Sang Dermawan – Bag.2 (Selesai)

Give_Love_s
 
Suatu ketika , lelaki pincang itu mengajukan tanya ,
yg tak pernah diduga sang dermawan ,
akan keluar juga dari mulut lelaki itu.

“Mengapa anda masih memberi derma kepada seorang penerima ,
yg sebenarnya sudah tidak lagi pantas menerima derma.
Malah aku tahu , ada seorang lainnya yg berada dalam strata memberi ,
namun nampak lebih menikmati keberadaannya sebagai menerima.

Bila bukan lelaki pincang itu yg bertanya ,
sang dermawan mungkin sudah langsung memerah raut mukanya ,
meski tetap akan menjawab dengan santun dan ulasan senyum.

Hati indah , mulia . . bukanlah berarti tidak akan ada sesuatu apapun ,
yg bisa mengusik kesendirian , keberadaannya.
Pengetahuan yg dalam , luas . . bukan berarti tidak akan melakukan kesalahan ,
bukan berarti akan selalu mampu menerapkan bijak pada setiap kehidupan.
Semua masih akan terpengaruhi oleh segala sesuatu disekelilingnya.
Bintang-bintang akan tampak berkerlipan di malam hari ,
bila tak ada mendung yg menyelimuti ataupun hujan yg menyelubungi.

“Berderma , memberi , adalah sebuah hal baik , dan aku suka melakukannya.
Apakah keberadaan mereka membuatmu iri ?
Sedang kepadamu selalu dan telah kuberi lebih dari mereka semua.”

“Aku tidak iri , dan aku tahu bahwa itu hakmu sepenuhnya.
Namun dengan memberi kepada yg jelas sebenarnya mampu memberi ,
akan membuat ia tidak akan lagi punya kemauan dan kesadaran untuk memberi.
Ia akan semakin terbenam dalam kenikmatan menerima.”

Sang dermawan mulai memerah mukanya ,
gemelatuk giginya yg beradu tak mampu disunyikan ,
darah mengalir melewati nadi lebih deras ke penjuru tubuhnya.
Ia mencoba mengakui kebenaran kata-kata lelaki pincang itu ,
tapi keberadaannya sudah kokoh , tak mudah tergoyah oleh apapun.
Terlebih yg membuatnya sulit menerima adalah ketika kesukaannya disinggung.
Ketika sang dermawan hanya terdiam.

“Atau sebenarnya engkau mendapatkan dan menikmati ,
kepuasan bathin di sisi kedermawananmu , ketika mereka membungkuk ?”

Kata-kata itu bagai sembilu yg menggores jantungnya ,
membuat darahnya semakin mengucur tak karuan arah.

“Aku sudah memberimu lebih dari mereka ,
mengapa engkau tega mengatakan sesuatu yg sebenarnya tak layak kau ucapkan , betapapun pengetahuan dan kebijaksanaan ada pada dirimu.
Jangan pernah lagi kau usik hal itu !”

Sang dermawan bangkit dari duduknya , mengucap permisi ,
dan segera meninggalkan lelaki pincang itu.
 

Lelaki pincang itu menunduk ,
bahkan suara mengucap ‘terima kasih’ pun nyaris tak terdengar.
Ada sesal menyengatnya ,
ketika ternyata ia telah menguak suatu kenyataan , suatu kebenaran ,
namun menyakitkan perasaan sang dermawan ,
yg telah berbuat banyak hal baik kepadanya ,
yg telah memberi perhatian dan merelakan waktu untuknya.

Lelaki pincang itu menyadari , dirinya . . .
Terlalu lurus untuk sebatang pohon ,
yg berarti akan ditebang lebih dahulu dari pohon-pohon lain ,
yg membengkok ataupun menyabang.
Terlalu jernih untuk sebuah sendang yg didiami ikan-ikan ,
yg berarti membuat orang akan memancing bahkan menebar jala ,
untuk menangkap ikan-ikan itu dan akan membuat airnya keruh ,
bahkan membuat ia akan disebut kubangan lumpur.

Ia bertanya pada diri sendiri ,
mengapa ia tak bisa berdiam atau hanya memandang dan tersenyum ,
bahkan kalau perlu bersikap manis dan lucu ,
seperti yg dilakukan satu dua penerima lain ,
agar sang dermawan tetap bisa menikmati kesukaannya berderma ,
agar sang dermawan tetap mengunjungi gubugnya dan memberinya lebih ,
agar sang dermawan tidak terlukai hatinya.

Toh sekalipun benar ,
perkataannya tidak akan mampu merubah mendung menjadi terang ,
. . . . . kecuali ia mampu menjadi matahari !
Tapi bukankah ia hanya seorang lelaki pincang ,
yg bahkan menatap matahari saja seakan tak lagi punya nyali.

Pelahan ia menatap keluar jendela ,
ach , . . bukan jendela tepatnya , itu hanyalah lubang dua bilah papan ,
yg bila malam ataupun hujan turun ,
ditutupinya dengan karung bekas tempat beras yg dibawa sang dermawan.

Dilihatnya seekor burung pipit bertengger di dahan pohon dekat gubugnya.
Burung itu berkicau dan terus berkicau ,
meski tak seorangpun mengerti . . . .
meski tak seorangpun peduli . . . .
karena ia memang ditakdirkan untuk berkicau.

Di waktu kemudian , dimana sang dermawan datang untuk memberi derma.
Lelaki pincang itu memilih untuk tidak pergi berkumpul ,
dengan mereka di taman tempat biasanya.
Ia pun tidak berani berharap ,
sang dermawan akan sudi singgah lagi ke gubugnya ,
setelah peristiwa beberapa waktu lalu.
sekalipun jauh direlung hatinya , ia ingin bertemu dengan sang dermawan.
Untuk mengucap “maaf”.
Sekalipun ia sadari benar ,
“maaf” tak akan mengembalikan bintang-bintang pada malam.

Sesal , sedih , gundah , malu , dan entah rasa minor apalagi ,
yg menyatu membentuk adonan memenuhi perasaan dan pikirannya.
Berpuluh andai dan berharap waktu kembali ,
adalah bagai meletakkan jiwa dalam patung batu , sia-sia.
Ia cuma tertunduk dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya ,
sembari duduk di bangku kayu reyot.

Tak dinyana , sang dermawan telah memasuki gubugnya ,
menyentuh pelahan pada pundak lelaki pincang itu.
Dan bagi sang dermawan , ia merasa ada yg berbeda kali ini ,
ketika diketahuinya lelaki pincang itu dalam susana hati galau ,
dan ia merasa keberadaannya yg dirasakannya lebih tinggi dari penerima ,
sedikit mulai ada terhadap lelaki pincang itu.

“Engkau tahu aku akan tetap kemari ?”

“Berharap saja tak berani , rasanya terlalu tinggi.”

“Lalu mengapa engkau tak hadir dan bersama mereka ?”

“Mungkin kau sadari , bahwa aku punya keberbedaan dengan mereka ,
sekalipun tetap ada kesamaan.
Aku meminta maaf untuk ucapanku kemarin.”

“Aku sudah memaafkan sebelum malam membawaku lelap.
Akupun meminta maaf atas kata-kataku.
Kuhargai keberbedaanmu , . . sekalipun sempat membuatku kagum ,
namun sayangnya sekaligus mengusik keberadaanku.”

Lelaki pincang itu cuma terdiam mendengar sang dermawan berkata-kata ,
setelah duduk di bangku reyot , didepannya.

“Aku memang belum mampu membedakan mana yg lebih baik diantara yg baik.
Sekalipun oleh hal kemarin ,
hal baik yg akan kulakukan untukmu tidak akan berubah ,
hanya mungkin kita tidak lagi bisa berbincang seperti yg lalu.”

“Sekalipun dalam hatiku ingin , . .
melihatmu membiarkan aku berderma , memberi , kepada siapa saja ,
sekalipun kepada orang yg menurut neraca hatimu tak lagi pantas.
Siapakah dari kita yg bisa memberi nilai pada ‘pantas’ ,
tanpa melibatkan hati dan pikir , kesenangan diri ?”

“Meski kuakui , ada juga sekali-kalinya inginku melihatmu membungkuk.
Bukan , . . bukan karena aku ,
tapi karena memang sudah saatnya engkau membungkuk ,
sekurangnya hal itu terbersit begitu saja dalam pikirku.
Namun aku sudah terlanjur tahu dan semakin meyakini ,
kata-kataku tak akan mengubahmu ,
engkau tak akan melakukan hal seperti mereka.”

“Yg kuminta darimu , biarkan saja aku berderma ,
karena pelahan akan kucoba sedikit demi sedikit mengurangkan ,
memberi kepada mereka yg sebenarnya memang tak lagi pantas ,
berada dalam kaum penerima.
Semoga aku juga bisa mengajak ia menyadari ,
sudah saatnya ia menjadi pemberi , kepada semua orang yg layak menerima ,
betapapun kecilnya yg bisa ia berikan.”

“Percayalah , aku akan tetap baik kepadamu lebih dari yg lain ,
kalaupun engkau mengatakan karena hatiku indah , hatiku mulia ,
itu tidak yg sepenuhnya benar ,
tapi karena engkau memang pantas menerimanya dariku.”

Lelaki pincang itu cuma tersenyum ,
ia mulai belajar tidak berkata banyak ,
namun ia juga tak hendak belajar hipokrit ,
ia hanya belajar menerima dan mensyukuri.

Dalam hatinya ada setitik nyala api.
Setidaknya , sebagai burung ia sudah menunaikan wajibnya , . . berkicau.
Tidak mencicit seperti tikus ketika mendapat remah roti ,
lalu menelusup ke liang tanah.

Lelaki pincang itu hanya mampu berharap dengan doa ,
semoga Yang Maha Kuasa selalu melimpahi kesehatan dan berkat untuk sang dermawan.
Semoga suatu saat ia mempunyai sesuatu yg cukup berharga ,
untuk dipersembahkannya kepada sang dermawan.
 

Hari bergulir dan terus bergulir ,
kehidupan yg berulang masih terjadi ,
meski memiliki dan memberi nuansa yg berbeda.

Sang dermawan masih terus membagi derma , memberi kasih.
Penerima , ada yg datang , tetap tinggal dan ada pula yg pergi.
Keduanya sebenarnya dalam keberadaan yg setimbang ,
karena hanya akan disebut pemberi bila ada yg menerima ,
hanya akan disebut menerima bila ada yg memberi.
Seperti halnya di sebut terang karena ada gelap sebagai pembanding.
Namun tetap saja ada yg membedakannya , . . . nilai.

N i l a i ? . . . . . . . .
Ach . . . . . . . . .
                                                                                S.O.T.R , 02 Maret ’10
                                                                                Untuk “Cinta”

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: