Breaker . . Penyiar . . Netter . .

 
Susanto memasuki mess sambil tertawa terbahak-bahak ,
sementara Beni mengikuti sambil misuh-misuh.

Aku yg sedang bermain kartu dengan Bima
dan 2 teman bagian umum yg juga tinggal di mess ,
cuma menebak-nebak apa yg telah terjadi dengan mereka.
Yg pasti gak kesurupan ,
karena selain masih inget membawakan bubur ayam buat kami ,
tadi sore pamitnya mau kopi darat sama cewek nge-break-nya , sama-sama.
Aku juga gumun , lha wong Beni itu jarang ngebreak ,
koq bisa dapet cewek , mau kopi darat lagi.

“Dikenalin adik sepupunya Tessa.” Beni menjelaskan.

Tessa itu teman ngebreaknya Susanto.
Temen yg satu ini , kalo pas lagi gak ada kerjaan ,
bangun tidur yg pertama dilakukan mbuat kopi , gak mandi ,
langsung megang mic pesawat rig dua meter dan mulai cuap-cuap.
Kalo sudah begitu , makan saja sambil ngebreak , kadang jengkel juga melihatnya.
Belum lagi kalo pas malam dia mojok sama Tessa ,
risih kalo mendengarkan obrolan-obrolan mereka , hee..hee..hee..

Aku gak seneng cuap-cuap kayak gitu ,
jadi paling makai cuma buat urusan kerja.
Saat itu tahun 1990-an , belum jamannya HP , Pager aja di Cirebon belum ada ,
jadi cuma itu sarana komunikasi antara yg tugas ke lapangan dengan yg di pabrik.
 

“Gimana Ben , cakep gak ? Sexy ?”

“Opoo ?! Aku dikerjai sama Santo.
Firda itu bukan adik sepupune Tessa , tapi kakak sepupune.
Umure mungkin 35an. Lha aku khan malah kayak kencan sama tanteku.”

“Haa..haa..haa..haa…” Kami semua tertawa.

“Salahe sendiri , lha masa ngoyok aja mau ngencani Tessa.
Aku minta sama Tessa supaya dikenalin ke temennya atau saudaranya.
Usulane Tessa , sekalian aja dikerjaian.
Cari sendiri males , maunya terima mateng , hee..hee..hee..”

“Tapi khan mestine ngomong fair dari awal.”

“Katamu ngobrol sama Firda cocok ,
suarane merdu mendesah-desah , sampe termimpi-mimpi , haa..haa..haa..”
 

Itu jaman Radio 2 meter berjaya , para breaker mengudara bersama Farid Harja.
Ada yg sekedar menjalin pertemanan , melampiaskan hobby cuap-cuap.
Ada yg jadi akrab , mojok di Frekwensi khusus , kencan di udara ,
kopi darat , bahkan berlanjut pacaran.

Cerita Susanto padaku ,
ada sepasang kekasih yg bubaran gara-gara si cowok punya hobby ngebreak ,
dan si cewek gak suka , cemburu . . . .
Tapi setelah berpisah , si cewek iseng-iseng ngebreak pake pesawat kakaknya.
Gak sengaja mereka “bertemu” di udara , saling suka dan jatuh cinta.
Baru tahu setelah mereka kopi darat.

“Masa gak ngenali suara masing-masing ?”

“Di radio suara khan bisa terdengar beda , mungkin saja pake alat buat ngubah suara.”
 

Ternyata , lewat Frekwensi Radio-pun , seseorang bisa “jatuh cinta”
(Yg bener sih “Jatuh suka” , “Jatuh sayang” , menurutku)
pada seseorang yg lain , yg belum pernah dilihat , ataupun dikenal cukup ,
cuma oleh suara dan kata-kata . . . . . . .
Bahkan setelah mojok berulangkalipun ,
data pribadi yg diberikan itu sejauh mana kebenarannya , belum bisa dipastikan.

Aneh tapi nyata , cara “cinta” menelusup ke dalam hati seseorang.
 

———————————————————————————————————————-
 

Beberapa tahun kemudian ,
ada lagi cerita tentang seseorang bisa “jatuh cinta” ,
cuma karena suara dan kata-kata.
 

Aku memasuki ruangan kantor bagian Penerimaan Material Coldstorage ,
karena tak kulihat Yuli , bagian Adminitrasi ,
akupun menyerahkan nota timbang kepada Kepala Bagian Penerimaan ,
yg dulunya teman sepabrik tempat aku pernah bekerja.

“Yuli gak masuk tha ?”

“Iya pak , lagi sakit karena patah hati.”

“Karo awakmu ?”

“He.he.he…gak pak , sama penyiar.”

“Penyiar radio ?”

“Iya pak.”

Temankupun lalu bercerita.
 

Yuli itu seneng banget ndengerin acara sebuah radio swasta di Semarang.
Senengnya bukan cuma karena ada acara request lagu yg dia selalu merequest ,
tapi karena pembawa acaranya , penyiarnya , namanya Ronie.
Dia selalu mendengarkan acara-acara yg dibawakan Ronie ,
gak cuma waktu di pabrik , tapi juga kalo di rumah . . . cerita si Yuli.

Penyiar

Waktu aku tanya , kenapa ?

“Suaranya yg serak-serak seperti memukau seluruh perasaan dan pikiranku ,
kalo ngomentari request atau salam ,
kata-katanya itu lho . . puitis dan romantis . . .
Dan kalo aku request lagu selalu diputerin , selalu didulukan.”

Itu jawaban Yuli , . . . aku yaa cuma ketawa aja.
Kalo pas pabrik gak rame sih , aku biarin aja dia kerja sambil ndengerin radio ,
sms-an , atau telpon sama penyiar pujaannya.

Suatu hari , Yuli curhat sama aku . . . katanya dia jatuh cinta sama Ronie.
Yuli juga sudah pernah mengutarakan hal itu sama Ronie , lewat telpon.
Tapi Ronienya gak menanggapi ataupun menolak , kata Ronie :

“Kamu jatuh hati pada suaraku , pada kata-kataku ,
bukan pada keseluruhan diriku yg sebenarnya.
Jadi selagi kita cuma bertemu di udara , di telpon , . . kita berteman saja ,
teman akrab atau teman dekat OK-lah.
Kalau kita sudah kopi darat , persoalannya lain lagi.”

Karena mulai sering gak fokus sama pekerjaan , aku menasehatinya ,
supaya jangan terburu-buru merasa jatuh cinta ,
siapa tahu sebenarnya itu cuma perasaan suka , kagum ,
yg dibesar-besarkan dengan bayangan dan impian Yuli sendiri.
Lagipula benar kata Ronie ,
iya kalo si Ronie itu seperti yg dibayangkan dan diangankan Yuli ,
kalo tidak ? Bakalan kecewa , khan ?
Untungnya si Ronie cukup bijak menanggapi ,
lha kalo umpama si Ronie katut jatuh hati sama Yuli ,
dan menaruh harapan pada Yuli . . . tapi setelah ketemuan Yulinya yg mundur ,
apa gak namanya menyakiti perasaan orang cuma karena menurutkan perasaan sendiri ,
salah-salah bisa dianggap mempermainkan perasaan orang.
Lain lagi kalo ternyata si Ronie memang seperti bayangan Yuli ,
tapi ternyata playboy , atau sudah punya bojo . . apa gak tambah ruwet . . .
penyiar khan banyak penggemarnya , kata lagunya . . . . siapa pak ?

“Embuh , gak apal aku . . . terus ?”

Mungkin saking kêbêlêt gak kuat ngêmpêt ,
karena si Ronie gak mau diundang ke rumahnya Yuli ,
Yuli mbèlani naik motor dari Kendal ke Semarang sendirian.
Rupanya Yuli licik juga pak . . . .
dia sengaja gak janjian dan gak langsung ke rumahnya Ronie ,
tapi tanya-tanya dan cari informasi dari tetangganya Ronie.
Kata tetangganya , si Ronie itu orangnya baik , supel
dan kalo tetangganya ada yg kerepotan , Ronie selalu mbantu sebisanya ,
tapi sayang . . . amit-amit , kakinya timpang.

Yuli rupanya gak puas sama hasil investigasinya ,
dia sengaja mantau dari warung bakso di seberang rumah Ronie.
Katanya sampe habis dua mangkok , ha.ha.ha…

Secara kebetulan si Ronie juga jajan bakso sama temannya di warung itu ,
cerita Yuli :

“Aduh maaaasss , aku liat dengan mata kepalaku sendiri ,
orangnya . . . hitam legam , prongos , tingginya mungkin cuma sebahuku ,
. . . wis , pokoke gak cakep babar blas ,
gak masuk nominasi buat memperbaiki keturunan , hi.hi.hi..
Aku gak berani melirik lama-lama , takut dia curiga ,
bakso gak kuhabiskan , selesai mbayar , cepet-cepet aku keluar.”

“Bener kata tetangganya , kalo si Ronie itu timpang ?”

“Iya , mas.”

Setelah njawab itu , si Yuli menunduk . . . . . . . .
 

———————————————————————————————————————-
 

Itu cerita di jaman internet dan chatting belum dikenal luas seperti sekarang ,
seseorang bisa “merasa” jatuh cinta meski belum pernah melihat ataupun mengenal lebih dekat.

Kalau sekarang di dunia maya ,
lewat Multiply , Friendster , YM , FaceBook , ato Sosial Media lain ,
kira-kira seperti apa yaa kejadian yg mirip dengan cerita di atas ?
Dimana awal rasa terpikat bukanlah pada tampilan jasmani ,
tapi ekspresi rasa dan pikir yg diwujudkan dengan kata-kata ?
Dan , bukankah mencintai tidak mungkin hanya karena satu atau dua bagian dari diri seseorang , tapi mustilah keseluruhan . . .
perasaan , pikiran , raga , kehidupan , juga . . kelebihan dan kekurangan.
 

Dunia maya tetaplah dunia maya . . . . . . .
Dimana seseorang bisa menampilkan sisi baik yg tak pernah diperhatikan orang lain ,
atau menampilkan sisi buruk yg selama ini disembunyikan ,
ataupun juga , menampilkan diri seperti apa adanya di dunia nyata ,
. . . . disengaja ataupun tidak.

                                                                              Yoga Hart
                                                                              S.O.T.R , November ’08
                                                                              (edited Oktober ’09)

 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: