Suster Maria (Sebuah Kisah Natal) – Bag.3. Akhir

 
Pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang dalam terbuka.

Johan berdiri.
Demi dilihatnya Suster Maria yg tak mengenakan jubah Suster ,
namun gaun putih bermotifkan bordiran bunga-bunga putih ,
dengan rambut hitam terurai yg panjangnya sebahu lebih sedikit ,
dan sebuah jepit rambut dengan hiasan kupu-kupu terbuat dari perak.
Batu permata pada mata kupu-kupu itu berkerlipan ditimpa cahaya lampu ruang tamu , seperti bintang berkerlipan digelapnya malam.

“Selamat sore , Johan.”

Johan terpaku memandangi Suster Maria yg sudah berdiri di samping kursi kayu.
Matanya tak berkedip , sementara raut wajahnya menampakkan kekaguman dan kebahagiaan.
Mungkin seperti itulah bila seseorang melihat bidadari yg tiba-tiba hadir di hadapannya.

“Silahkan duduk , Johan.”

“Oh iya , . . . duduk . . . sore . . . . . .”

Tergagap Johan membalas sapaan Suster Maria.
Setelah dudukpun , kembali dipandanginya wajah bulat telur ,
yg hampir tak pernah menanggalkan senyum tipis dibibirnya.
Tak ada riasan eye shadow , lipstick ataupun bedak di wajahnya ,
namun menampakkan kecantikan alami dengan segala kesederhanaannya.
Meja bundar diantara dirinya dan Suster Maria seperti ingin disingkirkannya ,
agar dapat dipandanginya lebih dekat dan seksama wajah Suster Maria.

Pandangpun beradu , namun tak seperti biasanya ,
kali ini Suster Maria balas menatap dengan sorot yg teduh ,
bagai purnama menerangi bumi malam.
Namun bagi Johan , tatapan itu terasa tajam . . . . .
. . . . menghunjam hingga kedasar hatinya ,
seakan hendak mencari apa yg terpendam dan apa yg tumbuh . . . di hati Johan.
Johan kalah . . . . . . ia menunduk , meski sesaat.
 

“Aku akan menjawab pertanyaanmu , Johan.”

Senyum melebar dan mata berbinar ,
adalah pancaran kegembiraan dan kebahagian hati Johan.
Johan yakin Suster Maria akan menerima cintanya , mau meninggalkan biara ,
mau menjadi kekasihnya dan bahkan , . . . menjadi istrinya ,
karena Suster Maria menemuinya dengan tanpa mengenakan jubah Suster.

“Aku akan menerima cintamu dan mencintaimu sebagai seorang kekasih ,
kalau engkau bisa mencintai aku seperti Yesus mencintai aku.
Cinta yg tulus , penuh kasih dan sayang , tanpa nafsu dan keinginan.”

Hanya dua kalimat yg terucapkan oleh bibir tipis dengan senyum manis ,
namun mampu membuat Johan menunduk untuk kedua kali , sore itu . . . . .

Johan tercenung . . . ia sadar , itu adalah kata-kata halus untuk menolak.
Bagaimana mungkin ia bisa mencintai tanpa nafsu ,
tanpa keinginan untuk memiliki ,
setulus apapun ia berusaha mewujudkan cintanya , sekalipun.
Bila mencintai namun tak bersatu ,
cinta hanyalah tinggal kata-kata . . . hampa tanpa isi , hambar tanpa rasa.

Cinta manusia kepada sesama manusia terikat pada daging dan emosi.
Cinta yg memberi karena harap menerima ,
cinta yg rela dimiliki agar memiliki.
Cinta yg bahkan ada kalanya berubah menjadi benci dan . . . dendam !!!
 

Ingin rasanya Johan membujuk ,
merayu , menghiba , atau mengucap kalimat apa saja ,
agar Suster Maria Anggraini merubah jawabannya.
Tapi di sisi yg lain , ia mencoba memahamkan dirinya ,
cinta bukanlah sesuatu yg bisa dipaksakan.
Suster Maria sudah meminta waktu untuk menjawab ,
tentu sudah mempertimbangkan dengan matang alasan jawabannya.

Beberapa saat berlalu dengan kebisuan.
Johan masih berharap . . . . . . . .
itu hanyalah kalimat pembuka , yg kemudian dilanjutkan dengan :
“Tapi kita manusia yg tak mungkin mencintai seperti itu ,
maka biarlah kita mencintai dengan cinta yg kita bisa ,
aku mau menjadi kekasihmu . . . . . . . . . . . . .”

“Aku . . . aku . . . aku mengerti . . . . .”

Cuma itu yg akhirnya mampu diucapkan Johan ,
setelah mencoba meyakinkan diri , hanya 2 kalimat itulah yg diucapkan oleh Suster Maria.
Rangkaian kata , indahnya kalimat , semua tiba-tiba menguap entah kemana.
Kegalauan hatinya dilampiaskan dengan memainkan ujung taplak meja ,
tanpa sengaja sentakan kecil membuat vas bunga di atas meja itu jatuh dan bergulir.
Tangan Johan berusaha meraih demikian juga tangan Suster Maria ,
namun malah membuat vas itu terlempar jatuh kelantai dan pecah.

“Maaf . . . maaf . . . nanti saya ganti.”

Johan bangkit dan memunguti pecahan vas itu dan membuangnya ke tempat sampah di teras.
Setelah selesai , ia tak kembali duduk. Johan merasa sudah mendapat jawaban.
Meski jawaban itu tak membuatnya senang , tak membuatnya bahagia , namun hatinya merasa lega.
Dirasakannya , tak ada penyesalan , kekecewaan ataupun kesedihan.
Tidak seperti ketika ia menghadapi kenyataan ditinggalkan dan dikhianati kekasihnya dulu.

Johan berdiri beberapa saat ,
dengan sisa harapan bahwa Suster Maria akan mengubah keputusannya ,
ia pun menatap dengan sayu wajah Suster Maria.

“Aku mohon pamit . . . . . nggg . . . masih boleh khan kita bertemu ?”

Tanpa sapaan Suster , tanpa panggilan Anggraini , lidahnya masih terasa kaku.

“Boleh , asal Johan tidak dalam keadaan mabok.”

Suster Maria menjawab dengan gurauan , namun mampu membuat Johan tersenyum . . pahit.

Johanpun melangkahkan kaki pelahan , hingga di ambang pintu . . . .

“Johan . . . . . . . . ”

Langkah Johanpun terhenti , debaran dalam dada terasa nikmat namun menyiksa.
Tapi perasaan Johan seperti hampa ,
tak tahu ia musti kembali berharap atau menunggu Suster Maria melanjutkan kalimatnya ,
dan membiarkan saja harap itu melayang membumbung ke angkasa.
Dipalingkannya kepalanya tanpa berbalik , dipaksakannya pula tersenyum . . . .

“Jaga diri baik-baik yaa . . . . . .”

Suster Maria masih menunjukkan perhatiannya dengan kata-kata tulus.
Dan dari sudut matanya , Johan menangkap seulas senyum . . . .
senyum manis yg tak akan pernah dapat dilupakannya . . . . .
 

=================================================
 

Dua kali misa Sabtu sore dan satu misa Minggu pagi ,
tak nampak Johan di bangku biasanya dia duduk , juga di bangku lain.
Kehadiran umat yg tak pernah memenuhi bahkan separuhpun kapasitas gereja ,
tak membutuhkan waktu lama untuk sekedar menengok dan mengamati yg hadir.

Ada kegelisahan dalam hati Suster Maria , ada penyesalan pula.
Ia merasa tak berhasil membawa domba itu kembali kepada sang gembala , Yesus Kristus.
Dipanjatkannya doa untuk Johan di depan Bunda Maria seusai misa Sabtu sore itu.
 

Empat orang Suster itupun berjalan keluar dari halaman gereja.
Dari balik pohon disudut kiri gereja ,
sepasang mata mengikuti langkah mereka , hingga hilang dari pandangan.
Dinyalakannya sebatang rokok dan dihisapnya sampai hampir habis ,
sebelum akhirnya iapun kemudian beranjak.
 

=================================================
 

Seperti yg dikatakan pak Bastian ,
di meja ruang tamu telah ada sebuah vas bunga sedikit lebih besar dari vas lama ,
dengan beberapa tangkai bunga anggrek bulan dan daun-daun pandan sebagai hiasan vas itu.
Di bawah vas itu , terselip sepucuk surat ,
dengan amplop yg beremboss bunga anggrek.

Suster Maria membuka amplop itu dengan hati berdebar ,
ia tak ingin membaca berita yg menyedihkan ataupun menyakitkan.
Ia berharap Johan memahami jalan yg sudah dipilihnya.
Ia berharap Johan tidak kecewa apalagi kembali bermabok-mabokan.
Ia berharap Johan berani menghadapi kehidupan seberat apapun.
Ia berharap Johan akan menemukan jodoh yg serasi suatu saat nanti.

 

         “Salam dalam kasih Kristus.”

         Suster Maria yg penuh rahmat ,
         Saya mengucapkan terima kasih karena telah menyadarkan saya ,
         bahwa selama ini saya telah menyia-nyiakan hidup
         dan waktu saya yg berharga , untuk hal yg tak semestinya.
         Sekali lagi Terima kasih.

         Mama juga berterima kasih kepada Suster Maria dan Suster lainnya ,
         yg telah menolong saya dan sekaligus menyadarkan saya.

         Dalam dua minggu ini ,
         saya melakukan 2 hal penting bagi kehidupan saya selanjutnya.
         Tiga hari saya gunakan untuk merenungkan perjalanan hidup saya.
         Hari selanjutnya ,
         saya gunakan untuk kembali pada hidup saya yg semestinya.
         Saya membersihkan , mengecat , menata
         dan kembali mengurus toko warisan papa ,
         saya ingin menebus kesalahan saya dengan berusaha lebih giat.

         Oh iyaa , meski saya tidak ke gereja ,
         saya tetap ikut misa di stasi menemani mama.

         Saya bahagia bisa mempersembahkan cinta saya kepada Suter Maria.
         Namun saya sadar ,
         itu hanyalah cinta seorang lelaki kepada wanita ,
         cinta manusia kepada manusia ,
         yg disertai keinginan untuk memiliki , cinta yg berharap balas ,
         cinta yg disertai nafsu dan emosi , cinta yg jauh dari sempurna . . . . .

         Semoga suatu hari nanti saya menemui seseorang ,
         yg padanya ada kesabaran , kejujuran , kelembutan ,
         kehangatan , keceriaan dan kasih sayang tulus ,
         seperti yg ada pada diri Suster Maria Angraini ,
         agar dia mau dan bisa menerima saya seperti apa adanya ,
         dan beri saya masa untuk mencintainya dengan cinta yg bisa saya lakukan
         . . . . . . . . . . . . . . seumur hidup saya . . . . . . . .

         Terima Kasih.
 
                                                                              Salam dan doa

 
                                                                              Johanes Galih Hartadi

 

=================================================

 

Setiap menjelang Natal . . . . .
Aku selalu teringat kisah itu.
Sebuah kisah cinta . . . . . .
Cinta manusia kepada manusia ,
Cinta manusia kepada Tuhan ,
dan . . . . .
Cinta Tuhan kepada manusia.

“Karena begitu besar kasih ALLAH akan dunia ini ,
sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNYA yang tunggal ,
supaya setiap orang yang percaya kepadaNYA tidak binasa ,
melainkan beroleh hidup yang kekal.”
( Yohanes 3:16 )

                                                                                 Deo Gratia

                                                                                 Yoga Hart
                                                                                 S.O.T.R , Okt – Nov 2008

 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: