Senandung Cinta Seorang Pramuria – Bag.01

 
Temptation

Setelah menyelesaikan makan malamnya ,
lelaki itu melangkahkan kakinya meninggalkan restaurant menuju ke kamarnya ,
di bagian belakang hotel satu-satunya yg terbaik di kota kecil itu.
Namun baru beberapa langkah kakinya menyusuri area dalam hotel.
Ia berhenti dan menyulut sebatang rokok ,
sepertinya ada sesuatu yg bergayut di pikirannya.
Iapun lalu berbalik menuju bar dan nightclub , yg bersebelahan dengan restaurant.

Cahaya remang , suasana temaram , alunan lagu , sapaan santun dan senyum manis seorang waitress , menyambut dan mengikuti langkahnya.
Suara Farid Harja yg melantunkan “Ini Rindu” ,
mengalun tak terlalu memekakkan telinga ,
mengiringi seorang lelaki gendut separuh baya yg tengah berjoged di tengah ruang bersama dengan seorang wanita.
Sementara di sudut seberang dekat bar ,
di sebuah kursi sofa yg berbentuk huruf “U” ,
dan berbataskan dinding multiplek setinggi orang dewasa dengan ruang sebelah-sebelahnya ,
seorang lelaki yg juga separuh baya , tengah tertawa-tawa sambil menggelitik seorang wanita.

Cuma itu pengunjung nightclub yg menjadi bagian dari hotel tempatnya menginap.
Karena kota kecil pengolahan minyak itu bukanlah tempat pariwisata yg menarik.
Kota buntu , orang menyebutnya , karena tidak terletak di antara kota-kota besar.
Lagipula , nightclub juga bukan pilihan banyak orang untuk menikmati hiburan malam.

Lelaki itu memilih sebuah ruang sofa yg tak terlalu sudut.

“Mau minum apa , pak ?”

Tanya waitress yg terlihat menarik meski tak bisa dipungkiri ,
usianya tak lebih muda darinya ,
namun keprofesionalan membuatnya musti menyapa demikian.

“Ada Greensands ?”

Lelaki itu bertanya ,
menampakkan keragu-raguan akan keberadaannya di tempat itu.

“Ada , pak. Mau yg dingin atau pakai es batu ?
Camilannya , kacang , mete , emping ?”

“Es batu aja , . . sama mete , mbak.”

Waitress itupun mengangguk dengan memamerkan senyum manisnya.
Tak terlalu lama waitress itu kembali dengan nampan berisi segelas es batu , sebotol Greensand dan sepiring kecil mete.
Sambil menuangkan Greensand waitress itu bertanya.

“Bapak tamu hotel kami ?”

“Jadikan satu dengan tagihan hotel ya.”

Lelaki mengangguk sambil menjawab , matanya menatap ke arah seberang ,
lelaki gendut setengah baya yg tadi berjoged telah duduk di ruangnya ,
terlihat sedang mencium pipi wanita yg menemaninya tanpa malu-malu.
Lelaki itu memaraf bill yg disodorkan padanya di atas nampan kecil.

Entah memang sudah menjadi bagian dari Job Discription seorang Waitress ,
atau karena ia mengetahui lelaki itu sendirian dan memandang ke arah seberang , seakan iri melihat 2 tamu lain ada yg menemani , ia lalu berkata.

“Bapak , mau ditemani ?”

“Sama mbak ?”

“Saya tidak boleh menemani tamu , pak. Mari pak , saya antar.”

Gerak tubuhnya mengisyaratkan agar lelaki itu berdiri ,
untuk diantarkannya pada sebuah ruang yg berdinding kaca tembus pandang satu arah.
Sehingga setiap tamu bisa dengan leluasa mengamati dan memilih ,
dari wanita-wanita yg duduk dikursi sofa dan terletak agak tinggi.

“Ach , . . . mbak saja tolong pilihkan untuk saya.”

“Type yg bapak suka ? Gemuk , kurus , . . atau yg bisa diajak kencan ?”

Waitress itu kini memperlihatkan lagi sisi keprofesionalannya dengan nada yg biasa saja , menawarkan manusia lain yg berprofesi sebagai pramuria , layaknya sebuah benda.
Dan iapun tak merasa perlu menjelaskan lebih lanjut tentang makna kalimat terakhir.

“Apa sajalah , asalkan enak diajak ngobrol , . . cerdas.”

Waitress itu menatap sesaat ,
bukan hanya sekali ini ia musti memilihkan pramuria untuk seorang tamu ,
tapi baru kali ini ia mendengar permintaan dengan kriteria “cerdas”.
Waitress itu tersenyum dan mengangguk sembari mengucapkan pelahan sebuah nama.

“Mbak . . mbak . . ”

Lelaki itu memanggil waitress yg baru berbalik dan berjalan dua langkah.

“Iya , pak ? Bapak mau memilih sendiri ?”

“Bukan , satu lagi . . . masih bernafas.”

“Haa..haa..haa.. upppps.”

Waitress itu tertawa keras meski segera tersadar ,
sambil tersenyum-senyum ia meninggalkan lelaki itu.
Tak berapa lama , ia kembali dengan seorang wanita berusia sekitar 25 tahun bergaun putih setinggi lutut.
Gaun berbordir bunga-bunga kecil jarang-jarang , sesekali berkerlip memantulkan cahaya lampu.
Tubuhnya padat namun tak nampak gemuk ,
dengan rambut menggelombang indah sepunggung.
Anggun !
Dengan gaun putih dan dandanan yg tampak sederhana meski di keremangan ,
ketimbang sebagai seorang wanita yg bekerja sebagai pramuria ,
ia lebih nampak sebagai seorang ibu rumah tangga yg kesasar ke nightclub ,
atau seorang istri yg mencari suaminya yg suka dolan ke nigtclub.
Itu yg terlintas dalam benak lelaki itu.
 

“Rini.”

Nada suara dan gayanyapun tak menyiratkan sebagaimana pramuria kebanyakan ,
yg telah bertemu dan menemani entah berapa banyak lelaki ,
-dengan karakter dan kelakuan serta keinginan yg berbeda- ,
yg dengan cepat mengucap kalimat menggiring pada suasana keakraban sebuah dunia malam.
Lelaki itu cuma tersenyum dan mengangguk , lalu bertanya.

“Mau minum apa ?”

“Coca cola saja , pak.”

“Gak mau minum bir , wisky atau yg lain ?”

“Bapak sendiri cuma minum Greensand , gak minum bir.”

“Aku gak mau minum bir , meski satu gelas dikasih uang seratus ribu.”

Lelaki itu berkata sambil melirik kepada waitress yg berdiri di sisi sofa ,
bahkan seakan ikut menikmati percakapan yg membuatnya musti menunggu ,
yg juga tersenyum senang ketika lelaki itu mengangguk dan tersenyum , menyetujui pilihannya.

“Kenapa , pak ? Haram ya ?”

“Enggak , kalo dikasih dua ratus ribu aku mau.”

“Hi.hi.hi….. saya kira gak mau birnya.”

“Tambah coca cola sama mete , ya mbak. Makasih.”

Waitress itupun berlalu.
Tak lama telah kembali dengan membawa pesanan lelaki itu.
 

“Sedang ada tugas di sini ya pak ?”

“Iya. Tadi habis makan sudah mau kembali ke kamar , malah nyasar ke sini dan ketemu Rini.”

“Saya tadi malah sudah ketiduran , sepi siih , hampir tiap malam ya seperti ini.
Untung dibangunin mbak Win . . jadi ketemu sama bapak.”

“Mbak Win ? Nama lengkapnya Winoto ? Haa.ha.ha..”

“Hi.hi.hi. Namanya Winarso . . eh , Winarsih , pak.”

“Hee.hee.hee.. Coba deh , kamu lihat ke seberang sana . . . setua merekakah aku ?”

“Ooo . . iya deh , aku panggil mas aja yaa . . . ”

Rini kini tak lagi ber”saya” dan ber”bapak”.
Lelaki itu tersenyum lalu menawarkan rokok , yg dijawabnya dengan pernyataan tidak merokok.

“Kalo di tempat seperti ini , ingat istri gak , mas ?”

“Aku belum punya istri koq.”

“Owww . . . . ”

Rini yg duduk di kursi sisi sebelah , meski berdekatan namun tak rapat ,
nampak memandangi wajah lelaki itu dengan tatapan mata takjub mendengar jawaban itu.

“Kenapa ?”

“Sama seperti jawaban sembilan dari sepuluh laki-laki yg aku temani.”

“Haa..haa..haa..”

Lelaki itu semakin tertarik dengan wanita yg menemaninya ,
yg tidak mengumbar ataupun memancing dengan kata mesra ataupun porno ,
menunjukkan bahwa ia memiliki selera humor yg baik dan cerdas.

“Baiklah , aku akan mengaku , sini aku bisiki.”

Lelaki itu memegang lengan Rini yg lalu bergeser mendekatkan diri ,
sehingga kini mereka duduk di satu sisi sofa yg sama dan berbisik di telinga Rini.

“Aku belum punya istri.”

Rini meraih dan menggenggam tangan lelaki itu dan berkata dengan tersenyum manis.

“Iya , mas. Mas hampir saja membuat aku percaya , kalo saja aku tidak melihat cincin ini.”

Ia memainkan cincin di jari manis tangan kiri lelaki itu.

Lelaki itu tertawa lagi , ia bisa saja tidak menanggapi kata-kata Rini ,
toh tidak akan teringat lagi setelah mereka berpisah.
Namun ia melepaskan cincin itu dan menunjukkan pada Rini.

“He.he.he… kamu pinter , tapi sekali ini kamu salah.”

“Iya deh , aku percaya. Berarti baru bertambah satu lelaki jujur yg kutemui , dalam tiga bulan ini.”

“He.he.he….. lebih banyak yg bohong ya ?

“Hi.hi.hi. Sesama laki-laki khan lumrah kalo saling menutupi , pura-pura gak tahu.”
 

Obrolan-obrolan ringan yg sering diringi dengan canda tawa , mengisi waktu mereka.
Kedua lelaki separuh baya di seberang lelaki itupun sedang asyik bergurau dan bermesra.
Hingga ketika terdengar lagunya Art Company , “Suzanna” , namun ruang tengah tetap kosong.
Rini mengajak lelaki itu sambil menarik pelan tangannya.

“Mas , kita turun yuk.”

“Aku gak bisa disko apalagi njoged.”

“Dansa aja ya ?”

Tanpa menunggu jawaban lelaki itu , ia lalu berdiri dan menuju sebelah bar.
Tak lama ia kembali dan terdengarlah “Unchained Melody” nya The Road.
Ia mengulurkan tangannya , menarik pelahan tangan lelaki itu.

“Aku gak bisa , Rin.”

“Gampang koq , mas. Aku ajari.”

Di tengah ruang nightclub ,
Rini tanpa canggung merapatkan tubuhnya dengan lelaki itu ,
dan meraih tangan kanan lelaki itu lalu meletakkan di pinggangnya ,
sedang tangan kiri lelaki itu dilingkarkannya di pundaknya.
Semakin dirapatkannya tangan kanan lelaki itu agar memeluknya erat-erat.

“Mas ikuti saja langkahku.”

Berdebaran dada lelaki itu ketika Rini menempelkan bibirnya ke telinganya
dan mengucapkan kata-kata itu dengan berbisik.
Rini merasakan debaran dada lelaki itu , ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.

Hingga lagu “Uncahined Melody” selesai dan dilanjutkan dengan “Somewhere Between”
Rini tak merenggangkan sedikitpun pelukannya ,
yg membuat perasaan lelaki itu semakin bergejolak dan cuma bisa melenguh pendek.
Gairah kelelakiannya seakan hendak menggapai awan tinggi.
Hingga lagu ke dua selesai , ia menikmati suasana di temaram lampu nightclub.
 

“Rin . . .”

Lelaki itu berbisik di telinga Rini yg seakan tertidur dalam pelukannya.

“. . . Iya , mas . . mau duduk ?”

Lelaki itu mengangguk dan sekilas nampak sudut-sudut mata Rini basah , ia menangis . . .
Itulah rupanya yg terasakan oleh dadanya , . . air mata.

Di sofa , lelaki itu menyodorkan saputangan , namun Rini hanya diam memejamkan matanya.
Lelaki itupun pelahan menyeka sisa-sisa air mata di sudut mata dan di pipi Rini.

“Terima kasih , mas. Mas pengertian banget.”

Lelaki itu cuma tersenyum , lalu menyodorkan gelas Rini.

“Minumlah , biar air matamu yg keluar tergantikan.”

Rini malah menggenggam tangan lelaki yg memegang gelas dan mendekatkan ke mulutnya , meneguk coca-cola pelahan.

“Nanti kalo aku nangis lagi , air mataku berwarna coklat , hi.hi.hi..”

Kembali obrolan , canda dan tawa di antara mereka tercipta ,
di antara suara musik yg lembut dan tenang ,
seakan mengimbangi waktu yg semakin menggelincir ke puncak malam.

“Kenapa koq Rini bisa kerja di sini ?”

Sebuah pertanyaan biasa , namun tetap saja bernada minor.
Seakan nightclub hanyalah tempat yg dekat dengan kemaksiatan dan semua yg beraroma “dosa”.
Seakan orang yg menjadi pramuria , selalu hanyalah pelaku “dosa” ,
Sementara ada sisi lain yg tak pernah dibaca dengan kearifan dan dipahami dengan kesadaran ,
itulah kehidupan seorang manusia , itulah cara ia melanjutkan kehidupannya.
Andai bisa memilih untuk bertukar peran , siapakah yg akan tersenyum sinis ?

Lelaki itu sebenarnya sudah siap mendengar kalimat-kalimat klise dari bibir Rini.
Cerita tentang “dihamili dan dikhianati pacar” , “ditinggal suami kawin lagi” ,
“bercerai karena sering dipukuli” , “tidak diberi uang belanja” dan kalimat lain yg senada.
Namun suara pelahan yg didengarkannya kali ini , akan membuat ia tak pernah lupa.

“Aku membunuh suamiku . . . .”

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: