YM , Ketika Rasa Dan Pikir Melintas Jarak

 
YM (Yahoo Messenger) , eBuddy , Meebo , MSN , atau apapun namanya ,
semua hanyalah sebagai sarana untuk chatting , berkomunikasi non verbal.
Sarana untuk mempermudah , mempercepat , mempernyaman ,
komunikasi tulis yg dulu dilakukan melalui telegram , telex , fax ataupun surat.
Dengan tambahan web cam , mic dan loudspeaker ,
messengerpun tak ubahnya bagai video call.

Layaknya sebuah sarana , ia tidaklah baik , tidaklah jahat , ia hanya seperti adanya.
Apakah akan dipergunakan untuk hal-hal yg berkenaan dengan pekerjaan ,
menjalin persahabatan baru , mempererat persahabatan ,
atau sebagai sarana komunikasi antara sepasang kekasih , suami-istri ,
sanak keluarga yg terpisah oleh jarak yg jauh sekalipun.

Namun bisa pula dipergunakan sebagai sarana untuk mewujudkan niat jahat ,
upaya penipuan untuk mendapatkan uang/materi ,
mempermainkan perasaan lawan jenis ,
bahkan sarana mempererat jalinan perselingkuhan.
Semua berpulang kepada yg mempergunakan dan merespon , semua terasa sah-sah saja.
 

Aku termasuk jarang menyalakan YM untuk sekedar menyapa teman atau ngobrol , (kalau tidak ada ‘niatan bersama’ , janjian atau kebetulan pas sama-sama on line) , meski sedang On Line untuk MP (Multiply – ketika itu) ,
browsing , download ataupun membuka inbox Email.
Jarangnya ‘bermain-main’ dengan YM membuat aku baru tahu ,
kalau membuka inbox Email Yahoo , otomatis YM-ku terbaca sebagai On Line ,
dan akan muncul chatt box kecil ketika seseorang mengirim message untukku , he.he.he..ndeso.

Chatting , ngobrol lewat fasilitas komunikasi semacam YM (Yahoo Messenger) ,
mampu mewakili sebagian besar pengungkapan pikiran dan perasaan ,
serta ‘melupakan’ jarak dan perbedaan ruang dan waktu.

Namun , meski ditambahkan berbagai ecomotion , tetap saja ,
terkadang tidak mampu mewakili pengungkapan yg sebenarnya ,
dan tidak selalu dimengerti sebagai yg dimaksudkan.
Karena penyusunan kata yg berbeda saja bisa dipahami sebagai makna yg berbeda.
Belum lagi karena tidak adanya intonasi (penekanan pada suara) pengucapan ,
yg terkadang bisa memberi makna berbeda.

Seorang teman menambahkan ,
bahkan ketika kita membaca sebaris kalimat ,
dengan memasukkan pikiran dan perasaan kita ke dalamnya ,
kalimat yg sebenarnya biasa saja dan tidak berarti apa-apa ,
bisa terasa berat dan membuat suasana komunikasi menjadi tidak nyaman.

Itu sisi yg negatif . . . sisi yg positif tentu ada.
Ketika secara guyon menyatakan rasa suka , sayang , kangen ,
bukan tidak mungkin , dua hati yg awalnya hanya ketertarikan dan kecocokan ,
menyatu menjadi sebuah hubungan sebagai kekasih.
 

Chatting seakan sama dengan separuh diri kita ngobrol dengan seseorang yg duduk di seberang.
Di mana topik pembicaraan lebih banyak mengarah pada ke hal-hal santai ,
bahkan hanya sekedar guyonan pembunuh waktu luang , ngrumpi , ber-hahahihi.
Sedang yg seperempat lain adalah bisa tidak perlu fokus pada satu topik ,
namun juga chatting dengan satu , dua atau beberapa orang lain ,
tanpa mereka musti tahu bahwa kita tidak hanya chatting dengan dia saja.
Yg seperempatnya lagi adalah bisa sambil ngemil ,
ngopi , makan , merokok ataupun nonton tivi sekilas.

Bila hubungan yg terjalin lebih dari sekedar teman , tapi sebagai kekasih ,
(bagiku) adalah seakan sama dengan duapertiga diriku ngobrol bertatap muka.
Sepertiganya adalah sang imajinasi oleh rasa yg terhubung secara naluri saling mencintai.

Terbayangkan dia tersenyum , tertawa , menutup mulut dengan jari-jari tangan ,
bertopang dagu , menjulurkan lidah , raut wajah tersipu , jengkel tapi gemes ,
atau memalingkan muka dengan sedih sambil meneteskan air mata . . . . . .

Bahkan tak hanya terbayangkan namun sering terasakan dalam diri ,
mampu membuat jantung berdegup kencang , seluruh tubuh bergetar ,
serasa dialiri darah bermuatan partikel listrik yg melalui aorta , arteri ,
oleh kata-kata yg tertulis biasa saja : “dekap aku” , “aku kangen” , “selamat malam cinta”

Maka ketika aku ngobrol dengan seseorang yg special ,
aku memilih untuk konsen padanya.
Sesedikit mungkin ,
kalo perlu ‘tidak sama sekali’ , membagi perhatian untuk hal lain ,
yg juga membutuhkan rasa dan pikir , seperti komen , reply , menulis ato mengedit konsep blog.
Bagiku , selain “kebersamaan” itu amatlah berarti ,
juga mungkin karena akan nampak ‘telmi’ku ketika membagi konsentrasi ,
menanyakan hal yg sama yg telah dijawab sebelumnya , haa.haa.haa.
 

Kadang timbul kerinduan menyalakan YM untuk berbincang dengan seseorang.
Seperti dulu , berbagi cerita
(dan porsiku terbanyak adalah ‘mendengar’ dan mengomentari) ,
mengobrol tentang apa saja , bercanda , menggoda (iseng , usil) ,
berdiskusi ringan , sampai pada ungkapan perhatian tentang keadaan masing-masing.
Perhatian yg bila diberikan oleh wanita kepada lelaki , ataupun sebaliknya ,
yg akan terasa berbeda bila disampaikan oleh sesama jenis.

Ketika aku mencoba dengan orang-orang yg tak kukenal sebelumnya ,
tetap kukoridori sebagai teman dan tidak berharapan atau bertujuan lebih ,
ada yg menyenangkan , ada yg menggelikan bahkan ada pula yg menjengkelkan.

Andai kesempatan itu terulang , . . . yaa hanya berandai-andai ,
rasa yg sama pun belum tentu akan terulang ,
sebegitu menggetarkan , sebegitu membangkitkan , sebegitu membahagiakan ,
karena waktu dan hal-hal lain yg telah berada diantara . . . . . .

Terlebih-lebih , rasa yg sama memang tidaklah akan pernah ditemui pada orang lain , di waktu yg sama ataupun berbeda sekalipun.
Bagaimanapun juga , aku tak akan pernah lupa ,
sedemikian tersanjungnya aku , sedemikian bahagianya aku ,
di saat aku menyadari betapa berartinya aku bagi seseorang ,
meski hanya berbincang lewat YM , oleh kalimat-kalimat sederhana ungkapan hati.

“Aku invis untuk semua dan hanya tampak untukmu.
Si anu dan si una njawil-njawil tapi kubiarkan ,
aku ingin menikmati kebersamaan kita.”

 

Ternyata ,
kebahagiaan bisa dirasakan dari hal-hal sederhana yg kita terima dari seseorang ,
ketika diberikannya kepada kita dengan ketulusan ,
kasih sayang , keceriaan dan oleh keinginannya sendiri ,
di saat jiwa kita merasa sangat merindukan ,
dan tanpa ditanyakannya , tanpa pula terpikir olehnya ,
apakah kita juga memiliki ‘rasa’ yg sama dengannya , . . padanya.

                                                                               ( Yoga Hart )
                                                                               S.O.T.R , April ’10

 

Kebahagiaan -oleh cinta- bisa dirasakan bukan hanya karena diberikan ,
namun juga karena kesediaan menerima dengan ikhlas . . . dan mensyukuri . . . .

                                                                               ( Yoga Hart )
                                                                               S.O.T.R , Mei 2010
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: