bilang gak pulang , soalnya mungkin hari minggu berangkat lagi.
Sekalian perempuan yg minggu kemarin ikut tuh , bareng pulang ke Jambi.
Kecurigaanku tumbuh lagi dan malah jadi yakin ,
kalo perempuan itu ada apa-apanya sama suamiku.
Aku bilang jangan dipikir dia aja yg bisa selingkuh , aku juga bisa ,
kalo sampe minggu gak pulang , aku akan pergi , Hendy aku bawa . . . . ”

“Ke rumah mbak Ning (di Kuningan) ?”

“Ke Surabaya , ke rumah mas Yoga. Nanti jemput di stasiun ya , mas.”

Darahku langsung berdesir.
Aku tidak menangkap nada bercanda seperti biasanya.

“Rum , bagaimanapun juga kamu itu masih istri orang.
Kalo kamu pergi ke rumah laki-laki lain bawa anak kecil , apa kata orang nanti ?”

“Mas gak mau aku bawa Hendy ? Apa Hendy aku tinggal sama ibu ?
Dia juga ngancam , kalo sampe cerai , Hendy akan dibawanya.
Rasanya aku gak bisa pisah sama Hendy.”

“Rum , ini bukan soal Hendy , tapi soal kamu !
Soal kamu mau minggat kerumahku , sementara rumah tanggamu lagi ruwet.
Aku gak bisa nerima kedatanganmu , kalo niatmu seperti itu.”

Kuwatir dengan kemungkinan nekatnya ,
aku merasa musti bicara blak-blakan ,
rasanya tidak bisa dengan kata-kata yg diperhalus.

“Marah yaa ?”

“Iyaa jelas. Kamu berniat melibatkan aku ,
seakan-akan aku ini orang ketiga dari sisimu ,
yg membuat rumah tanggamu semakin ruwet ,
seakan-akan aku mengambil kesempatan , mengambil keuntungan darimu.
Kalo kamu sudah gak cocok dengan suamimupun ,
bukan begitu cara ngatasinya , . . selesaikan baik-baik.
Setelah itu kamu bebas mau cari suami lagi atau apapun.
Rum , aku tahu rasanya dikhianati ,
maka aku gak suka kalo tahu orang lain melakukan itu pada pasangannya! ”

“Mas , . . marah beneran yaa ?”

Tak ada kata “maaf” seperti yg sudah-sudah kalo dia merasa bersalah ,
tidak juga ada tertawa bahwa itu hanya guyonan usilnya ,
maka akupun mengeraskan hatiku ,
karena aku tak mau terlibat , dilibatkan apalagi melibatkan ,
karena memang aku bukan orang ke tiga!”

” . . . . iya !”

“Yaa udahlah , met malem.”
 

Beberapa hari setelah kejadian itu , Arum masih mengirim sms ,
sekedar menanyakan kabarku. Akupun membalas biasa-biasa.

Setelah itu , Arum masih menelponku ,
mengabarkan kalo suaminya bermaksud mengajak pindah ke Jakarta ,
karena kantornya mengadakan program kredit rumah buat karyawannya ,
dan suaminya ikut mengambil rumah kredit itu.
Aku ikut mensyukuri dan semoga hubungan mereka bisa membaik ,
dan berpesan agar berhati-hati hidup di Jakarta.

Sudah lebih dari dua bulan Arum tak menelponku ,
aku tak tahu , apakah ia masih di Indramayu atau sudah ke Jakarta.
 

———————————————————————————————————————-
 

Plato mendapat pelajaran dari Socrates , gurunya ,
pernikahan adalah ibarat memilih dan menebang sebatang pohon.
Sementara , memasuki dan keluar hutan adalah ibarat satu perjalanan hidup.

Bila banyak orang yg menebang pohon lebih dari satu ,
maka tak sulit ditebak apa yg akan terjadi ,
banjir kedukaan , banjir air mata . . . . .
dan beberapa orang , mungkin saja tak lagi punya kesempatan ,
mendapatkan pohon satupun , . . . sekalipun.

Pohon yg telah ditebang dan ditinggalkanpun ,
tak lagi ‘berjiwa’ seperti pada mulanya.
Meski ada yg dengan penuh kecintaan ,
memilih untuk mengambil pohon yg telah ditebang dan tergeletak ,
tak kurang yg mengambilnya dengan kepasrahan , keputusasaan ,
sekedar menggenapi hukum sang alam.
                                                                                  Yoga Hart
                                                                                  S.O.T.R , November ’09

 

Persahabatan itu berlandaskan pada kasih sayang ,
maka janganlah menaburinya dengan “perasaan perasaan cinta” ,
karena ketika menyadari itu bukanlah cinta yg sebenarnya ,
persahabatan tidak lagi semurni adanya.

                                                                                 ( Yoga Hart )
                                                                                 S.O.T.R , April ’10
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: