Suster Maria (Sebuah Kisah Natal) – Bag.2. Kisah [3]

 
Setelah kejadian itu ,
Johan lebih sering mencuri pandang daripada berkonsentrasi pada materi pelajaran.
Suster Maria bukan tak mengetahui ,
namun ia mencoba berlaku seakan tidak terjadi hal apapun ,
meski ada yg kurang ketika berhadapan dengan Johan , . . . keceriaannya.

Puncaknya terjadi pada Jum’at terakhir Johan mengikuti pelajaran pendalaman iman.
Ketika Suster Maria membuka-buka Alkitab di meja ,
tiba-tiba kedua tangan Johan telah menumpang di atas tangannya dan menggenggamnya.

“Anggraini . . . .”

Kaget oleh perbuatan Johan ditambah sapaan Johan yg memanggil nama kecilnya ,
Suster Maria mencoba menarik pelahan kedua tangannya ,
tapi Johan malah mempererat genggamannya.
Suster Maria memilih membiarkan Johan menggenggam tangannya dan menunduk.

Ingin rasanya Suster Maria marah atas perbuatan Johan yg “kurang ajar” ,
tapi ‘marah’ sepertinya bukanlah bagian dari pribadinya , ia tak tahu cara marah.
Selain itu rasa jengah . . . malu . . . mengingat kejadian di teras gereja ,
membuatnya tak bisa berbuat apa-apa . . . beberapa saat.

“Anggraini . . . aku mencintaimu . . . .
maukah engkau menjadi kekasihku dan meninggalkan biara ini ?”

Tanpa basa-basi dan puja-puji Johan mengungkapkan ,
apa yg telah membuat tidurnya tak lena bermalam-malam sebelumnya ,
yg membuat pikiran dan perasaannya bagai puzzle yg berserakan.
Puzzle itu berbentuk sepotong cinta ,
yg membutuhkan potongan lain agar menjadi cinta yg utuh.
Ia bukan tak sadar dengan keadaan wanita yg dicintainya ,
yg masih terikat pada kaul sebagai seorang biarawati , seorang suster.
Tapi , Omnia Vincit Amor , cinta mengalahkan segala ,
segala kenyataan yg terpampang dengan jelas dan benar sekalipun.
 

Kepercayaan diri Suster Maria berangsur pulih , ia mulai dapat menguasai diri.

“Lepaskan dulu tanganku Johan , kalau sampai ada yg melihat , tidaklah baik jadinya.”

Johan melepaskan genggamannya dengan berat hati.
Suster Maria menarik kedua tangannya dan meletakkannya di pangkuan.

“Anggraini . . . maukah engkau menjadi kekasihku ?”

Dada Suster Maria berdebaran , ia tak mampu berkata apa-apa.
Ia ingin mengangguk tapi tak bisa , ia ingin menggeleng tapi ragu-ragu.

Kedua tangan Johan masih di atas meja ,
Suster Maria masih menunduk seakan mencari sesuatu yg tak jatuh.

Suara sepeda motor yg memasuki halaman susteran menyela diam antara mereka.
Entah siapa yg datang , namun setelah suara sepeda motor itu berhenti ,
pengendaranya langsung menuju gerbang sebelah kiri.

“Anggraini . . .”

Hanya tinggal sepenggal kata yg diucapkan Johan dengan nada penuh harap.

“Johan tahu khan kalau aku seorang biarawati yg masih terikat kaul ?”

“Iyaa , . . . kaul sementara.”

Rupanya diam-diam Johan sudah mencari tahu tentang dirinya , tentang kaul , dsb.

“Aku tak terbiasa dengan kehidupan di dunia luar . . . . . . .”

“Dunia luar memang tak setenang di biara , tapi ada aku yg akan menemanimu , selamanya.”

“Hmmm , baiklah , . . . beri aku waktu untuk menjawab.”

“Besok ? Setelah misa ?”

“Minggu sore , . . . aku tak ingin memberi jawaban yg hanya karena perasaan sesaat , sebab ini menyangkut kehidupanku dan juga kehidupanmu.”

Johan tersenyum dan mengangguk , ia merasa Suster Maria hanya ragu-ragu ,
itu berarti “hampir iya” , dan Minggu sore kata “hampir” akan lenyap.
Apalah artinya membiarkan kegelisahan singgah lagi semalam dua malam ,
dibandingkan dengan kebahagiaan memiliki seorang kekasih yg dicintai dan mencintai , selamanya.
 

=================================================
 

Ini misa paling tidak khusuk yg pernah diikuti Suster Maria.
Meski tubuhnya mengikuti misa , namun pikiran dan perasaannya tidaklah demikian.

Suster Maria sedang dan terus menimbang-nimbang , bila menerima atau menolak cinta Johan.
Alasan sebenarnya untuk menerima atau menolak ,
belum bisa ia tentukan dari beberapa kemungkinan yg terpikir.
Padahal , ia hanya butuh satu alasan untuk mengatakan “iya” atau “tidak”.

Beberapa kali kepalanya menoleh ke belakang sebelah kanan.
Di barisan bangku seberang , satu bangku di belakangnya , di situ Johan biasa duduk.
Ketika sudut matanya melirik Johan ,
selalu didapatinya Johan juga tengah melirik bahkan memandang kearahnya.
Itu membuat Suster maria menunduk , tersipu malu.

Setelah misa usai , dinyalakannya sebatang lilin dan dipanjatkannya doa kepada Bunda Maria.
Doa permohonan agar ia bisa menimbang dengan hati-hati dan benar ,
menemukan alasan yg sebenarnya atas sebuah keputusan yg akan diambilnya.
Bukan sekedar karena merasa terlanjur menjadi biarawati . . . ataupun
mumpung ada seorang lelaki baik yg menyatakan cinta kepadanya.

Sekeluar dari pintu gereja ,
dilihatnya Johan masih berbincang dengan Pastur dan beberapa umat lain.
Hanya sesaat dipandangnya Johan dengan senyuman dan anggukan kepala ,
Johan pun membalas dengan yg sama.

Tak ada kata terucap ,
tak ada kalimat tersuarakan.
Tapi bagi Johan ,
sedetik pandang , seulas senyum ,
dari orang yg dikasihi , . . dicintai . . .
sudahlah cukup . . . . . . .
Biarlah ia sendiri yg akan menghias pandang dan senyum itu
dengan warna pelangi kebahagiaan ,
dengan nada gita cinta ,
dengan tari kasih sayang . . . . .
Agar menjadi bayangan sang kekasih dalam mimpinya malam nanti.

Seperti itukah orang yg tengah jatuh cinta ?
 

=================================================
 

Di susteran Santa Perawan Maria.

Seusai makan malam dan doa , Suster Maria menemui Suster Jose ,
diceritakannya tentang Johan yg menyatakan cinta padanya ,
dengan harapan Suster Jose bisa memberikan pertimbangan
untuk menguatkan salah satu dari hanya dua pilihan yg ada.

“Ini adalah pilihan jalan hidup , apapun pilihan Suster Maria
jalanilah dengan iman dan cinta kasih.

Sebagai suster saya menyayangkan bila Suster Maria
nantinya akan meninggalkan biara dan kembali pada masyarakat.
Namun menjadi biarawati bukan sekedar keinginan ataupun pelarian ,
tapi adalah karena menjawab panggilan suci.
Banyak yg dipanggil , sedikit yg mendengar ,
lebih sedikit yg menjawab , dan lebih sedikit lagi yg terpilih.

Maka sebelum kita memgucapkan kaul kekal ,
kita masih boleh memperbarui kaul sementara kita , suster pasti juga sudah tahu.
Bila ketika masa kaul seorang suster berakhir dan mengundurkan diri ,
ini bukan soal gagal atau bermasalah ,
namun disikapi positif bahwa tempat yg lebih tepat baginya bukanlah di biara.
Pelayanan bisa dilakukan dimana saja sebagai apa saja ,
asalkan tetap beriman pada Kristus dan melaksanakannya dengan kasih.”
 

———————————————————————————————————————-
 

Di kamarnya , Suster Maria tak jua bisa memejamkan mata.
Dibayangkannya , diingatnya perjalanan hidupnya.

Terlahir sebagai anak ke 3 dari 4 bersaudara ,
hanya dialah yg memilih menjadi biarawati.
Kakak tertuanya memang pernah masuk seminari , tapi tidak melanjutkan ke seminari tinggi.
Kakak dan adiknya perempuan juga tak ada yg tertarik pada kehidupan biara.
Bahkan selepas SMA , tak berapa lama kakaknya memilih menikah.

Masa remaja dilalui dengan tanpa seorangpun teman dekat laki-laki ,
mungkin ia tak termasuk gadis yg menarik perhatian laki-laki.

Di kota kecil . . . . pada masa itu ,
jarang sekali terlihat yg namanya pacaran berjalan-jalan berduaan , meski malam Minggu.
Yg namanya apèl , paling hanya ngobrol di ruang tamu atau diteras rumah.
Bahkan ada yg hanya menemani ayah sang gadis bermain catur.
Sementara sang gadis menemani dengan saling mencuri pandang dan melempar senyum ,
ketika ayah sang gadis tengah berpikir keras menghindarkan mentrinya dari ancaman kuda.
(Pemuda yg cerdik pada akhirnya akan memilih mengalah . . . . )

Maka kedekatannya dengan Johan , tak pelak membuat naluri wanitanya terusik.
 

Ketika ia memilih untuk memasuki kehidupan biara ,
tak ada tentangan atau halangan dari kedua orang tuanya.
Mereka orang sederhana , yg meyakini bahwa perjalanan hidup seseorang
sudah digariskan oleh “Gusti ingkang murbeng dumadi.”

Hanya pesan yg selalu diingatnya dari sang ayah ,
sebuah pilihan hendaknya dipertimbangkan adalah “karena” bukan “agar” atau “demi”.
Itu pula yg kini tengah dipikirkannya.
 

Dilihatnya jam weker telah menunjukkan angka 12.
Pelahan Suster Maria bangkit dari ranjangnya ,
dikenakannya jubah dan kerudung , diambilnya rosario dari balik bantal ,
ia pun menuju ke kapel.
 

=================================================
 

Minggu , menjelang sore hari , Suster Maria menemui Suster Jose agar diijinkan ,
untuk tidak mengenakan jubah dan kerudung , nanti ketika menemui Johan.

Suster Jose mengerjitkan alis sejenak kemudian menghela nafas panjang ,
dalam pikirannya terbayang , tak lama lagi hanya tinggal 3 orang suster yg menghuni Susteran Santa Perawan Maria.
Namun naluri seorang wanita . . . naluri seorang ibu , yg akhirnya berbicara.

“Apapun keputusan Suster Maria , Tuhan memberkatimu.”

“Terima kasih Suster , Tuhan memberkati Suster Jose juga.”

Suster Maria memang tak ingin membicarakan keputusannya ,
tapi ia meyakini :

“Ecce ancilla Domini , fiat mihi secundum verbum tuum.”

 

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: