Suster Maria (Sebuah Kisah Natal) – Bag.2. Kisah [2]

 
“Boleh saya bertanya ?”

“Iyaa Suster , tentang apa ?”

“Waktu Johan kecelakaan itu , dua kali Johan memanggil nama ‘Winda’ , siapakah dia ?”

Raut muka Johan seketika seperti dilintasi mendung tebal ,
yg sewaktu-waktu bisa meneteskan hujan.
Cukup lama Johan menunduk menatapi lantai teraso berwarna putih.

“Maaf , . . . anggap saja saya tidak pernah bertanya ,
bila itu membuat Johan bersedih . . . . . .”

Suster Maria memajukan badannya ,
tangan kanannya bergerak hendak ditumpangkannya pada pundak lelaki ,
yg kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya , namun diurungkannya.

Begitu dalamkah luka itu ? Begitu menyakitkankah kenangan itu ?

Johan mendongak , dipaksakannya tersenyum ,
senyum yg tak mampu membuang kenyataan bahwa disudut matanya
masih tersisa butiran air mata.

“Tidak apa-apa Suster , . . . . mungkin ini lebih baik . . . . .
saya harus melihat kenyataan , untuk kemudian mencoba melupakannya.”

Suster Maria tersenyum , ada kelegaan mendengar kata-kata Johan.
Ia merasa ada beban dalam diri Johan , beban yg selama ini dibawanya berjalan ,
namun meski beban itu membuatnya limbung dan terjatuh , Johan tak juga melepasnya.
Sekurangnya , bila Johan mau menceritakannya ,
beban itu akan terasa lebih ringan ,
tinggal satu langkah lagi , . . . membuangnya . . . . . .

“Winda adalah bekas kekasih saya , tapi ia sudah menikah dengan orang lain.”

Suster Maria mengerutkan keningnya ,
dipandanginya Johan dari ujung kepala , paras wajah dan juga tubuhnya.

“Lelaki ini ganteng juga koq , kalau sudah tampil seperti ini.
Rambutnya sudah dicukur tidak lagi gondrong awut-awutan ,
dengan kumis , jambang yg sudah dirapikan ,
apalagi tanpa jenggot yg memberi kesan tua.
Postur tubuhnya tinggi dan cukup atletis meski agak kerempeng ,
mungkin karena setiap malam keluyuran , mabok-mabokan dan merokok . . . .”

Ketika tatapan matanya beradu dengan tatapan mata Johan ,
Suster Maria merasa jengah , . . . malu . . . .
Dirasakannya , kedua pipinya merona sewarna jambu air yg tumbuh dihalaman susteran.

“Apa yg terjadi sampai Winda tega meninggalkan Johan ?”

“Mungkin , saya terlalu mencintainya sekaligus terlalu mempercayainya.
Saya terlalu menunjukkan rasa cinta saya , mudah cemburu . . . .
Sedangkan dia orangnya terlalu santai , semaunya . . . .
karena dia menganggap ikatan pacaran itu tak berbeda dengan berteman akrab.
Dia masih suka berjalan berdua dengan lelaki lain ,
kadang memang beramai-ramai tapi berpasangan.

“Berapa lama kalian pacaran ?”

“Dua tahun , . . . mungkin lebih . . . .
Sampai akhirnya tiga kali saya pergoki dia berjalan dengan lelaki yg sama , berdua . . .
Saya desak mereka untuk mengatakan yg sebenarnya.
Dia akhirnya mengakui , kalau mereka sudah berpacaran setahunan ,
malahan sudah bertunangan sebulan.
Saya tak bisa lagi menahan emosi , di depan banyak orang , di rumah makan ,
saya tampar dia dan saya pukul muka lelaki itu . . . . . .”

Johan terdiam beberapa saat , dia mencoba mengendalikan emosinya.

“Setelah itu ?”

“Saya sakit hati karena dikhianati , dan mulai berteman dengan minuman keras.”

“Narkotik dan ganja juga ?”

“Narkotik tidak , kalau ganja sesekali karena diberi teman , saya tidak kecanduan.”

“Bagaimana bisa orang yg minum minuman keras ,
juga mengisap ganja tapi tidak kecanduan ,
dan tidak terpengaruh oleh narkotik , morfin ?”

“Bisa ! Tergantung dari kemauan diri.”

“Kalau begitu bisa khan Johan tidak lagi minum minuman keras , mengisap ganja ,
seakan melarikan diri dari kenyataan ,
meski merasakan cobaan , beban yg sangat berat sekalipun ?”

Johan tersentak , selain ia tak mengira akan kearah situlah pembicaraan itu ,
kata-katanya sendirilah yg digunakan Suster Maria untuk mengingatkannya.
Beberapa saat berlalu dengan diam , setelah menghela nafas dalam-dalam.

“Saya janji tidak akan pernah lagi menyentuh minuman keras , ganja atau apapun ,
sekalipun saya sedang dalam cobaan hidup yg berat.
Saya akan belajar menyerahkan semuanya kepada Yesus Kristus.
Saya berjanji demi dan untuk Suster Maria.”

Suster Maria tersenyum.

“Jangan berjanji pada , karena dan untuk saya ,
berjanjilah pada diri sendiri , karena dan untuk diri sendiri ,
untuk kehidupan dan masa depan Johan sendiri.”
 

=================================================
 

Johan mengikuti misa setiap Sabtu sore ,
sengaja ia selalu memilih duduk di bangku seberang ,
satu baris di belakang para suster biasanya duduk.
Johan sering mencuri pandang ketika Suster Maria berlutut berdoa.
Ada keharuan dalam dadanya ketika melihat Suster Maria menundukkan kepala dalam-dalam pada saat berdoa ,
ia seakan bisa merasakan kepasrahan dalam diri Suster Maria.

Namun Johan tidak pernah menyambut Komuni , sekalipun ingin ,
ia benar-benar merasa tak layak , ia ingin mengaku dosa terlebih dahulu.
Suster Maria pun sudah mengingatkan Johan akan hal itu.

Namun rupanya mengaku dosa dihadapan Pastur butuh keberanian yg luar biasa.
Dua kali ia datang paling awal dan duduk dekat ruang pengakuan dosa.
Setelah Pastur masuk keruang pengakuan dosa ,
dan menerimakan Sakramen Tobat pada 2 atau 3 umat yg rata-rata sudah berusia lanjut.
Ketika umat terakhir keluar dari ruang pengakuan , iapun berdiri . . . . .
. . . . . . . pindah ketempat duduk dimana ia biasa duduk.
 

=================================================
 

“Suster , . . . saya mau . . . mau mengaku dosa.”

“Lho , hi.hi.hi…mengaku dosa ya sama Pastur Budi.”

“Iya , maksud saya . . . saya mau minta tolong ditemani untuk mengaku dosa.”

“Kenapa musti ditemani ? Lha wong yg diakukan khan dosa-dosanya sendiri ,
Koq tidak berani mengakui kenapa ?
Lagipula Pastur juga tidak akan memarahi , menasehati macam2 , mengomentari . . .
apalagi menyebar luaskan dosa seseorang.
Barangkali saja , setiap Pastur sekeluar dari ruang pengakuan dosa ,
sudah lupa , tadi mendengar pengakuan dosa apa saja , hi.hi.hi…
Kecuali kalau kita melakukan dosa berat yg semacam membunuh , . . . . .
itupun seorang Pastur tidak akan bertindak di luar wewenangnya.”

Johan semakin bingung , malu , dan entah perasaan apalagi ,
ia cuma terdiam mendengar penjelasan Suster Maria.

“Mengapa tidak pada waktu sebelum misa ?”

“. . . nggg . . . sudah Suster.”

Johan lalu menceritakan yg sudah dilakukannya , dua kali.

“Hi.hi.hi…mengaku dosa kalau tidak sering dilakukan , yaa seperti itu . . .”

“Suster mau yaa . . . mengantar saya menemui Pastur . . . .”

“Saya minta ijin dulu pada Suster Jose yaa ,
sekalian tanya apakah Pastur Budi ada di Pastoran dan tidak repot.”

Johan menunggu dengan perasaan penuh harap ,
semoga Suster Jose mengijinkan Suster Maria menemaninya ,
semoga Pastur Budi ada di pastoran dan mau menerima pengakuan dosanya sore itu juga.

Ia rindu menyambut Komuni , tapi kesadaran akan dirinya
membuat ia memilih agar bisa mengaku dosa terlebih dahulu.
Sekalipun juga tetap disadarinya ,
ia menganggap dirinya layak menyambut komuni , hanyalah karena belas kasihNya.
 

“Mari …kita ke Pastoran , saya sudah telpon Pastor Budi.”
 

Johan bermaksud mengambil sepeda motornya , namun suster Maria mencegah.

“Kita jalan kaki saja , meski agak mendung sepertinya tidak akan hujan.”
 

Merekapun berjalan menuju gereja , sambil bercakap-cakap.
Sesekali terdengar tawa dari keduanya ,
andai tak terlihat jubah biarawati pada wanitanya ,
seakan layaknya dua orang teman karib atau sepasang kekasih ,
yg sedang menikmati udara segar sore hari di pinggir kota.

Setelah memasuki jalan menuju gereja ,
sekitar 100 meter jalan itu membelok ke kiri ,
di sebelah kanan jalan , masih nampak sawah hijau hampir sepanjang jalan.
Di sebelah kiri jalan , rumah-rumah penduduk yg sederhana dengan pekarangan yg cukup luas , dan tak nampak rapat antara rumah satu dengan lainnya.
Pagar bilah bambu nampak rapi sepanjang jalan itu.

Senja telah hadir diantara sore dan malam.
Sapuan sinar surya terasa lembut menimpa batang-batang padi yg menghijau sejauh mata memandang.
Semakin meredup , ditingkahi mendung tipis yg menyelimuti kota itu.
Di langit nampak burung belibis berterbangan hendak pulang.
Alam begitu indahnya , siapakah yg tak terpesona ?
 

Gereja Katolik Maria Bintang Samudra ,
terletak di sebelah dalam dari sebuah lokasi tanah yg cukup luas ,
andai tak ada tembok di sisi kanan dan kirinya ,
akan nampak seakan gereja itu berada di tengah persawahan.
Di sebelah kiri ada beberapa pohon yg dibiarkan tumbuh ,
meski membuat gereja itu tampak gelap , singup lebih tepatnya.
Di samping gereja sebelah kiri , di balik pintu pagar kawat ,
halaman yg digunakan sebagai tempat parkir untuk sepeda.
Disitu ada pintu menuju sakristi , selain dari sebelah Pastoran.

Di sebelah kanan gereja , agak menjorok kedalam ,
dengan pagar pembatas yg juga dari kawat ,
nampak rumah sederhana yg digunakan sebagai Pastoran sekaligus Sekretariat gereja.

Setelah mengetuk pipa pagar dengan batu kerikil yg berserakan disitu ,
keluarlah Pastor Budi dengan senyum ramah , membukakan pintu pagar.
Sebenarnya pintu pagar itu tidak terkunci oleh gembok ,
tapi memang cukup sulit untuk membuka dari sisi luar pagar.

“Selamat sore Pastur.”

Kata Johan dan Suster Maria hampir berbarengan.

“Selamat sore , mari silahkan masuk.”

Setelah berbincang-bincang sejenak ,
merekapun menuju gereja lewat jalan tembus disamping pastoran.
 

Cukup lama Johan berada di dalam ruang pengakuan dosa.
Entah karena banyaknya dosa yg diakukannya ,
atau masih juga kesulitan mengungkapkannya.
Suster Maria menggunakan waktu menunggu dengan berdoa kepada Bunda Maria.
Ia bersyukur atas perubahan yg semakin nyata pada diri Johan.

Suster Maria melihat mata Johan yg sembab sekeluar dari ruang pengakuan dosa.

Setelah Johan selesai melakukan penitensi ,
merekapun keluar lewat Pastoran sekalian berpamitan pada Pastur Budi.
Tak seperti ketika berangkat dari susteran ,
yg diiringi dengan canda dan cerita , kini cuma diam yg serta.
Johan nampak masih terkesan dengan pengakuan dosanya ,
dan Suster Maria pun tak hendak mengganggu.

Baru separuh halaman gereja mereka langkahi ,
hujan turun dengan derasnya diiringi suara guntur.
Mereka berbalik , secara refleks tangan Johan menggenggam tangan Suster Maria ,
merekapun setengah berlari menuju teras gereja , itulah tempat terdekat untuk berteduh.
Sampai di teras Johan tak serta merta melepaskan genggamannya ,
malah dipandanginya wajah Suster Maria.

Sinar lampu dop 25 watt yg menerangi teras gereja ,
memberi nuansa tersendiri ketika Johan memandangi wajah cantik Suster Maria beberapa saat ,
sebelum Suster Maria menoleh dan menyadari tangannya masih dalam genggaman tangan Johan.
Suster Maria menunduk ketika beradu pandang dengan Johan , ditariknya pelahan tangannya.

“Maaf . . . .”

Johan tersadar dan melepaskan genggaman itu.

Suster Maria memandangi hujan yg turun deras dengan jantung berdebaran.
Ia merasa bahwa Johan masih memandanginya.
Tiba-tiba petir menyambar dengan suara yg menggelegar.

“Ya Tuhanku . . . .”

Dengan terkejut dan ketakutan Suster Maria memejamkan mata dan memeluk Johan.

Beberapa detik berlalu , Suster maria masih memeluk Johan ,
sementara Johan hanya diam tak menolak ataupun balas memeluk.
Ia tahu bahwa Suster Maria memeluknya ,
hanyalah karena kaget dan ketakutan mendengar suara petir ,
dan menyaksikan cahaya kilat yg seakan hendak membelah bumi.

“Suster . . . . .”

Suara Johan yg begitu dekat ditelinga ,
menyadarkan Suster Maria , yg kemudian segera melepaskan pelukannya.

Suster Maria kemudian memandangi hujan ,
dengan perasaan malu , senang dan bingung , silih berganti.
Malu , karena sampai sedewasa ini , baru sekali inilah ia memeluk seorang lelaki ,
dan ia seakan merasakan getaran aneh yg menjalar lewat pembuluh darahnya.
Senang , karena ia tahu Johan menyukainya , mengaguminya dengan cara memandang seperti itu.
Bagaimanapun juga , dibalik jubah dan kerudung suster ,
ia tetaplah seorang wanita , dengan perasaan ingin diperhatikan , ingin dikagumi , ingin di kasihi.
Bingung , karena ia sadar bahwa ia adalah seorang wanita yg mengikatkan dirinya pada sebuah kaul ,
pantaskah semua perasaan itu berkeliaran dalam dirinya ?

Johan tak kurang kacaunya pikiran dan perasaannya.
Tak tahu ia musti berkata apa , tak tahu ia musti berbuat apa ,
karena meski ia menyukai pribadi seorang wanita yg ada pada Suster Maria ,
ia menghormati jubah dan kerudung sebagai simbol keterikatan seorang wanita pada kaulnya.
 

“Johan . . . ”

Tanpa menoleh , dengan suara yg nyaris berbisik Suster Maria berkata.

“Iya Suster.”

“Saya akan ke Pastoran meminjam payung.”

“Jangan Suster ! Biar saya saja.”

Johan membuka jaketnya dan menggunakan sebagai penutup kepala , kemudian berlari ke Pastoran.
 

Johan menawarkan jaketnya agar Suster Maria tidak kedinginan , namun Suster Maria menolak.
Dengan berpayung merekapun melangkahkan kaki meninggalkan halaman gereja.
Separuh perjalanan , hujanpun mulai mereda , tinggal gerimis yg masih mengiringi.
Di kejauhan dari hamparan sawah yg luas ,
nampak lengkung pelangi dengan indahnya ,
seindah janji Allah ,
bahwa tak akan lagi isi bumi ini musnah oleh air hujan sederas apapun.
Suster Maria menghentikan langkahnya sesaat , matanya berbinar menatap pelangi itu ,
dibibirnya tersungging senyuman , seakan mensyukuri janji Allah itu.

“Sedemikian halus dan dalamnya perasaan Suster Maria.”

Itu yg terpikir oleh Johan.

Merekapun meneruskan langkah masih berpayung.

“Suster , boleh saya bertanya ?

“Iyaa..”

“Nama kecil Suster siapa ?”

“Anggraini.”

Cuma itu pembicaraan yg berlangsung dalam perjalanan dari gereja menuju susteran.

 

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: