“Emang Gue Pikirin”

 
Ada lagi seorang teman yg punya kemiripan dengan Han.
Namanya Wito , pekerjaannya sebagai sopir taxi.
Meski usianya lebih tua dariku ,
ia adalah salah satu dari antara sedikit “teman sejati” ku.

Suatu hari , ketika jadwalnya ‘off’ , Wito main ke rumah.
Terus dia bercerita.

“Saya bingung , temen saya mau pinjem uang satu juta buat sunatan anaknya.
Nembunge (mengajukannya) sudah dua minggu yg lalu.
Saya bilang ndak ada uang , tapi dia tetap ngoyak terus (memaksa) ,
soalnya dia tahu kalau saya sering dapet luar kotaan.”

Wito memang cukup banyak pelanggannya , karena kejujuran , ramah ,
dan memperlakukan penumpang lebih dari sopir taxi pada umumnya.
Seperti membukakan pintu , membantu membawakan barang-barang penumpang, kalau diminta menunggu ndak ngomel , dll.
Belum lagi bila ada pelanggannya dari Jakarta , Surabaya ,
yg ke Semarang untuk urusan bisnis di kota sekitaran Semarang ,
bisa dipastikan uang setoran terpenuhi , masih dapat tip tambahan.
Jadi meski teman-temannya sering ndak bisa nutup setoran atau pas-pasan ,
dia hampir ndak pernah mengalami hal seperti itu.
 

“Memangnya ada peraturan karena kamu sering dapet luar kotaan ,
terus musti mau ngutangi dia?”

“Ya ndak , . . . tapi dia ngoyak terus ,
kemarin dulu malah nyuruh saya nyarikan pinjaman ,
katanya buat jaga-jaga kalau sampai kekurangan uang.”

“Yg nanggung ?”

“Ya saya . . .”

“Lha , kamu mau ngganti , kalau dia ndak mbayar ?”

“Ya ndak mau . . . Apa saya kasih tabungan saya aja ya ?
Tapi bilang kalau saya pinjam dari temen ?”

“Apa ?! Biar dia sungkan terus tepat janji ?
Nggg . . . dia pernah punya utang ndak sama kamu ?”

“Pernah , sekitar 3 bulan yg lalu , 200 ribu.”

“Sudah mbayar ?”

“Belum , setiap kali saya tagih katanya ndak ada uang , . . tapi bisa ganti HP.
Katanya nanti mau dikembalian sekalian sama yg satu juta itu.”

“Wit , coba kamu pikir . . .
uang 200 ribu itu buat kita sangat berarti. . ya khan ?
200 ribu kalau dibagi 3 bulan alias 90 hari ,
sehari cuma senilai tiga ribu tiga ratus sekian , anggaplah 3500.
Pertama , jaman sekarang , uang 3500 bisa sampai dimana ?
Bisa ndak uang segitu buat makan dan minum di warung ,
sekali makan aja ? ….Ndak khan ?
Nah , yg kedua , kalau orang sudah bisa tidak menepati janji ,
satu.., dua.., tiga.., apalagi berkali-kali , . . . .
dia tidak akan pernah mau atau bisa menepati janji , selamanya !!!
Kalau saya punya hutang 200 ribu ,
punya penghasilan dan punya niat mau membayar ,
kalopun ndak bisa ngembaliin sekaligus , kalau perlu ,
saya akan buat celengan , setiap hari akan saya masukkan uang 3500 ,
3 bulan kemudian saya serahkan sa’ celengane , bukannya malah ganti HP !!!”

Nada bicaraku meninggi , jujur saja . . . .
aku ndak suka orang yg “malas” membayar hutang padahal mampu ,
apalagi kalau masih punya hutang , mblejani (tidak menepati) janji ,
ndak malu . . malah mau hutang lagi.

AKu menyalakan sebatang rokok , menghisapnya dalam-dalam ,
sejurus kemudian aku melihat , di asbak , rokok yg tadi masih separo . . . .

“Lha atas suruhan dia -cari pinjaman- , kamu njawab apa ?”

“Saya jawabe . . . “iya nanti saya pikirkan”.
Kemarin sore malah dia SMS saya ,
isinya : “Apa sudah dipikirkan ? Kapan saya ambil uangnya ?”
Saya malah tambah bingung , semalam ndak enak tidur , makanya saya kesini.”

“Haaa…haaa…haaa….To’ , Wito’.
Temenmu yg mau punya gawe koq kamu yg stress.
Ini lagi , . . orang mau minta tolong koq malah kayak nagih utang.”

Aku lalu mengulurkan tangan.

“Sini pinjam HP mu , ada pulsane ndak ?”

“Ada tho yo , kemarin baru saya isi 25 ribu ,
iya kalau HP mu , . . ndak ada pulsane , he..he..he..”

Dia ketawa juga akhirnya.
Aku lalu membuka “Kotak Masuk SMS”

“Mana SMSnya ?”

“Ini . . . yg ini . . . .”

Aku mengetik reply :
“EMANG GUE PIKIRIN. Uangnya ambil sendiri di bank !!!”
dan . . . kutekan “sent”.

“Lho ! Lho ! Kalau dia marah , gimana ?”

Wito kebingungan melihat isi SMS yg kukirim , saat HP nya kukembalikan.

“Wit , ngeliat model temenmu yg nduuableegg , saya jamin dia tidak akan marah.
Kalau dia sampai marah , kamu cuma kehilangan satu ‘teman’ yg ndableg dan
cuma ngrusui (merepotkan) kamu.
Relakan 200 ribu mu , kalau dia ndak mbayar ,
tapi besar kemungkinan , dia tidak akan pernah lagi nembung utang sama kamu.”
 

Teman seperti Han dan Wito , kadang membuat aku gemas , jengkel ,
sedih , kasihan dan entah perasaan apalagi.
Bukan aku tidak suka bila dunia terisi oleh lebih banyak ‘orang baik’ ,
ironisnya selalu ada orang yg ‘tega’ memanfaatkan mereka dengan berbagai alasan.
Bila yg ‘datang’ kepada mereka ,
adalah orang yg benar-benar memang dalam keadaan membutuhkan bantuan
dan ‘orang-rang baik’ itu dalam kondisi memungkinkan untuk membantu ,
aku memang cuma bisa bersyukur . . .
                                                                                 ( Yoga Hart )
                                                                                 S.O.T.R , April 2008

 
———————————————————————————————————————-
 

Beberapa orang menganggap kalimat “toh nanti akan dibayar” ,
sudah menyelesaikan -sebagian- persoalan hutang piutang.
Orang yg beberapa ini lupa , melupakan , tidak mengerti ,
atau bahkan tidak peduli dengan hak dan kepentingan orang
yg telah pernah membantunya ketika ia membutuhkan.
 

Persoalan hutang piutang yg sebenarnya bukan hanya pada materinya ,
tapi ada nilai diri yg lebih berarti , yaitu “janji”.

Ketika seseorang berkata : “Janji adalah hutang , dan hutang harus dibayar.”

Aku cuma tersenyum dan lalu berkata padanya :
“Janji bukanlah hutang , kalo hutang bisa dikemplang.
Janji adalah janji , yg musti ditepati pada masanya , sesuai isinya.”
 

“Deo Volente” , Jika Tuhan memperkenankan ,
tampak seperti simbolisasi taat dan sadarnya manusia
akan kehendak dan kuasa Sang Pencipta ,
namun ternyata seringkali jadi pemicu sah rasa tak bersalah , rasa tak berdosa ,
sebuah niat untuk tidak menepati janji , untuk mengingkari janji , untuk melupakan janji.
                                                                                 S.O.T.R , Mei – Juni ’10
 

Tulisan terkait : HP (sebuah Dharma Hidup)
 
=================================================

1 Komentar

  1. mahfudzspdi said,

    13/09/2013 pada 2:34 PM

    Reblogged this on Mahfudz spdi smpn 1 mantup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: