Sepenggal Waktu Di Dunia Maya

 
Cerita “Sepenggal Waktu Di Dunia Dewa” adalah adaptasi ,
dari sebuah cerita yg pernah kubaca di sebuah majalah anak-anak ,
nama majalahnya “Kawanku” ,
judul aslinya , nama tokohnya , aku sudah tidak ingat lagi.
(Ketika tulisan itu kuupload di Multiply (Maret 2010) ,
seorang teman memberitahu , bahwa judul aslinya adalah “Urashima Tarō”).
Cerita aslinyapun jauh lebih singkat dari yg bisa kutuliskan.
Karena cerita itu kubaca sekitar 25 tahun yg lalu.
Aku hanya ingat inti ceritanya karena termasuk satu dari beberapa cerita ,
dimana aku merasa bisa memetik pelajaran kehidupan ,
tentunya dengan kapasitas kemampuan pikir dan rasa seorang anak pada saat itu.

Aku membayangkan kerajaan laut adalah bagai alam khayal , alam impian ,
dimana semua yg indah , yg menyenangkan , yg nikmat , semua “ada”.
Namun bila aku ‘mencoba hidup di dalamnya’ ,
pada saat aku tersadar atau disadarkan dan harus kembali pada kenyataan ,
aku juga akan kehilangan sesuatu yg sangat berharga ,
yg tidak dapat digantikan oleh apapun -selain penyesalan- . . . yaitu waktu !
 

Kini , yg kurenungkan ,
kerajaan laut bukanlah sebagai alam khayal , tapi alam maya.
Dimana secara pikiran dan perasaan , semua yg dicari , semua yg diinginkan ,
terasa semakin mudah untuk ditemukan.

Bagi yg pekerjaannya berhubungan dengan internet , dunia maya ,
pasti akan sangat menguntungkan dan memudahkan ,
semua informasi , komunikasi , dalam hitungan menit bahkan detik ,
bisa didapatkan , bisa disampaikan.

Namun , bagi orang yg hanya memanfaatkan dunia maya untuk kesenangan ,
melewatkan waktu luang , penyaluran hobby ,
berbagi dan menimba berbagai pengetahuan , menjalin komunikasi (persahabatan) ,
bila tidak mampu memanfaatkannya dengan bijak , dengan baik dan benar ,
ada sisi negatif yg musti diwaspadai.
 

Bukan tidak mungkin terjadi pada sebagian orang ,
berpemikiran bahwa sebagian kehidupannya (pikiran dan perasaan) ,
seakan sudah berada di dunia maya (seperti diriku -ketika itu- , hee..hee..hee..)
Rasanya “Gak hidup kalo gak Online !”
 

Sekitar 3 tahun yg lalu , seorang teman yg baik hati namun gaptek , Wito ,
pernah bertanya padaku , seperti apakah gambaran dunia maya itu ?
Karena dia pinter masak , aku memberi perumpamaan seperti ini.

“Dunia maya itu ,
seperti sebuah toko buku yg luar biasa besar berisi berbagai macam buku ,
dan kamu bermaksud mencari buku resep masakan ‘ayam bumbu rujak’.
Ternyata yg kamu temui bukan cuma sepuluh , lima puluh , . .
tapi seratusan buku yg punya perbedaan satu dengan yg lain.
Ada yg sampulnya terlihat mewah , ada yg hanya dari karton eceng gondok.
Ada yg make ayam kampung , ada yg make ayam broiler.
Belum lagi bumbunya , ada yg dikasih arak masak ,
ada yg sereinya sedikit ada yg banyak , dan sebagai-bagainya.
Satu dan yg lain punya hal yg unik dan menarik ,
sehingga kamupun bingung membukai satu persatu buku itu , membanding-bandingkan.
Akhirnya , ketika kamu sudah memutuskan pilihanmu ,
pasar dan supermarket sudah pada tutup ,
kamu sudah kehilangan waktumu satu hari , gak jadi masak ‘ayam bumbu rujak’.
Dan ternyata kamu juga tertarik pada buku di rak sebelah ,
tentang resep masak tahu bacem , hee..hee..hee…”

“Lha koq bisa ada penipuan lewat internet ?”

“Itu pramuniaga’ne nakal . . . .
atau pengunjung’e sing nakal , nylempitno buku . . ngemplang , hee..hee..hee…”
 

Di dunia maya banyak sekali yg bisa diketahui , hal yg benar dan hal yg salah ,
hal yg baik dan juga hal yg buruk , semua serba menarik , dan menyenangkan ,
tinggal tergantung selera yg berselancar.”

Dunia maya tak mengenal ujung , tak mengenal batas.
Semakin ‘bersemangat’ seseorang mencari maka akan semakin larut di dalamnya.
Karena selalu akan menemui hal yg baru , menarik , punya sisi berbeda ,
yg belum diketahui dan membuat ingin mengetahui
dan mengetahui lebih banyak dan lebih dalam lagi.
Ketika terasa tak lagi menarik , tidak lagi menyenangkan atau ada yg lebih menarik , tinggal klik . . . tinggalkan.
Secara tak disadari ,
ini mudah menimbulkan perasaan bosan , . . bosan pada hal-hal lama ,
bahkan akan timbul kecenderungan tidak lagi menghargai hal-hal atau nilai-nilai lama.
 

Di dunia maya , sebuah hubungan emosionil mudah dimulai dan dijalin.
Teman online , sahabat , kekasih , bahkan tidak menutup kemungkinan ,
di dunia maya bisa menemukan calon pasangan hidup ,
dan menjadi pasangan hidup di dunia nyata.

Sebuah hubungan emosionil (terlebih LDR , jarak jauh) ,
sekarang bisa dimulai , dijalin , cukup dengan klak-klik , ketak ketik , sent . . .
Sisi positif yg didapat , pengenalan , pendekatan , komunikasi ,
lebih bisa intensif dan cepat , tak terbatas waktu dan tempat.

Padahal pada era tahun ’80 atau ’90 , sebuah hubungan emosionil semacam itu ,
musti dijalin dengan kesadaran dan kesabaran yg cukup tinggi.

Sebagian orang masih bisa membayangkan , bagaimana , berapa lama ,
menunggu balasan sepucuk surat berwarna pink atau biru muda ,
dengan aroma wangi permen karet , yg terlipat rapi dalam amplop senada.

Atau bagaimana rasanya menuju kantor telepon satu-satunya di kota ,
antri menunggu giliran untuk bisa berbicara dengan sang kekasih ,
sambil teriak-teriak : “. . . putus-putus , tadi ngomong apa ?”

Sekarang ? Tinggal pergi ke warnet , pasang webcam , voice call ,
wajah meringis dan ketawa yg merdu jelas terdengar.
Bahkan sudah banyak yg tinggal buka laptop , notepad , smartphone , dsb.

Itu pula yg membuat sebagian orang secara tak sadar ,
tidak lagi bisa menghargai makna sebuah hubungan emosional seperti dulu.

Terlalu luas rasanya mencoba ‘membaca’ dan menuliskan tentang dunia maya.
 

Dunia maya seakan bagai kerajaan bawah laut yg indah dan menyenangkan ,
namun ada satu hal yg semoga tak terlupakan ,
bahwa kehidupan yg musti dijalani adalah hal nyata , pada dunia nyata.
Dunia maya hanyalah sarana , temporer , temporary ,
untuk mencari sesuatu yg diinginkan , dibutuhkan , diharapkan ,
dan pada masa-masa tertentu dan masanya , tetap dunia nyatalah yg musti diutamakan.

 

Tak bisa dipungkiri ,
Beberapa pelakon membawa dirinya ke dunia maya ,
Beberapa yg lain membawa kisahnya ke dunia nyata.

Sementara ,
Ada pula yg terperangkap di antara dua dunia ,
dunia maya dan dunia nyata.

                                                                               (Yoga Hart)
                                                                               S.O.T.R , Maret ’10

 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: