Terima Kasih , Ya Tuhan – Bag.2 (Selesai)

 
Sepeda motor yg meski usianya sudah cukup tua ,
namun tak pernah rewel mengantarkan aku mencari sesuap nasi ,
kunaikkan ke teras “istana”ku , berjajar dengan motor yg lebih baru , yg dipakai anakku.

Yach , “istana”ku adalah sebuah rumah type 36 , setingkat di atas RSSSSSS ,
(Rumah Sangat Sederhana Sampai Selonjor Saja Susah) , yg KPRnya 5 tahun lagi selesai.
Rumah , dimana aku , “Permaisuri” dan kedua anakku berpayung dari hujan ,
berteduh dari terik surya , menyatukan kami dengan kesederhanaan dan suasana bahagia.

Aku melepas jas hujan sambil mendengar celotehan kedua anakku di depan pintu.

“Yah , uang bea siswa Cintya sudah cair , besok Cintya mau beli kamus Oxford.”

“Yah , Dyah terpilih jadi ketua kelas lho.”

“Eeee . . biar ayah masuk dan istirahat dulu , baru diceritain.”

Natalia , istriku menegur kedua anakku yg begitu antusiasnya menyuguhiku dengan kegembiraan.
Tiba-tiba terbayang suasana dan hubungan kekeluargaan di rumah majikanku ,
yg meski tampak rukun dan bahagia , namun bukan timbul dari hati sanubari ,
mungkin sebenarnya tak lebih dari hasil didikan etika relasi , etika sosial.

Darahku berdesir seakan mengalirkan kebahagiaan ke segenap penjuru tubuhku ,
karena tak lagi mampu tertampung dalam rongga dada yg terasa sesak.
Kupeluk dan kukecup kening Cintya dan Dyah bergantian ,
lalu kudekap erat Natalia . . .
hangat tubuhnya mengingatkan aku pada sesuatu yg sering terlupakan , . . bersyukur padaNYA !

“Ada apa mas ?”

Melihat sikapku yg tak biasanya ,
sambil membalas pelukanku , Natalia bertanya dengan suara lembut di telingaku.

“Nanti saja aku ceritakan , dik.”

Aku lalu duduk selonjor bersandar dinding yg membatasi kamar dan ruang tengah.
Karena memang tak ada kursi tamu di ruang tamu atau ruang keluarga ini.

“Mas , kita khan jarang kedatangan tamu ,
mending untuk menutup bagian atas dan memplester halaman belakang saja ,
lagipula rumah kita bakal terlihat sempit sekali bila ada kursi tamu.”

Itu kata Natalia ketika aku menawarkan untuk membeli kursi tamu.

Kurogoh saku bajuku dan kuamati sejenak 2 lembar uang seratus ribuan.
Aku menghela nafas panjang , lalu kumasukkan uang itu ke dalam dompetku.

 
“Minumlah dulu , mas. Aku masakkan air yaa ?”

“Makasih. Gak usah dik.”

“Yah , besok antarkan Tya beli kamus ya , sama beli sepatu.”

“Iya , besok kita cari di jalan Semarang , banyak koq kios buku-buku bekas.
sepatunya cari di Blauran aja , murah , . . asal kita pinter-pinter nawar.”

“Ada komik-komik anime gak yah ?”

“Banyak , tapi kalo yg serian paling gak berurutan. Dyah mau ?”

“Boleh , yah ?”

“Iya , boleh. Besok kita pergi bareng-bareng sepulang dari gereja ya.”
 

———————————————————————————————————————-
 

“Anak-anak sudah makan , dik ?”

“Sudah mas , yg belum ibunya.”

Jawab Natalia sambil menyendokkan nasi ke piring , lalu menyodorkan padaku.

“Diiiik , aku khan sudah bilang bolak-balik , makanlah duluan bareng anak-anak ,
kalo pas aku pulangnya malam.”

“Kalo makan bareng mas , khan rasanya beda . . lauk ikan bandeng serasa . . . . ”

“Ya , ikan bandeng , hee.hee.hee….”

“Hi.hi.hi . . . enggak apa koq mas , tadi belum terasa lapar.”

Sambil makan dengan duduk bersila di ruang tengah ,
aku menceritakan apa yg kualami ketika mengantarkan kedua majikanku tadi.

“Karena mas merasa dibayar ya ?”

Natalia memotong ceritaku di bagian saat aku sengaja membelokkan mobil ke arah yg salah.
Aku memandangi senyum lebarnya sesaat , senyum yg seakan mentertawai sikapku.

“Bukan begitu , dik.
Aku cuma gak ingin mereka ketemu dan lalu ribut di depan orang banyak ,
karena tahu masing-masing ternyata sama-sama berselingkuh.
Dan secara gak langsung , aku khan juga terlibat . . . . ”

“Ya dikasih tahu aja tho mas , biar mereka sadar.”

Natalia kembali berseloroh , aku merasa malam ini isengnya kumat.

“Haa.haa.haa.haa….”

Aku tertawa terbahak-bahak , membuat kedua anakku yg ternyata belum tidur ,
keluar dari kamarnya sesaat , tersenyum dan kembali masuk.

“Mereka itu orang-orang pintar dik , . . orang-orang hebat ,
yg mampu menciptakan kebenarannya sendiri dengan berbagai teori dan argumentasi ,
lalu mewujudkannya dalam bentuk keberhasilan materi , status sosial dan simbol kemapanan.
Sehingga orang akhirnya mempercayai apa yg mereka ucapkan dan tampakkan.
Sedangkan orang-orang seperti kita cuma bisa mewarisi kebenaran dari Kitab ,
dan seringkali lupa , salah mengerti , mengartikan dengan penyesuaian pemahaman kita ,
bahkan mengingkari untuk menerapkannya dalam kehidupan sederhana sehari-hari.
Ketika kita ragu atau mempertanyakan , kita cuma bisa menyuarakan dalam diam , dalam doa.”

Mendengar aku berbicara serius , Natalia menggenggam tanganku.

“Yg penting , dengan posisi dan keadaan mas ,
mas sudah melakukan yg terbaik dari apa yg mas semestinya lakukan ,
dari apa yg mas bisa lakukan. Aku bangga denganmu , suamiku.”

Aku tersadar , ia tak cuma menggenggam tanganku , tapi juga meremas-remas ,
dan itu berarti tanganku bakal terolesi sambel , dhuuuh . . . padahal aku gak doyan sambel.

“Makasih , dik.”

Aku melepaskan gengamannya dan kembali meneruskan makanku dengan tambahan rasa pedas.
Ia tersenyum . . manis sekali dalam pandangan mataku malam ini.

“Toh , mas menerima uang itu karena mereka yg berniat memberi ,
bukan karena mas yg meminta atau berniatan . . . . ”

Natalia mengangkat jari telunjuk dan jari tengah kedua tangannya ,
menggerakkannya sebagai simbol memberi tanda kutip.

” . . . “menjual” . . rahasia mereka.”

Cuma itu yg bisa menghibur diri ketika nurani terusik dan tak mampu berontak ,
karena ada hal-hal lain yg jauh lebih besar yg bakal dipertaruhkan.
Dan orang-orang seperti kami , cuma bisa mencoba menyikapi dengan kesederhanaan.

Aku menyisihkan daging sisi perut dan bagian bawah perut bandeng goreng yg berlemak ,
bagian yg paling enak dari ikan bandeng , lalu mencampur dengan sedikit nasi ,
dan menyuapkan ke mulutnya sambil berkata.

“Lha kalo misalnya , aku menjual rahasia itu terus dikasih Honda Jazz gimana ?”

Natalia menerima suapanku sambil memegang tanganku , digigitnya ujung jariku pelahan.
Darahku langsung berdesir . . . . . achh . . . .

“Aku yg gak mau !”

“Lhooo , . . kenapa ?”

“Soalnya itu gak mungkin , salah-salah mas bakal masuk bui , hi.hi.hi…”

“Haa.haa.haa…..pinter.”
 

———————————————————————————————————————-
 

Hujan masih deras membasahi bumi.
Aku menyulut rokok yg tadi kumatikan di garasi ,
asapnya segera berbaur dengan angin yg menyelinap dari jendela.

Kupandangi Natalia yg tengah mencuci piring membelakangiku.

Ia tak mengerti bagaimana dengan menjual belikan dollar orang bisa mendapat untung ,
atau mengapa neraca perdagangan negara disebut suplus.
Ia cuma mengerti kalo pisang goreng , tahu isi dan tempe gembus yg dibuatnya habis terjual ,
ia akan mendapat keuntungan sekitar dua puluh ribu rupiah . . . setiap harinya.

Ia tak mengenal ibu anu yg anggota DPR ataupun ibu inu yg istri pemilik PT. unu.
Ia cuma mengenal tetangga se-blok , se-RT ,
atau yg agak jauhan bu Haji di blok depan , yg rumahnya bagus mobilnya dua ,
tapi kalo pesen jajan buat arisan sering lupa mbayar.
Atau bu Lurah yg kalo mbayar mesti lebih dan tidak pernah mau nerima kembaliannya.

Ia tidak mengerti berita tentang Fesbuk bisa membuat seorang anak gadis kabur dari rumah ,
atau wakil-wakil rakyat yg kalo sidang pada mbolos , tidur , adu pinter ngomong ,
sampe adu jotos , tapi rajin “belajar membanding-bandingkan” ke luar negri.
Ia cuma mengerti berita harga terigu yg naik , minyak goreng yg mendadak langka di pasar ,
atau tabung elpiji 3 kilogram yg meledak-ledak di segenap penjuru Indonesia.
(Lalu diam-diam ia membuka celengan kentongan bambunya ,
dan menukar tambahkan tabung elpiji 3 kilogramnya ke tabung 15 kilogram ,
sekaligus mengganti selang dan regulatornya.)

Ia tidak menyembunyikan kecemburuannya ketika aku bercerita tentang Marni ,
yg cukup perhatian kepada sopir-sopir atau pegawai laki yg lain.
Tapi meski dengan sedikit cemberut ia mampu mengutarakan dengan kalimat arif dan nada halus ,
yg membuat aku selalu menyadari , betapa besar cintanya kepadaku ,
dan membuat tak pernah ada inginku untuk menukar cintanya dengan cinta wanita siapapun.

Ia tak pernah mencium pipi kiri dan kananku ketika aku berangkat kerja ,
ataupun menelpon , mengirim SMS cuman untuk mengucapkan “I Love You , Honey.” ,
“I Miss U , Sweetheart” , atau kata manis dan mesra yg sejenisnya.
Tapi ia selalu menghantar keberangkatanku dengan doa ,
dan menyambut kepulanganku dengan syukur.

Terima kasih , ya Tuhan . . . . .
                                                                      S.O.T.R , September-Oktober ’10

 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: