Suster Maria (Sebuah Kisah Natal) – Bag.1. Awal

 
Setiap menjelang Natal , aku selalu teringat kisah ini . . . . . . . .
 

Desember , tanggal 24 . . . .

Seusai misa malam Natal dan saling mengucap selamat Natal di halaman gereja ,
4 orang suster berjalan menuju susteran sambil bercakap-cakap.
Satu persatu umat yg mengendarai sepeda , sepeda motor dan juga becak ,
mendahului para Suster itu dan menyapa.
2 buah mobil yg menawarkan tumpangan , hanya menerima ucapan terima kasih , para suster itu memilih berjalan kaki.
Selain letak susteran tidaklah terlalu jauh ,
di ujung jalan gereja , menyeberangi perempatan dan hanya sekitar 100 meter lagi , itulah lokasi susteran “Santa Perawan Maria”.
Sedangkan hampir semua umat setiba di perempatan itu belok ke kiri , menuju arah kota.
Gereja dan susteran itu memang terletak dipinggir kota.

Tak lama kemudian , tak nampak lagi kendaraan yg melintas ,
karena di kota kecil itu jumlah umat Katoliknya belumlah banyak.

Setelah menyeberangi perempatan yg nyaris sepi dari kendaraan ,
tiba-tiba sebuah sepeda motor berbelok kearah jalan menuju ke susteran ,
tidak terlalu kencang tapi tampaknya pengendara motor itu tidak mampu menguasai keseimbangan , . . . oleng dan menubruk pohon asam yg ada di sepanjang jalan itu.

“Mari kita tolong !”

Suster Josephine , yg biasa dipanggil Suster Jose ,
Suster kepala yg orang Belanda itu berkata sambil setengah berlari menghampiri.
Ketika mencoba mengangkat pengendara motor itu ,
tercium bau alkohol yg menyengat dari mulutnya.

“Ya Tuhanku dan Allahku”

Sambil mengibas-ngibaskan tangannya Suster Jose mengucap.

“Mari kita angkat keruang tamu.
Suster Angela tolong panggil pak Bastian untuk memasukkan motornya”.

Suster Jose , Suster Maria dan Suster Theresia
kemudian mengangkat tubuh yg tergeletak di aspal dan membawa ke ruang tamu susteran.
 

———————————————————————————————————————-
 

Susteran itu sebuah bangunan kokoh bekas peninggalan Belanda ,
entah siapa dan apa jabatan bekas penghuninya dulu ,
namun kemungkinan adalah pengawas perkebunan atau pengawas pabrik gula ,
sebab di kota kecil itu dan kota-kota kecil sekitarnya banyak berdiri pabrik gula.

Pintu gerbang berjeruji besi dengan ornamen motif daun dan bunga hampir tak pernah tertutup rapat.
Halaman yg luas pada kedua sisi dekat tembok dipenuhi tanaman dan pohon-pohon yg rindang.
Nampak sejuk di siang hari , namun berkesan singup dimalam hari ,
karena tak cukupnya cahaya lampu yg menerangi.

Ada dua gerbang kayu yg mengapit bangunan yg dari depan nampak tepat ditengah.
Gerbang sebelah kanan yg hampir tak pernah dibuka ,
ada sebuah pintu kecil untuk keluar masuk.
Dibalik gerbang itu tak jauh adalah kamar yg digunakan pak Bastian ,
tukang kebun dan pembantu di susteran.

Sedangkan gerbang sebelah kiri ,
itulah yg yg digunakan sebagai keluar masuk ke bagian dalam susteran ,
selain dari bangunan di tengah.
Beberapa langkah di belakang gerbang itu ada sebuah kapel kecil ,
yg setiap pagi diadakan misa ,
kecuali hari Minggu dan hari raya Gereja lainnya.
Dengan sedikitnya umat yg mengikuti misa pagi yg memang diadakan di kapel ,
sekurangnya bisa dipastikan ada 4 suster yg hadir.

Bangunan utama yg berdiri kokoh itu terbagi antara ruang tamu dan ruang dalam , yg terdiri dari kamar-kamar , dapur , ruang makan dan lainnya.
Antara ruang tamu dan ruang dalam dibatasi tembok tebal ,
dengan 2 buah pintu kembar yg tinggi sebagai penghubungnya.

Ruang tamu yg cukup luas itu berisi 4 buah kursi yg terbuat dari kayu jati
dengan sandaran dan dudukan dari anyaman rotan , dan sebuah meja bundar ditengahnya.
Pada sisi sebelah kanan , ada sebuah meja panjang dengan lebar semeter lebih sedikit , yg juga terbuat dari kayu jati.
Sedangkan disisi kiri ada 2 buah lemari yg digunakan untuk menyimpan buku dan arsip-arsip.
 

Suster Jose , Suster Maria dan Suster Theresia dengan bersusah payah
membawa tubuh pemuda itu masuk dan membaringkannya di meja panjang itu.

Mereka kemudian mengamati pemuda itu.
Dari sudut bibirnya masih nampak darah meleleh , juga dari lubang hidungnya.
Pada bagian wajah pemuda itu nampak luka dengan bercak darah di kening , pipi sebelah kanan.
Juga punggung tangannya luka , tapi nampaknya tidak ada luka yg serius.

Suster Angela dari ruangan dalam membawa sebaskom air hangat , handuk kecil , obat merah dan peralatan lain.
Kemudian diletakkannya semua di atas meja bundar dan ikut mengamati.
Namun begitu dilihatnya wajah pemuda itu yg nyaris penuh darah ,
Suster Angela lunglai . . . jatuh pingsan.
Beruntung Suter Theresia berhasil menahan tubuhnya.
Semakin bingunglah mereka.

Suster Jose dan Suster Theresia segera memapah Suster Angela masuk.
Suster Maria segera mengambil handuk , membasahinya dengan air hangat , memerasnya , kemudian mengelapi wajah pemuda itu dengan hati-hati.

Pemuda itu membuka matanya dan memandang Suter Maria yg tengah membersihkan luka di punggung tangannya.

“. . . Winda . . . aduhh . . .”

Suster Maria menoleh , namun mata pemuda itu kembali terpejam ,
entah karena pingsan atau tertidur tak kuat menahan kantuk dan pengaruh alkohol.

Suster Maria merasa lega karena dalam pemikirannya ,
pemuda itu tidak mengalami luka dalam ataupun luka yg parah.
Diolesinya dengan obat merah pada luka-lukanya.

Suster Jose masuk dengan membawa nampan berisi 2 gelas teh hangat.

“Suster Maria , bagaimana keadaan pemuda ini ?”

“Saya rasa tidak apa-apa Suster , tadi sempat siuman . . . Suster Angela bagaimana ?”

“Sudah siuman , tapi nampaknya masih ngeri mengingat darah tadi , hi.hi.hi..”

“Silahkan Suster istirahat , biar saya yg menjaganya.”

“Baiklah , satu jam lagi Suster Maria bangunkan saya atau Suster Theresia untuk bergantian.”
 

Suster Maria memindahkan kursi agar dekat dengan tempat pemuda itu terbaring.
Diamatinya wajah pemuda itu ,
wajah agak lonjong dengan rambut ikal gondrong sebahu ,
kumis , jambang dan jenggot tipis , yg tak terurus . . . . .
mengingatkan pada . . . . . .
Suster maria menoleh dan menengadahkan kepala pada dinding dimana tergantung gambar Yesus.

“Ahh . . . mirip Yesus.”

Suster Maria tersenyum sendiri.

“Usia pemuda ini sepertinya belumlah tiga puluh tahun ,
mungkin hanya lebih tua beberapa tahun denganku.”

Diarahkannya pandangan matanya keleher pemuda itu , ada noda darah yg tadi terlewatkan.
Sejenak ia ragu-ragu akan apa yg akan dilakukannya , namun dibuangnya keraguan itu.
Dibukanya kancing jaket jeans dengan sedikit usaha ,
kemudian dibukanya kancing baju pemuda itu.
Tersembul liontin kalung berbentuk salib dengan 3 bulatan setengah lingkaran
di keempat ujungnya dan Yesus ditengah salib itu.

“Rupanya dia Katolik , tapi sepertinya aku tak pernah melihat pemuda ini di gereja.”

Diperhatikannya dada pemuda itu , rupanya ada serpihan kaca menancap disitu.
Dicabutnya pelahan serpihan kaca itu.
Ada perasaan yg aneh ketika kulit jemarinya menyentuh dada pemuda itu ,
perasaan yg berbeda dengan ketika bersalaman dengan seseorang lelaki ,
ataupun memegang tangan ayahnya.

Hanya sejenak ,
Suster Mariapun lalu mengambil handuk dan membersihkan dengan hati-hati.

“Winda . . . . Winda . . . .”

Pemuda itu mengigau dan tangan kanannya bergerak menggengam jemari Suster Maria.
Sejenak Suster Maria terkaget , namun segera dikuasainya perasaannya ,
tangan kirinya melepaskan genggaman pemuda itu.
Selesai mengolesi dengan obat merah , sekali lagi diamatinya seluruh tubuh pemuda itu ,
barangkali ada luka lain yg terlewatkan.
Kemudian dikancingkannya kembali baju pemuda itu.

Suster Maria tak kuasa menahan kantuk ,
tapi ia tak mau membangunkan Suster yg lain.
diselonjorkannya kakinya dan disandarkannya kepalanya pada kursi itu , iapun tertidur.
 

“Suster Maria . . . . . Suster Maria . . . . . “

“Ooo . . . maaf Suster Jose , saya tertidur.”

“Ahh , mengapa Suster tidak bangunkan kami , bagaimana pemuda itu ?”

“Entah belum siuman atau masih tidur saya tidak tahu , Suster.”

“Kita akan misa Natal pagi ini , apa sebaiknya kita pesankan saja pada pak Bas ?”

“Kalau saya yg menjaganya bagaimana Suster ?”

“Hmmmm . . . baiklah , nanti sekalian saya beritahukan kejadian ini kepada Pastur Budi.”
 

———————————————————————————————————————-
 

Selesai mandi , Suster Maria kembali duduk di kursi menghadap kearah teras sambil membaca Alkitab.

“Saya . . . . dimana . . . . . ?

Suara pemuda itu membuat Suster Maria menolehkan kepala ,
kemudian meletakkan Alkitab dan diambilnya segelas teh yg tadi dibuatnya ,
masih hangat , lalu disodorkannya kepada pemuda itu.

“Kamu sudah sadar ? Kamu di Susteran Santa Perawan Maria.”

Pemuda itu mencoba duduk meski mungkin masih dirasakannya pusing ,
diterimanya teh itu dan diminumnya pelahan ,
dia meringis menahan sakit dipipinya ketika meminum teh itu.

“Terima kasih Suster sudah menolong saya , saya mau pulang.”

katanya sambil menyodorkan gelas yg telah kosong.

“Lho , kamu apa bisa pulang sekarang ? Benar kamu tidak apa-apa ?”

“Saya tidak apa-apa Suster , tapi saya permisi kebelakang untuk cuci muka.”
 

Suster Maria mengantarkan pemuda itu ke kamar mandi di bagian belakang bangunan lewat gerbang kiri.
Dekat kapel , diletakkan sepeda motor pemuda itu ,
ia sempat memperhatikan sepeda motornya sebelum menuntunnya keluar gerbang.

“Terima kasih suster.”

“Sama-sama , hati-hati yaa , Tuhan memberkatimu.”

Suster Maria lupa menanyakan nama pemuda itu , di mana rumahnya ,
selain mengantuk , ia juga merasa bingung dan sedikit takut dengan penampilan pemuda itu.
Pemuda itu mungkin belum sepenuhnya sadar ,
namun ketika dilihatnya pemuda itu mampu mengendarai motornya ,
Suster Maria merasa sedikit lega dari was-wasnya.
Iapun menutup gerbang kiri dan menuju kapel.

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: