Sang Dermawan – Bag.01

 
I_give_you_my_heart

Adalah seorang dermawan pada masanya.
Secara berkala ia ke kota untuk membagi derma kepada orang-orang tidak mampu ,
yg menghidupi dirinya dengan menadahkan tangannya ,
berharap pada belas kasihan orang lain yg lebih beruntung dan murah hati.

Sang dermawan tinggal di pinggir kota ,
kota kecil yg ternyata juga menyimpan berbagai peristiwa.
Karena ia sering berderma
dan jumlah orang-orang penerima derma tidaklah banyak ,
meski selalu ada yg datang , tetap tinggal dan ada pula yg pergi ,
dan ia sesekali mengajak ngobrol seorang demi seorang ,
iapun jadi tahu , ada yg sebenarnya sudah tidak layak menjadi penerima derma ,
karena di tempatnya tinggal sudah mengerjakan sebidang ladang ,
gadhuhan dari seorang yg mempunyai tanah berlebih.
Namun tetap saja ia menadahkan tangan ketika sang dermawan datang.

Ada pula yg sebenarnya bisa dikatakan cukup mampu ,
karena sesekali ia memberi kepada orang lain yg membutuhkan ,
meski secara pilih-pilih menurut kata hatinya.
Namun tetap saja ia suka menadahkan tangan ketika sang dermawan tiba.

Kepada yg semacam itu , sang dermawan tetap memberi derma ,
karena ia tidak bisa menolak tangan yg tengadah.
Ia meyakini bahwa yg ia lakukan adalah perbuatan baik ,
meski dalam hatinya juga berharap kepuasan batin dari perbuatannya itu.

Ada pula yg benar-benar miskin dan tak mampu bangkit kembali ,
hanya bisa hidup dengan berharap derma dari orang lain.
Ada pula yg hanya karena suatu kebiasaan , karena memang di tempat asalnya ,
beberapa orang memang berkaul semacam itu ,
pada waktu-waktu tertentu menjalani ritual menadahkan tangan , meminta-minta.

Sang dermawan benar-benar orang yg berhati mulia ,
ia tak pernah membiarkan tangan tengadah yg ditemuinya dibiarkannya kosong.
Ia tak segan untuk menghampiri seseorang yg membutuhkan pertolongan ,
namun tidak mampu menghampirinya.

 
Hingga suatu hari terjadilah peristiwa luar biasa bagi sang dermawan.

Para penerima derma sudah tahu ,
pada waktu tertentu sang dermawan akan datang ,
sehingga pada waktu-waktu itu ,
mereka punya kebiasaan untuk berkumpul , di sebuah tanah kosong ,
yg oleh pemiliknya dirawat dengan baik sehingga layak disebut taman.
Pohon-pohon berbuah atau peneduh disana-sini ,
rumput yg tak pernah tingginya melebihi mata kaki ,
beberapa bangku dari bangunan batu bata dibuat untuk duduk beristirahat.

Namun ada juga yg menunggu di depan gubugnya , sementara belahan jiwanya ,
berkumpul dengan para penerima yg lain ditaman ,
sehingga keduanya akan menerima derma dari sang dermawan.
Sang dermawan punya kebiasaan mengitari kota sebelum kembali pulang ke rumahnya.

Hari itu ada seorang penerima derma yg baru kali ini ikut berkumpul di taman.
Seorang lelaki separuh baya yg kaki kanannya lumpuh , pincang . . .
dengan mengepit tongkat kayu pada ketiaknya.
Wajah dan tubuhnya terlihat bersih ,
juga pakaian yg dikenakannya tidaklah kotor ataupun compang-camping ,
meski terlihat lusuh dan pudar warnanya , serta beberapa sobekan kecil ,
yg menandakan ia tetap merawat dirinya ,
sekalipun orang-orang meletakkannya pada kasta penerima derma , pengemis.

Dari sorot mata dan kata-katanya bisa terbaca ,
ia melakukan itu dengan keterpaksaan yg tak kuasa dihindarinya lagi.
 

Sang dermawan telah tiba dan mulai membagi derma , tidak sama untuk setiap orangnya.
Karena ternyata ada hal-hal yg membuatnya rela memberi lebih dari standard.
Ketertarikan pada tutur kata dan sikap penerima derma.
Atau terkadang karena penerima derma yg mampu membuatnya tersenyum bahkan tertawa , saat menerima derma yg diberikannya.
Sebab sikap penerima derma itupun bermacam-macam ,
ada yg seperti umumnya , . . membungkuk dan mengucapkan terima kasih.
Ada pula yg membungkuk hingga kepalanya nyaris menyentuh rumput-rumput taman , sambil menggumamkan kata ‘terima kasih’ berulang kali.
Bahkan ada pula yg mengucapkan ‘terima kasih’ sambil menari-nari.

Pernah suatu ketika salah seorang penerima derma bertanya ,
mengapa sang dermawan tidak memberi saja sama rata.
Sang dermawan menjawab dengan senyum tertahan.

“Adalah hakku sepenuhnya untuk memberi kepada siapapun dan berapapun.
Aku telah berbuat baik dan berlaku adil.
Tak segan aku mendatangi gubug orang yg sakit hingga tak mampu berkumpul di sini.
Bahkan kepada yg menungguku di sini ,
sementara belahan jiwanya menungguku di depan gubugnya , tetap kuberi derma.
Itu adalah hakku sepenuhnya , tak sesiapapun boleh mempertanyakannya.

Lalu tibalah langkah kaki sang dermawan pada lelaki pincang itu.
Sang dermawan merasa tertarik . . bahkan menatap lama kepada lelaki itu.
Ada pancaran aura yg membuat sang dermawan diam tak berkata-kata , beberapa saat lamanya.

Sang dermawan memberi lebih banyak kepada lelaki pincang itu ,
bahkan melebihi kepada seorang penerima yg selama ini begitu diperhatikannya.
Namun , . . . lelaki pincang itu tak bersikap seperti penerima lainnya ,
ia hanya menganggukkan kepala pelahan , memejamkan kedua matanya ,
lalu sambil tersenyum tulus mengucapkan kata ‘terima kasih’.
Hal itu semakin membuat sang dermawan terpesona ,
“Betapa ia mampu tetap bersikap sebagai manusia , meski pada kondisi itu.”

Sang dermawan memang tidak pernah meminta ,
penerima-penerima itu musti bersikap bagaimana ketika menerima.
Karena ia tahu bagaimana bersikap tampak agung.
Kalaupun ada yg bersikap tidak pantas , tidak membuat hatinya senang ,
dengan senyum dan sapaan halus , ia akan mengajak penerima itu berbincang ,
menyentuh , menepuk-nepuk pundak sambil bernasehat ringan ,
sudah cukup membuat penerima menyadari keberadaanya , kastanya ,
bahkan akan membuat penerima semacam itu semakin menunduk.

Belum semua penerima mendapatkan derma ,
namun sang dermawan malah menunjukkan ketertarikannya pada lelaki pincang itu.
Sang dermawan mencoba merangkul pundak lelaki pincang ,
seperti yg biasa dilakukannya kepada penerima lainnya ,
amboi . . bagai suatu keajaiban ,
ia merasa tak mampu merangkul pundak lelaki itu.
Sikap yg ditunjukkan lelaki pincang itu membuatnya kagum ,
tiba-tiba sang dermawan merasa ,
keberadaannya yg selama ini dianggapnya lebih tinggi dari kaum penerima ,
tidaklah berlaku bagi lelaki pincang itu.

Sang dermawan kemudian menggamit lengan lelaki pincang itu ,
menjauhi para penerima , mengajaknya duduk di sebuah bangku batu bata ,
di bawah pohon yg rindang daunnya , mengajaknya berbincang-bincang.
Cukup lama . . lebih dari yg pernah dilakukannya kepada penerima lain.

Para penerima yg belum mendapatkan bagiannya , cuma berdiam menunggu.

Di waktu berikutnya ,
sang dermawan semakin menunjukkan perhatiannya kepada lelaki pincang itu.
Disuruhnya lelaki pincang itu menunggu saja di gubugnya ,
sehingga mereka punya lebih banyak waktu untuk berbincang-bincang.
Setelah selesai sang dermawan membagi derma kepada yg lain.
Bahkan dibawakannya sepoci teh panas dan beberapa potong kue ,
untuk menemani obrolan mereka.

Benarlah kata hatinya , lelaki pincang itu memang berbeda.
Ia mampu menanggapi obrolan-obrolan sang dermawan , tentang apa saja.
Ia juga cukup mengenal kehidupan di luar kota kecil itu ,
sesekali ia berfilsafat ringan , hal yg sulit menyentuh nalar sang dermawan.

Selalu ada hal-hal dari pembicaraan dengan lelaki itu ,
yg mampu membuat sang dermawan tersenyum , tertawa , adakalanya terbahak-bahak.
Atau terdiam dengan tatapan sedih dan hati yg trenyuh ,
ketika lelaki itu berkisah tentang cinta ,
sesuatu yg sudah tak dikenalnya sejak bertahun lampau.

Adakalanya sang dermawan ke kota hanya untuk menemui lelaki pincang itu ,
mengobrol dan bersenda gurau tentang segala hal.
Dan selalu dibawakannya buah tangan berbagai rupa ,
yg bagi lelaki itu , adalah suatu kemewahan yg nyaris dilupakannya.
 

Namun dari hal apapun ,
berderma adalah hal yg paling penting bagi sang dermawan.
Itu adalah wujud hati indah ,
juga kesukaan yg mampu memberinya kepuasan bathin tersendiri ,
manakala ia menyaksikan seorang penerima tersenyum ataupun terbungkuk.

Orang bisa berkata , kepuasan bathin tidak bisa dibeli dengan uang.
Tapi orang lupa mengatakan , pada hal tertentu ,
kepuasan bathin bisa didapat salah satunya dengan melalui uang ,
yg lainnya adalah sikap dan kasih.

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: