HP (sebuah Dharma Hidup)

 
Menjadi orang penting adalah baik ,
namun menjadi orang baik adalah lebih penting.
 

Ini cerita tentang seorang teman yg membuka konter HP di rumahnya , namanya Han Wei.
Sebenarnya kurang tepat kalau disebut toko , kios atau konter ,
sebab yg digunakannya ruang tamu , bagian dari rumahnya ,
di kawasan sebuah perumahan di kota Semarang ,
yg terkenal dengan langganan banjirnya . . . .
Karena sesuatu dan lain-lain-lain-lain hal ,
hanya itulah yg bisa dia kerjakan untuk mencari nafkah.
Kejadiannya sudah sekitar 2 tahun yg lalu ,
(dari saat pertama aku menuliskan cerita ini dan memuatnya di Multiply).
 

Ini ceritanya.

Suatu malam , ada seorang anak perempuan sekitar 14 tahunan ,
naik sepeda tua dan membonceng adik laki-lakinya yg berusia sekitar 6 tahun.

“Oom HP saya ini koq nggak bisa dihidupkan , . kenapa ya oom ?”

“Jatuh ndak , dik ?”

Ericsson T18b

Tanya Han sambil menerima HP (HandPhone) yg disodorkan ,
Ericsson T18 yg masih pake antena luar , tombol numeric nya pake tutup flip.
Belum lagi beratnya , barangkali kalau buat melempar anjing bisa langsung semaput.
Pendek kata , pada waktu itu saja (sekitar tahun 2006) ,
HP itu termasuk layak ditaruh dalam pigura dan disimpan sebagai barang antik.

“Tadi dibuat mainan adik . . . jatuh oom , padahal ini hadiah dari paman saya.”

“Tunggu sebentar ya . . .”

Han membawa HP itu masuk.
Sekitar 10 menit kemudian , HP itu diserahkannya kembali pada si anak perempuan.

“Berapa oom ?”

“Ndak usah dik , bawa saja.”

“Makasih ya oom , . . . kalo gitu ngisi pulsa aja oom , 10 ribu.”

Si anak terlihat senang , sekali lagi mengucapkan terima kasih dan pulang.
 

“Kamu ndak narik ongkos ?”

Aku bertanya pada Han.

“Ndak lah. Wong cuma connector battery-nya yg meleset , karena jatuh ,
dan connectornya sudah korosi , cuma dibersihkan sudah beres.
Kedua , HP itu hadiah dari pamannya , mungkin HP pertama yg dia punya ,
aku ndak mentolo (tega).”
 

Han melanjutkan ceritanya.

Sekitar seminggu kemudian sekitar jam tujuh pagi ,
aku sedang melayani pelanggan yg mau mengambil HP yg diserviskan semalam ,
karena kena virus.
Aku sih njanjiin sore , tapi karena waktu si pelanggan lewat mau berangkat kerja
dan melihat aku sedang nyapu teras , si pelanggan mampir ,
barangkali sudah beres mau diambilnya sekalian.

Anak perempuan yg tempo hari datang lagi bersama adiknya ,
mukanya sembab seperti habis menangis.

“Ada apa dik ?” tanya Han.

“Oom , HP ini kalau dijual laku berapa ya ?”

“Wah , saya sudah ndak nerima HP yg type ini dik , memangnya kenapa ?”

“Ibu saya sakit butuh berobat sekarang . . .”

Anak perempuan itu menjawab sambil meneteskan air mata.

“Sebentar ya dik . .”

Han masuk mengambilkan tissue dan memberikan pada anak itu.

“Kalau boleh oom tahu , . . ayahnya ?”

Han bertanya dengan hati-hati.

“Ayah pergi meninggalkan kami sudah setahun yg lalu entah kemana.”

“Ya wis . . adik tunggu sebentar ya . . .”

Han kembali menghadapi pelanggan yg menserviskan HPnya.

“Berapa , oom ?”

“Enam puluh ribu.”

Han menerima uang yg disodorkan pelanggannya dan mengucapkan terimakasih.
Setelah pelanggannya pergi , Han berkata pada anak perempuan itu.

“Coba dibawa ke PKL tho dik.”

“Kemarin sore sudah saya bawa ke PKL , oom ,
tapi cuma ditawar 20 , 25 ribu , bahkan ada yg nolak.”

Han terdiam beberapa saat ,
lalu ia mengambil uang 60 ribu dari kantong bajunya , yg diterimanya tadi.

“Sudah , ini adik bawa mungkin bisa mbantu berobat ibunya.”

“HPnya tolong disimpan ya oom , kalau saya ada uang , saya ambil lagi.”

Han meng’iya’kan , si anak mengucapkan terima kasih berkali-kali.
 

Han berkata padaku.

“Setelah anak itu pergi , HP Ericsson itu aku pandangi terus ,
sambil memikirkan uang 60 ribu hasil kerjaku mêlèk (lembur) sampai jam 2 malam ,
mem-format HP , mem-format MMC (memory card) ,
terus ngisi lagu-lagu , game dan aplikasi-aplikasi”.

“Gêlo (menyesal) tha ?”.

“Yaaa . . agak menyesal sih.
Ndak setiap hari aku bisa dapet tambahan penghasilan segitu ,
terus berubah jadi HP yg kalo dijual 30 ribu aja ndak laku ,
ndak ada chargernya lagi . . . .
Lagian aku merasa anak itu ndak akan kembali ngambil HPnya.
Tapi kemudian aku berpikir , mungkin ini sudah kehendak Tuhan ,
HP yg aku janjikan selesai sore , malah aku lembur
dan pagi-pagi yg punya malah mampir ngambil ,
koq ya bertepatan dengan anak perempuan itu datang . . . .
Tapi kelanjutan ceritanya akan membuat kamu punya pemikiran lain . . .”
 

Lalu Han menceritakan kejadian selanjutnya tentang anak perempuan itu.

Sekitar satu setengah bulan kemudian ,
anak perempuan itu datang lagi bersama adiknya masih dengan sepeda tuanya.

“Oom , saya mau ngambil HP saya yg tempo hari , masih ada khan oom ?”

“Masih dik . . . bagaimana khabar ibunya ?”

Han mengambil HP Ericsson yg dimaksud dari sebuah dos ,
yg ditaruhnya di etalase bagian bawah ,
dengan perasaan bercampur aduk antara senang , haru , kagum dan entah apalagi.

“Ibu sudah meninggal minggu lalu oom ,
besok saya dan adik diajak tinggal bersama paman di kota ‘anu’.”

“Ya Tuhanku . . . saya turut berduka ya , dik.”

“Makasih oom , oom , ada HP yg murah ndak ?
Saya dikasih uang sama bibi , buat beli HP.”

“Lho , adik khan sudah ada HP ini ?”

Kata Han sambil menyodorkan HP Ericsson T18.

“HP ini mau saya simpan untuk kenang-kenangan ,
agar saya selalu ingat kebaikan oom.
Karena meskipun oom tidak mengenal saya , tapi mau menolong saya.”

Han cuma bisa tersenyum mendengar jawaban anak perempuan itu.

Selesai membayar HP yg dipilih juga HP yg di’gadai’kannya ,
si anak perempuan mengucapkan terima kasih dan pamitan.
 

“Sejak itu , anak perempuan itu ndak pernah muncul lagi.”

Kata Han padaku.

“Siapa namanya ?”

Han cuma tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Aku pun tersenyum lebar dan ikut menggelengkan kepala , lalu bertanya pada Han.

“Kalo misalnya ,
si anak itu ndak datang lagi ngambil HPnya , hilang dong uang 60 ribu mu?”

“Yaaacch gimana lagi. Ini ada juga yg semacam itu”.

Han mengambil sebuah HP LG model flip (lipat) , yg ketika kuhidupkan ,
dilayarnya yg berwarna hijau tidak ada tulisan apapun.

“Rusak ?”

“Iya. Ini punya anak kost di gang pojok itu ,
katanya butuh uang buat pulang kampung , kalau kembali mau diambilnya lagi ,
tapi sudah setengah tahun ndak muncul.”

“Buat nelphon masih bisa ?”

“Masih , tapi khan ndak bisa mbuka menu-menunya , ndak keliatan.
Paling nanti ‘tak kasihkan Yaya (anak Han yg ragil) , buat mainan.
Pernah aku tanyakan , harga LCD dan kabel flexibelnya sekitar 450 ,
adanya cuma di servis centre-nya LG ,
padahal kalau HP ini normal aja , paling banter laku 250an.”

“Lha ini digadaikan berapa ?”

“Seratus lima puluh ribu . . . .”

Kata Han sambil tersenyum . . . . pahit . . .

“Oom , aku gak punya uang nih , tapi pingin ganti HP yg ada kameranya ,
bisa MP3 , pake MMC , tolongin dong . . . ”

Aku berseloroh.

“Sekalian yg ada tivi , kulkas dan ac-nya , mau ndak ?”

Han membalas gurauanku sambil tertawa.
 

———————————————————————————————————————-
 

Itulah Han ,
seorang teman yg seringkali tidak bisa menolak permintaan tolong orang lain ,
terhadap orang yg tidak dikenalnya sekalipun ,
bila dia meyakini ada nilai kebaikan , dia akan berusaha membantu.

Secara “kasar dan jahat” , kadang aku berpendapat ,
dia suka ikut campur urusan orang lain ,
meski “atas nama kebaikan , menolong , membantu dan sebangsanya”.
Orang seperti dia akan selalu ‘mendapat kesempatan’ ,
untuk dimanfaatkan , dibohongi bahkan ditipu orang lain ataupun temannya sendiri.
Namun bila waktunya dia yg membutuhkan pertolongan ,
amat sangat sedikit yg mau mengulurkan tangan . . . .

“Itu dharma hidupku , aku tidak bisa menolak atau menghindarinya ,
entah suatu saat nanti . . . .”

Selalu hanya itu jawabannya , bila teman-temannya mengingatkan.
 

Dan , tentang anak perempuan itu . . . .

Ia mampu memberi teladan dengan perbuatan yg nyata ,
bukan hanya kata-kata terucap lantang , seperti yg dilakukan kebanyakan orang.
Ia tidak hanya menepati janji , akan mengambil kembali HP itu ,
namun mengingat dan menghargai hal baik yg pernah diterimanya dari orang lain.

Yèn sira wèwèh , tulisên ing lêmah.
Yèn sira diwènèhi , tulisên ing ati.
(Bila kamu memberi , tulislah di pasir.
Bila kamu diberi , tulislah di hati.)
                                                                                 ( Yoga Hart )
                                                                                 S.O.T.R , April 2008

 
Catatan : Dengan editan seperlunya.
Tulisan terkait : Coklat (Kasih Sayang Seorang Ayah)

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: