Suster Maria (Sebuah Kisah Natal) – Bag.2. Kisah [1]

 
3 hari kemudian.
Sore , sapuan sinar matahari belumlah hilang dari muka bumi.

Pemuda itu mengendarai motornya memasuki halaman Susteran Santa Perawan Maria.
Diparkirkannya sepeda motor di dekat gerbang kiri ,
dilepasnya jaket jeans yg selalu menemaninya pergi ,
dilipatnya lalu diletakkan di atas jok motornya.
Masih nampak bekas luka di wajahnya ,
meski masih dengan rambut gondrong , kumis dan jambang dan jenggot tipis ,
namun ia terlihat lebih segar , sedikit lebih rapi.
Ia kemudian menapaki 2 tangga batu mencapai teras dan memencet bel bulat di samping pintu.

“Selamat sore Suster , saya ingin menemui Suster yg menolong saya sewaktu kecelakaan malam Natal kemarin.”

“Selamat sore , . . . . Ooo Suster Maria . . . . ,
silahkan masuk dan duduk dulu . . . nama adik siapa ?”

“Saya Johan , Suster.”
 

Johan duduk di kursi kayu menghadap kearah pintu penghubung.
Tak terlalu lama keluarlah Suster Maria dari ruang dalam.
Johan berdiri dan menyapa , dicobanya tersenyum
namun luka dipipinya membuatnya lebih tampak seperti meringis , menahan sakit.

“Selamat sore , Suster.”

“Selamat sore , bagaimana khabarnya ? Sudah baikan ?”

Suster Maria mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Sudah lebih baikan , suster.”

“Saya Johan , suster. Yg telah suster tolong malam Natal kemarin.
Saya kemari untuk mengucapkan terima kasih.”

“Yg menolong bukan hanya saya , tapi juga Suster yg lain koq.”

“Tolong disampaikan ucapan terima kasih saya kepada Suster yg lain juga.”

“Iyaa , nanti saya sampaikan , . . . tidak ada luka yg serius khan ?”

“Hanya luka kecil-kecil koq . . .
Oh iyaa , ini ada titipan dari mama untuk suster , kue bikinan mama sendiri.”

Johan meletakkan tas kresek berisi doos kue di meja.

“Ah , kenapa musti repot-repot , tolong sampaikan terima kasih pada mamanya Johan yaa . . .”

“Iyaa Suster, . . . . nggg . . . Suster . . . bolehkah saya meminta tolong ?”

“Apa ya ?”

“Saya . . . saya ingin belajar . . . . agama . . . belajar Alkitab . . .”

“Lho , apa Johan belum dibaptis ?”

“Sudah suster , . . . tapi belasan tahun saya tidak pernah ke gereja.
Saya ingin mengulang dan mendalami lagi pelajaran tentang iman Katolik.”

“Saya bicarakan dengan Suster Jose dulu yaa . . .”

Suster Maria masuk ke ruang dalam.
 

Suster Maria adalah suster termuda diantara Suster di biara itu.
Perawakannya langsing dengan kulit sawo matang.
Wajah bulat telur dengan alis yg agak tebal dan bulu mata yg lentik.
Matanya seakan memancarkan keteduhan bagi yg menatapnya.
Dengan bibir tipis yg selalu menyunggingkan senyum ,
membuat siapapun akan merasakan keramahan.
Tutur katanya halus dan lembut ,
namun dari ucapan-ucapannya terasa perhatian dan keceriaan.
 

Johan menunggu sambil mengamati isi ruang tamu itu ,
meja panjang tempat ia terbaring malam Natal kemarin.
Dialihkannya pandangannya ke dinding batas ruang tamu dan ruang dalam ,
pandangannya tertumbuk pada gambar Yesus yg tergantung di dinding.
Johan meraba kumis dan janggutnya yg ditumbuhi jenggot tipis.
Ia merasa sudah lama tak pernah mengurus penampilannya ,
mungkin kejadian malam Natal itu pertanda dari Tuhan untuk dirinya.
 

Suster Maria telah kembali.

“Saya sudah bicarakan dengan Suster Jose , beliau menyetujui.
Sebenarnya ini bukan wewenang saya , tapi Suster Jose menyerahkan pada saya
untuk mengulang sekaligus pendalaman pelajaran agama bagi Johan.”

“Terima kasih Suster , kapan saya bisa mulai ?”

“Hari Jum’at , . . setiap hari Jum’at jam 4 sore.”

“Iyaa Suster.”

“Bawa buku tulis yaa , . . kalau ada Alkitab boleh dibawa.”

“Iyaa suster.”

“Satu hal . . . . tidak boleh datang dalam keadaan mabok.”

Suster Maria tersenyum lebar sambil mengucapkan gurauan itu.

Johan tersenyum kecut . . . . . . malu . . . . . .
 

=================================================
 

Hari pertama Johan belajar lagi tentang iman Katolik , dan sekaligus mendalami.

Suster Maria tertawa ketika melihat penampilan Johan ,
rambutnya tak lagi gondrong , kumis telah dirapikan , jambang dan jenggotnyapun bersih , dicukur habis.

“Saya kira Johan akan tetap tampil seperti Yesus.”

“Ahh , Suster ada-ada saja.”

“Iya , begini lebih baik Johan ,
bagaimanapun juga penampilan kita memberi kesan bagi orang lain.
Kalau kita sudah berniat membersihkan hati , jangan bertindak separuh jalan ,
badanpun juga harus pula kita perhatikan.
Sebaliknya , jangan penampilan saja yg rapi dan bersih , hati juga.”

“Iyaa Suster.”

Johan tidak merasa sedang menerima nasihat ,
ia merasa sedang mendapat perhatian yg tulus dari seorang teman wanita ,
yg tak pernah dirasakannya selama ini.

Menerima nasihat , mungkin sebenarnya lebih sulit daripada memberi nasihat ,
karena seringkali seseorang memberi nasihat bukan karena perhatian tulus dan memahami permasalahannya ,
namun adalah karena ia ingin bicara , ingin bercerita dan merasa mengetahui tentang ini dan itu.
Belum lagi cara penyampaian yg tak menyesuaikan dengan kondisi psikis orang yg diberi nasihat.
 

“Mari kita mulai , pelajaran hari ini.”

Suster Maria membuka buku yg telah disiapkannya.
Johan mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya , kemudian menghisapnya dalam-dalam.
Suster Maria memandang Johan sejenak , lalu ia berdiri dan masuk ke dalam.
Dari ruang dalam dibawanya tatakan gelas dari alumunium , kemudian diletakkannya di meja.

“Ahh , pengertian sekali Suster Maria.”

Pikir Johan sambil menyentikkan abu rokok di tatakan gelas itu.
Tak dinyana , dengan senyum manis Suster Maria berkata.

“Johan , tatakan gelas itu untuk mematikan rokokmu.”

Malu rasanya Johan diingatkan dengan cara seperti itu.
Suster Maria seperti tahu benar cara menghadapinya bahkan menundukkannya.
Ia mulai tertarik pada pribadi Suster Maria.
Pribadi yg ramah , hangat , ceria , namun sekaligus memberi perhatian dengan caranya yg khas.
 

=================================================
 

Hampir dua bulan Johan mengikuti pelajaran pendalaman iman.
Tak pernah sekalipun ia absen , meski hujan lebat sekalipun.
Baginya bukan hanya karena ia ingin berubah ,
namun karena Suster Maria lah yg membimbingnya , memberinya pelajaran ,
baik tentang agama Katolik , juga pelajaran tentang kehidupan ,
yg kadang disampaikan oleh Suster Maria secara tak langsung.
Meski bila dipandang dari segi usia ,
Johan semestinya lebih banyak memiliki pengalaman kehidupan ,
namun memetik hikmah dari kehidupan , terlebih yg dialami oleh orang lain ,
Suster Maria memiliki kemampuan yg lebih peka dan arif.

Waktu satu setengah jam yg dijadwalkan lebih sering molor.
Kadang bila Suster Maria ada waktu di hari lain , ia menawarkan pada Johan.
Dan Johan pun dengan senang hati menerima.

“Saya berharap dalam waktu tiga bulan pelajaran untuk Johan sudah selesai ?”

“Tiga bulan Suster ? Mengapa ?”

“Karena Johan orang yg special.”

Johan cuma bisa tersenyum , ia mencoba menebak kemana maksud kalimat itu.
Suster Maria pernah berkata , kalau sebatang pohon yg masih kecil ,
kita bisa membentuk agar batangnya tumbuh tegak lurus ,
dengan diberi penopang di kiri kanannya dan sebaginya.
Tapi bila batang pohon itu sudah membesar ,
mudahkah membuat batangnya agar kembali lurus ? Tentu tidak !
Namun manusia , hanya dari dirinya sendirilah yg akan mampu meluruskannya.
 

=================================================
 

Sore itu sambil menunggu dengan harap hujan akan mereda ,
Johan masing berbincang-bincang dengan Suster Maria.

“Bagaimana khabar mama ?”

“Mama baik-baik Suster , dan senang melihat anaknya tidak pernah lagi keluar malam.”

“Hi.hi.hi….syukur kepada Tuhan , kalau Johan sudah benar-benar sadar.”

“Mama sangat berterima kasih pada Suster Maria ,
katanya karena Suster Maria lah ,
anak yg hilang telah pulang , domba yg sesat telah didapat.”

“Hanya itu yg bisa saya lakukan ,
kalaupun itu memang hal seharusnya yg saya lakukan.
Oh iya , tolong sampaikan pada mama terima kasih , selalu repot membawakan kue , jajanan.”

“Tidak apa-apa Suster , . . . he.he.he..jujur saja , kadang saya malu ,.. malas membawanya ,
tapi mama ngomel , katanya “Ini tidak berarti apa-apa dibanding doa mama yg terjawab”.”

Johan menirukan kata-kata mamanya.

“Papa Johan ?”

“Papa sudah meninggal kurang lebih 5 tahun yg lalu.
Saat itu saya kuliah di Surabaya ,
belum tiga tahun berjalan terpaksa saya tinggalkan , karena papa meninggal ,
sebagai anak paling besar , mau tidak mau saya musti meneruskan usaha toko yg papa jalankan.
Mama lebih pandai mengurus rumah dari pada mengurus toko.

“Saudara yg lain ?”

“Adik saya hanya seorang , perempuan dan sudah menikah.

 

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: