Sepenggal Waktu Di Dunia Dewa

 
Suatu sore , seorang nelayan berusia 30an tahun berjalan menuju pantai ,
sambil memanggul jala yg sudah bertambal sulam dan membawa beberapa joran bambu.

Wu Han , seorang nelayan miskin yg sehari-hari berharap pada kemurahan laut ,
untuk menyambung hidup bersama istri dan seorang anak lelakinya , yg berusia 5 tahun.
Istrinya ikut mencari nafkah dengan menjadi buruh pada juragan di desa itu ,
membersihkan , membelah dan menjemur ikan-ikan kecil untuk dijadikan ikan asin. Upah yg didapatnya kadang hanya cukup untuk membeli beras hari itu.

Tengah Wu Han menyusuri pantai berkarang mencari lokasi yg tepat ,
untuk memasang joran dan menebar jala ,
tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesuatu yg bergerak-gerak di antara batu-batu karang.
Ketika didekatinya , Wu Han melihat seekor ikan sejenis karper ,
yg bersisik kuning keemasan hampir sepanjang dua bentangan jarinya , menggelepar lemah.
Dari beberapa sisiknya yg lepas , terlihat darah kemerahan menetes.

Wu Han merasa gembira karena mendapat ikan sebesar itu.
Ikan itupun segera diambil dan dibawanya ke pantai berpasir ,
lalu diamatinya ikan yg tampak pasrah tak lagi menggelepar itu.

Semenjak kecil Wu Han telah membantu orang tuanya yg juga seorang nelayan ,
namun belum pernah dilihatnya ikan yg seperti itu.
Pada dahinya tampak benjolan berwarna kemerahan seperti mahkota kecil ,
misainya panjang , hampir sepertiga dari tubuh ikan itu sendiri.
Ketika pandang matanya menatap mata ikan itu , terkejutlah Wu Han.
Mata ikan itu seperti berselaput layaknya mata manusia , dan berkedip.
Tatapan itu seperti memancarkan kesedihan , lalu meneteskan air mata !

Takut melanggar pantangan bagi orang yg mencari nafkah pada laut ,
Wu Han membopong ikan itu dengan hati-hati ,
lalu membawanya ke air laut dan melepaskannya.
Ikan itu seperti mengerti , ia tidak langsung menyelam ke dalam laut ,
namun berenang di permukaan air laut menjauhi pandang ,
lalu membalikkan tubuhnya memandang ke arah Wu Han beberapa saat ,
seakan mengucapkan terima kasih , pada Wu Han yg masih takjub dan keheranan.

Setelah ikan itu menyelam , Wu Han pun melanjutkan pekerjaannya.
Tak ada kejadian istimewa setelah itu ,
baru menjelang tengah malam ia mendapat hasil yg menggembirakan.
Setiba di gubugnya Wu Han menceritakan kejadian aneh yg dialaminya tadi , kepada istrinya.
 

———————————————————————————————————————-
 

Keesokan harinya ,
seperti biasa , sore hari Wu Han ke pantai untuk mencari nafkah.
Tengah menebarkan jala , tiba-tiba beberapa sosok yg berpakaian prajurit ,
timbul dari laut dan menghampirinya.
Diliputi ketakutan yg bukan kepalang , Wu Han hendak berlari menuju pantai ,
namun tak sedikitpun kakinya mampu digerakkan.

“Kami diperintahkan oleh Raja laut untuk menjemput tuan.”

Wu Han tak mampu bersuara sepatah katapun ,
mukanya pucat pasi dan menurut saja , ketika salah seorang prajurit itu ,
memberinya sebutir mutiara kecil dan menyuruh Wu Han menelannya.
Mereka lalu menggandeng Wu Han menenggelamkan diri ke kedalaman laut.

Di sebagian kesadarannya yg masih tersisa , Wu Han merasa heran dan takjub ,
bahwa ia bisa bernafas di dalam air laut layaknya seperti di daratan.
Terlebih ketika mereka mendekati bangunan megah yg luar biasa indahnya ,
yg tak pernah dilihat Wu Han . . . sebuah istana di dasar laut.

Para nelayan mempercayai bahwa ada dewa yg menguasai laut , dan berkuasa selayaknya raja.
Itu sebabnya setiap tahun mereka mengadakan upacara sesaji ,
namun tak seorangpun yg bisa menggambarkan apa yg ada di bawah laut sana.
Bahkan sesepuh desa nelayan ,
yg konon pernah hilang di laut ketika perahunya tenggelam ,
dan ketika tersadar ia telah berada di pantai dekat desa.
 

Wu Han dibawa menuju balairung ,
di tempat yg lebih tinggi , hampir setinggi bahunya ,
di singgasana berwarna kuning keemasan , duduk seorang yg nampak berwibawa , dengan mahkota yg gemerlapan oleh batu permata yg menghiasi.

Agak ke depan , di sebelah kirinya duduk permaisuri sang raja laut.
Sedang di sebelah kanan , duduk seorang putri yg cantik jelita.

Raja laut menjelaskan
bahwa ia mengundang Wu Han untuk mengucapkan terima kasih ,
karena kemarin telah menolong putrinya yg terdampar di karang pantai.
Rupanya ikan karper yg kemarin dilepaskan Wu Han adalah wujud lain sang putri raja.
Wu Han diminta tinggal sehari atau dua hari di istana itu ,
agar sang raja bisa menjamu dan berbincang-bincang dengannya.

Beberapa dayang kemudian mengantarkan Wu Han ke sebuah kamar yg indah ,
tempat tidur dengan kain selambu yg bersih ,
pakaian sutra halus dan perhiasan , buah-buahan segar berbagai macam ,
telah tersaji di meja bulat dalam kamar itu.
Kamar itu lebih luas dari gubug gedeg beratap belarak (anyaman daun kelapa kering).
Lantai marmer halus dengan pola-pola yg indah , baru sekali inilah diinjaknya ,
rumahnya hanya berlantaikan tanah yg ketika hujan menjadi becek ,
karena terpaan angin yg membuat air hujan menembus belarak dan gedeg ,
yg mulai berlobang di sana-sini.

Wu Han tak pernah sekalipun bermimpi atau berani mengkhayalkan ,
bahwa ia akan mengalami semua kemewahan bak seorang pangeran.
Baginya , hidup sehari-hari dengan kecukupan makan dan bisa menyimpan sedikit uang ,
untuk membeli masing-masing sepotong pakaian saat tahun baru ,
adalah kemewahan yg selalu disyukurinya.
Ayahnya meski seorang nelayan yg tak mengerti sastra ,
selalu mengajarkan nilai moral dan keluhuran budi untuk menjalani kehidupan.

Keesokan harinya , ketika ia minta ijin untuk kembali ke alam manusia ,
karena merasa bahwa istrinya akan mencari dan mengkhawatirkannya ,
juga karena istri dan anaknya bergantung hidup padanya.
Sang putri menahan Wu Han untuk tinggal beberapa hari lagi.

“Jangan kuwatir , aku akan menyuruh pengawal mengantar barang berharga ,
agar istri dan anakmu tidak kesulitan mencari nafkah.”

Rupanya sang putri jatuh cinta kepada Wu Han yg berbudi luhur ,
dan berniatan membalas kebaikan Wu Han yg telah menyelamatkannya.
Sang raja lalu mengutarakan keinginannya untuk menikahkan putrinya dengan Wu Han.

“Hamba sudah mempunyai istri dan seorang anak di alam manusia.”

“Aku tahu , namun itu tidaklah menjadi masalah , meski alam kita berbeda.”

Sang putripun lalu menjelaskan.

“Aku tidak mengharuskan engkau tinggal selamanya di alam dewa.
Kapanpun engkau ingin kembali ke alam manusia , aku tidak akan melarangmu.
Kapanpun engkau berniat kembali kemari , aku tetap menerimamu sebagai suamiku.”
 

Siapakah laki-laki yg akan menolak kebahagiaan seperti itu ?
Kebahagiaan ??
Atau sebenarnya hanyalah kesenangan , kenikmatan , kemewahan ?
Entahlah . . .
Namun Wu Han bukanlah laki-laki yg mampu mengingatkan dirinya sendiri ,
bagaimanapun juga ia sudah terikat pernikahan dengan wanita lain , di alamnya.
Sekalipun menjadi suami seorang dewi , putri raja , adalah juga anugerah dari dewa.

Akhirnya Wu Han pun menerima keinginan sang putri , merekapun menikah.
Hari-hari yg dijalani Wu Han , semua serba menyenangkan.
Apa yg diinginkannya tinggal memberi perintah pada dayang-dayang atau pengawal.
Ia tak perlu bekerja apapun , karena semua sudah ada ,
belum lagi kebahagiaannya beristrikan seorang dewi , putri raja ,
yg tetap menghormatinya selayaknya seorang suami.

Tak terasa satu bulan Wu Han tinggal di kerajaan laut.
Ia merasa rindu dengan istri dan anaknya ,
lalu mengutarakan maksudnya kepada sang putri ,
untuk menengok istri dan anaknya di alam manusia
dan tinggal beberapa waktu dengan mereka.

Sesuai janjinya , sang putri tak sedikitpun menahan Wu Han.
Sambil menyodorkan dua buah kotak kayu yg berukir indah , sang putri berkata.

“Kotak yg lebih besar ini berisi perhiasan emas permata dan mutiara ,
kakanda bisa menggunakan untuk hidup di alam manusia.
Namun kotak yg kecil ini , jangan sekali-kali kakanda membukanya ,
namun harus selalu bersama kanda , jangan diberikan pada siapapun.
Bila kakanda kembali kemari , berikanlah kembali kotak ini padaku ,
biar aku yg menyimpannya. Harap kakanda ingat , jangan sesekali membukanya.”

“Bila kakanda hendak kembali kemari ,
pergilah ke pantai tempat kita bertemu , tepuklah permukaan laut tiga kali ,
aku akan mengutus prajurit-prajurit istana untuk menjemput kakanda.
Nanti setiba di pantai , tepuklah pusar kakanda agar ‘mutiara kehidupan laut’ keluar ,
simpanlah baik-baik untuk kakanda gunakan ketika kembali kemari.”

Dengan dikawal beberapa prajurit kerajaan ,
Wu Han diantar hingga tiba di pantai tempat ia bertemu sang putri ,
dimana ia dijemput para prajurit istana laut beberapa waktu lalu.
Wu Han telah berganti pakaian rakyat biasa ,
namun tetap saja terlihat sebagai orang yg berpunya di alam manusia.
 

———————————————————————————————————————-
 

Hari telah senja ketika Wu Han menapakkan kakinya di pantai ,
dan segera bergegas menuju desa nelayan tempat tinggalnya.
Tidaklah banyak penduduk disitu , namun ketika berpapasan dengan Wu Han ,
nereka memandang dengan heran , karena belum pernah melihatnya.
Terlebih dari pakaian yg dikenakannya , meski sederhana ,
nampak seperti layaknya orang kaya yg berasal dari kota.

Wu Han pun keheranan ,
karena ia tak mengenal satupun dari beberapa orang yg dilihatnya.
Bahkan sempat ia merasa ragu-ragu ,
karena gubug yg ditinggalkannya sebulan lalu ,
telah berganti menjadi banguan bertembok ,
yg meski tidak mewah namun selama ini hanya mampu diangankannya saja.

Di halaman rumah itupun , tak dijumpainya istrinya ,
yg biasanya duduk di bawah pohon mengobrol dengan tetangga sambil mengasuh anaknya.
Hanya nampak seorang lelaki seusiaan dengannya tengah memperbaiki jala ,
dan semakin keheranan karena muka lelaki itu mirip dengannya.

Tak mau beresiko , Wu Han memilih bertanya sebelum mengungkapkan diri.

“Permisi , aku mencari seorang laki-laki bernama Wu Han ,
yg sepertinya tinggal di desa ini.”

“Beliau adalah ayahku , namun sudah meninggal 30 tahun yg lalu.

Wu Han terkejut mendengar jawaban itu , bukanlah ia masih hidup ,
mengapa dikatakan sudah meninggal , 30 tahun yg lalu . . .

“Bagaimana ayahmu meninggal ?”

Lelaki itu menjawab sambil memandang penuh selidik.
Namun jamaknya orang pedesaan ,
mereka mudah mempercayai orang yg baru dikenalnya ,
bila tak menampakkan hal-hal yg mencurigakan dan bersikap sopan.
Kemudian mempersilahkan Wu Han untuk masuk , namun Wu Han menolak.

“Menurut cerita ibu ,
beliau meninggal sehari setelah menemukan ikan ajaib di pantai ,
mungkin beliau dibawa ke istana raja laut.”

“Dimakah istrinya sekarang ?”

“Ibu sudah meninggal setahun yg lalu.”

Wu Han terhuyung-huyung oleh pusing dan kebingungan ,
tangannya segera memegangi pilar rumah.
Tuan rumah yg ternyata adalah anak Wu Han lalu memanggil istrinya ,
yg segera keluar dengan cangkir berisi air putih dan menyodorkannya pada Wu Han.

Setelah beberapa saat menenangkan diri , Wu Han pun berkata.

“Aku adalah famili jauh ayahmu ,
aku kemari untuk mengantarkan bagian harta warisan yg menjadi hak ayahmu.
Karena beliau sudah meninggal , engkau sebagai ahli warisnya . . . terimalah.”

Lelaki itu ragu-ragu menerima kotak pemberian Wu Han ,
namun Wu Han tetap memaksa untuk menerimanya.
Betapa terkejutnya lelaki itu ketika membuka kotak itu dan melihat isinya ,
perhiasan emas permata mutiara yg belum pernah dilihatnya seumur hidupnya.

Lelaki itu menawari Wu Han untuk tinggal beberapa hari ,
namun Wu Han kembali menolak dan segera berpamitan.

Wu Han benar-benar kebingungan dengan apa yg dialaminya ,
semua telah berubah tiga puluh tahun lebih cepat !
Padahal ia hanya tinggal di istana kerajaan laut 30 hari.
Benarkah sehari di kerajaan laut adalah sama dengan setahun di alam manusia ?
Ia segera menuju ke pantai hendak kembali ke istana laut ,
untuk menanyakan semua yg dialaminya kepada sang putri , istrinya.

Setiba di pantai , ia tidak langsung memberi tanda seperti pesan sang putri ,
namun memilih duduk di pasir pantai yg putih ,
sambil mengamati bulan yg sedang purnama dan belum lagi sampai di tengah langit.
Sinarnya keperakan memantul di permukaan laut.

Ada penyesalan yg melintas dan semakin memenuhi perasaannya ,
penyesalan ketika menerima sang putri menjadi istrinya.
Bagaimanapun juga kehidupan di dunia manusia yg dijalaninya dengan kesederhanaan ,
bahkan serba kekurangan , terasa adalah kebahagiaan yg sebenarnya , yg sejati ,
Bukan karena kenikmatan , kesenangan , kemewahan ,
yg didapatnya selama berada di kerajaan laut.

Terbayang senyum manis dan tulus istrinya yg sederhana ,
ketika mengantarnya berangkat mencari nafkah ke pantai.
Tawa riang dan teriak kegembiraan anaknya ketika ia membawakan kelomang ,
keong , kerang , bintang laut yg berbagai rupa dan indah.

Ingin rasanya ia kembali pada saat-saat itu , namun waktu sudah berlalu.
Waktu ???

Ia teringat kotak kecil pemberian sang putri raja ,
timbul rasa ingin tahunya mengapa berpesan dengan wanti-wanti ,
agar ia tidak membuka kotak kecil itu.

Diambilnya kotak itu dari kantong dibalik bajunya , dibolak-balik dan diamatinya.
Timbul keinginan untuk membukanya , namun dihentikannya gerakan tangannya.
Lebih baik menanyakan kepada istrinya saja di istana , pikirnya.

Ia lalu menuju laut , menepuk permukaan laut tiga kali.
Sambil menunggu kedatangan prajurit yg akan menjemputnya ,
Wu Han kembali duduk di pasir pantai , dipandanginya lagi kotak kecil itu.
Ia tak bisa lagi menahan diri , dibukanya kotak kecil itu pelahan-lahan.
. . . . hanya asap putih berkilau kebiruan ,
yg pelahan keluar dan membumbung berbaur dengan udara.

Seiring itu pelahan kulitnya berubah mengeriput ,
bayu (daya) tubuhnya pelahan melemah , pandang matanya mengabur . .
ia berubah menjadi seorang kakek yg berusia hampir 70 tahun !!!
                                                                                   S.O.T.R , Maret ’10

 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: