Terima Kasih , Ya Tuhan – Bag.1

 
“Pak Yosep !”

Suara yg nyaring cemengkling terdengar dari teras rumah ,
mengagetkan aku yg tengah menikmati asap racun ,
sambil mendengarkan lagu Keong Racun dari hape RedBerry milik Jono , di depan garasi yg luasnya cukup buat 4 mobil.

“Iya , nyah . . ”

Aku segera mematikan pemutar musik di hape ,
juga api rokok yg baru beberapa kali kuhisap.
Sambil memasukkannya ke kotak rokok aku bergegas menuju teras.

“Nyonya . . nyonya . . kayak jaman feodal aja.
Manggil ‘ibu’ gitu susahnya kenapa tho , pak ?”

Nyonya , . . eh , ibu Metty , majikan perempuanku , menegurku sambil tersenyum lebar.
Nampak cantik sekali dengan rok hitam selutut dan baju merah tua ,
orang yg melihat pasti gak akan mengira kalo usianya sudah 45 tahun.

“Iya , nyah . . . eh bu.”

“Tolong antarkan saya ke Darmo Satelit.”

“Lho , mama gak bawa mobil sendiri aja ?”

Suaminya yg mengenakan pakaian olah raga dan berkalung handuk keluar.

“CRV-nya dibawa Andika ,
katanya mau ada acara ulang tahun temennya di villa kita.
Jazz-nya dipake nganterin Tania les musik.
Pak Yosep cuma nganterin koq , pa. Nanti mama pulang biar dianter temen ,
cuma agak malem , pa . . soalnya sekalian reunian.”

“Oo , ya sudah kalo gitu. Soalnya papa musti nemeni tamu dari Jepang , ma.”

 
Aku menuju pos satpam mengambil kunci mobil sekaligus mengembalikan RedBerry ke Jono.
Lalu mengeluarkan BMW dari garasi , sementara Jono si Satpam segera membuka pintu gerbang.
Bu Mettypun masuk ke mobil setelah mencium pipi kiri kanan suaminya.
Mobil BMW berwarna hitam yg kukemudikanpun mulai menyusuri jalan aspal yg mulus.

“Sayaaang , sudah nunggu lama ya ?

Kulihat sekilas dari kaca spion tengah , bu Metty menelpon seseorang.

“Maapin aku yaa say. Mobilnya dipake semua sih. Ini bentar lagi juga nyampe koq. Bye honey.”

Bu Metty menutup pembicaraan lalu berkata kepadaku.

“Pak Yosep , ke Cafe La Rose aja.”

“Di HR Muhammad ya , bu ?”

“Iya.”

 
Sesampainya di halaman parkir Cafe ,
bu Metty segera turun , menghampiri lelaki yg nampak lebih muda darinya yg nampak menunggu.
Dari balik kaca mobil kulihat mereka bercipika-cipiki sambil tertawa-tawa.
Beberapa saat kemudian bu Metty menggamit lengan lelaki itu hendak masuk ke kafe , tapi lelaki itu menoleh ke arahku ,
mungkin mengingatkan bu Metty akan keberadaanku yg masih menunggu perintah.

Bu Metty lalu berjalan ke arahku , akupun segera turun dari mobil dan menghampirinya.

“Pak Yosep , kembali ke rumah anterin bapak ya.
Ini buat beli jajan anak-anak di rumah.”

Katanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku.

“Gak usah bu.”

Aku berusaha menolak.

“Sudaaah , terima aja ! Gak usah bilang apa-apa sama bapak ya.”

“Terima kasih , bu.”

Akupun menerima uang itu sambil mengangguk dan segera memasukkan ke saku bajuku.
Entah , . . rasa apa yg tiba-tiba menyesaki rongga dadaku.
 

———————————————————————————————————————-
 

Melihat aku sudah sampai , pak Robert , majikan lelaki , yg tengah duduk di teras , segera meletakkan koran yg dibacanya dan masuk ke mobil.
Akupun kembali meluncurkan BMW dijalan mulus di kawasan CitraLand.

“Kemana pak ?”

Tanyaku ketika sudah sampai di G-Walk , namun pak Robert belum juga memberitahu tujuannya.

“Cafe La Rose di HR Muhammad.”

“Mati kau !!!”

Ucapku dalam hati sambil menelan ludah yg tiba-tiba terasa nyangkut di tenggorokan.

Di pertigaan Unesa , kulihat dari kaca spion tengah ,
pak Robert masih asyik berbicara dengan seseorang lewat handphonenya.
Dari yg semestinya berbelok ke kiri , aku sengaja membelokkan mobil ke kanan ,
menuju jalan Wiyung yg pada jam-jam segini selalu macet , apalagi malam minggu.

Beberapa saat kemudian pak Robert tersadar.
Dengan handphone yg masih menempel di telinganya pak Robert bertanya.

“Lho , koq lewat sini , pak ?”

“Tadi di pertigaan Lontar macet total , pak.”

Aku berbohong dengan sepenuh hati.

Suatu kesalahan (kalau tidak mau disebut sebagai dosa) ,
yg hampir setiap hari dan hampir semua orang bisa melakukannya , adalah berbohong.
Yg lalu , agar meringankan beban perasaan bersalah , dibuatlah kategori berbohong , yg dalam situasi dan kondisi tertentu tidak perlu masuk ke dalam ranah bersalah atupun berdosa.
Seperti berbohong untuk tujuan berbuat kebaikan ,
ketika sedang bersenda gurau ,
untuk menyenangkan suami/istri dan ketika menghadapi bahaya maut (peperangan).

 
Pak Robert kembali berbicara dengan seseorang itu.

“Say , udah nyampe mana ?”

Entah apa jawaban dari seberang sana.

“Kalo gitu kita ketemu di Priyangan aja ya , ok . . love u so much honey.”

Pak Robert menutup handphonenya dan berkata padaku.

“Ke Priyangan aja pak , di Mayjend Sungkono.”

“Iya , pak.”

Lega rasa hatiku mendengar perubahan tujuan.

Setibanya di Priyangan , pak Robert mengulurkan tangan ,
yg kulihat di antara jempol dan telunjuknya terselip lipatan kertas berwarna merah.

“Pak Yosep , ini buat beli rokok.”

“Gak usah pak , rokok saya masih ada koq.”

“Gak apa-apa , ambil aja. Pak Yosep pulang aja.
Gak usah cerita apa-apa sama ibu ya.”

“Iya , pak. Terima kasih.”
 

———————————————————————————————————————-
 

“Lho , gak nungguin bapak ?”

Tanya Jono satpam ketika membukakan pintu gerbang.

“Gak , bapak pulang dengan temannya.”

Aku berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan yg butuh jawaban rumit ,
yg kemudian bisa saja menimbulkan pertanyaan lain atau komentar berkepanjangan.

Selesai memasukkan mobil ke garasi ,
aku menyimpan kunci mobil ke pos satpam.
Baru saja aku mencatat jam lemburku ,
langit sepertinya tidak lagi sanggup menahan mendung yg sejak tadi bergayut ,
lalu membiarkannya menurunkan muatan hujannya yg deras.
Aku segera berlari ke garasi dan mengambil jas hujan dari motor , lalu memakainya.

“Udan deres lho , mas.”
(Hujan lebat lho , mas.)

Ujar Marni , salah seorang pembantu dari arah dalam mendekatiku.
Marni memang termasuk gemati (memperhatikan) sama sopir-sopir , tukang kebon dan satpam.
Meski kalo ngomong dan guyon blak-blakan ,
mungkin karena dia yg paling senior ,
ditambah lagi status jandanya yg sudah 5 tahun , ditinggal suaminya ke Malaysia.

“Udan banyu wae koq , paling-paling kademen ndok ndalan.”
(Hujan air saja koq , paling-paling kedinginan di jalan)

“Mbok dienteni sedhela. ‘tak gawe’ne anget-anget’an ‘po ? Opo ‘tak angeti sisan ?”
(Mbok ditunggu sebentar. Apa aku buatkan minuman hangat dulu ? Apa aku hangati sekalian ?)

“Dijarangi yoo ?”
(Di-guyur air mendidih ya ?)

“Hi.hi.hi.hi. Sampeyan bisa aja”

Aku tersenyum lebar dan menstarter motorku.

 

BERSAMBUNG.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: